Terakhir diperbarui: 12 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 12 December). Persepsi Konsumen terhadap BPOM dan Sertifikasi. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/persepsi-konsumen-terhadap-bpom-dan-sertifikasi  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Persepsi Konsumen terhadap BPOM dan Sertifikasi - SumberAjar.com

Persepsi Konsumen terhadap BPOM dan Sertifikasi

Pendahuluan

Persepsi konsumen terhadap produk yang beredar di pasaran bukan sekadar pandangan personal semata, melainkan cerminan dari kepercayaan terhadap sistem pengawasan dan sertifikasi yang berlaku. Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjadi lembaga utama yang memastikan bahwa obat, makanan, kosmetik, dan produk kesehatan memenuhi standar keamanan dan mutu sebelum dipasarkan kepada masyarakat. BPOM secara resmi bertugas mengawasi peredaran produk serta menerbitkan sertifikasi yang memberikan jaminan kepada konsumen bahwa produk aman dan memenuhi kriteria regulator tersebut. [Lihat sumber Disini - pom.go.id]

Namun, masih banyak konsumen yang memiliki tingkat pemahaman dan kepercayaan yang bervariasi terhadap label BPOM. Beberapa melihatnya sebagai jaminan mutlak keamanan produk, sementara yang lain tetap skeptis, terutama akibat masih maraknya produk ilegal yang beredar tanpa izin BPOM atau pemalsuan labelnya. Fenomena ini berdampak langsung pada pilihan pembelian konsumen serta kepercayaan umum terhadap sistem sertifikasi. To recognize this complexity, it’s important to explore not just the definitions and regulatory context, but also how consumers interpret and react to BPOM certification in daily purchase decisions.


Definisi Persepsi Konsumen terhadap BPOM dan Sertifikasi

Definisi Umum

Persepsi konsumen terhadap BPOM dan sertifikasi adalah proses di mana konsumen menerima, menyusun, dan menafsirkan informasi tentang labelisasi produk yang mencantumkan izin BPOM sebagai sinyal keamanan dan kualitas. Persepsi ini dibentuk dari berbagai pengalaman, pengetahuan, serta informasi eksternal yang diterima konsumen melalui media, kemasan produk, maupun rekomendasi sosial. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]

Dalam konteks pemasaran dan perilaku konsumen, persepsi berperan menentukan bagaimana konsumen memandang suatu produk dan seberapa besar mereka percaya bahwa produk tersebut aman dan layak dikonsumsi. Persepsi ini pada akhirnya akan memengaruhi keputusan pembelian serta loyalitas terhadap merek tertentu.

Definisi dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), persepsi berarti tanggapan atau penerimaan langsung dari sesuatu melalui pancaindera serta proses memahami stimuli dari lingkungan. Ini mencakup bagaimana seseorang memperhatikan, mengorganisasi, dan menginterpretasikan informasi yang diterima. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]

Sementara itu, BPOM sendiri adalah singkatan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, lembaga pemerintah yang bertugas mengawasi peredaran obat, makanan, kosmetik, suplemen kesehatan, dan produk terkait lain agar tidak membahayakan keselamatan konsumen. [Lihat sumber Disini - pom.go.id]

Definisi Menurut Para Ahli

Beberapa ahli menguraikan konsep persepsi dan sertifikasi dalam konteks konsumen sebagai berikut:

  1. Philip Kotler dan Kevin Lane Keller, Persepsi konsumen merupakan proses individu memilih, mengatur, dan menafsirkan masukan informasi untuk membentuk gambaran yang bermakna tentang produk atau merek, termasuk label keamanan seperti BPOM. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]

  2. Deddy Mulyana, Persepsi adalah proses internal yang memungkinkan seseorang mengetahui, memilih, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan sehingga mempengaruhi perilaku konsumen. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]

  3. Leon G. Schiffman & Leslie Lazar Kanuk, Persepsi adalah proses individu dalam memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan kesan sensoris mereka menjadi sebuah arti yang bermakna tentang suatu objek atau produk. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]

  4. N Rohmah (2025, Lamongan), Dalam konteks label BPOM, pemahaman konsumen tentang label tersebut berkaitan langsung dengan tingkat pengetahuan yang menyebabkan pemilihan produk secara hati-hati atau sebaliknya kurang kritis dalam membeli produk yang dilekati label BPOM. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.unisda.ac.id]


Tingkat Kepercayaan Konsumen terhadap Sertifikasi BPOM

Tingkat kepercayaan konsumen terhadap sertifikasi BPOM secara umum menunjukkan bahwa label BPOM berperan signifikan sebagai indikator keamanan produk, yang pada banyak penelitian terbukti memengaruhi keputusan pembelian dan kepercayaan. Misalnya, sebuah penelitian menemukan bahwa label BPOM berpengaruh positif terhadap kepercayaan konsumen dalam membeli produk kosmetik, menunjukkan bahwa konsumen cenderung merasa bahwa produk yang telah lulus uji BPOM lebih aman digunakan. [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]

Kepercayaan ini umumnya lebih tinggi pada produk-produk yang dianggap memiliki kemungkinan risiko kesehatan lebih besar, seperti obat, suplemen, atau kosmetik. Konsumen yang menyadari risiko kesehatannya cenderung menempatkan nilai lebih tinggi pada label BPOM karena memberikan jaminan bahwa produk telah menjalani evaluasi aspek keamanan, mutu, dan efektivitas sesuai standar yang ditetapkan. [Lihat sumber Disini - journal.uiad.ac.id]

Namun demikian, masih terdapat tantangan dalam tingkat kepercayaan ini, terutama karena masih banyaknya produk ilegal atau produk yang tidak mencantumkan label BPOM dengan benar. Fenomena ini menyebabkan sebagian konsumen tetap skeptis dan lebih mengandalkan rekomendasi sosial atau pengalaman pribadi daripada hanya mengandalkan label BPOM semata.


Faktor yang Membentuk Persepsi terhadap Keamanan Produk

Persepsi konsumen terhadap keamanan produk yang bersertifikat BPOM dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Tingkat Pengetahuan Konsumen

Pengetahuan konsumen tentang apa arti dan fungsi label BPOM menjadi faktor fundamental dalam membentuk persepsi. Semakin tinggi pemahaman konsumen mengenai peran BPOM dalam menjamin keamanan produk, semakin besar kemungkinan mereka mempercayai sertifikasi tersebut dan memasukkan label BPOM sebagai faktor penting dalam keputusan pembelian. Penelitian menunjukkan bahwa pemahaman yang rendah terhadap label BPOM menyebabkan konsumen kurang kritis dalam menentukan keamanan produk yang dibeli. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.unisda.ac.id]

2. Pengalaman Konsumen

Pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain terkait produk yang telah melalui proses sertifikasi dapat memperkuat persepsi bahwa label BPOM merupakan jaminan kualitas. Pengalaman negatif seperti penggunaan produk ilegal atau produk palsu yang tidak aman dapat memunculkan ketidakpercayaan terhadap label BPOM, meskipun label tersebut tidak terkait langsung dengan kasusnya.

3. Influensi Sosial dan Media

Testimoni dari teman, keluarga, hingga review di media sosial sangat mempengaruhi bagaimana konsumen menginterpretasikan label BPOM. Ulasan positif tentang produk ber-label BPOM biasanya membantu meningkatkan persepsi keamanan produk di mata konsumen.

4. Kredibilitas Institusi

BPOM sebagai lembaga pemerintah yang memiliki wewenang resmi dalam mengawasi produk menjadi faktor kredibilitas sosial. Ketika konsumen melihat institusi yang mengeluarkan sertifikasi dipercaya dan legitim, maka label yang diberikan juga dianggap valid dan dapat meningkatkan kepercayaan terhadap produk. [Lihat sumber Disini - pom.go.id]


Pengaruh Labelisasi terhadap Keputusan Pembelian

Labelisasi BPOM pada produk berpengaruh nyata terhadap keputusan pembelian konsumen. Beberapa studi empiris memaparkan bahwa ada pengaruh signifikan antara pencantuman label BPOM pada kemasan produk dan minat beli konsumen. Sebagai contoh, penelitian pada produk minuman ready to drink di Surabaya menunjukkan bahwa pencantuman label BPOM memiliki efek signifikan terhadap minat beli, menunjukkan bahwa konsumen melihat label tersebut sebagai informasi penting dalam proses evaluasi sebelum membeli. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Label BPOM tidak hanya dianggap sebagai tanda legalitas produk, tetapi juga sebagai simbol keamanan yang menyiratkan bahwa produk tersebut telah melalui serangkaian evaluasi teknis. Hal ini memengaruhi persepsi konsumen bahwa produk tersebut layak dikonsumsi, sehingga kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian meningkat.

Selain itu, ketika label BPOM dikombinasikan dengan informasi lain seperti tanggal kadaluarsa atau label halal, hal ini dapat memperkuat keyakinan konsumen terhadap keseluruhan kualitas produk, yang pada gilirannya positif memengaruhi keputusan pembelian.


Pengetahuan Konsumen tentang Proses Sertifikasi

Pengetahuan konsumen tentang proses sertifikasi BPOM turut memengaruhi persepsi dan tingkat kepercayaan terhadap produk. Proses sertifikasi BPOM mencakup evaluasi dokumen, uji laboratorium, verifikasi standar keamanan, dan persetujuan izin edar sebelum produk boleh dipasarkan. [Lihat sumber Disini - sevenstonesindonesia.com]

Namun, tidak semua konsumen memahami secara detail tahapan tersebut; banyak yang hanya tahu bahwa label BPOM berarti produk aman tanpa mengetahui bagaimana pengujian dilakukan. Pengetahuan yang mendalam ini umumnya hanya dimiliki oleh konsumen yang memiliki latar belakang pendidikan atau yang berkecimpung dalam bidang kesehatan atau teknologi pangan.

Peningkatan edukasi publik mengenai proses sertifikasi BPOM dinilai sebagai strategi efektif untuk meningkatkan kesadaran dan kepercayaan konsumen terhadap keamanan produk. Kampanye edukatif oleh BPOM dan pihak lain dapat membantu konsumen memahami bahwa sertifikasi bukan sekadar stempel, tetapi proses evaluasi yang melekat pada standar keselamatan.


Dampak Ketidakpercayaan terhadap Pilihan Produk

Ketidakpercayaan konsumen terhadap label BPOM berdampak luas pada perilaku pembelian dan preferensi pasar. Ketika konsumen meragukan keabsahan atau efektivitas sertifikasi, beberapa dampak yang mungkin terjadi antara lain:

1. Bergantung pada Rekomendasi Sosial

Konsumen mungkin lebih memilih untuk mengandalkan rekomendasi dari teman, influencer, atau komunitas online daripada label BPOM itu sendiri. Ini terjadi ketika kepercayaan terhadap institusi regulator menurun atau ketika konsumen mengalami pengalaman negatif dengan produk-produk yang seharusnya bersertifikat.

2. Menurunkan Loyalitas Merek

Jika konsumen merasa label BPOM tidak cukup menjamin keamanan, misalnya karena pernah mengalami efek samping dari produk bersertifikat, hal ini dapat mengurangi loyalitas terhadap merek bahkan meskipun produk tersebut telah mendapat izin edar resmi.

3. Meningkatkan Permintaan untuk Sertifikasi Tambahan

Beberapa konsumen mulai mencari sertifikasi lain yang lebih spesifik atau lebih dikenal, seperti sertifikasi halal atau label kualitas lainnya, sebagai tambahan jaminan untuk keamanan produk.


Kesimpulan

Persepsi konsumen terhadap BPOM dan sertifikasi merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, kredibilitas institusi, serta konteks sosial media dan lingkungan. Label BPOM secara umum dipandang sebagai indikator keamanan dan kualitas yang penting dalam keputusan pembelian konsumen, terutama pada produk yang berpotensi memiliki risiko kesehatan. Tingkat kepercayaan terhadap sertifikasi ini bervariasi, tergantung pada sejauh mana konsumen memahami arti dan proses di balik label tersebut serta pengalaman mereka terhadap produk di masa lalu.

BPOM berperan krusial sebagai lembaga pengawas yang bertanggung jawab memastikan produk aman sebelum diedarkan, yang dalam praktiknya berupaya melindungi hak konsumen dan meningkatkan kualitas produk di pasar. Namun, tantangan seperti maraknya produk ilegal dan keterbatasan pengetahuan konsumen menunjukkan bahwa peningkatan edukasi publik dan transparansi proses sertifikasi masih diperlukan agar persepsi dan kepercayaan konsumen terhadap sertifikasi BPOM semakin kuat.

Secara keseluruhan, label BPOM telah terbukti memengaruhi keputusan pembelian konsumen secara positif, tetapi dampaknya sangat tergantung pada seberapa baik konsumen memahami dan mempercayai sistem pengawasan yang ada.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Persepsi konsumen terhadap BPOM adalah cara masyarakat menilai keamanan, kualitas, serta legalitas suatu produk berdasarkan sertifikasi dan izin edar yang dikeluarkan oleh BPOM.

Sertifikasi BPOM penting karena memberikan jaminan bahwa produk telah melalui evaluasi keamanan, mutu, dan kelayakan sehingga lebih meyakinkan konsumen dalam memilih produk yang aman.

Beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi konsumen meliputi tingkat pengetahuan, pengalaman pribadi, rekomendasi sosial, paparan media, dan kredibilitas lembaga pengawas seperti BPOM.

Label BPOM dapat meningkatkan kepercayaan konsumen sehingga meningkatkan minat beli. Konsumen cenderung memilih produk dengan label BPOM karena dianggap lebih aman dan terkontrol.

Ketidakpercayaan konsumen dapat menurunkan minat beli, membuat konsumen lebih mengandalkan rekomendasi sosial, serta mendorong mereka mencari sertifikasi tambahan sebagai jaminan keamanan.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Perilaku Konsumen dari Perspektif Psikologis Perilaku Konsumen dari Perspektif Psikologis Persepsi Konsumen terhadap Obat Herbal Modern Persepsi Konsumen terhadap Obat Herbal Modern Persepsi Harga oleh Konsumen Persepsi Harga oleh Konsumen Persepsi Konsumen tentang Label Nutrisi Persepsi Konsumen tentang Label Nutrisi Tingkat Kepercayaan terhadap Klaim Produk Herbal Tingkat Kepercayaan terhadap Klaim Produk Herbal Persepsi Masyarakat terhadap Suplemen Mahal Persepsi Masyarakat terhadap Suplemen Mahal Pengetahuan Konsumen tentang Dosis Maksimal Obat OTC Pengetahuan Konsumen tentang Dosis Maksimal Obat OTC Perilaku Pembelian Suplemen melalui E-Commerce Perilaku Pembelian Suplemen melalui E-Commerce Produk Herbal: Konsep, Persepsi Konsumen, dan Preferensi Produk Herbal: Konsep, Persepsi Konsumen, dan Preferensi Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Obat OTC Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Obat OTC Keamanan Produk Herbal di Pasaran Keamanan Produk Herbal di Pasaran Pengaruh Edukasi terhadap Penggunaan Suplemen Pengaruh Edukasi terhadap Penggunaan Suplemen Tingkat Pemahaman tentang Nilai Gizi Kemasan Tingkat Pemahaman tentang Nilai Gizi Kemasan Food Safety Awareness Food Safety Awareness Pola Konsumsi Herbal untuk Stamina Pola Konsumsi Herbal untuk Stamina Pengetahuan Konsumen tentang Interaksi Kopi–Obat Pengetahuan Konsumen tentang Interaksi Kopi–Obat Perilaku Konsumsi Suplemen Antioksidan Perilaku Konsumsi Suplemen Antioksidan Konsumsi Suplemen: Konsep, Perilaku Konsumen, dan Faktor Penentu Konsumsi Suplemen: Konsep, Perilaku Konsumen, dan Faktor Penentu Keamanan Suplemen: Konsep, Regulasi, dan Perlindungan Konsumen Keamanan Suplemen: Konsep, Regulasi, dan Perlindungan Konsumen SPK Penentuan Harga Produk UMKM SPK Penentuan Harga Produk UMKM
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…