
Perubahan Pola Nafas: Pengertian dan Penyebab
Pendahuluan
Pernapasan adalah proses fisiologis vital yang mempertahankan oksigenasi dan eliminasi karbondioksida bagi jaringan tubuh. Pola pernapasan, meliputi frekuensi, kedalaman, ritme, dan simetri, mencerminkan kondisi sistem respirasi dan regulasi pernapasan. Ketika terjadi perubahan pada pola pernapasan normal, hal ini dapat menjadi indikator adanya gangguan medis, metabolik, neurologis, atau kardiovaskular. Oleh karena itu, mengenali dan memahami berbagai gangguan pola nafas penting dalam praktik keperawatan dan klinik untuk deteksi dini, penilaian, dan intervensi yang tepat. Artikel ini bertujuan menjelaskan pengertian, jenis-jenis gangguan, mekanisme, penyebab, metode penilaian, intervensi keperawatan, serta memberi contoh kasus nyata gangguan pola nafas.
Definisi Perubahan Pola Nafas
Definisi Perubahan Pola Nafas Secara Umum
Pola nafas mengacu pada cara individu bernapas, termasuk kecepatan (frekuensi), kedalaman napas (volume tidal), ritme, serta simetri gerakan dada dan abdomen selama inspirasi dan ekspirasi. Perubahan pola nafas berarti adanya penyimpangan dari karakteristik pernapasan normal dalam salah satu atau beberapa parameter tersebut, baik frekuensi, kedalaman, ritme, maupun regularitas, yang dapat menunjukkan adanya gangguan respirasi atau sistem lain. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Definisi Perubahan Pola Nafas dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “pola” dapat diartikan sebagai “susunan atau cara sesuatu terjadi”, sedangkan “nafas” adalah “pernapasan; proses menghirup dan menghembuskan udara”. Oleh karena itu, “pola nafas” merujuk pada cara atau pola pernapasan seseorang. Perubahan pola nafas berarti perubahan dalam cara seseorang bernapas dibandingkan pola normal yang wajar. (Catatan: definisi spesifik “perubahan pola nafas” mungkin tidak tersedia secara eksplisit di KBBI; definisi ini merupakan sintesis berdasarkan pengertian masing-kata).
Definisi Perubahan Pola Nafas Menurut Para Ahli
Menurut literatur keperawatan dan respirasi:
-
Tarwanto & Wartonah (2015), sebagaimana dikutip dalam suatu telaah, mendefinisikan perubahan pola nafas sebagai fenomena seperti dispnea (kesulitan bernapas), apnea (berhenti bernapas), takipnea, dan jenis pernapasan abnormal lainnya. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Dalam konteks asuhan keperawatan, NANDA International (NANDA) mendefinisikan “pola nafas tidak efektif” sebagai inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
-
Literatur pulmonologi mendefinisikan bahwa pola pernapasan melibatkan empat komponen utama: frekuensi (rate), kedalaman (drive), mode/simetri, dan regularitas (ritme). Ketidakseimbangan dalam satu atau lebih komponen ini menandakan perubahan pola pernapasan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Menurut kajian klinis, perubahan pola nafas sering muncul sebagai respons terhadap penyakit paru, gangguan metabolik, disfungsi neurologis, atau kondisi kardiovaskular, yang mempengaruhi ventilasi dan regulasi pernapasan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Jenis-Jenis Gangguan Pola Nafas
Berikut beberapa jenis gangguan pola nafas yang umum dikenal:
-
Takipnea (Tachypnea): Pernapasan lebih cepat dari normal, dengan frekuensi napas melebihi batas normal. Pada orang dewasa istirahat, napas normal berkisar 12, 20 kali/menit, sehingga takipnea biasanya ditandai dengan napas >20 kali/menit. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Bradipnea (Bradypnea): Pernapasan lebih lambat dari normal; frekuensi napas menurun di bawah rentang normal. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Cheyne, Stokes respiration: Pola pernapasan abnormal dengan periode siklikal, pernapasan bertahap dalam dan cepat (hiperventilasi), kemudian berkurang secara bertahap menjadi dangkal, dilanjutkan periode apnea (henti napas), lalu siklus berulang. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Kussmaul breathing: Pernapasan dalam dan cepat (hiperventilasi), sering terjadi sebagai kompensasi terhadap kondisi asidosis metabolik. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Biot's breathing (Cluster breathing / Ataxic breathing): Pernapasan dengan kluster atau periode napas irregular, diikuti periode apnea, tidak memiliki pola “crescendo-decrescendo” seperti Cheyne, Stokes, melainkan napas kluster dan jeda tidak teratur. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Pola normal (Eupnea): Pernapasan normal dengan frekuensi, kedalaman, ritme, dan simetri yang wajar. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Mekanisme Terjadinya Gangguan Pola Nafas
Pola pernapasan dikendalikan oleh pusat pernapasan di batang otak, chemoreceptor (yang merespon COβ, Oβ, pH), serta oleh sistem muskuloskeletal dan neuromuskular yang menggerakkan otot-otot pernapasan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Perubahan dalam salah satu atau lebih aspek kontrol ini, seperti respons terhadap hipoksia/hiperkapnia, cedera neurologis, asidosis metabolik, atau kegagalan organ, dapat mengubah frekuensi, kedalaman, ritme, dan simetri napas. Misalnya:
-
Asidosis metabolik meningkatkan stimulasi chemoreceptor → memicu hiperventilasi atau pola napas dalam-cepat seperti Kussmaul. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Cedera pada batang otak (otak kecil, medula, pons) dapat merusak pusat pengatur ritme pernapasan, mengakibatkan pola abnormal seperti Biot’s breathing, ataksik, atau Cheyne, Stokes. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Gangguan pada paru, jalan napas, atau otot pernapasan (misalnya obstruksi, kelemahan otot, penyakit restriktif) bisa mengubah efisiensi ventilasi, menyebabkan penyesuaian frekuensi dan kedalaman napas, bahkan menyebabkan pola nafas tidak efektif (ineffective breathing pattern). [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
Penyebab Medis Perubahan Pola Nafas
Penyebab perubahan pola nafas sangat luas, bisa lokal (pada paru/respirasi), atau sistemik:
-
Penyakit paru dan jalan napas: pneumonia, asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), obstruksi jalan napas, atelektasis, emboli paru, dapat mengganggu ventilasi atau difusi oksigen. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
-
Metabolik & Asidosis: kondisi seperti asidosis metabolik (misalnya pada gagal ginjal, ketoasidosis), keracunan, memicu kompensasi dengan pola napas dalam dan cepat (Kussmaul). [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Gangguan neurologis/neuropusat pernapasan: cedera otak, stroke, lesi batang otak, gagal neurologis berat, dapat mengacaukan pusat ritme pernapasan → pola seperti Biot’s, Cheyne, Stokes, atau ataksik breathe. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Kondisi kardiovaskular: gagal jantung, sirkulasi lambat, perfusi otak terganggu, ini dapat menyebabkan pola pernapasan periodik seperti Cheyne, Stokes. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Penurunan ventilasi / otot pernapasan lemah: kelemahan otot, depresi pusat pernapasan (misalnya obat sedatif), neuromuscular disease, dapat menyebabkan bradipnea, hipoventilasi, atau pola napas tidak efektif. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
Penilaian Pola Nafas pada Pasien
Penilaian pola nafas adalah langkah klinis penting untuk mendeteksi adanya gangguan pernapasan atau kondisi serius lain. Aspek-aspek yang dinilai termasuk:
-
Frekuensi napas (respiratory rate), hitung napas per menit. Normal dewasa ~12, 20 napas/menit. Deviasi (lebih cepat atau lambat) menunjukkan abnormalitas. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Kedalaman napas / volume tidal (napas dangkal vs dalam), meskipun sulit diukur secara tepat tanpa alat, perawat bisa mengamati gerakan dada/abdomen, penggunaan otot bantu pernapasan, “napas pendek” atau “napas dalam”. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Ritme dan regularitas pernapasan, apakah napas teratur, menyeragam, atau ada pola siklik, kluster, apnea, atau irregular. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Simetri gerakan dada/abdomen, apakah napas simetris, ada retraksi otot bantu, penggunaan otot leher/shoulder, distorsi gerakan dada → bisa menandakan obstruksi atau kelemahan. [Lihat sumber Disini - nurseslabs.com]
-
Tanda klinis tambahan, sianosis, penggunaan otot bantu, batuk, produksi sputum, saturasi oksigen, kesadaran, perubahan keadaan umum. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
-
Pemantauan objektif bila perlu, saturasi oksigen, gas darah, radiologi (foto thorax), auskultasi, dan dokumentasi pola nafas secara periodik. [Lihat sumber Disini - perpus-utama.poltekkes-malang.ac.id]
Penilaian harus dilakukan saat pasien dalam keadaan istirahat dan sedapat mungkin ketika ia tidak menyadari pengamatan, karena kesadaran pasien terhadap pengamatan dapat mengubah pola pernapasan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Intervensi Keperawatan untuk Masalah Pola Nafas
Berikut beberapa intervensi keperawatan yang bisa dilakukan saat mendeteksi perubahan pola nafas atau diagnosis “pola nafas tidak efektif”:
-
Posisi tubuh optimal: posisikan pasien agar jalan napas terbuka, misalnya posisi semi-Fowler, duduk tegak, kepala sedikit terangkat untuk memudahkan ventilasi. (bila tidak contraindicated) [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
-
Bantuan oksigen jika perlu, bila saturasi oksigen turun, kolaborasi dengan tim untuk pemberian oksigen/terapi respirasi sesuai indikasi. [Lihat sumber Disini - eprints.umpo.ac.id]
-
Terapi jalan napas, jika ada obstruksi, sputum, sekret, maka bantu menjaga jalan napas tetap bersih (misalnya teknik batuk efektif, fisioterapi, nebulisasi, bronkodilator/ekspektoran bila perlu) sesuai kolaborasi. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
-
Edukasi pasien & keluarga, ajarkan teknik pernapasan, posisi nyaman, batuk efektif, hidrasi adekuat (jika tidak kontraindikasi), serta ketika harus mencari bantuan medis. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
-
Pemantauan dan dokumentasi rutin, monitor frekuensi napas, saturasi oksigen, auskultasi, keadaan umum, respon terhadap intervensi; dokumentasikan dengan teliti. [Lihat sumber Disini - perpus-utama.poltekkes-malang.ac.id]
-
Kolaborasi dengan tim interprofesional, jika diperlukan: dokter, fisioterapis, terapis pernapasan, spesialis paru/kardiologi/neuro untuk terapi lanjutan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Contoh Kasus Gangguan Pola Nafas
Misalnya, pada pasien dengan gagal ginjal kronik yang mengalami “pola nafas tidak efektif”: seorang pasien dewasa datang dengan keluhan sesak napas, saturasi oksigen menurun, penggunaan otot bantu napas (retraksi), napas dangkal dan cepat, setelah dilakukan penilaian, frekuensi napas > 24 kali/menit (takipnea), kedalaman dangkal, asimetris gerakan dada, saturasi oksigen rendah → diagnosis pola nafas tidak efektif. Intervensi yang dilakukan: posisi semi-Fowler, pemberian oksigen sesuai kebutuhan, fisioterapi jalan napas, edukasi hidrasi dan batuk efektif, pemantauan ketat, kolaborasi dengan tim untuk manajemen penyakit dasar (gagal ginjal) dan komplikasi. (Mengacu pada penelitian asuhan keperawatan terhadap pasien gagal ginjal dengan masalah pola napas tidak efektif). [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-kaltim.ac.id]
Kesimpulan
Pola nafas merupakan parameter klinis fundamental yang mencerminkan keseimbangan fungsi respirasi dan regulasi pernapasan. Perubahan pola nafas, baik berupa frekuensi abnormal (takipnea, bradipnea), ritme tidak teratur (Cheyne, Stokes, Biot’s), maupun kedalaman abnormal (Kussmaul, hiperventilasi), dapat menjadi tanda adanya gangguan respirasi, metabolik, neurologis, atau kardiovaskular. Penilaian pola nafas yang sistematis, meliputi frekuensi, ritme, kedalaman, simetri, dan tanda klinis, adalah kunci untuk deteksi dini. Intervensi keperawatan mencakup posisi tubuh, oksigenasi, kebersihan jalan napas, edukasi, pemantauan, serta kolaborasi interprofesional sesuai kebutuhan. Dengan memahami berbagai jenis gangguan dan penyebab perubahan pola nafas, tenaga kesehatan dapat merespon secara tepat dan meminimalkan risiko komplikasi.