
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
Pendahuluan
Sanitasi merupakan kebutuhan mendasar bagi kesehatan manusia serta lingkungan. Sanitasi yang buruk berkaitan erat dengan tingginya kejadian penyakit berbasis lingkungan seperti diare, infeksi gastrointestinal, dan gangguan kesehatan lainnya yang disebabkan oleh kurangnya kebiasaan hidup bersih dan sehat. Sanitas yang inklusif tidak hanya sekedar penyediaan fasilitas, tetapi juga perubahan perilaku sosial-sanitasi yang melekat dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) hadir sebagai pendekatan strategis yang mendorong perubahan perilaku sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat secara aktif. Program ini bukan hanya tentang pembangunan fasilitas, tetapi bagaimana masyarakat sadar akan pentingnya sanitasi, mau berubah perilakunya secara mandiri, serta mampu memelihara perilaku bersih dan sehat secara terus-menerus.
Dalam konteks pembangunan kesehatan lingkungan nasional, STBM menjadi salah satu program prioritas yang dicanangkan dan diatur secara hukum di Indonesia melalui kebijakan Kementerian Kesehatan RI. Hal ini mendukung pencapaian target kesehatan masyarakat, terutama dalam menanggulangi perilaku buang air besar sembarangan dan meningkatkan perilaku kebersihan keluarga secara komprehensif. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]
Definisi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
Definisi secara umum
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah pendekatan pembangunan sanitasi yang menitikberatkan pada perubahan perilaku kebersihan dan sanitasi masyarakat, melalui pemberdayaan komunitas dengan metode “pemicuan” daripada sekadar penyediaan fasilitas. Program ini bertujuan mengatasi perilaku hidup tidak bersih seperti buang air besar sembarangan, serta meningkatkan pengelolaan air minum, cuci tangan pakai sabun, dan pengelolaan limbah rumah tangga secara lebih sehat dan mandiri. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
Definisi dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah sanitasi merujuk pada upaya yang terkait dengan kebersihan lingkungan, pencegahan dan pengendalian faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan, terutama melalui penyediaan fasilitas sanitasi yang memadai dan perilaku hidup bersih dan sehat. STBM dapat dipahami sebagai bentuk aplikatif dari upaya sanitasi tersebut dengan basis pendekatan masyarakat. (Catatan: definisi diambil dari KBBI terkait sanitasi dan penggabungan istilah sesuai konteks STBM dari literatur)
Definisi menurut para ahli
-
Bagaskara Dwi Wahyu Jati & Priyanto Susiloadi (2022)
STBM adalah pendekatan dalam mengubah karakter perilaku kebersihan serta sanitasi melalui pemberdayaan warga dengan metode pemicuan. Pendekatan ini menitikberatkan peran aktif masyarakat dalam pengambilan keputusan dan implementasi tindakan sanitasi yang sehat. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
-
Permenkes RI No. 3 Tahun 2014
STBM didefinisikan sebagai pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan, dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi tingginya. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]
-
Jurnal Abdidas (Rany et al., 2023)
Program ini merupakan adaptasi dari model Community-Led Total Sanitation (CLTS) yang berfokus pada lima pilar utama, yang mencakup stop buang air besar sembarangan dan perilaku higienis lainnya dengan keterlibatan masyarakat secara menyeluruh. [Lihat sumber Disini - abdidas.org]
-
Implementasi STBM di beberapa studi kesehatan
STBM dipandang sebagai pendekatan perubahan perilaku sanitasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan di lingkungan masyarakat, dengan tujuan jangka panjang untuk meningkatkan akses sanitasi dasar dan perilaku hidup bersih serta menurunkan kejadian penyakit berbasis lingkungan. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Konsep dan Prinsip Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
STBM didasarkan pada konsep bahwa perubahan perilaku sanitasi lebih efektif jika masyarakat diberdayakan untuk mengambil pemecahan masalah sanitasi mereka sendiri. Hal ini berbeda dari pendekatan konvensional yang hanya menitikberatkan pada penyediaan infrastruktur saja.
Konsep utama STBM
-
Partisipasi masyarakat yang aktif:
Masyarakat menghadapi tantangan sanitasi dan merumuskan solusinya secara kolektif, bukan hanya menerima solusi dari luar. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]
-
Metode pemicuan (triggering):
Pemicuan merupakan proses yang memicu kesadaran masyarakat terhadap konsekuensi kesehatan dari praktik sanitasi buruk seperti buang air besar di tempat terbuka, dengan tujuan menciptakan komitmen kolektif untuk berubah. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]
-
Pendekatan berbasis perilaku bukan sekadar fasilitas:
Fokus utama STBM adalah perubahan perilaku seperti mencuci tangan pakai sabun dan pengelolaan limbah yang benar, bukan hanya sekedar pembangunan jamban atau fasilitas sanitasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
-
Pemberdayaan masyarakat:
STBM menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama proses perubahan, termasuk dalam pengambilan keputusan, implementasi, serta pemantauan program sanitasi di komunitas. [Lihat sumber Disini - abdidas.org]
Prinsip-prinsipnya
-
Independen dan berkelanjutan
STBM bertujuan masyarakat mampu secara mandiri menjalankan praktik sanitasi sehat tanpa tergantung pada bantuan eksternal secara terus-menerus. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]
-
Perubahan perilaku permanen
Program tidak hanya mempromosikan perubahan sementara, tetapi perilaku bersih dan sehat yang berlangsung jangka panjang. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Kultur lokal dan kontekstual
Pendekatan disesuaikan dengan budaya, nilai, dan kondisi lokal masyarakat sehingga penerapannya lebih relevan dan efektif. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
Pilar-pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
STBM terdiri dari lima pilar utama yang saling terkait dan menjadi dasar implementasi program di komunitas:
1. Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS)
Pilar ini menargetkan eliminasi praktik buang air besar di tempat terbuka agar komunitas menjadi bebas BABS (Open Defecation Free / ODF). Eliminasi BABS penting untuk memutus jalur kontaminasi feses terhadap lingkungan serta mencegah penyakit berbasis feses seperti diare dan infeksi usus. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
2. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)
Cuci tangan dengan sabun pada momen kritis (sebelum makan, setelah buang air besar) merupakan kunci untuk mencegah penyebaran kuman dan infeksi. Pilar ini bertujuan untuk menanamkan kebiasaan cuci tangan pakai sabun secara konsisten di masyarakat setiap hari. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
3. Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM-RT)
Tujuan pilar ini adalah memastikan air minum dan makanan yang dikonsumsi aman dan tidak terkontaminasi mikroorganisme patogen. Ini mencakup praktik penyimpanan air bersih, pengelolaan makanan dan minuman secara higienis. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
4. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (PS-RT)
Pilar ini mendorong masyarakat untuk mengelola sampah rumah tangga secara benar, termasuk memilah sampah, serta menempatkan dan membuang sampah pada tempat yang sesuai. Praktik yang baik akan mengurangi vektor penyakit seperti lalat dan tikus yang berasal dari sampah. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]
5. Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga (PLC-RT)
Pengelolaan limbah cair, termasuk pembuangan air bekas cucian dan wastafel, diarahkan agar tidak mencemari lingkungan. Limbah cair yang tidak terkelola benar dapat menjadi sumber penyakit dan pencemar lingkungan. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]
Peran Masyarakat dalam Pelaksanaan STBM
Keberhasilan STBM sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahapan program. Berikut peran utama masyarakat dalam implementasi STBM:
1. Partisipasi aktif dalam identifikasi masalah sanitasi
Masyarakat bekerja sama dalam mendeteksi masalah sanitasi di komunitasnya serta merumuskan penyelesaian yang sesuai. Ini memperkuat rasa kepemilikan terhadap program yang dijalankan. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
2. Fasilitator lokal dan kader kesehatan
Anggota komunitas dilatih sebagai fasilitator atau kader STBM guna memimpin pemicuan, edukasi, serta pengawasan pelaksanaan lima pilar STBM. Kader ini memainkan peran penting dalam konsolidasi perubahan perilaku di masyarakat. [Lihat sumber Disini - pagepressjournals.org]
3. Perubahan perilaku kolektif
Masyarakat secara bersama-sama mengikuti komitmen untuk menghentikan praktik sanitasi buruk, mulai dari BABS hingga kebiasaan cuci tangan pakai sabun, yang semuanya memerlukan kesadaran kolektif dan konsistensi tindakan bersama. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
4. Self-monitoring dan evaluasi komunitas
Masyarakat terlibat dalam monitoring internal, termasuk mengevaluasi apakah target ODF telah tercapai dan apakah praktik sanitasi lain berkelanjutan. Hal ini mendorong rasa tanggung jawab bersama di komunitas. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]
Dampak STBM terhadap Kesehatan Lingkungan
Pelaksanaan STBM terbukti memberikan dampak positif terhadap kesehatan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Dampak tersebut antara lain:
1. Penurunan Perilaku Buang Air Besar Sembarangan
STBM secara signifikan menurunkan praktik BABS, yang merupakan faktor risiko utama terjadinya penyebaran penyakit terkait lingkungan, termasuk diare. [Lihat sumber Disini - gpijournal.com]
2. Peningkatan Kebiasaan Hidup Bersih dan Sehat
Kebiasaan cuci tangan pakai sabun, pengelolaan makanan dan air minum yang aman, serta pengelolaan limbah rumah tangga membantu mengurangi kontaminasi lingkungan dan risiko penyakit. [Lihat sumber Disini - gpijournal.com]
3. Perbaikan Kualitas Lingkungan
Dengan pengelolaan sampah dan limbah cair yang lebih baik, STBM membantu menciptakan lingkungan kurang tercemar oleh polutan biologis maupun kimiawi, sehingga mengurangi vektor penyakit seperti lalat, tikus, dan nyamuk. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]
4. Perubahan Perilaku Kesehatan Jangka Panjang
STBM mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan dalam komunitas, tidak hanya untuk saat pelaksanaan program tetapi juga sebagai budaya hidup bersih lahir dan batin. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Tantangan Implementasi STBM
Walaupun STBM memiliki dampak positif, beberapa tantangan sering terjadi dalam praktiknya, di antaranya:
1. Tingkat partisipasi masyarakat yang bervariasi
Tidak semua anggota komunitas memiliki tingkat motivasi atau pengetahuan yang sama, sehingga partisipasi aktif dalam semua pilar STBM seringkali tidak merata. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]
2. Ketersediaan sumber daya
Pelaksanaan STBM memerlukan sumber daya seperti air bersih, fasilitas jamban, dan bahan hygiene lain yang tidak selalu tersedia secara merata di wilayah tertentu, terutama di daerah tertinggal. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
3. Tantangan perilaku yang sudah tertanam lama
Perubahan perilaku sanitasi tidak instan dan memerlukan waktu serta penguatan terus-menerus karena kebiasaan lama seringkali sangat melekat dalam budaya. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
4. Monitoring dan evaluasi berkelanjutan
Implementasi STBM membutuhkan sistem monitoring yang efektif untuk memastikan praktik semua pilar STBM terpelihara secara jangka panjang, yang seringkali sulit dilakukan tanpa dukungan lembaga dan sumber daya yang memadai. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]
Strategi Penguatan Program STBM
Agar pelaksanaan STBM lebih efektif, sejumlah strategi perlu diterapkan, antara lain:
1. Penguatan edukasi dan penyuluhan
Melakukan edukasi sanitasi secara berkelanjutan kepada masyarakat melalui fasilitator lokal, kader kesehatan, dan institusi pendidikan dapat meningkatkan pengetahuan serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sanitasi. [Lihat sumber Disini - publikasi.dinus.ac.id]
2. Dukungan kebijakan dan penyediaan fasilitas
Dukungan dari pemerintah daerah dan lembaga terkait untuk penyediaan fasilitas sanitasi yang layak seperti air bersih, jamban sehat, serta tempat cuci tangan adalah langkah penting untuk mendukung perubahan perilaku masyarakat. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]
3. Pemberdayaan komunitas secara berkelanjutan
Mengoptimalkan peran serta komunitas melalui pembentukan kelompok sanitarian atau kader lingkungan guna memantau praktik STBM secara mandiri dapat meningkatkan keberlanjutan program. [Lihat sumber Disini - abdidas.org]
4. Monitoring dan evaluasi berbasis data
Penerapan sistem pemantauan berbasis data yang melibatkan masyarakat dan instansi kesehatan lokal dapat memastikan program STBM berjalan sesuai target dan membantu perbaikan strategi pelaksanaan secara real-time. [Lihat sumber Disini - peraturan.bpk.go.id]
Kesimpulan
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah pendekatan pembangunan sanitasi yang berfokus pada perubahan perilaku kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat secara aktif. STBM melibatkan lima pilar utama yang bekerja secara bersama untuk meningkatkan sanitasi dan hygiene di komunitas, termasuk stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan, serta pengelolaan sampah dan limbah cair.
Peran aktif masyarakat sangat krusial dalam implementasi STBM, baik dalam pemicuan perubahan perilaku, pengawasan internal komunitas, dan evaluasi berkelanjutan. Dampak yang dihasilkan dari pelaksanaan STBM mencakup penurunan praktik sanitasi buruk, peningkatan gaya hidup bersih dan sehat serta perbaikan kualitas lingkungan. Tantangan dalam pelaksanaan STBM meliputi ketersediaan sumber daya, partisipasi masyarakat yang bervariasi, serta kebutuhan akan monitoring yang konsisten.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, dibutuhkan strategi yang melibatkan kombinasi edukasi berkelanjutan, dukungan kebijakan dan fasilitas, pemberdayaan komunitas, serta implementasi sistem monitoring berbasis data. Dengan strategi yang tepat, STBM memiliki potensi besar untuk menciptakan perubahan sanitasi yang berkelanjutan serta meningkatkan kesehatan masyarakat secara luas.