
Gangguan Eliminasi Fekal: Definisi dan Contoh
Pendahuluan
Eliminasi fekal merupakan proses penting dalam sistem pencernaan manusia, yaitu mekanisme tubuh untuk membuang sisa metabolisme berupa feses melalui saluran gastrointestinal ke anus. Ketika proses ini terganggu, bisa muncul berbagai gangguan kesehatan yang berdampak pada kenyamanan, fungsi fisik maupun psikososial seseorang. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai definisi, jenis-jenis, penyebab, gejala, penilaian, intervensi keperawatan, serta contoh kasus gangguan eliminasi fekal sangat penting, terutama bagi tenaga kesehatan maupun mahasiswa keperawatan. Artikel ini membahas secara komprehensif aspek-aspek tersebut.
Definisi Gangguan Eliminasi Fekal
Definisi Eliminasi Fekal Secara Umum
Eliminasi fekal adalah proses defekasi, yaitu pengeluaran feses dari rectum dan anus sebagai bagian dari mekanisme pembuangan sisa metabolisme tubuh melalui saluran pencernaan. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
Proses defekasi ini melibatkan gerakan peristaltik usus besar, relaksasi sfingter anal intern, dan koordinasi otot pelvis serta refleks internal sehingga feses dapat didorong keluar secara teratur. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Tujuan eliminasi fekal antara lain mempertahankan keseimbangan fisiologis tubuh dengan membuang sisa-sisa metabolisme serta menjaga fungsi saluran cerna yang normal. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
Definisi Eliminasi Fekal dalam KBBI
Menurut definisi populer dan dalam literatur keperawatan, “eliminasi fekal” bisa diartikan sebagai pengeluaran tinja melalui anus sebagai bagian dari sistem ekskresi. Dalam konteks keperawatan dan kesehatan, istilah ini lazim digunakan untuk menunjukkan fungsi normal maupun terganggunya proses defekasi. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Definisi Eliminasi Fekal Menurut Para Ahli
-
Menurut Maharani (2024) dalam konteks keperawatan, eliminasi fekal didefinisikan sebagai proses defekasi normal yang melibatkan pengeluaran feses dari saluran cerna melalui anus. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperalkautsar.ac.id]
-
Menurut referensi keperawatan umum (misalnya dalam literatur “Fundamentals of Nursing”), gangguan eliminasi fekal mencakup perubahan pola buang air besar, termasuk konstipasi, diare, inkontinensia, yang mengindikasikan fungsi defekasi tidak normal. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Dalam penelitian POLTEKKES Kemenkes Riau (Artha dkk.), dikatakan bahwa eliminasi fekal diperlukan untuk menjaga keseimbangan fisiologis melalui pembuangan sisa metabolisme; gangguan pada eliminasi fekal dapat memperburuk kondisi pasien, terutama di ICU. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
-
Literatur keperawatan menyebut bahwa “gangguan buang air besar” bisa terjadi ketika proses defekasi terhambat atau berubah, misalnya frekuensi menurun, tinja keras, inkontinensia, sehingga termasuk dalam gangguan eliminasi fekal. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Jenis-jenis Gangguan Eliminasi Fekal
Berikut ini merupakan bentuk-bentuk umum dari gangguan eliminasi fekal:
-
Diare, pengeluaran feses sangat sering dengan konsistensi cair atau lunak, sering disertai urgensi, kram perut, bising usus meningkat. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Konstipasi, pengeluaran feses jarang, tinja keras dan kering, kesulitan defekasi, mengejan, sensasi tidak tuntas buang air besar. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Impaksi fekal, kondisi dimana feses mengeras dan tersumbat dalam saluran usus sehingga tidak ada defekasi normal; bisa disertai distensi abdomen, anoreksia, nyeri rektum. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Inkontinensia fekal (atau fecal incontinence), ketidakmampuan menahan tinja atau gas sehingga terjadi pengeluaran feses secara involunter. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Selain itu, meskipun tidak selalu disebut secara eksplisit, gangguan lain bisa meliputi flatulens (peningkatan gas), distensi usus, atau disfungsi motilitas usus. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Faktor Penyebab Gangguan Eliminasi Fekal
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi atau menyebabkan gangguan eliminasi fekal antara lain:
-
Asupan serat rendah dan pola makan kurang sehat, diet dengan serat rendah meningkatkan risiko konstipasi. [Lihat sumber Disini - eprints.umpo.ac.id]
-
Kurang asupan cairan / dehidrasi, berdampak pada volume dan konsistensi feses. [Lihat sumber Disini - studocu.com]
-
Aktivitas fisik rendah / imobilisasi, menurunkan motilitas usus dan memperlambat defekasi, terutama pada pasien lanjut usia atau yang sakit berat. [Lihat sumber Disini - siakad.stikesdhb.ac.id]
-
Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti obat yang mengganggu motilitas usus atau menyebabkan konstipasi/ diare. [Lihat sumber Disini - studocu.com]
-
Gangguan neurologis atau penurunan fungsi saraf otonom (misalnya pada pasien dengan cedera tulang belakang), bisa menyebabkan disfungsi motilitas atau kontrol sfingter → inkontinensia atau impaksi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Faktor usia, lansia lebih rentan mengalami konstipasi atau inkontinensia karena perubahan fisiologis, aktivitas menurun, dan asupan nutrisi/ cairan yang berubah. [Lihat sumber Disini - eprints.umpo.ac.id]
Dalam konteks pasien kritis (misalnya di ICU), faktor-faktor seperti lamanya perawatan/rawat inap juga terekam berhubungan dengan gangguan eliminasi fekal. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
Tanda dan Gejala Klinis
Gejala gangguan eliminasi fekal berbeda tergantung jenis gangguannya. Berikut beberapa tanda dan gejala klinis sesuai kondisi:
-
Diare: buang air besar lebih dari tiga kali dalam 24 jam, tinja cair/lunak, urgensi, kram perut, bising usus meningkat. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Konstipasi: defekasi jarang (< 3×/minggu atau sesuai kriteria klinis), tinja keras/kering, mengejan saat defekasi, sensasi tidak tuntas buang air besar, nyeri abdomen atau rektum. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkesbengkulu.ac.id]
-
Impaksi fekal: tidak ada defekasi normal, mungkin tidak ada flatus, distensi abdomen, anoreksia, kembung, kram abdominal, nyeri rektum/perineum. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Inkontinensia fekal: pengeluaran feses atau gas tanpa kontrol, bisa berupa rembesan halus, kebocoran mendadak, sulit menahan tinja/flatus, noda feses pada pakaian dalam, kehilangan kontrol defekasi. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Perubahan pola defekasi (frekuensi, konsistensi, kontrol) sering menjadi indikasi awal gangguan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Penilaian Fungsi Eliminasi
Penilaian fungsi eliminasi fekal penting dilakukan oleh tenaga keperawatan sebelum menyusun intervensi. Beberapa aspek penilaian meliputi:
-
Riwayat pola BAB, frekuensi normal bagi individu, perubahan pola (lebih sering atau jarang), konsistensi tinja, adanya urgensi, kesulitan, mengejan, nyeri, inkontinensia. (anamnesis) [Lihat sumber Disini - studocu.com]
-
Pemeriksaan fisik abdomen dan rektum, palpasi abdomen (distensi, massa), inspeksi anus/perineum, pemeriksaan tonus sfingter (pada kasus inkontinensia), refleks defekasi jika diperlukan. [Lihat sumber Disini - nurseslabs.com]
-
Observasi output BAB, frekuensi, volume, konsistensi, warna, bau, adanya darah/mukus. (catatan keperawatan) [Lihat sumber Disini - slideshare.net]
-
Faktor risiko dan faktor pemicu, asupan makanan dan cairan, aktivitas fisik, penggunaan obat, kondisi komorbid (neurologis, metabolik), status hidrasi, mobilitas. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Evaluasi kebutuhan dan efek terhadap aktivitas sehari-hari, apakah gangguan BAB mempengaruhi nutrisi, hidrasi, kenyamanan, kualitas hidup, dan aspek psikososial. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
Dalam kerangka keperawatan, data penilaian ini akan membantu menentukan diagnosis keperawatan sesuai klasifikasi (misalnya NANDAโI) dan merencanakan intervensi yang tepat. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Intervensi Keperawatan untuk Gangguan Eliminasi Fekal
Intervensi keperawatan bervariasi tergantung jenis gangguan dan penyebab, tetapi secara umum meliputi:
-
Optimalisasi asupan nutrisi dan cairan, meningkatkan serat dan cairan jika konstipasi; memperhatikan diet seimbang jika diare. (asuhan diet) [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Edukasi pola hidup sehat, anjurkan aktivitas fisik cukup, mobilisasi jika memungkinkan, kebiasaan BAB yang teratur. [Lihat sumber Disini - nurse.com]
-
Pemantauan fungsi eliminasi, mencatat pola BAB, konsistensi tinja, tanda-tanda komplikasi (nyeri, distensi, inkontinensia), memonitor hidrasi dan elektrolit bila perlu (terutama pada diare). [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Perawatan kulit dan perineum, penting terutama pada inkontinensia untuk mencegah iritasi, luka, infeksi kulit. (asuhan kebersihan) [Lihat sumber Disini - nurseslabs.com]
-
Intervensi non-farmakologis, seperti pijat abdomen, perubahan posisi, latihan otot panggul atau latihan dasar panggul (tergantung kasus) untuk membantu motilitas atau kontrol sfingter. [Lihat sumber Disini - siakad.stikesdhb.ac.id]
-
Intervensi kolaboratif / rujukan medis, jika ada penyebab patologis (misalnya penyakit usus, kelainan neurologis, obstruksi, tumor), rujuk ke dokter spesialis sesuai kebutuhan. [Lihat sumber Disini - pustaka.poltekkes-pdg.ac.id]
Tujuan intervensi adalah memulihkan atau memfasilitasi fungsi defekasi normal, mencegah komplikasi, serta menjaga kenyamanan dan kualitas hidup klien. [Lihat sumber Disini - nursetogether.com]
Contoh Kasus Gangguan Eliminasi Fekal
Berikut salah satu contoh kasus berdasarkan literatur keperawatan:
Seorang lansia (misalnya usia 76 tahun) dibawa ke unit rawat inap dengan keluhan sulit buang air besar selama seminggu, tidak ada defekasi, perut terasa penuh, tinja tidak keluar, dan mengalami penurunan mobilitas serta asupan serat rendah. Pemeriksaan menunjukkan kondisi lemah, kulit kering, dan adanya luka atau komplikasi kulit akibat retensi feses. Diagnosa keperawatan yang ditetapkan: “Konstipasi” → intervensi: peningkatan asupan serat dan cairan, mobilisasi, pemantauan fungsi eliminasi, perawatan kulit, edukasi klien. Setelah perawatan, frekuensi BAB membaik dan kondisi klien stabil. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Kasus lain, pasien pasca kolostomi dengan gangguan eliminasi fekal, di mana perawat melakukan asuhan terintegrasi termasuk manajemen diet, pemantauan output, dan perawatan stoma sehingga menjaga fungsi dan kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - pustaka.poltekkes-pdg.ac.id]
Kesimpulan
Gangguan eliminasi fekal, meliputi diare, konstipasi, impaksi, dan inkontinensia, merupakan masalah klinis yang penting karena berkaitan dengan keseimbangan fisiologis, kenyamanan, dan kualitas hidup individu. Pemahaman mendasar tentang definisi, jenis, penyebab, gejala, penilaian, serta intervensi keperawatan menjadi kunci dalam mengidentifikasi dan mengatasi gangguan tersebut secara efektif. Penilaian yang komprehensif dan intervensi sesuai kondisi dapat membantu memulihkan fungsi defekasi normal atau meminimalkan dampak negatif dari gangguan eliminasi. Oleh karena itu, tenaga keperawatan maupun profesional kesehatan perlu meningkatkan literasi dan keterampilan dalam asuhan eliminasi fekal agar asuhan kepada klien bisa optimal.