Terakhir diperbarui: 03 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 3 December). Sistem Informasi Antrian Laboratorium. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/sistem-informasi-antrian-laboratorium  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Sistem Informasi Antrian Laboratorium - SumberAjar.com

Sistem Informasi Antrian Laboratorium

Pendahuluan

Pelayanan laboratorium, baik di klinik, puskesmas, maupun rumah sakit, memegang peranan penting dalam mendukung diagnosis dan pengambilan keputusan medis. Namun proses layanan laboratorium sering menghadapi tantangan seperti lamanya waktu tunggu (waiting time), antrian panjang, serta ketidaktertiban manajemen antrean, terutama saat volume pasien tinggi. Untuk menjawab tantangan tersebut, dibutuhkan suatu solusi sistematis agar proses pendaftaran, antrean, pemeriksaan, dan pelaporan hasil bisa berjalan efisien, akurat, dan terstruktur. Salah satu solusi yang banyak dikaji adalah penerapan sistem informasi yang dirancang khusus untuk mengelola antrean dan layanan laboratorium, yang kita sebut sebagai Sistem Informasi Antrian Laboratorium. Sistem ini diharapkan mampu meminimalkan waktu tunggu, mengurangi beban administratif, memperbaiki koordinasi layanan, serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.

Sebelum membahas lebih lanjut, penting untuk mendefinisikan konsep utama sesuai kaidah akademik: apa itu “Sistem Informasi Antrian Laboratorium”, dari berbagai perspektif, umum, dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI) atau sumber resmi, dan menurut para ahli.


Definisi Sistem Informasi Antrian Laboratorium

Definisi Secara Umum

Secara umum, istilah “sistem informasi antrian laboratorium” dapat dipahami sebagai kombinasi antara prinsip manajemen antrean dan sistem informasi (information system) yang secara khusus dirancang untuk laboratorium. Sistem ini mencakup elemen–elemen seperti pendaftaran pasien/sampel, penomoran antrean, penjadwalan pemeriksaan, monitoring status antrean, hingga pelaporan hasil pemeriksaan. Tujuannya adalah untuk membuat alur layanan laboratorium lebih terstruktur, transparan, dan efisien, menghindari kekacauan antrean manual, meminimalkan penundaan, dan mempermudah administrasi.

Definisi “Sistem Informasi Laboratorium” dalam KBBI / Kamus Resmi

Untuk istilah “sistem informasi laboratorium (SIL / LIS)”, meskipun KBBI versi daring mungkin tidak selalu mendefinisikan secara spesifik, secara resmi di sektor kesehatan, istilah ini telah digunakan untuk menunjukkan sistem berbasis informasi yang menangani semua aspek operasional laboratorium: mulai pendaftaran, manajemen data pasien, manajemen sampel, proses pemeriksaan, hingga pelaporan hasil dan arsip data. Menurut laman resmi institusi kesehatan di Indonesia, LIS bertujuan untuk mengelola informasi secara terintegrasi serta mendukung perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan kinerja laboratorium. [Lihat sumber Disini - upk.kemkes.go.id]

Dengan demikian, “Sistem Informasi Antrian Laboratorium” dapat dianggap sebagai perpanjangan spesifik dari LIS, tetapi dengan fokus tambahan pada mekanisme antrean dan manajemen layanan agar proses laboratorium lebih tertata rapi dari tahap pasien datang hingga pemeriksaan selesai.

Definisi Menurut Para Ahli

Beberapa literatur/jurnal menjelaskan konsep dan manfaat sistem informasi laboratorium serta antrian layanan kesehatan. Berikut definisi menurut beberapa penulis/penelitian:

  • Dalam penelitian yang membahas implementasi sistem informasi laboratorium, disebutkan bahwa LIS “memudahkan pengelolaan dan pelayanan laboratorium dengan mengintegrasikan seluruh proses, mulai dari penerimaan sampel, pelaksanaan pemeriksaan, hingga pelaporan hasil”, suatu mekanisme yang memungkinkan efisiensi dan akurasi layanan. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
  • Penelitian pada layanan kesehatan berbasis web menunjukkan bahwa sistem antrian daring (online queue information system) dapat secara signifikan mengurangi waktu tunggu, mempermudah registrasi dan alur layanan, serta meningkatkan kenyamanan pasien karena bisa registrasi dan mengecek status antrean dari rumah. [Lihat sumber Disini - ijins.umsida.ac.id]
  • Studi khusus pada laboratorium pengujian (meskipun bukan klinik) menunjukkan bahwa antrian merupakan faktor penting yang mempengaruhi efisiensi pelayanan. Dalam penelitian tersebut, penggunaan model antrian (queuing theory) membantu mengidentifikasi bahwa dengan menyesuaikan jumlah “server” atau pelayan, antrian dan waktu tunggu dapat dikurangi secara signifikan, ini menunjukkan pentingnya manajemen antrean terstruktur. [Lihat sumber Disini - journal.aritekin.or.id]
  • Kajian tentang penerapan LIS di fasilitas layanan kesehatan menunjukkan bahwa implementasi sistem informasi laboratorium berdampak positif terhadap mutu layanan, terutama dalam aspek kecepatan, keakuratan data, serta kepuasan pengguna (pasien). [Lihat sumber Disini - prin.or.id]

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa “Sistem Informasi Antrian Laboratorium” adalah sistem informasi laboratorium yang dikombinasikan dengan mekanisme manajemen antrean, dirancang untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, dan kualitas layanan laboratorium melalui digitalisasi dan struktur alur layanan.


Manfaat dan Tujuan Penerapan Sistem Informasi Antrian Laboratorium

Implementasi sistem informasi antrian laboratorium membawa berbagai manfaat, baik bagi institusi layanan kesehatan maupun pasien/ pengguna layanan. Tujuan dan manfaat utamanya meliputi:

  1. Mempercepat Pelayanan dan Mengurangi Waktu Tunggu
    • Berdasarkan penelitian pada laboratorium klinik di RSUD Kabupaten Jombang, penggunaan sistem informasi laboratorium (LIS) secara signifikan menurunkan turnaround time (TAT) pemeriksaan, baik untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan. [Lihat sumber Disini - jkb.ub.ac.id]
    • Sistem antrian berbasis web atau online memungkinkan pasien mendaftar secara daring, mengambil nomor antrean, dan memantau status antrean secara real-time, sehingga pasien dapat memperkirakan kapan tiba di fasilitas tanpa harus datang lebih awal dan menunggu lama. Hal ini mengurangi beban menunggu di ruang tunggu dan mengurangi kepadatan. [Lihat sumber Disini - ijins.umsida.ac.id]
  2. Meningkatkan Efisiensi Operasional Laboratorium
    • Dengan integrasi data (pasien, sampel, hasil pemeriksaan) dan alur kerja otomatis, administrasi manual dan duplikasi data dapat diminimalkan. [Lihat sumber Disini - ejournal.undip.ac.id]
    • Manajemen antrean yang baik membantu laboratorium mengoptimalkan sumber daya, seperti alokasi petugas laboratorium, perangkat pemeriksaan, serta jadwal layanan, sehingga throughput layanan meningkat dan penggunaan sumber daya menjadi lebih efektif. Hal ini serupa dengan hasil penelitian pada laboratorium pengujian konstruksi, di mana penambahan “server” (pelayanan) berdasarkan analisis antrian meningkatkan efisiensi layanan. [Lihat sumber Disini - journal.aritekin.or.id]
  3. Memperbaiki Akurasi Data dan Pelacakan Layanan
    • Sistem informasi memungkinkan data pasien, sampel, dan hasil pemeriksaan tersimpan secara terstruktur dan terarsip. Ini memudahkan pelacakan sampel, rekam medis, serta auditing jika diperlukan. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
    • Dengan informasi antrean dan layanan yang terdata, laboratorium dapat memantau beban layanan, waktu tunggu, utilisasi sumber daya, serta output layanan, sehingga memudahkan evaluasi kinerja dan peningkatan mutu pelayanan.
  4. Meningkatkan Kepuasan Pengguna / Pasien
    • Pengguna layanan laboratorium cenderung merasa lebih nyaman jika proses pendaftaran dan antrean berlangsung tertib, transparan, dan tidak memakan waktu lama. Studi penerapan sistem antrean daring melaporkan peningkatan kepuasan pengguna karena kenyamanan, kemudahan akses, dan estimasi waktu kedatangan. [Lihat sumber Disini - ijins.umsida.ac.id]
    • Kecepatan layanan, akurasi hasil, serta manajemen pelayanan yang baik juga mendukung persepsi profesionalisme laboratorium, membangun kepercayaan pasien terhadap layanan.
  5. Mendukung Integrasi Sistem di Era Digital / Era 4.0
    • Di era transformasi digital dan kemajuan teknologi kesehatan, penerapan sistem informasi laboratorium dan antrean berbasis web atau aplikasi menjadi bagian dari modernisasi layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - isotekindo.co.id]
    • Sistem seperti ini mendukung interoperabilitas dengan sistem informasi kesehatan lainnya (misalnya rekam medis elektronik, manajemen klinik), sehingga data layanan bisa terintegrasi lebih luas dan mendukung analisis kesehatan populasi, manajemen laboratorium, dan pengambilan keputusan berbasis data.

Tantangan dan Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Implementasi

Meskipun banyak manfaat, penerapan sistem informasi antrian laboratorium tidak tanpa tantangan. Beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Ketergantungan pada Teknologi: Sistem membutuhkan infrastruktur komputer, jaringan/internet, dan perangkat lunak, sehingga di fasilitas dengan sumber daya terbatas, implementasi bisa sulit. Hal ini disorot dalam kajian terhadap SIL, bahwa penggunaan teknologi perlu dibarengi dengan dukungan sumber daya manusia dan ketersediaan perangkat. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
  • Kebutuhan Pelatihan dan Kemampuan SDM: Petugas laboratorium dan administrasi harus terlatih untuk menggunakan sistem dengan benar agar data dan alur layanan berjalan konsisten. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
  • Manajemen Perubahan dan Adaptasi: Perubahan dari sistem manual ke digital memerlukan adaptasi prosedur dan kebiasaan kerja, serta terkadang resistensi terhadap perubahan.
  • Privasi dan Keamanan Data: Menyimpan data pasien, sampel, hasil pemeriksaan secara elektronik memerlukan proteksi data, backup, dan mekanisme keamanan agar data tidak hilang atau bocor, hal ini menjadi salah satu kekhawatiran dalam implementasi SIL. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
  • Ketersediaan Akses bagi Pasien: Jika sistem melibatkan pendaftaran online atau antrean daring, pasien perlu akses internet dan perangkat, ini bisa menjadi kendala di daerah dengan koneksi atau akses teknologi terbatas. Studi pada antrean daring di layanan kesehatan menyinggung keterbatasan semacam ini sebagai salah satu kelemahan. [Lihat sumber Disini - jurnal.itscience.org]

Komponen / Fitur yang Ideal pada Sistem Informasi Antrian Laboratorium

Berdasarkan literatur dan praktik pengembangan sistem, berikut komponen atau fitur yang sebaiknya ada jika membuat “Sistem Informasi Antrian Laboratorium”:

  • Modul registrasi pasien / pendaftaran, input data pasien, identitas, jenis pemeriksaan, sampel.
  • Modul antrean / queue management, otomatis generate nomor antrean, antrian online atau offline, penjadwalan pemeriksaan, estimasi waktu tunggu.
  • Dashboard petugas / administrator, melihat antrean, status pemeriksaan, distribusi beban layanan, manajemen sumber daya (alat, petugas).
  • Modul pemantauan / tracking, status sampel, status pemeriksaan, notifikasi jika pemeriksaan selesai.
  • Modul hasil dan pelaporan, hasil pemeriksaan pasien, laporan laboratorium, arsip data, integrasi dengan sistem rekam medis jika ada.
  • Modul manajemen data dan histori, penyimpanan data pasien, data pemeriksaan, histori antrean, untuk audit dan analisis.
  • Fitur kemudahan akses pasien, registrasi online / pendaftaran jarak jauh / aplikasi mobile / website, notifikasi antrean / estimasi waktu layanan.
  • Keamanan dan privasi data, enkripsi, hak akses, backup, proteksi data pasien.

Pengembangan sistem seperti ini telah dilakukan di berbagai institusi; misalnya pada sebuah Puskesmas, dalam studi perancangan sistem informasi laboratorium dengan menggunakan framework dan basis data relasional (PHP + MySQL), menunjukkan bahwa sistem semacam ini feasibel di lingkungan layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - ejournal.undip.ac.id]


Kasus & Bukti Empiris: Studi Terkait

  • Studi berjudul “Analisis Sistem Antrian Pengujian Material pada Laboratorium Pengujian Konstruksi dengan Metode Queuing Theory” menunjukkan bahwa model antrian membantu memperbaiki efisiensi layanan laboratorium pengujian material, dengan menambah “server” (pelayanan), waktu tunggu menurun dan probabilitas layanan meningkat. [Lihat sumber Disini - journal.aritekin.or.id]
  • Penelitian “Development of a Website-Based Online Queue Information System for Health Services” (2023) melaporkan bahwa sistem antrian berbasis web mampu mengatasi keluhan antrian panjang dan menurunkan waktu tunggu di layanan kesehatan, sekaligus mempermudah registrasi dan memberikan kemudahan bagi pasien. [Lihat sumber Disini - ijins.umsida.ac.id]
  • Implementasi sistem informasi laboratorium (LIS) di institusi kesehatan menunjukkan bahwa penggunaan LIS mampu mempersingkat turnaround time (TAT) pemeriksaan secara signifikan dibanding metode manual, misalnya di studi dari RSUD Kabupaten Jombang. [Lihat sumber Disini - jkb.ub.ac.id]
  • Studi terhadap kepuasan pengguna setelah implementasi SIL melaporkan bahwa sistem informasi laboratorium mendukung pelaksanaan layanan yang tepat, perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan kinerja laboratorium, sehingga berdampak pada mutu layanan dan kepuasan pasien. [Lihat sumber Disini - academia.edu]

Rekomendasi untuk Pengembangan dan Implementasi di Laboratorium

Berdasarkan manfaat, tantangan, dan bukti empiris, berikut rekomendasi bagi institusi (rumah sakit, klinik, puskesmas, atau laboratorium umum) yang hendak menerapkan Sistem Informasi Antrian Laboratorium:

  • Lakukan analisis kebutuhan dan kapasitas laboratorium terlebih dahulu, jumlah pasien rata-rata, volume sampel, jenis pemeriksaan, perkiraan beban kerja, untuk merancang sistem antrean dan sumber daya dengan tepat.
  • Gunakan pendekatan sistem informasi yang fleksibel dan modular, agar bisa berkembang sesuai kebutuhan (misalnya mulai dari pendaftaran & antrean, kemudian integrasi hasil pemeriksaan, pelaporan, dan histori).
  • Pastikan ada pelatihan bagi staf laboratorium dan admin agar transisi dari sistem manual ke digital bisa berjalan mulus.
  • Sertakan protokol keamanan dan proteksi data (privasi pasien, backup, akses terbatas), karena data laboratorium dan pasien bersifat sensitif.
  • Jika memungkinkan, sediakan fitur antrean daring / online, agar pasien bisa registrasi sebelum datang, mengurangi kepadatan ruang tunggu, dan memberikan kenyamanan.
  • Monitor dan evaluasi kinerja sistem secara berkala, waktu tunggu, beban layanan, utilisasi alat/petugas, kepuasan pasien, agar sistem terus disesuaikan dan diperbaiki.

Kesimpulan

Sistem Informasi Antrian Laboratorium merupakan solusi strategis untuk mengatasi masalah panjangnya antrean, waktu tunggu, dan ketidaktertiban dalam layanan laboratorium. Dengan menggabungkan konsep manajemen antrean dan sistem informasi laboratorium, sistem ini menawarkan berbagai manfaat: percepatan layanan, efisiensi operasional, akurasi data, kemudahan administrasi, serta peningkatan kepuasan pasien. Meski demikian, implementasinya menuntut kesiapan infrastruktur, pelatihan SDM, serta perhatian pada keamanan data. Berbagai studi empiris menunjukkan bahwa penerapan sistem semacam ini berhasil menurunkan waktu tunggu secara signifikan, memperbaiki alur layanan, dan meningkatkan kualitas pelayanan secara keseluruhan. Oleh karena itu, bagi institusi layanan kesehatan dan laboratorium, terutama yang masih menggunakan sistem manual, penerapan Sistem Informasi Antrian Laboratorium layak dipertimbangkan sebagai bagian dari modernisasi layanan.

 

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Sistem Informasi Antrian Laboratorium adalah sistem digital yang digunakan untuk mengatur proses antrean pendaftaran, pemeriksaan, dan pelaporan hasil laboratorium agar lebih cepat, efisien, dan tertata, sehingga meminimalkan waktu tunggu dan meningkatkan kualitas pelayanan.

Manfaat utama sistem ini meliputi pengurangan waktu tunggu, peningkatan efisiensi operasional, akurasi data pemeriksaan, kemudahan administrasi, dan peningkatan kepuasan pasien melalui layanan yang lebih tertib dan transparan.

Fitur umum meliputi pendaftaran pasien, manajemen nomor antrean, estimasi waktu tunggu, dashboard petugas, tracking status pemeriksaan, pelaporan hasil, histori data, serta integrasi dengan sistem informasi kesehatan lainnya.

Sistem ini mengotomatisasi alur kerja, mengurangi antrean manual, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, serta menyajikan informasi antrean secara real-time, sehingga proses pelayanan menjadi lebih cepat dan tertata.

Rumah sakit, klinik, puskesmas, laboratorium mandiri, dan institusi pengujian yang membutuhkan pengaturan antrean dan layanan pemeriksaan secara efisien sangat dianjurkan menggunakan sistem ini.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Sistem Web Manajemen Inventaris Laboratorium Sistem Web Manajemen Inventaris Laboratorium Virtual Laboratory: Pengertian dan Contoh Penerapan Virtual Laboratory: Pengertian dan Contoh Penerapan Eksperimen Laboratorium: Definisi, Langkah, dan Contoh Eksperimen Laboratorium: Definisi, Langkah, dan Contoh Sistem Web Peminjaman Alat Laboratorium Sistem Web Peminjaman Alat Laboratorium Ketepatan Waktu Pelayanan Kesehatan Ketepatan Waktu Pelayanan Kesehatan Sistem Mobile Reservasi Ruangan Kampus Sistem Mobile Reservasi Ruangan Kampus Monitoring Efek Samping Obat Penurun Asam Urat Monitoring Efek Samping Obat Penurun Asam Urat Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Administrasi Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Administrasi Sistem Informasi Klinik: Proses, Modul, dan Contoh Sistem Informasi Klinik: Proses, Modul, dan Contoh Sistem Mobile Pengaduan Keluhan Publik Sistem Mobile Pengaduan Keluhan Publik Sistem Informasi Monitoring Praktikum Sistem Informasi Monitoring Praktikum Digitalisasi Layanan Akademik: Konsep dan Implementasi Digitalisasi Layanan Akademik: Konsep dan Implementasi Sistem Informasi Rumah Sakit: Fungsi dan Penerapannya Sistem Informasi Rumah Sakit: Fungsi dan Penerapannya Eksperimen Lapangan: Pengertian, Langkah, dan Contoh Penerapan Eksperimen Lapangan: Pengertian, Langkah, dan Contoh Penerapan Metode Eksperimen Lapangan: Tahapan dan Keunggulannya Metode Eksperimen Lapangan: Tahapan dan Keunggulannya Use Case Diagram: Fungsi dan Contoh Use Case Diagram: Fungsi dan Contoh Surveilans Penyakit Menular Surveilans Penyakit Menular Pengertian Sistem Informasi : Komponen, Jenis, Proses, dan Fungsinya dalam Organisasi Pengertian Sistem Informasi : Komponen, Jenis, Proses, dan Fungsinya dalam Organisasi Penelitian Eksperimen Pendidikan Digital Penelitian Eksperimen Pendidikan Digital Monitoring Terapi Antikoagulan pada Pasien Risiko Tinggi Monitoring Terapi Antikoagulan pada Pasien Risiko Tinggi
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…