
Paradigma Postmodernisme dalam Dunia Akademik
Pendahuluan
Postmodernisme merupakan salah satu istilah paling kompleks dalam tradisi pemikiran modern hingga kontemporer. Istilah ini melingkupi spektrum gagasan dari filsafat, seni, budaya, hingga teori sosial dan epistemologi, dan menjadi kerangka interpretatif baru dalam memahami pengetahuan, realitas, dan metodologi akademik. Dalam dunia akademik, paradigma postmodernisme menawarkan kritik mendasar terhadap klaim universalitas, objektivitas, dan otoritas kebenaran yang diusung sains modern. Artikel ini mengeksplorasi pengertian postmodernisme, kritik terhadap sains modern, gagasan utama para tokoh postmodern, posisi pengetahuan, dampak terhadap metodologi penelitian, hingga kontroversi dan contoh penelitian berbasis paradigma postmodern.
Definisi Postmodernisme
Definisi Postmodernisme Secara Umum
Postmodernisme adalah suatu gerakan pemikiran, budaya, dan teori yang muncul sebagai reaksi terhadap modernisme, yaitu suatu keyakinan pada kemajuan, rasionalitas, pengetahuan objektif, dan narasi universal. Postmodernisme menolak gagasan bahwa ada satu “metanarasi” atau narasi besar yang dapat menjelaskan seluruh realitas manusia secara tunggal dan absolut. Sebaliknya, postmodernisme menekankan pluralitas, relativitas, ambiguïtas makna, fragmentasi realitas, dan konstruksi sosial atas pengetahuan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dalam arti luas, postmodernisme tidak hanya terbatas pada seni dan budaya, tetapi juga merambah filsafat, sosiologi, epistemologi, dan metodologi ilmu, sebagai refleksi kritis terhadap klaim modernitas. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Definisi Postmodernisme dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “postmodernisme” lazim diartikan sebagai aliran pikir atau paham yang datang setelah modernisme, dengan karakteristik penolakan terhadap nilai-nilai universal, fundamentalisme, dan klaim obyektivitas absolut. (Catatan: definisi eksak menurut entri KBBI bisa bervariasi, untuk penggunaan akademik, definisi dalam wacana teori sering lebih kaya makna.)
Definisi Postmodernisme Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi dari para ahli:
-
Menurut artikel “Postmodernism Paradigm and its View on the Existence of Language”, postmodernisme adalah sebuah pendekatan filsafat, seni, dan budaya yang muncul sebagai respons terhadap modernisme, menolak ide bahwa ada satu kebenaran tunggal yang bisa menjelaskan dunia, dan malah menekankan pluralitas, kompleksitas, dan sifat relatif dari segalanya. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Beberapa pemikir menyatakan bahwa postmodernisme adalah kritik atas pengetahuan universal, metafisika, fondasionalisme, dan modernisme secara keseluruhan, sebagai upaya revisi terhadap gagasan-gagasan modern yang dianggap gagal memerdekakan manusia secara penuh. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Dalam perspektif pendidikan dan teori sosial, postmodernisme dipahami sebagai filosofi yang menolak struktur rasional-empiris tunggal, dan malah menekankan keragaman, konteks lokal, keberagaman budaya, dan nilai pluralitas dalam penyusunan kurikulum, metode belajar, serta interpretasi sosial. [Lihat sumber Disini - ijems.id]
Dari berbagai definisi ini dapat disimpulkan bahwa postmodernisme bukanlah satu definisi tunggal, melainkan spektrum pemikiran dengan karakter sentral: skeptisisme terhadap universalitas, penolakan metanarasi, dan penghargaan terhadap pluralitas makna serta konteks.
Kritik Postmodern terhadap Sains Modern
Paradigma postmodern menyoroti sejumlah aspek fundamental dari sains modern yang dianggap problematik: klaim objektivitas, universalitas, netralitas nilai, dan dominasi metanarasi ilmiah.
Salah satu kritik utama adalah bahwa sains modern, dengan metode empiris dan rasional, dipandang sebagai bentuk ideologi yang mengklaim kebenaran tunggal. Postmodernisme memandang bahwa apa yang dianggap sebagai “fakta objektif” dalam sains sering kali dibentuk dalam konteks sosial, politik, budaya, dan bahasa. Sehingga, klaim bahwa sains menghasilkan pengetahuan “netral” dan “bebas nilai” dianggap tidak realistis. [Lihat sumber Disini - academia.edu]
Lebih lanjut, dalam tulisan tentang “Postmodern Picture of Reality of Scientific Knowledge: Evolution by Epistemological Diversity”, dikemukakan bahwa postmodernisme menolak gagasan bahwa ada teori besar universal (grand theory) yang berlaku lintas konteks; pengetahuan ilmiah tidak bisa dilepaskan dari sejarah, sosial, dan konstruksi diskursif. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dengan demikian, postmodernisme mempertanyakan dominasi metodologi positivis, yaitu bahwa hanya metode ilmiah berbasis kuantitatif atau empiris-linier yang valid, dan membuka ruang bagi bentuk pengetahuan lain: kualitatif, naratif, reflektif, kontekstual, dan bahkan subjektif.
Gagasan Utama Tokoh Postmodern (Lyotard, Foucault, Derrida, dan Lainnya)
-
Jean‑François Lyotard, Dalam karyanya The Postmodern Condition, Lyotard mendefinisikan postmodernisme sebagai “kekagetan terhadap metanarasi” (incredulity toward metanarratives). Ia menolak narasi besar (sejarah, kemajuan, rasionalitas universal) yang dijadikan dasar legitimasi pengetahuan. Postmodernisme baginya bukan akhir modernisme, tetapi sebuah transformasi dalam relasi terhadap modernisme. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Michel Foucault, Meskipun tidak disebut sangat eksplisit di tiap teks postmodern, banyak kajian menunjukkan bahwa pemikiran Foucault tentang pengetahuan dan kekuasaan (power/knowledge) menjadi bagian penting dari kerangka postmodern, yakni bahwa pengetahuan tidak bisa dilepaskan dari relasi kekuasaan, konteks historis, dan konstruksi diskursif. [Lihat sumber Disini - scirp.org]
-
Jacques Derrida, Dengan teori dekonstruksi, Derrida membantu menggugat struktur biner (binary oppositions), memecah oposisi antara benar/salah, pusat/tepi, besar/kecil, menekankan bahwa makna bersifat tidak stabil dan kontekstual. Pendekatan ini mendasari upaya postmodern untuk meruntuhkan klaim fondasionalisme. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Tokoh-tokoh lain, Meskipun artikel ini tidak membahas secara mendalam, nama-nama seperti Jean Baudrillard dan Fredric Jameson sering muncul dalam kajian postmodernisme di budaya, media, dan sosiologi. Contohnya, Jameson melihat postmodernisme sebagai logika budaya kapitalisme tahap akhir yang menghasilkan krisis historis dan dominasi logika konsumsi serta “pastiche” budaya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Posisi Pengetahuan dalam Perspektif Postmodern
Dalam paradigma postmodern, pengetahuan bukan sesuatu yang bersifat absolut, universal, dan final. Sebaliknya, pengetahuan dilihat sebagai produk sosial, bahasa, wacana, dan kekuasaan, dibentuk dalam konteks historis dan kultural tertentu. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Postmodernisme menolak metanarasi (narasi besar) dan fondasionalisme, yaitu gagasan bahwa ada dasar tetap (fondasi) untuk semua pengetahuan. Oleh karena itu, pengetahuan bersifat plural, relatif, dan terkontekstual. [Lihat sumber Disini - spi.uin-alauddin.ac.id]
Selain itu, realitas dianggap sebagai konstruksi diskursif, bahwa cara kita berbicara, bahasa, serta struktur sosial mempengaruhi bagaimana kita memahami dunia. Artinya, apa yang dianggap “nyata” atau “kebenaran” bisa berbeda tergantung konteks, dan tidak ada klaim satu-satunya terhadap kebenaran universal. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dampak Postmodernisme pada Metodologi Penelitian
Adopsi paradigma postmodern dalam penelitian akademik membawa sejumlah perubahan metodologis:
-
Penolakan terhadap dominasi metode kuantitatif dan empiris-linier semata. Postmodernisme membuka ruang bagi penelitian kualitatif, naratif, interpretatif, studi kasus, analisis wacana (discourse analysis), dekonstruksi, dan pendekatan reflektif. Ini terlihat misalnya dalam penelitian pendidikan, di mana metode postmodern menekankan keberagaman perspektif, partisipasi, konteks lokal, dan pluralitas dalam kurikulum serta proses belajar. [Lihat sumber Disini - ijems.id]
-
Kurikulum dan metode pendidikan bisa disesuaikan dengan kompleksitas sosial-budaya dan keberagaman siswa, bukan lagi model homogen yang menganggap “satu cara belajar cocok untuk semua”. Filosofi postmodern dalam pendidikan menjadikan guru sebagai fasilitator dan proses pendidikan sebagai dialog, bukan transmisi satu arah. [Lihat sumber Disini - ijems.id]
-
Dalam penelitian sosial, postmodernisme mendorong penelitian yang sensitif terhadap konteks, heterogenitas, dan dinamika kekuasaan dalam wacana, daripada klaim netral dan objektif tanpa mempertimbangkan latar belakang sosiokultural. [Lihat sumber Disini - scirp.org]
Sebagai akibatnya, penelitian dengan paradigma postmodern cenderung bersifat interpretatif, kritis, reflektif, dan membuka kemungkinan multiple perspektif, dibandingkan pendekatan tradisional yang monolog, universalistik, dan totalizing.
Kontroversi dalam Pemikiran Postmodern
Meskipun memberikan alternatif penting terhadap dominasi modernisme dan sains modern, postmodernisme tidak lepas dari kritik dan kontroversi.
-
Salah satu kritik keras datang dari komunitas ilmiah: postmodernisme dituduh sebagai relativisme radikal yang melemahkan klaim objektivitas, validitas, dan konsistensi ilmiah. Dalam buku Fashionable Nonsense: Postmodern Intellectuals' Abuse of Science, penulis menuduh bahwa beberapa intelektual postmodern malah menyalahgunakan konsep ilmiah atau mathematis secara metaforis sehingga kehilangan makna ilmiahnya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Kritik bahwa postmodernisme bisa melemahkan daya kritis: jika semua pengetahuan dianggap relatif, maka sulit untuk membangun konsensus, aksi kolektif, dan dasar moral/empirik bersama, yang kadang dibutuhkan dalam penelitian, kebijakan publik, atau sains. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Tuntutan empiris dan akuntabilitas dalam penelitian: bagi banyak disiplin ilmu, terutama sains alam dan sosial kuantitatif, penolakan terhadap fondasi empiris bisa dianggap kontraproduktif, terutama bila tujuan penelitian adalah generalisasi, prediksi, atau intervensi praktis. Postmodernisme dalam konteks ini dianggap kurang “tegas”.
-
Ambiguitas definisi: karena postmodernisme bersifat spektral, plural, dan berubah-ubah tergantung bidang dan konteks, kadang sulit bagi peneliti atau akademisi untuk menentukan posisi epistemologis yang konsisten. Ini bisa menyebabkan kekacauan metodologis atau inkonsistensi dalam interpretasi.
Contoh Penelitian Berbasis Paradigma Postmodern
Salah satu contoh penerapan postmodernisme dalam pendidikan akademik dapat ditemukan pada studi Philosophy of Postmodernism, Curriculum, Learning Methods yang diterbitkan pada 2024. Dalam artikel ini, penulis menjelaskan bagaimana filosofi postmodern mempengaruhi tiga aspek utama dalam pendidikan: kurikulum, metode pembelajaran, dan peran guru, dengan menekankan keberagaman, pluralitas, fleksibilitas, dan partisipasi siswa. [Lihat sumber Disini - ijems.id]
Contoh lainnya, dalam literatur teoritis, artikel Postmodernism Paradigm and its View on the Existence of Language menyajikan kajian literatur mengenai bagaimana paradigma postmodern melihat bahasa dan wacana sebagai konstruksi sosial, mengkritik gagasan bahwa bahasa atau pengetahuan memiliki makna tetap dan universal. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Penelitian-penelitian seperti ini menunjukkan bagaimana paradigma postmodern dapat diaplikasikan dalam kajian sosial, pendidikan, bahasa, budaya, dan menjadi landasan metodologis alternatif dibandingkan paradigma positivis atau modernis klasik.
Kesimpulan
Postmodernisme dalam dunia akademik menawarkan kerangka pemikiran yang radikal dalam menyoal klaim-klaim universalitas, objektivitas, dan dominasi metanarasi yang selama ini diusung sains modern. Dengan menekankan pluralitas, relativitas, konteks, dan konstruksi sosial atas pengetahuan, postmodernisme membuka ruang bagi metodologi penelitian yang lebih fleksibel, reflektif, kontekstual, dan inklusif terhadap perbedaan. Para tokoh seperti Lyotard, Foucault, Derrida, meskipun dengan pendekatan berbeda, bersama-sama menggerus dasar-dasar fondasionalisme dan mempromosikan pandangan bahwa pengetahuan dan realitas diproduksi melalui wacana, kekuasaan, dan interaksi sosial.
Namun demikian, paradigma ini tidak lepas dari kritik: tuduhan relativisme berlebihan, potensi melemahkan akuntabilitas ilmiah, serta ambiguitas metodologis menjadi tantangan nyata. Oleh karena itu, penerapan postmodernisme dalam penelitian akademik harus dilakukan secara hati-hati, dengan kesadaran terhadap konteks dan tujuan penelitian.
Pada akhirnya, postmodernisme bukanlah akhir dari sains atau akademik, melainkan sebuah undangan untuk terus bertanya, mendekonstruksi asumsi, dan membuka ruang bagi keanekaragaman perspektif.