Daftar Isi

Terakhir diperbarui: 19 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 19 December). Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. SumberAjar. Retrieved 25 March 2026, from https://sumberajar.com/kamus/sanitasi-total-berbasis-masyarakat  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat - SumberAjar.com

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

Pendahuluan

Sanitasi merupakan kebutuhan mendasar bagi kesehatan manusia serta lingkungan. Sanitasi yang buruk berkaitan erat dengan tingginya kejadian penyakit berbasis lingkungan seperti diare, infeksi gastrointestinal, dan gangguan kesehatan lainnya yang disebabkan oleh kurangnya kebiasaan hidup bersih dan sehat. Sanitas yang inklusif tidak hanya sekedar penyediaan fasilitas, tetapi juga perubahan perilaku sosial-sanitasi yang melekat dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) hadir sebagai pendekatan strategis yang mendorong perubahan perilaku sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat secara aktif. Program ini bukan hanya tentang pembangunan fasilitas, tetapi bagaimana masyarakat sadar akan pentingnya sanitasi, mau berubah perilakunya secara mandiri, serta mampu memelihara perilaku bersih dan sehat secara terus-menerus.

Dalam konteks pembangunan kesehatan lingkungan nasional, STBM menjadi salah satu program prioritas yang dicanangkan dan diatur secara hukum di Indonesia melalui kebijakan Kementerian Kesehatan RI. Hal ini mendukung pencapaian target kesehatan masyarakat, terutama dalam menanggulangi perilaku buang air besar sembarangan dan meningkatkan perilaku kebersihan keluarga secara komprehensif. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]


Definisi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

Definisi secara umum

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah pendekatan pembangunan sanitasi yang menitikberatkan pada perubahan perilaku kebersihan dan sanitasi masyarakat, melalui pemberdayaan komunitas dengan metode “pemicuan” daripada sekadar penyediaan fasilitas. Program ini bertujuan mengatasi perilaku hidup tidak bersih seperti buang air besar sembarangan, serta meningkatkan pengelolaan air minum, cuci tangan pakai sabun, dan pengelolaan limbah rumah tangga secara lebih sehat dan mandiri. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]

Definisi dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah sanitasi merujuk pada upaya yang terkait dengan kebersihan lingkungan, pencegahan dan pengendalian faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan, terutama melalui penyediaan fasilitas sanitasi yang memadai dan perilaku hidup bersih dan sehat. STBM dapat dipahami sebagai bentuk aplikatif dari upaya sanitasi tersebut dengan basis pendekatan masyarakat. (Catatan: definisi diambil dari KBBI terkait sanitasi dan penggabungan istilah sesuai konteks STBM dari literatur)

Definisi menurut para ahli

  1. Bagaskara Dwi Wahyu Jati & Priyanto Susiloadi (2022)

    STBM adalah pendekatan dalam mengubah karakter perilaku kebersihan serta sanitasi melalui pemberdayaan warga dengan metode pemicuan. Pendekatan ini menitikberatkan peran aktif masyarakat dalam pengambilan keputusan dan implementasi tindakan sanitasi yang sehat. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]

  2. Permenkes RI No. 3 Tahun 2014

    STBM didefinisikan sebagai pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan, dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi tingginya. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]

  3. Jurnal Abdidas (Rany et al., 2023)

    Program ini merupakan adaptasi dari model Community-Led Total Sanitation (CLTS) yang berfokus pada lima pilar utama, yang mencakup stop buang air besar sembarangan dan perilaku higienis lainnya dengan keterlibatan masyarakat secara menyeluruh. [Lihat sumber Disini - abdidas.org]

  4. Implementasi STBM di beberapa studi kesehatan

    STBM dipandang sebagai pendekatan perubahan perilaku sanitasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan di lingkungan masyarakat, dengan tujuan jangka panjang untuk meningkatkan akses sanitasi dasar dan perilaku hidup bersih serta menurunkan kejadian penyakit berbasis lingkungan. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]


Konsep dan Prinsip Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

STBM didasarkan pada konsep bahwa perubahan perilaku sanitasi lebih efektif jika masyarakat diberdayakan untuk mengambil pemecahan masalah sanitasi mereka sendiri. Hal ini berbeda dari pendekatan konvensional yang hanya menitikberatkan pada penyediaan infrastruktur saja.

Konsep utama STBM

  1. Partisipasi masyarakat yang aktif:

    Masyarakat menghadapi tantangan sanitasi dan merumuskan solusinya secara kolektif, bukan hanya menerima solusi dari luar. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]

  2. Metode pemicuan (triggering):

    Pemicuan merupakan proses yang memicu kesadaran masyarakat terhadap konsekuensi kesehatan dari praktik sanitasi buruk seperti buang air besar di tempat terbuka, dengan tujuan menciptakan komitmen kolektif untuk berubah. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]

  3. Pendekatan berbasis perilaku bukan sekadar fasilitas:

    Fokus utama STBM adalah perubahan perilaku seperti mencuci tangan pakai sabun dan pengelolaan limbah yang benar, bukan hanya sekedar pembangunan jamban atau fasilitas sanitasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]

  4. Pemberdayaan masyarakat:

    STBM menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama proses perubahan, termasuk dalam pengambilan keputusan, implementasi, serta pemantauan program sanitasi di komunitas. [Lihat sumber Disini - abdidas.org]

Prinsip-prinsipnya


Pilar-pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

STBM terdiri dari lima pilar utama yang saling terkait dan menjadi dasar implementasi program di komunitas:

1. Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS)

Pilar ini menargetkan eliminasi praktik buang air besar di tempat terbuka agar komunitas menjadi bebas BABS (Open Defecation Free / ODF). Eliminasi BABS penting untuk memutus jalur kontaminasi feses terhadap lingkungan serta mencegah penyakit berbasis feses seperti diare dan infeksi usus. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]

2. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)

Cuci tangan dengan sabun pada momen kritis (sebelum makan, setelah buang air besar) merupakan kunci untuk mencegah penyebaran kuman dan infeksi. Pilar ini bertujuan untuk menanamkan kebiasaan cuci tangan pakai sabun secara konsisten di masyarakat setiap hari. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

3. Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM-RT)

Tujuan pilar ini adalah memastikan air minum dan makanan yang dikonsumsi aman dan tidak terkontaminasi mikroorganisme patogen. Ini mencakup praktik penyimpanan air bersih, pengelolaan makanan dan minuman secara higienis. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]

4. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (PS-RT)

Pilar ini mendorong masyarakat untuk mengelola sampah rumah tangga secara benar, termasuk memilah sampah, serta menempatkan dan membuang sampah pada tempat yang sesuai. Praktik yang baik akan mengurangi vektor penyakit seperti lalat dan tikus yang berasal dari sampah. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]

5. Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga (PLC-RT)

Pengelolaan limbah cair, termasuk pembuangan air bekas cucian dan wastafel, diarahkan agar tidak mencemari lingkungan. Limbah cair yang tidak terkelola benar dapat menjadi sumber penyakit dan pencemar lingkungan. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]


Peran Masyarakat dalam Pelaksanaan STBM

Keberhasilan STBM sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahapan program. Berikut peran utama masyarakat dalam implementasi STBM:

1. Partisipasi aktif dalam identifikasi masalah sanitasi

Masyarakat bekerja sama dalam mendeteksi masalah sanitasi di komunitasnya serta merumuskan penyelesaian yang sesuai. Ini memperkuat rasa kepemilikan terhadap program yang dijalankan. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]

2. Fasilitator lokal dan kader kesehatan

Anggota komunitas dilatih sebagai fasilitator atau kader STBM guna memimpin pemicuan, edukasi, serta pengawasan pelaksanaan lima pilar STBM. Kader ini memainkan peran penting dalam konsolidasi perubahan perilaku di masyarakat. [Lihat sumber Disini - pagepressjournals.org]

3. Perubahan perilaku kolektif

Masyarakat secara bersama-sama mengikuti komitmen untuk menghentikan praktik sanitasi buruk, mulai dari BABS hingga kebiasaan cuci tangan pakai sabun, yang semuanya memerlukan kesadaran kolektif dan konsistensi tindakan bersama. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

4. Self-monitoring dan evaluasi komunitas

Masyarakat terlibat dalam monitoring internal, termasuk mengevaluasi apakah target ODF telah tercapai dan apakah praktik sanitasi lain berkelanjutan. Hal ini mendorong rasa tanggung jawab bersama di komunitas. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]


Dampak STBM terhadap Kesehatan Lingkungan

Pelaksanaan STBM terbukti memberikan dampak positif terhadap kesehatan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Dampak tersebut antara lain:

1. Penurunan Perilaku Buang Air Besar Sembarangan

STBM secara signifikan menurunkan praktik BABS, yang merupakan faktor risiko utama terjadinya penyebaran penyakit terkait lingkungan, termasuk diare. [Lihat sumber Disini - gpijournal.com]

2. Peningkatan Kebiasaan Hidup Bersih dan Sehat

Kebiasaan cuci tangan pakai sabun, pengelolaan makanan dan air minum yang aman, serta pengelolaan limbah rumah tangga membantu mengurangi kontaminasi lingkungan dan risiko penyakit. [Lihat sumber Disini - gpijournal.com]

3. Perbaikan Kualitas Lingkungan

Dengan pengelolaan sampah dan limbah cair yang lebih baik, STBM membantu menciptakan lingkungan kurang tercemar oleh polutan biologis maupun kimiawi, sehingga mengurangi vektor penyakit seperti lalat, tikus, dan nyamuk. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]

4. Perubahan Perilaku Kesehatan Jangka Panjang

STBM mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan dalam komunitas, tidak hanya untuk saat pelaksanaan program tetapi juga sebagai budaya hidup bersih lahir dan batin. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]


Tantangan Implementasi STBM

Walaupun STBM memiliki dampak positif, beberapa tantangan sering terjadi dalam praktiknya, di antaranya:

1. Tingkat partisipasi masyarakat yang bervariasi

Tidak semua anggota komunitas memiliki tingkat motivasi atau pengetahuan yang sama, sehingga partisipasi aktif dalam semua pilar STBM seringkali tidak merata. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]

2. Ketersediaan sumber daya

Pelaksanaan STBM memerlukan sumber daya seperti air bersih, fasilitas jamban, dan bahan hygiene lain yang tidak selalu tersedia secara merata di wilayah tertentu, terutama di daerah tertinggal. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

3. Tantangan perilaku yang sudah tertanam lama

Perubahan perilaku sanitasi tidak instan dan memerlukan waktu serta penguatan terus-menerus karena kebiasaan lama seringkali sangat melekat dalam budaya. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]

4. Monitoring dan evaluasi berkelanjutan

Implementasi STBM membutuhkan sistem monitoring yang efektif untuk memastikan praktik semua pilar STBM terpelihara secara jangka panjang, yang seringkali sulit dilakukan tanpa dukungan lembaga dan sumber daya yang memadai. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]


Strategi Penguatan Program STBM

Agar pelaksanaan STBM lebih efektif, sejumlah strategi perlu diterapkan, antara lain:

1. Penguatan edukasi dan penyuluhan

Melakukan edukasi sanitasi secara berkelanjutan kepada masyarakat melalui fasilitator lokal, kader kesehatan, dan institusi pendidikan dapat meningkatkan pengetahuan serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sanitasi. [Lihat sumber Disini - publikasi.dinus.ac.id]

2. Dukungan kebijakan dan penyediaan fasilitas

Dukungan dari pemerintah daerah dan lembaga terkait untuk penyediaan fasilitas sanitasi yang layak seperti air bersih, jamban sehat, serta tempat cuci tangan adalah langkah penting untuk mendukung perubahan perilaku masyarakat. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]

3. Pemberdayaan komunitas secara berkelanjutan

Mengoptimalkan peran serta komunitas melalui pembentukan kelompok sanitarian atau kader lingkungan guna memantau praktik STBM secara mandiri dapat meningkatkan keberlanjutan program. [Lihat sumber Disini - abdidas.org]

4. Monitoring dan evaluasi berbasis data

Penerapan sistem pemantauan berbasis data yang melibatkan masyarakat dan instansi kesehatan lokal dapat memastikan program STBM berjalan sesuai target dan membantu perbaikan strategi pelaksanaan secara real-time. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]


Kesimpulan

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah pendekatan pembangunan sanitasi yang berfokus pada perubahan perilaku kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat secara aktif. STBM melibatkan lima pilar utama yang bekerja secara bersama untuk meningkatkan sanitasi dan hygiene di komunitas, termasuk stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan, serta pengelolaan sampah dan limbah cair.

Peran aktif masyarakat sangat krusial dalam implementasi STBM, baik dalam pemicuan perubahan perilaku, pengawasan internal komunitas, dan evaluasi berkelanjutan. Dampak yang dihasilkan dari pelaksanaan STBM mencakup penurunan praktik sanitasi buruk, peningkatan gaya hidup bersih dan sehat serta perbaikan kualitas lingkungan. Tantangan dalam pelaksanaan STBM meliputi ketersediaan sumber daya, partisipasi masyarakat yang bervariasi, serta kebutuhan akan monitoring yang konsisten.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, dibutuhkan strategi yang melibatkan kombinasi edukasi berkelanjutan, dukungan kebijakan dan fasilitas, pemberdayaan komunitas, serta implementasi sistem monitoring berbasis data. Dengan strategi yang tepat, STBM memiliki potensi besar untuk menciptakan perubahan sanitasi yang berkelanjutan serta meningkatkan kesehatan masyarakat secara luas.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah pendekatan pembangunan sanitasi yang menitikberatkan pada perubahan perilaku masyarakat melalui pemberdayaan komunitas secara mandiri, dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas lingkungan.

Tujuan utama STBM adalah mendorong perubahan perilaku sanitasi dan higiene masyarakat agar tercipta lingkungan yang bersih, sehat, bebas dari praktik buang air besar sembarangan, serta mampu menurunkan risiko penyakit berbasis lingkungan.

STBM memiliki lima pilar utama, yaitu stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, serta pengelolaan limbah cair rumah tangga.

Peran masyarakat sangat penting karena STBM menekankan perubahan perilaku yang bersifat mandiri dan berkelanjutan. Partisipasi aktif masyarakat memastikan praktik sanitasi sehat diterapkan secara konsisten dan menjadi budaya bersama.

Penerapan STBM berdampak pada penurunan praktik sanitasi buruk, berkurangnya pencemaran lingkungan, menurunnya kejadian penyakit berbasis lingkungan, serta meningkatnya perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat.

Tantangan utama implementasi STBM meliputi rendahnya partisipasi sebagian masyarakat, keterbatasan fasilitas sanitasi, kebiasaan lama yang sulit diubah, serta kurangnya monitoring dan evaluasi berkelanjutan.

Strategi penguatan STBM meliputi peningkatan edukasi dan penyuluhan, dukungan kebijakan dan fasilitas sanitasi, pemberdayaan kader dan komunitas, serta monitoring dan evaluasi berbasis data secara berkelanjutan.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Sanitasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan Sanitasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan Sanitasi Lingkungan: Konsep, risiko kesehatan, dan pencegahan Sanitasi Lingkungan: Konsep, risiko kesehatan, dan pencegahan Hubungan Sanitasi dan Stunting Hubungan Sanitasi dan Stunting Hygiene Sanitasi Lingkungan Hygiene Sanitasi Lingkungan Faktor Risiko Penyakit Berbasis Lingkungan Faktor Risiko Penyakit Berbasis Lingkungan Kesehatan Permukiman Kesehatan Permukiman Penyakit Berbasis Lingkungan Penyakit Berbasis Lingkungan Stunting dan Faktor Perilaku Stunting dan Faktor Perilaku Dampak Lingkungan terhadap Kesehatan Dampak Lingkungan terhadap Kesehatan Pencegahan Diare Pencegahan Diare Risiko Diare: Penyebab dan Penatalaksanaannya Risiko Diare: Penyebab dan Penatalaksanaannya Faktor Risiko Stunting pada Balita Faktor Risiko Stunting pada Balita Air Bersih dan Kesehatan Air Bersih dan Kesehatan PHBS: Konsep, determinan perilaku, dan dampaknya PHBS: Konsep, determinan perilaku, dan dampaknya Stunting: Pengertian dan Penyebab Stunting: Pengertian dan Penyebab Perilaku Cuci Tangan Masyarakat Perilaku Cuci Tangan Masyarakat Manajemen Kualitas Total (TQM): Konsep, Perbaikan Berkelanjutan, dan Mutu Manajemen Kualitas Total (TQM): Konsep, Perbaikan Berkelanjutan, dan Mutu Debt to Equity Ratio: Konsep dan Analisis Debt to Equity Ratio: Konsep dan Analisis Diare: Konsep, Penyebab, dan Penanganan Keperawatan Diare: Konsep, Penyebab, dan Penanganan Keperawatan Debt to Equity Ratio (DER): Konsep, Analisis Struktur Modal, dan Risiko Debt to Equity Ratio (DER): Konsep, Analisis Struktur Modal, dan Risiko
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…