Terakhir diperbarui: 01 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 1 December). Riset Replikasi: Pentingnya dalam Dunia Akademik. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/riset-replikasi-pentingnya-dalam-dunia-akademik  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Riset Replikasi: Pentingnya dalam Dunia Akademik - SumberAjar.com

Riset Replikasi: Pentingnya dalam Dunia Akademik

Pendahuluan

Dalam dunia akademik dan ilmiah, penemuan baru sering dianggap sebagai tonggak kemajuan pengetahuan. Namun, penemuan itu hanya bisa dianggap valid dan dapat dijadikan landasan ilmu apabila hasilnya bisa diuji ulang dan memberikan hasil yang konsisten, bukan hanya kebetulan atau hasil yang spesifik pada kondisi tertentu. Oleh karena itu, riset replikasi, yaitu pengulangan penelitian untuk memverifikasi temuan sebelumnya, menjadi sangat penting. Tanpa replikasi, temuan sekali-publish dapat tetap melekat dalam literatur, meskipun hasilnya tidak konsisten bila diuji kembali. Seiring dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap “krisis reproduksi” (reproducibility/replicability crisis) di berbagai disiplin, pemahaman dan penerapan riset replikasi menjadi aspek krusial bagi kredibilitas, akumulasi, dan kemajuan ilmu pengetahuan.


Definisi Riset Replikasi

Definisi Riset Replikasi secara Umum

Riset replikasi merujuk pada tindakan mengulangi suatu penelitian yang telah dilakukan sebelumnya untuk melihat apakah hasil yang sama dapat diperoleh kembali ketika studi dijalankan ulang, bisa dengan metode dan kondisi yang sama, atau kondisi yang serupa. Tujuannya adalah mengevaluasi validitas, reliabilitas, dan generalisasi temuan asli. Dengan demikian, replikasi merupakan bagian penting dari metode ilmiah untuk memastikan bahwa hasil penelitian bukan sekadar kebetulan, bias, atau artefak metodologis. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Dalam kajian metodologi penelitian, replikasi sering disebut sebagai elemen kunci untuk menjaga integritas ilmiah, bahwa setiap klaim harus bisa diuji ulang dan diverifikasi oleh peneliti lain. [Lihat sumber Disini - repo.unr.ac.id]

Definisi Riset Replikasi menurut KBBI

Istilah “replikasi” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merujuk pada pengulangan atau peniruan ulang, dalam konteks ilmiah, berarti melakukan penelitian ulang atas penelitian sebelumnya. Pengulangan ini bertujuan memastikan bahwa hasil asli tidak bersifat unik pada kondisi tertentu saja, melainkan dapat diamati kembali dalam kondisi yang sama atau serupa, sehingga hasilnya memiliki kekokohan ilmiah.

(Tautan ke entri KBBI yang relevan bisa disertakan ketika diakses langsung.)

Definisi Riset Replikasi Menurut Para Ahli

Berikut definisi riset replikasi menurut beberapa ahli/penulis dalam literatur ilmiah:

  • Brian A. Nosek & rekan-rekannya, Dalam tulisannya mereka menyatakan bahwa replikasi memberikan bukti tentang generalisasi temuan ketika data baru dikumpulkan untuk menjawab pertanyaan ilmiah yang sama. Keberhasilan replikasi menunjukkan bahwa klaim ilmiah dapat dipercaya; kegagalan replikasi menandakan bahwa temuan awal mungkin terlalu sempit atau tergantung pada kondisi khusus. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
  • Marieke Heers dkk., Menurut panduannya, replikasi memungkinkan penelitian memverifikasi kesimpulan sebelumnya dan memberikan wawasan tentang batas-batas keandalan temuan ketika diterapkan dalam konteks berbeda. [Lihat sumber Disini - forscenter.ch]
  • S. Meirmans, Menyebut bahwa replikasi langsung (direct replication) tidak hanya menilai reliabilitas, tetapi juga dapat mengungkap “kontekstualitas” bahwa hasil bisa dipengaruhi oleh faktor kontekstual yang berbeda, sehingga replikasi membantu memahami seberapa luas temuan bisa digeneralisasi. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
  • Peter Diu, Dalam ulasannya ia menegaskan bahwa replikasi adalah fondasi metode ilmiah; dengan mengulangi penelitian, kita dapat memeriksa apakah hasil asli valid, atau justru merupakan hasil kebetulan, kesalahan metodologis, atau bias. [Lihat sumber Disini - longdom.org]

Definisi-definisi tersebut menggambarkan bahwa riset replikasi bukan semata-mata “mengulang” karena bosan, tetapi merupakan komponen vital bagi akumulasi pengetahuan yang kredibel.


Jenis-Jenis Riset Replikasi

Dalam literatur metodologi, riset replikasi bisa dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain:

  • Reproduksi / Replikasi data yang sama: menggunakan data asli dengan analisis ulang untuk memeriksa apakah hasil sama (mirip dengan “reproducibility”). [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
  • Replikasi langsung (Direct Replication): mengulangi penelitian dengan prosedur yang sama sebanyak mungkin, termasuk desain, metode, analisis, tetapi dengan data baru, untuk mengevaluasi apakah hasil asli dapat direproduksi. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
  • Replikasi konseptual (Conceptual Replication): menguji hipotesis atau teori yang sama dengan metode, alat, atau konteks berbeda, memungkinkan verifikasi generalisasi temuan di kondisi berbeda. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Mengapa Riset Replikasi Penting dalam Dunia Akademik

Meningkatkan Keandalan dan Validitas Ilmiah

Riset replikasi membantu memastikan bahwa temuan penelitian benar-benar mencerminkan fenomena yang nyata, bukan artefak statistik, bias metodologis, atau fluktuasi kebetulan. Ketika hasil dapat direplikasi oleh peneliti independen, hal ini meningkatkan keyakinan bahwa klaim tersebut valid dan memiliki dasar ilmiah kuat. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Sebaliknya, kegagalan replikasi menunjukkan bahwa hasil asli mungkin terlalu bergantung pada kondisi spesifik, sampel tertentu, atau faktor yang tidak dikontrol, sehingga memperingatkan komunitas ilmiah agar tidak langsung mengambil kesimpulan terlalu luas. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Mendukung Generalisasi dan Robustness Temuan

Dengan melakukan replikasi di berbagai konteks, sampel, atau metode, peneliti dapat mengevaluasi seberapa luas hasil penelitian berlaku, apakah hanya di kondisi spesifik atau dapat digeneralisasi ke populasi/setting berbeda. Ini membantu membangun teori atau temuan yang lebih kokoh dan relevan bagi banyak situasi. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

Dalam beberapa kasus, replikasi tidak hanya menegaskan hasil, tetapi juga membantu memperjelas “kontekstualitas”, yaitu batas-batas di mana sebuah temuan berlaku. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Memperkuat Transparansi dan Akuntabilitas Ilmiah

Riset replikasi mendorong praktik ilmiah yang lebih terbuka, peneliti terdahulu diharapkan mendokumentasikan metode, data, dan analisis dengan detail agar memungkinkan penelitian ulang. Transparansi seperti ini meningkatkan integritas penelitian dan membantu mendeteksi kesalahan, bias, atau praktik riset yang meragukan (misalnya selective reporting, p-hacking). [Lihat sumber Disini - longdom.org]

Dengan demikian, replikasi berkontribusi pada budaya ilmiah yang bertanggung jawab dan akuntabel, tidak hanya mengejar hasil baru, tetapi juga memverifikasi dan mengevaluasi temuan sebelumnya.

Mencegah “Krisis Replikasi” dan Mitigasi Temuan Salah/Fragile

Sejak 2010-an, banyak bidang, terutama psikologi, biologi, ekonomi, dan ilmu sosial, menghadapi apa yang disebut Reproducibility Crisis (krisis reproduksi/replikasi), yakni ketika banyak hasil penelitian yang tidak bisa direplikasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Tanpa replikasi, literatur akademik bisa penuh dengan temuan yang menyesatkan, overstated, atau tidak konsisten, yang pada gilirannya bisa merusak kepercayaan terhadap ilmu dan menyebabkan pemborosan sumber daya penelitian. [Lihat sumber Disini - longdom.org]

Dengan semakin banyaknya upaya replikasi, disiplin ilmiah bisa mengevaluasi kembali mana temuan yang benar-benar kredibel, mana yang butuh revisi, dan mana yang mungkin harus ditinggalkan, sehingga evolusi ilmu bisa lebih sehat dan andal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Mendukung Kebijakan Ilmiah, Praktik, dan Implementasi Berdasarkan Bukti

Temuan penelitian yang telah direplikasi dan terbukti robust lebih layak dijadikan dasar bagi kebijakan publik, intervensi praktis, atau aplikasi di masyarakat luas, karena hasilnya telah diverifikasi dan diuji ulang. [Lihat sumber Disini - openeconomics.zbw.eu]

Jika kita berpikir dari sudut praktisi, pembuat kebijakan, atau profesional (misalnya kesehatan, pendidikan, ekonomi), bergantung pada hasil yang hanya dipublikasikan sekali tanpa replikasi bisa berisiko. Riset replikasi memberikan dasar lebih kuat untuk pengambilan keputusan berbasis bukti.

Memajukan Ilmu sebagai Sistem akumulatif, Bukan Sekadar Temuan Tunggal

Ilmu seharusnya bersifat akumulatif: temuan baru dibangun atas temuan terdahulu yang sudah terverifikasi. Dengan replikasi, kita bisa membedakan mana temuan awal yang benar-benar bisa dijadikan pondasi, dan mana yang perlu ditinjau ulang. Ini membantu perkembangan teori dan pengetahuan ilmiah secara bertahap dan dapat dipertanggungjawabkan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]


Hambatan dan Tantangan dalam Riset Replikasi

Meskipun penting, riset replikasi menghadapi berbagai rintangan, antara lain:

  • Minimnya insentif publikasi: Banyak jurnal dan sistem akademik lebih menghargai penelitian orisinal (baru), sehingga replikasi dianggap kurang menarik untuk penulis maupun penerbit. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
  • Kurangnya transparansi data/metode dari studi asli: Jika peneliti asli tidak mendokumentasikan prosedur, data, dan analisis dengan baik, replikasi menjadi sulit atau tidak mungkin. [Lihat sumber Disini - bitss.org]
  • Biaya dan sumber daya: Replikasi sering memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit, tetapi tanpa janji “temuan baru” atau “impact besar”. [Lihat sumber Disini - longdom.org]
  • Publikasi bias terhadap hasil positif/baru: Karena kecenderungan “temuan signifikan = menarik”, hasil replikasi (terutama jika negatif atau gagal mereplikasi) seringkali sulit diterbitkan, meskipun hasil semacam ini sangat penting untuk literatur. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
  • Kesulitan dalam menangani kontekstualitas dan variabilitas: Hasil penelitian bisa sangat dipengaruhi oleh konteks, sampel, atau kondisi, sehingga replikasi langsung belum tentu membawa hasil sama, dan interpretasi hasil replikasi bisa kompleks. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Implikasi untuk Peneliti, Akademisi, dan Sistem Ilmiah di Indonesia

Bagi peneliti dan akademisi, penting untuk:

  • Mendesain penelitian dengan dokumentasi yang sangat jelas: metode, prosedur, instrumen, analisis, sehingga memungkinkan replikasi oleh pihak lain.
  • Membuka data dan materi penelitian (jika memungkinkan), sebagai bagian dari budaya transparansi dan open science.
  • Tidak hanya mengejar novelty, tetapi juga mempertimbangkan kontribusi replikasi, terutama jika temuan terdahulu penting dan berpengaruh di bidang tertentu.
  • Mendorong penerbitan replikasi, termasuk hasil yang gagal mereplikasi, karena ini vital untuk menjaga integritas bilimiah.

Sistem jurnal, institusi, dan kebijakan penelitian juga harus mendukung: memberikan insentif/pengakuan terhadap publikasi replikasi, mendukung akses terbuka data/method, dan memfasilitasi budaya ilmiah yang menghargai robustitas serta reproduksibilitas.


Kesimpulan

Riset replikasi adalah elemen fundamental dalam dunia akademik, bukan hanya pelengkap, tetapi pilar yang menjaga validitas, keandalan, dan akumulasi pengetahuan ilmiah. Dengan mengulangi penelitian sebelumnya di berbagai kondisi, replikasi memungkinkan kita memastikan bahwa temuan benar-benar valid, bukan sekadar hasil kebetulan atau artefak metodologis.

Tanpa replikasi, literatur ilmiah bisa dipenuhi temuan yang rapuh, bias, atau tidak generalisabel, yang pada akhirnya menghambat kemajuan ilmu dan menurunkan kredibilitas akademik. Oleh karena itu, riset replikasi perlu mendapatkan perhatian lebih besar: dari peneliti, institusi, penerbit, hingga pembuat kebijakan ilmiah.

Untuk menjadikan ilmu yang benar-benar dapat dipercaya dan bermanfaat luas, baik untuk akademia maupun masyarakat, replikasi bukan opsional: ia adalah keharusan.

 

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Riset replikasi adalah proses mengulangi penelitian yang telah dilakukan sebelumnya untuk memeriksa apakah hasil yang sama dapat diperoleh kembali. Replikasi bertujuan menilai validitas dan keandalan temuan ilmiah sehingga hasil penelitian dapat dipercaya dan digunakan sebagai dasar pengembangan ilmu.

Riset replikasi penting karena membantu memastikan bahwa temuan penelitian tidak hanya kebetulan atau hasil bias. Replikasi memverifikasi keandalan, meningkatkan generalisasi temuan, mencegah krisis reproduksibilitas, dan memperkuat integritas ilmiah sebagai dasar pengambilan keputusan berbasis bukti.

Jenis riset replikasi meliputi replikasi langsung, replikasi konseptual, dan replikasi menggunakan data yang sama (reproducibility). Masing-masing memiliki tujuan berbeda, mulai dari memastikan konsistensi hasil hingga menguji generalisasi temuan dalam konteks berbeda.

Hambatan utama riset replikasi meliputi kurangnya insentif publikasi, minimnya transparansi data dari penelitian asli, bias publikasi terhadap hasil signifikan, serta keterbatasan biaya dan waktu. Faktor-faktor ini membuat penelitian replikasi sering diabaikan meskipun sangat penting.

Riset replikasi mendukung pengembangan ilmu dengan memastikan bahwa temuan awal dapat diuji ulang dan dipercaya. Replikasi membantu membangun akumulasi pengetahuan yang kuat, mengurangi risiko temuan palsu, dan memperjelas batasan penerapan sebuah teori atau hasil penelitian.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Replikasi: Definisi, Fungsi, dan Contoh dalam Penelitian Replikasi: Definisi, Fungsi, dan Contoh dalam Penelitian Prinsip Replikasi dalam Riset Ilmiah Prinsip Replikasi dalam Riset Ilmiah Prinsip Replikasi dalam Eksperimen Prinsip Replikasi dalam Eksperimen Replikasi Eksperimen Sosial: Tujuan dan Tantangan Replikasi Eksperimen Sosial: Tujuan dan Tantangan Riset Terapan di Dunia Industri dan Pendidikan Riset Terapan di Dunia Industri dan Pendidikan Teknologi Adaptif untuk Riset Sosial Teknologi Adaptif untuk Riset Sosial Manajemen Proyek Riset Menggunakan Trello dan Notion Manajemen Proyek Riset Menggunakan Trello dan Notion Kecerdasan Buatan sebagai Asisten Riset Modern Kecerdasan Buatan sebagai Asisten Riset Modern Keamanan Informasi dalam Riset Online Keamanan Informasi dalam Riset Online Riset Kolaboratif antar Universitas Riset Kolaboratif antar Universitas Kontribusi Teknologi terhadap Riset Modern Kontribusi Teknologi terhadap Riset Modern Penggunaan Obat Antiviral pada Pasien Infeksi Akut Penggunaan Obat Antiviral pada Pasien Infeksi Akut Aksiologi Ilmu: Nilai dan Etika dalam Riset Aksiologi Ilmu: Nilai dan Etika dalam Riset Masa Depan Penelitian Digital di Era AI Masa Depan Penelitian Digital di Era AI Riset Kuantitatif di Era Digital Riset Kuantitatif di Era Digital Sistem Web Portal Informasi Akademik Sistem Web Portal Informasi Akademik Prinsip Objektivitas dalam Riset Akademik Prinsip Objektivitas dalam Riset Akademik Riset Bibliometrik: Definisi dan Contoh Riset Bibliometrik: Definisi dan Contoh Konteks Akademik: Definisi dan Pentingnya dalam Kajian Ilmiah Konteks Akademik: Definisi dan Pentingnya dalam Kajian Ilmiah Masa Depan Penelitian Akademik di Era Digital Masa Depan Penelitian Akademik di Era Digital
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…