Terakhir diperbarui: 28 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 28 January). Slump Beton: Konsep, Metode Uji, dan Interpretasi Hasil. SumberAjar. Retrieved 29 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/slump-beton-konsep-metode-uji-dan-interpretasi-hasil  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Slump Beton: Konsep, Metode Uji, dan Interpretasi Hasil - SumberAjar.com

Slump Beton: Konsep, Metode Uji, dan Interpretasi Hasil

Pendahuluan

Slump beton adalah salah satu istilah dan uji yang paling fundamental dalam dunia teknik sipil dan konstruksi modern. Pada setiap proyek pengecoran beton, pengujian slump selalu dilakukan sebelum beton dituangkan ke dalam cetakan atau struktur, karena hasil pengujian ini memberi informasi awal tentang workability atau kemudahan pengerjaan beton segar dengan campuran tertentu. Uji slump bertindak sebagai indikator konsistensi campuran beton segar, sehingga perencana dan pelaksana konstruksi dapat memastikan beton akan mudah diolah, dipadatkan, dan dipasang sesuai rencana, tanpa memerlukan campuran ulang yang memakan waktu dan biaya tambahan. Konsep dan praktik slump beton ini tidak hanya berkaitan dengan kualitas beton pada tahap awal, tapi juga memiliki dampak signifikan terhadap mutu akhir konstruksi seperti kekuatan tekan, homogenitas adukan, dan ketahanan struktur secara keseluruhan. Kesadaran akan pentingnya slump beton menjadikan metode uji ini menjadi bagian wajib dari setiap kontrol mutu beton segar dalam proyek teknik sipil. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])


Definisi Slump Beton

Definisi Slump Beton Secara Umum

Slump beton secara umum adalah ukuran atau pengukuran tentang konsistensi atau tingkat kelecekan dari beton segar yang baru dicampur. Nilai slump dihasilkan dari selisih antara tinggi beton yang tertuang di dalam cetakan slump cone dan tinggi beton setelah cetakan diangkat. Pengukuran ini memberikan gambaran seberapa cair atau padat campuran beton tersebut. Beton dengan nilai slump yang tinggi menunjukkan bahwa beton lebih cair atau lebih mudah diolah (workability tinggi), sementara beton dengan nilai slump rendah menunjukkan adukan lebih kaku atau padat. Uji ini sering dilakukan di lapangan untuk memantau kualitas beton sebelum digunakan dalam pekerjaan pengecoran. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Definisi Slump Beton dalam KBBI

Dalam pengertian istilah yang dicantumkan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia melalui sumber resmi KBBI (jika merujuk pada istilah beton dan teknik bangunan), slump beton dapat dijelaskan sebagai penurunan ketinggian campuran beton segar setelah kerucut uji diangkat, yang mencerminkan tingkat kekentalan adukan beton tersebut. Penjelasan ini umumnya merujuk pada fenomena turun atau runtuhnya permukaan beton akibat gaya gravitasi setelah cetakan kerucut, yang menggambarkan konsistensi kerja material tersebut.Link ini akan dimasukkan jika KBBI online mengandung entri yang sesuai, namun istilah tersebut biasanya dijelaskan dalam istilah teknik sipil secara aplikatif di luar KBBI. (Contoh jika menggunakan sumber KBBI: [Lihat sumber Disini - kbbi.kemdikbud.go.id], pengguna dapat mencari “slump beton”.)

Definisi Slump Beton Menurut Para Ahli

  1. Van Gobel (dalam standar dan praktik konstruksi sipil) menyatakan bahwa slump adalah ketinggian penurunan adukan beton segar yang diukur dari puncak adukan setelah cetakan slump cone diangkat. Nilai slump ini digunakan sebagai pedoman untuk mengetahui tingkat workability suatu campuran beton, yaitu kemudahan campuran beton tersebut dalam pengerjaan seperti pemadatan dan pengecoran di lapangan. ([Lihat sumber Disini - publikasi.teknokrat.ac.id])

  2. SNI 1972:2022, Metode Uji Slump Beton mendefinisikan slump test sebagai metode uji untuk mengukur kekentalan beton segar yang dapat mempengaruhi kemudahan pengerjaan beton seperti pengecoran dan pemadatan serta keteraturan campuran beton segar. ([Lihat sumber Disini - publikasi.teknokrat.ac.id])

  3. Nurokhman et al. (2021) dalam jurnal teknik sipil menjelaskan slump beton atau Concrete Slump Test sebagai pengukuran tingkat workability yang dilakukan sebelum pengecoran beton untuk mengetahui seberapa mudah beton dapat dicetak, dipadatkan, atau dipindahkan ke formwork konstruksi. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ucy.ac.id])

  4. A Novan (2025) menjelaskan dalam konteks penelitian bahwa slump beton adalah penurunan ketinggian beton segar setelah cetakan slump diangkat dan semakin besar nilai slump, semakin mudah beton untuk dikerjakan, sehingga nilai slump menjadi indikator penting keberhasilan campuran beton sesuai desain kerja konstruksi. ([Lihat sumber Disini - ejournal.sttp-yds.ac.id])


Tujuan Pengujian Slump Beton

Pengujian slump beton dilakukan dengan berbagai tujuan utama yang berfokus pada pemantauan kualitas beton segar sebelum masuk ke tahap pengerjaan struktural:

Pertama, tujuan utama slump test adalah untuk menilai workability beton segar secara cepat dan sederhana tanpa memerlukan alat lab yang kompleks. Uji ini memberi gambaran awal atas konsistensi adukan beton sehingga pelaksana dapat memastikan beton memiliki tingkat kekentalan yang sesuai untuk pekerjaan pengecoran yang direncanakan. Nilai slump yang sesuai akan memastikan beton mudah dipadatkan dan memenuhi spesifikasi mutu yang diharapkan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Kedua, slump test bertujuan untuk mendeteksi variasi kualitas campuran beton pada setiap batch yang diuji. Misalnya, jika setiap batch beton yang dihasilkan dari mixer berbeda nilainya secara signifikan, pelaksana dapat mengevaluasi apakah rasio air-semen atau komposisi agregat perlu disesuaikan. Hal ini penting dalam pekerjaan konstruksi berskala besar di mana konsistensi mutu beton mempengaruhi kelangsungan pekerjaan pelaksanaan. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])

Ketiga, pengujian slump menjadi indikator awal apakah campuran beton akan memenuhi kriteria desain struktur. Beton yang terlalu kering dengan slump rendah akan sulit dipadatkan dan dapat menghasilkan rongga udara, sementara beton yang terlalu cair dengan slump tinggi cenderung menunjukkan banyak air bebas yang dapat menurunkan kuat tekan beton setelah mengeras. Oleh karena itu, slump test dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan ini sehingga beton mencapai performa yang optimal saat mengeras. ([Lihat sumber Disini - readymix.co.id])

Terakhir, uji slump juga memiliki tujuan praktis dalam pengendalian mutu di lapangan. Karena metode ini sederhana, cepat, dan hemat biaya, pengujian slump sering dilakukan berkala pada proyek pembangunan besar untuk memastikan bahwa beton memenuhi standar mutu yang telah direncanakan dan sesuai spesifikasi kontrak kerja teknik sipil. ([Lihat sumber Disini - id.scribd.com])


Metode dan Prosedur Uji Slump

Metode uji slump beton mengikuti standar internasional seperti ASTM C143 maupun standar Indonesia seperti SNI 1972 tentang Metode Uji Slump Beton. Prosedur ini dirancang untuk menghasilkan nilai slump yang dapat diulang dan dibandingkan antar batch beton. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

Prosedur dasar uji slump dimulai dengan menyiapkan alat berupa slump cone (kerucut Abrams) yang berbentuk kerucut terpancung dan ditempatkan di atas permukaan yang datar serta tidak menyerap air. Beton segar yang akan diuji kemudian dimasukkan ke dalam cetakan ini dalam tiga lapisan berurutan. Setiap lapisan beton dipadatkan dengan cara ditusuk atau ditamping rod sebanyak 25 kali untuk setiap lapisan guna menghilangkan rongga udara. Setelah pengisian ketiga lapisan selesai, permukaan beton diratakan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Setelah cetakan terisi, cetakan slump cone diangkat secara vertikal tanpa goyangan atau gerakan berputar, sehingga beton mulai mengalami slump atau turun. Nilai slump diukur sebagai selisih antara tinggi awal beton dalam cetakan dengan tinggi beton setelah cetakan diangkat. Nilainya umumnya dinyatakan dalam milimeter (mm) dan menunjukkan tingkat kelecekan atau konsistensi adukan beton. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

Selain prosedur standar, beberapa standar nasional (seperti SNI) juga mencantumkan toleransi pengisian, jumlah tusukan, dan kondisi permukaan cetakan agar pengukuran slump dapat konsisten antar laboratorium atau lokasi konstruksi berbeda. ([Lihat sumber Disini - publikasi.teknokrat.ac.id])


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Slump

Nilai slump beton sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berkaitan dengan komposisi bahan baku, proporsi campuran, serta kondisi pengerjaan. Beberapa faktor penting yang mempengaruhi nilai slump antara lain:

1. Perbandingan Air-Semen (w/c). Rasio antara jumlah air dan jumlah semen dalam campuran beton merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi nilai slump. Semakin tinggi rasio air-semen, beton cenderung lebih cair dan menghasilkan slump yang lebih besar. Namun, terlalu banyak air akan menurunkan kuat tekan beton setelah mengeras. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

2. Ukuran, Bentuk, dan Gradasi Agregat. Agregat dengan ukuran besar atau dengan bentuk tak beraturan akan menurunkan slump karena mengurangi ruang bebas di antara partikel. Agregat halus dan bergradasi baik cenderung meningkatkan slump dengan memudahkan aliran campuran. ([Lihat sumber Disini - scielo.cl])

3. Kandungan Semen dan Bahan Tambahan. Peningkatan kadar semen atau penggunaan bahan tambahan seperti superplasticizer dapat meningkatkan slump tanpa menambah air bebas secara langsung, sehingga memungkinkan beton lebih mudah dikerjakan tanpa mengorbankan kuat tekan. ([Lihat sumber Disini - mdpi.com])

4. Temperatur dan Kondisi Lingkungan. Suhu tinggi cenderung mempercepat kecepatan hidrasi cement sehingga slump beton akan menurun lebih cepat dari waktu ke waktu. Sebaliknya, suhu rendah memperlambat proses ini, memberi waktu lebih panjang bagi beton untuk mempertahankan slump. ([Lihat sumber Disini - journal.untar.ac.id])

5. Teknik Pencampuran dan Pengadukan. Waktu dan intensitas pencampuran beton juga berpengaruh. Pencampuran yang tidak merata atau kurang akan menghasilkan slump yang tidak konsisten karena adonan belum homogen. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])


Interpretasi Hasil Uji Slump

Hasil uji slump harus ditafsirkan secara hati-hati untuk memberikan informasi yang berguna mengenai sifat beton segar. Nilai slump tidak hanya menunjukkan konsistensi beton tetapi juga memberikan petunjuk tentang workability beton di lapangan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Nilai slump yang rendah dapat menunjukkan bahwa beton terlalu kaku, sehingga sulit dipadatkan dan mungkin menghasilkan rongga udara yang mengurangi kekuatan dan durabilitas beton setelah pengerasan. Sebaliknya, nilai slump yang terlalu tinggi bisa berarti campuran beton terlalu cair dengan kandungan air berlebih, yang akan mengurangi kuat tekan beton ketika mengeras. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Terdapat beberapa bentuk slump yang berbeda setelah cetakan diangkat, seperti true slump (beton turun secara seragam), shear slump (bagian beton tergeser), dan collapse slump (beton runtuh total). True slump adalah bentuk slump yang paling ideal dan dapat digunakan untuk penilaian. Sedangkan collapse slump biasanya menunjukkan beton terlalu basah atau terlalu workable sehingga uji slump standar tidak tepat untuk beton tersebut. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Nilai slump sering dikaitkan dengan rentang pekerjaan konstruksi yang berbeda; misalnya slump rendah sering digunakan untuk struktur seperti jalan atau dasar fondasi, sementara slump menengah hingga tinggi digunakan pada struktur yang memerlukan pengerjaan mudah atau ada banyak reinforcement. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])


Hubungan Slump dengan Workability Beton

Workability beton adalah seberapa mudah campuran beton dapat dicampur, dipindahkan, dipasang, dan dipadatkan tanpa segregasi atau pemisahan komponen. Slump beton berperan sebagai indikator paling sederhana dalam menilai workability ini. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Beton dengan nilai slump rendah cenderung memiliki workability rendah, sehingga memerlukan usaha lebih besar untuk dipadatkan dan dapat meningkatkan risiko rongga udara atau lapisan tidak rapat dalam struktur. Beton dengan nilai slump tinggi menunjukkan workability yang tinggi, membuatnya lebih mudah untuk dipindahkan dan dipadatkan dalam cetakan atau formwork, namun harus diwaspadai agar tidak berlebihan karena terlalu banyak air juga dapat melemahkan beton setelah mengeras. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Uji slump memberikan gambaran awal ini sehingga perencana proyek dapat menyesuaikan rasio air-semen atau bahan tambahan seperti superplasticizer bila diperlukan agar beton mencapai keseimbangan optimal antara workability dan kuat tekan yang diinginkan. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])


Kesimpulan

Secara keseluruhan, slump beton merupakan parameter penting dalam pengendalian mutu beton segar yang mencerminkan workability dan konsistensi adukan beton sebelum pengerjaan struktural dilakukan. Uji slump dilakukan dengan prosedur standar yang melibatkan penggunaan slump cone dan pengukuran penurunan beton setelah cetakan diangkat. Nilai slump dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti rasio air-semen, ukuran agregat, komposisi campuran, dan kondisi lingkungan. Interpretasi hasil uji slump memberikan panduan penting bagi pelaksana proyek untuk memastikan beton yang dihasilkan memenuhi spesifikasi teknik sipil dan konstruksi yang direncanakan. Selain itu, hubungan antara slump dan workability beton menggarisbawahi peran penting slump test sebagai alat kontrol mutu yang sederhana namun sangat relevan di lapangan konstruksi modern. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Slump beton adalah ukuran penurunan tinggi beton segar setelah cetakan uji diangkat, yang digunakan untuk mengetahui tingkat kelecakan dan konsistensi beton sebelum pengecoran.

Tujuan pengujian slump beton adalah untuk menilai workability beton segar, memastikan konsistensi campuran sesuai desain, serta mengontrol mutu beton sebelum digunakan dalam pekerjaan konstruksi.

Uji slump beton dilakukan dengan mengisi beton segar ke dalam cetakan kerucut dalam tiga lapisan, masing-masing dipadatkan, kemudian cetakan diangkat secara vertikal dan selisih tinggi beton diukur sebagai nilai slump.

Nilai slump beton dipengaruhi oleh rasio air-semen, jenis dan gradasi agregat, kandungan semen, penggunaan bahan tambah, suhu lingkungan, serta metode pencampuran beton.

Hasil uji slump diinterpretasikan untuk menilai apakah beton terlalu kaku, terlalu cair, atau memiliki konsistensi yang sesuai, sehingga dapat dipastikan beton mudah dikerjakan tanpa menurunkan mutu struktur.

Slump beton berhubungan langsung dengan workability beton, di mana nilai slump yang sesuai menunjukkan beton mudah dicetak, dipadatkan, dan dikerjakan tanpa segregasi.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Susut Beton: Konsep, Mekanisme Penyusutan, dan Dampak Struktur Susut Beton: Konsep, Mekanisme Penyusutan, dan Dampak Struktur Mutu Beton: Konsep, Klasifikasi Kekuatan, dan Standar Mutu Mutu Beton: Konsep, Klasifikasi Kekuatan, dan Standar Mutu Kuat Tekan Beton: Konsep, Parameter Pengujian, dan Faktor Mutu Kuat Tekan Beton: Konsep, Parameter Pengujian, dan Faktor Mutu Modulus Elastisitas Beton: Konsep, Hubungan Tegangan–Regangan, dan Deformasi Modulus Elastisitas Beton: Konsep, Hubungan Tegangan–Regangan, dan Deformasi Kuat Tarik Beton: Konsep, Mekanisme Retak, dan Perilaku Material Kuat Tarik Beton: Konsep, Mekanisme Retak, dan Perilaku Material Rangkak Beton: Konsep, Pengaruh Beban Jangka Panjang, dan Deformasi Rangkak Beton: Konsep, Pengaruh Beban Jangka Panjang, dan Deformasi Workability Beton: Konsep, Kelecakan Adukan, dan Kemudahan Pelaksanaan Workability Beton: Konsep, Kelecakan Adukan, dan Kemudahan Pelaksanaan Retak Beton: Konsep, Jenis Retak, dan Penyebab Struktural Retak Beton: Konsep, Jenis Retak, dan Penyebab Struktural Interpretasi: Pengertian, Tahap, dan Contoh dalam Penelitian beserta Sumber [PDF] Interpretasi: Pengertian, Tahap, dan Contoh dalam Penelitian beserta Sumber [PDF] Interpretasi Data: Definisi, Langkah, dan Contoh dalam Penelitian Ilmiah Interpretasi Data: Definisi, Langkah, dan Contoh dalam Penelitian Ilmiah Penelitian Hermeneutik: Prinsip dan Tahapan Penelitian Hermeneutik: Prinsip dan Tahapan Analisis Interkoder dalam Penelitian Kualitatif Analisis Interkoder dalam Penelitian Kualitatif Metode Historis: Langkah dan Contohnya Metode Historis: Langkah dan Contohnya Perspektif Hermeneutik dalam Penelitian Sosial Perspektif Hermeneutik dalam Penelitian Sosial Interpretasi Korelasi Pearson dan Spearman Interpretasi Korelasi Pearson dan Spearman Teori Hermeneutika Gadamer: Konsep dan Relevansi Teori Hermeneutika Gadamer: Konsep dan Relevansi X-Ray Data Analysis: Pengertian dan Aplikasi dalam Riset Sains X-Ray Data Analysis: Pengertian dan Aplikasi dalam Riset Sains Analisis Data pada Penelitian Eksperimen Analisis Data pada Penelitian Eksperimen Metode Campuran: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Penelitian Metode Campuran: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Penelitian Konstruktivisme dalam Penelitian Kualitatif Konstruktivisme dalam Penelitian Kualitatif
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…