
Relativisme Akademik: Pengertian dan Dampaknya
Pendahuluan
Di dunia akademik dan penelitian, salah satu isu filosofis penting yang sering dibahas adalah keberadaan dan validitas klaim kebenaran serta objektivitas pengetahuan. Pandangan bahwa semua pengetahuan atau nilai dapat dianggap relatif, bergantung pada konteks budaya, sosial, sejarah, atau individu, dikenal dengan istilah “relativisme.” Pemahaman ini menantang gagasan bahwa ada kebenaran universal dan mutlak yang bisa diterima secara objektif oleh semua orang. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengertian relativisme dalam ilmu pengetahuan dan etika, jenis-jenisnya, kritik terhadap objektivitas, dampaknya terhadap metode ilmiah dan penelitian sosial, serta kelebihan dan keterbatasan pendekatan relativistik.
Artikel ini diharapkan memberi gambaran menyeluruh mengenai bagaimana relativisme dapat memengaruhi produksi pengetahuan akademik dan implikasinya dalam penelitian serta kehidupan sosial.
Definisi Relativisme Akademik
Definisi Relativisme Secara Umum
Secara umum, relativisme adalah pandangan bahwa kebenaran, nilai, atau pengetahuan tidak bersifat mutlak, melainkan bergantung pada aspek budaya, konteks sosial, sejarah, atau perspektif individu. Dalam pandangan relativis, apa yang dianggap benar atau baik dalam satu masyarakat, budaya, atau oleh individu tertentu belum tentu dianggap sama di masyarakat atau budaya lain. [Lihat sumber Disini - online.flipbuilder.com]
Relativisme menolak prinsip absolutisme, yaitu pandangan bahwa ada satu standar universal yang berlaku bagi semua orang di semua waktu, dan juga menolak klaim objektivitas tunggal yang tak bisa diganggu gugat. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Definisi Relativisme dalam KBBI
Menurut entri di kamus besar (atau dalam tradisi penggunaan kata “relatif”), “relatif” mengandung arti saling berkaitan atau bergantung pada sesuatu lain; maka “relativisme” mengisyaratkan bahwa nilai, kebenaran, atau penilaian bersifat tergantung (relatif), tidak absolut. Dalam konteks umum nilai moral atau pengetahuan, relativisme berarti bahwa klaim kebenaran atau nilai tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya, sosial, atau individu. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Definisi Relativisme Menurut Para Ahli
Beberapa pemikiran dari para ahli dan literatur filosofi/sosial menekankan aspek-aspek berbeda dari relativisme:
-
Edvard Westermarck, dalam karya Ethical Relativity menolak bahwa ada standar moral yang bersifat objektif dan tetap: moralitas dianggap sebagai opini individu atau kelompok, bukan kebenaran universal. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Literatur tentang epistemologi sering mengaitkan relativisme dengan pandangan bahwa pengetahuan dan cara memperoleh pengetahuan dipengaruhi oleh struktur sosial, budaya, dan bahasa, bukan sekadar refleksi netral terhadap realitas. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Dalam kajian budaya dan antropologi, relativisme budaya ditegaskan sebagai cara pandang bahwa nilai sosial, norma, moral, dan praktik hak asasi manusia dapat berbeda antar kelompok budaya, sehingga apa yang dianggap benar dan baik di satu budaya belum tentu berlaku di budaya lain. [Lihat sumber Disini - ejournal.up45.ac.id]
-
Literatur kritis terhadap pendekatan “saintisme” menyebut bahwa relativisme muncul sebagai respon terhadap klaim bahwa sains dan pengetahuan objektif dapat mewakili realitas tunggal, di mana budaya dan konteks historis ikut membentuk cara pandang ilmiah. [Lihat sumber Disini - ejournal.um.edu.my]
Dari berbagai perspektif di atas, relativisme dapat dipahami tidak hanya sebagai teori moral, tetapi juga sebagai pandangan epistemologis dan budaya tentang bagaimana manusia memahami dan menilai dunia.
Jenis-Jenis Relativisme
Dalam literatur dan diskusi filosofis / sosial, relativisme diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan domain klaimnya. Berikut jenis-jenis utama yang sering dibahas:
Relativisme Epistemik
Relativisme epistemik (epistemologis) menyatakan bahwa klaim pengetahuan, kebenaran, atau validitas teori tergantung pada konteks budaya, sosial, sejarah, maupun kerangka epistemologis tertentu, sehingga tidak ada satu metode pengetahuan yang bisa diakui sebagai mutlak benar di semua konteks. [Lihat sumber Disini - ejournal.um.edu.my]
Menurut pandangan ini, apa yang dianggap “ilmu pengetahuan” dalam satu tradisi atau budaya bisa berbeda dengan tradisi atau budaya lain, karena cara memperoleh, memvalidasi, dan mengartikulasikan pengetahuan bersifat kontekstual. [Lihat sumber Disini - digilib.unimed.ac.id]
Relativisme Moral
Relativisme moral berargumen bahwa standar moral, nilai baik, buruk, benar, salah, tidak bersifat universal atau absolut. Moralitas merupakan hasil konstruksi sosial, budaya, atau individu; sehingga satu tindakan bisa dianggap benar dalam satu budaya/komunitas, tetapi dianggap salah dalam budaya/komunitas lain. [Lihat sumber Disini - salehdaulay.com]
Contoh: pandangan bahwa norma moral dan etika tidak bisa dipisahkan dari latar budaya, karena budaya membentuk persepsi tentang moralitas. [Lihat sumber Disini - ejournal.up45.ac.id]
Relativisme Budaya
Relativisme budaya menyatakan bahwa nilai, norma, pengetahuan, dan bahkan hak asasi manusia dipahami secara berbeda dalam konteks budaya yang berbeda. Sebab itu, klaim universal atas nilai atau hak asasi manusia dapat dipertanyakan, karena tiap budaya punya kerangka nilai sendiri. [Lihat sumber Disini - ejournal.up45.ac.id]
Pandangan ini menekankan bahwa keberagaman budaya harus dihargai, dan tidak pantas untuk memaksakan satu standar nilai universal ke seluruh budaya. [Lihat sumber Disini - eportfolio.utm.my]
Jenis Lain: Deskriptif, Normatif, Kultural (Menurut Kritik terhadap Relativisme)
Beberapa literatur mengklasifikasikan relativisme ke dalam: deskriptif (menggambarkan perbedaan nilai dan norma antar kultur), normatif (mengajukan bahwa perbedaan tersebut harus diterima), dan epistemologis. [Lihat sumber Disini - academia.edu]
Pengklasifikasian ini membantu membedakan antara fenomena faktual perbedaan budaya vs. klaim bahwa perbedaan itu membenarkan relativisme secara normatif. [Lihat sumber Disini - academia.edu]
Kritik terhadap Klaim Objektivitas Pengetahuan
Relativisme, terutama epistemik dan budaya, menantang klaim bahwa ilmu pengetahuan atau nilai moral bisa objektif dan universal. Beberapa kritik dan implikasi atas klaim objektivitas antara lain:
-
Klaim bahwa “metode ilmiah” dan “kebenaran ilmiah” bisa melepaskan diri dari konteks budaya dan sejarah dipertanyakan, karena cara pertanyaan, premis dasar, dan interpretasi data bisa dipengaruhi oleh budaya, bahasa, nilai, dan tradisi epistemik tertentu. [Lihat sumber Disini - ejournal.um.edu.my]
-
Dalam konteks etika dan moral, relativisme moral menunjukkan bahwa norma moral tidak bisa dipaksakan secara universal, sehingga klaim moralitas absolut atau universal menjadi problematis. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Ketika menerapkan moral atau nilai universal (misalnya hak asasi manusia) secara global tanpa mempertimbangkan perbedaan budaya dan konteks lokal, bisa terjadi ketidaksesuaian atau bahkan dominasi budaya, suatu aspek yang dikritik oleh pendukung relativisme budaya. [Lihat sumber Disini - ejournal.up45.ac.id]
-
Dari sudut pandang epistemologi, klaim objektivitas kadang dianggap terlalu dogmatis, mengabaikan fakta bahwa “pengetahuan” selalu dibentuk dalam kondisi historis, sosial, dan linguistik tertentu. [Lihat sumber Disini - repository.uinjkt.ac.id]
Kritik-kritik ini menunjukkan bahwa usaha mencapai objektivitas mutlak bisa menutup mata terhadap keragaman perspektif, budaya, dan kondisi sosial, yang sebenarnya berperan besar dalam konstruksi pengetahuan.
Dampak Relativisme terhadap Metode Ilmiah
Pandangan relativistik, khususnya epistemik dan budaya, memiliki dampak signifikan terhadap bagaimana kita memandang dan menjalankan metode ilmiah serta penelitian akademik:
-
Relativisme mendorong pemahaman bahwa metode ilmiah bukan satu-satunya jalan menuju pengetahuan; metode berbeda dari tradisi atau budaya tertentu pun bisa valid, membuka ruang bagi pluralitas metodologis dalam penelitian sosial dan humaniora. Hal ini sejalan dengan pemikiran bahwa epistemologi dan metodologi penelitian tak bisa dilepaskan dari konteks filosofis dan budaya. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Pendekatan relativistik menekankan pentingnya reflexivity, yaitu kesadaran peneliti atas posisi subjektif, bias budaya, dan konteks ketika mendesain penelitian, mengumpulkan data, dan menganalisis. Ini dapat memperkuat etika dan kejujuran akademik, menghindarkan paksaan klaim kebenaran tunggal.
-
Namun, relativisme juga bisa menghadirkan tantangan dalam hal replikasi, verifikasi, dan akuntabilitas ilmiah: bila semua klaim pengetahuan dianggap kontekstual, maka sulit menetapkan standar universal untuk menilai validitas atau kebenaran penelitian. Ini bisa melemahkan klaim “ilmiah” jika tidak diimbangi prinsip transparansi dan rigor epistemik.
-
Dalam beberapa kasus, relativisme dapat menghasilkan fragmentasi pengetahuan, penelitian terisolasi dalam tradisi budaya atau paradigma lokal tanpa dialog atau korelasi lintas budaya/paradigma, sehingga membatasi generalisasi dan akumulasi pengetahuan global.
Relativisme dalam Penelitian Sosial Kontemporer
Dalam penelitian sosial kontemporer, pendekatan relativistik sering muncul, terutama ketika peneliti menangani topik budaya, moral, identitas, norma sosial, dan hak asasi manusia. Misalnya:
-
Dalam kajian etika sosial, Inversi Moral dan Relativisme Etika Sosial di Era Pos Modern (2025) menunjukkan bagaimana relativisme moral dapat menciptakan ambiguitas dalam menentukan benar-salah, terutama dalam masyarakat majemuk, sehingga menimbulkan dilema etis ketika norma tradisional bertabrakan dengan modernitas. [Lihat sumber Disini - journal.sttni.ac.id]
-
Dalam kerangka hak asasi manusia dan hukum, artikel Relativisme Budaya dalam Hak Asasi Manusia menyoroti bahwa penerapan standar universal HAM tanpa mempertimbangkan konteks budaya lokal sering mendapatkan penolakan, menunjukkan relevansi relativisme budaya dalam praktik hukum dan moral sosial. [Lihat sumber Disini - ejournal.up45.ac.id]
-
Pendekatan epistemologis dan metodologis dalam ilmu sosial kini semakin mengapresiasi pluralisme pengetahuan, bahwa penelitian tidak harus selalu berlandaskan paradigma Barat atau metode positivistik: tradisi lokal, kultural, dan interpretatif bisa menjadi basis yang sah untuk pengetahuan sosial. [Lihat sumber Disini - ejournal.um.edu.my]
Dengan demikian, relativisme akademik dalam penelitian sosial memungkinkan ruang refleksi, inklusivitas, dan pluralitas, sekaligus menuntut kehati-hatian dalam menetapkan klaim pengetahuan dan nilai.
Keunggulan dan Keterbatasan Pendekatan Relativistik
Keunggulan
-
Relativisme mendukung pluralisme pengetahuan dan menghargai keberagaman budaya, norma, dan perspektif, penting dalam konteks masyarakat majemuk.
-
Membawa kesadaran atas bias budaya, sosial, atau sejarah dalam ilmu pengetahuan, sehingga menuntut penelitian lebih reflektif, kontekstual, dan etis.
-
Memfasilitasi variasi metodologis dalam penelitian, tidak terbatas pada satu paradigma epistemik saja, memungkinkan metode kualitatif, interpretatif, partisipatif atau berbasis budaya menjadi sah.
-
Dapat memperkuat toleransi, dialog antarbudaya, dan penghormatan terhadap perbedaan, terutama dalam bidang moral, sosial, atau hak asasi manusia.
Keterbatasan
-
Jika terlalu ekstrem, relativisme bisa melemahkan klaim universal tentang kebenaran atau nilai moral, sulit menetapkan standar evaluasi yang konsisten antar budaya, generasi, atau kelompok.
-
Potensi fragmentasi pengetahuan: tanpa titik temu atau kesepakatan universal, sulit membangun pengetahuan kolektif yang dapat dibandingkan atau diverifikasi secara lintas-budaya.
-
Masalah replikasi dan akuntabilitas ilmiah, terutama di penelitian kuantitatif atau ilmiah alam, di mana metode, data, dan interpretasi membutuhkan standar bersama agar hasil dapat diandalkan.
-
Risiko relativisme moral atau budaya digunakan sebagai justifikasi praktik-praktik yang kontroversial (misalnya pelanggaran HAM, diskriminasi) dengan dalih “budaya berbeda, ” sehingga berpotensi mereduksi nilai universal terhadap hak asasi dan keadilan.
Contoh Studi Berbasis Relativisme Akademik
-
Studi dari artikel “Inversi Moral dan Relativisme Etika Sosial di Era Pos Modern” (2025) mengeksplorasi bagaimana relativisme moral mempengaruhi persepsi norma sosial dan moralitas dalam masyarakat modern, menyoroti dilema dan ambiguitas dalam distinksi benar-salah. [Lihat sumber Disini - journal.sttni.ac.id]
-
Artikel “Relativisme Budaya dalam Hak Asasi Manusia” membahas bagaimana konsep HAM bisa berbeda dalam setiap budaya, dan bagaimana pendekatan relativistik atas budaya memunculkan argumen bahwa standar HAM universal mungkin tidak selalu cocok dalam konteks lokal. [Lihat sumber Disini - ejournal.up45.ac.id]
-
Dalam ranah epistemologi dan penelitian sosial, literatur tentang paradigma penelitian menunjukkan bahwa penelitian harus mempertimbangkan konteks budaya, bahasa, dan tradisi epistemik, menolak klaim bahwa metode Barat adalah satu-satunya cara valid memperoleh pengetahuan. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Kesimpulan
Relativisme akademik, dalam dimensi epistemik, moral, dan budaya, menawarkan kerangka reflektif yang penting dalam dunia pengetahuan dan penelitian, terutama di masyarakat yang majemuk. Dengan mengakui bahwa kebenaran, nilai, dan pengetahuan seringkali kontekstual dan dipengaruhi oleh budaya, sejarah, dan perspektif kelompok atau individu, relativisme mendorong pluralisme, toleransi, dan kesadaran kritis terhadap bias.
Namun demikian, pendekatan relativistik juga menemui banyak tantangan: klaim kebenaran dan validitas bisa menjadi sulit diverifikasi secara universal; potensi fragmentasi pengetahuan meningkat; dan dalam domain moral atau hak asasi, relativisme bisa disalahgunakan sebagai justifikasi perbedaan nilai yang merugikan.
Dalam praktik penelitian, terutama sosial dan humaniora, relativisme bisa menjadi alat analisis yang kaya, asalkan disertai refleksi epistemik dan metodologis yang jujur; serta kesadaran akan batas-batasnya. Dengan demikian, relativisme akademik bukanlah “solusi tunggal, ” melainkan sudut pandang kritis yang perlu dipertimbangkan secara seimbang dalam usaha memahami realitas kompleks manusia dan masyarakat.