Terakhir diperbarui: 29 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 29 January). Rangkak Beton: Konsep, Pengaruh Beban Jangka Panjang, dan Deformasi. SumberAjar. Retrieved 29 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/rangkak-beton-konsep-pengaruh-beban-jangka-panjang-dan-deformasi  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Rangkak Beton: Konsep, Pengaruh Beban Jangka Panjang, dan Deformasi - SumberAjar.com

Rangkak Beton: Konsep, Pengaruh Beban Jangka Panjang, dan Deformasi

Pendahuluan

Beton merupakan material konstruksi yang paling dominan digunakan dalam dunia teknik sipil karena kekuatan tekan yang tinggi, kemampuan menahan beban besar, serta kemudahan dalam pelaksanaannya pada berbagai jenis struktur seperti gedung, jembatan, jalan, dan infrastruktur lainnya. Namun beton juga memiliki fenomena perilaku jangka panjang yang harus dipahami secara mendalam oleh perencana struktur dan praktisi konstruksi. Salah satunya adalah rangkak beton, atau dalam istilah internasional disebut concrete creep, yaitu deformasi atau perubahan bentuk beton yang berkembang secara perlahan ketika beton berada di bawah beban yang berkepanjangan. Fenomena ini sangat penting diperhatikan karena dampaknya terhadap performa struktur dalam jangka panjang, termasuk penurunan kekakuan, peningkatan lendutan, dan potensi perubahan internal gaya di elemen struktural jika tidak dikontrol dengan tepat. Studi perilaku rangkak beton menjadi fokus penelitian dan pembahasan teknis pada jurnal-jurnal teknik sipil dan material konstruksi karena hubungannya dengan keamanan, durabilitas, dan serviceability struktur beton. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])


Definisi Rangkak Beton

Definisi Rangkak Beton Secara Umum

Rangkak beton secara umum adalah fenomena deformasi atau strain yang terjadi secara bertahap pada beton ketika material ini menerima beban yang diberikan secara terus-menerus dalam jangka waktu panjang. Deformasi ini adalah deformasi permanen yang berkembang setelah deformasi elastis awal dan bertahan bahkan tanpa perubahan beban tambahan, selama tegangan masih diteruskan. Deformasi ini menjadi lebih signifikan seiring bertambahnya waktu pembebanan dan sangat berpengaruh pada elemen struktural beton seperti kolom, balok, dan pelat lantai karena dapat mempengaruhi lendutan, perubahan gaya internal, serta redistribusi tegangan. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

Definisi Rangkak Beton dalam KBBI

Menurut penelusuran istilah rangkak dalam konteks beton di sumber-sumber teknis dan ensiklopedia bahasa Indonesia, istilah ini tidak secara formal tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun, dalam literatur teknik sipil istilah rangkak beton digunakan sebagai padanan istilah creep beton untuk merujuk pada deformasi jangka panjang beton akibat beban berkelanjutan. Penggunaan istilah ini telah umum di lingkungan praktisi dan akademisi Indonesia untuk menjelaskan fenomena yang sama seperti concrete creep dalam literatur internasional. ([Lihat sumber Disini - sobute.co.id])

Definisi Rangkak Beton Menurut Para Ahli

Para ahli material beton dan teknik struktur telah mendeskripsikan rangkak beton sebagai berikut:

  1. Dr. Winfred Nthuka Mutungi (penelitian material beton) dalam kajiannya menyatakan bahwa creep pada beton adalah deformasi jangka panjang yang terjadi ketika beton dikenai beban yang terus menerus, bahkan setelah deformasi elastis awalnya selesai, dan fenomena ini tak terelakkan dalam material beton karena sifat viskoelastisitas dan hidrasi semen yang berkelanjutan. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

  2. Komite Euro-International du Béton / Fédération Internationale de la Précontrainte (CEB-FIP) sebagai organisasi penelitian beton internasional menyatakan bahwa creep adalah penambahan regangan yang terjadi secara bertahap tanpa adanya perubahan beban yang signifikan setelah beban awal diterapkan, yang menjadi model dasar dalam perhitungan perilaku beton jangka panjang. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

  3. Literatur mekanika beton standar dalam ilmu material menyebut bahwa rangkak adalah fenomena viskoelastis di mana beton menunjukkan deformasi yang terus berkembang seiring waktu akibat sifat internalnya yang kompleks, termasuk porositas, hidrasi kimia, dan mikrostruktur gel C-S-H (calcium silicate hydrate) yang terus berubah. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

  4. ACI (American Concrete Institute) memandang creep of concrete sebagai deformasi progresif yang dihasilkan ketika beban tetap diterapkan pada beton dalam jangka waktu lama, sehingga mempengaruhi sifat serviceability elemen beton. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])


Mekanisme Terjadinya Rangkak Beton

Fenomena rangkak beton bukanlah sekadar perubahan bentuk biasa, melainkan sebuah mekanisme kompleks yang melibatkan interaksi fisika dan kimia di dalam struktur mikro beton. Mekanisme utamanya dapat dijelaskan melalui beberapa proses fundamental dalam beton yang berada di bawah beban tetap dalam jangka waktu panjang.

Pertama, ketika beton baru dicor dan pengerasan berlangsung, reaksi hidrasi semen berlanjut selama waktu lama. Produk hidrasi seperti gel kalsium silikat hidrat (C-S-H) memiliki struktur mikro yang sangat poros dan viskoelastis. Ketika beton menerima beban tekan, beban ini menyebabkan partikel-partikel dalam C-S-H mengalami slip, rompakan ikatan internal, dan relaksasi internal, sehingga menghasilkan deformasi jangka panjang yang tidak sepenuhnya kembali ke keadaan semula ketika beban dilepas. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Kedua, viskoelastisitas beton menyebabkan fenomena primary creep, yakni tahap awal rangkak yang cepat setelah pemberian beban, kemudian berlanjut menuju secondary creep, di mana tingkat deformasi menjadi lebih stabil seiring waktu, dan pada kondisi ekstrem dengan beban yang sangat tinggi atau waktu yang sangat panjang dapat mencapai tertiary creep yang berujung pada kerusakan. Pola perkembangan ini telah diamati dalam model creep internasional dan banyak dirujuk dalam penelitian lanjutan. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

Ketiga, lingkungan eksternal seperti kelembaban dan suhu juga berkontribusi pada mekanisme rangkak. Beton yang berada dalam kondisi kelembaban relatif tertentu akan mempertahankan sebagian air dalam pori-porinya sehingga hidrasi lanjutan berlangsung dan mikrostruktur berubah, memungkinkan deformasi yang lambat namun progresif. Faktor-faktor ini membuat mekanisme rangkak berbeda dengan deformasi elastis sederhana yang terjadi pada material lain. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])


Pengaruh Beban Jangka Panjang terhadap Rangkak

Beban jangka panjang memiliki dampak yang signifikan pada perilaku beton karena fenomena rangkak sendiri berkaitan langsung dengan durasi pembebanan. Beton yang menerima beban berat secara terus menerus akan menunjukkan regangan atau deformasi lebih besar seiring waktu dibanding beton yang hanya diberi beban sementara atau beban dinamis singkat seperti beban angin atau gempa.

Dalam struktur nyata, beban mati seperti berat sendiri elemen, berat material penutup, atau beban permanen lainnya akan terus menerus bekerja sepanjang umur bangunan. Hal ini berarti struktur beton cenderung mengalami perkembangan regangan berupa lendutan pada balok atau pemendekan pada kolom yang meningkat seiring waktu, yang harus diperhitungkan dalam desain untuk memastikan serviceability batas lendutan tidak terlampaui. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

Selain itu, beban jangka panjang dapat mengubah distribusi internal tegangan pada struktur beton. Ini berarti elemen struktur tidak hanya mengalami deformasi linier sederhana tapi juga mengalami redistribusi tegangan di sekitar titik kritis, yang dapat mempercepat kerusakan mikro seperti retak halus atau bahkan hilangnya kekakuan di area tertentu. Efek ini semakin terasa dalam elemen beton prategang di mana kehilangan tegangan awal akibat creep dapat menurunkan kapasitas struktural jika tidak diperhitungkan secara akurat. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Keberadaan rekayasa seperti tulangan atau penggunaan beton berkekuatan tinggi juga tidak sepenuhnya menghilangkan pengaruh rangkak, tetapi dapat memperlambat laju deformasi jika komposisi beton dan rasio baja dalam beton dirancang dengan tepat. Studi mekanika beton jangka panjang menunjukkan bahwa faktor-faktor ini penting untuk memprediksi besarnya creep dalam desain elemen. ([Lihat sumber Disini - id.scribd.com])


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rangkak Beton

Banyak faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi jumlah dan laju deformasi akibat rangkak. Rangkak beton sangat dipengaruhi oleh komposisi material, kondisi pembebanan, serta kondisi lingkungan di mana beton digunakan.

Salah satu faktor internal yang dominan adalah proporsi campuran beton, termasuk rasio air-semen, jenis agregat, dan kandungan semen. Rasio air-semen yang lebih tinggi cenderung membuat beton lebih poros sehingga mempercepat terjadinya creep karena air dapat memudahkan pergerakan internal partikel gel C-S-H. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Jenis agregat juga berpengaruh: agregat dengan kekuatan tinggi dan modulus elastisitas tinggi dapat membatasi deformasi rangkak karena agregat ini lebih tahan terhadap perubahan bentuk dibandingkan pasta semen sendiri. Proporsi agregat yang optimal dapat memperkecil regangan akibat rangkak. ([Lihat sumber Disini - sobute.co.id])

Umur beton saat beban diterapkan juga memainkan peran penting. Beton yang menerima beban pada umur muda (misalnya sebelum mencapai kekuatan penuh) akan mengalami creep yang lebih besar karena hidrasi dan perubahan mikrostruktur masih aktif. Sebaliknya, beton yang telah cukup matang cenderung menunjukkan creep yang lebih rendah karena sebagian besar reaksi kimia internal telah mereda. ([Lihat sumber Disini - etd.repository.ugm.ac.id])

Kondisi lingkungan seperti kelembaban relatif dan suhu juga sangat mempengaruhi laju creep. Beton dalam kondisi kelembaban tinggi cenderung menunjukkan creep yang berbeda dibanding beton di lingkungan kering karena perubahan kadar air dapat mempengaruhi ritme hidrasi lanjutan dan perubahan struktur mikro. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])


Dampak Rangkak Beton terhadap Deformasi Struktur

Perubahan bentuk beton akibat rangkak dapat tampil dalam berbagai macam bentuk deformasi pada elemen struktural. Salah satu dampak paling nyata adalah penambahan lendutan pada balok beton yang mengalami beban lentur. Lama-kelamaan lendutan ini bisa melebihi nilai yang diizinkan dalam desain serviceability, sehingga lantai atau jembatan tampak melengkung lebih dari prediksi awal jika rangkak tidak diperhitungkan. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

Untuk elemen tekan seperti kolom, rangkak menyebabkan pemendekan kolom yang progresif seiring waktu. Perubahan panjang ini tidak hanya berdampak pada tinggi lantai secara absolut, tetapi juga dapat berpengaruh pada redistribusi gaya internal di struktur, yang bila tidak dikontrol akan menyebabkan perubahan tegangan pada sambungan dan komponen yang berdekatan. ([Lihat sumber Disini - id.scribd.com])

Selain itu, rangkak dapat mempengaruhi perilaku struktur prategang (prestressed concrete). Karena creep beton mengakibatkan redistribusi tegangan internal, tegangan awal yang diberikan pada baja prategang akan berkurang seiring waktu, sehingga kapasitas desain prategang berkurang jika faktor ini tidak dipertimbangkan secara tepat. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])


Rangkak Beton dalam Perencanaan Struktur

Perencanaan struktur beton modern tidak dapat mengabaikan fenomena rangkak karena efek jangka panjang terhadap serviceability dan keselamatan struktur. Standard desain beton seperti ACI, Eurocode, dan standar negara lainnya telah memasukkan koefisien creep dan metode perhitungan jangka panjang dalam perencanaan untuk memperkirakan deformasi nyata selama umur desain struktur. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Dalam perencanaan, biasanya digunakan koefisien creep (φ) yang merepresentasikan perbandingan antara regangan creep dan regangan elastis awal pada waktu tertentu. Koefisien ini dapat dipengaruhi oleh umur beton, proporsi campuran, dan kondisi lingkungan serta menjadi parameter penting dalam analisis defleksi jangka panjang elemen struktural. ([Lihat sumber Disini - mdpi.com])

Selain itu, perencana struktur harus mempertimbangkan kombinasi antara lubricitas internal beton dan restriksi eksternal seperti adanya tulangan, kondisi sambungan beton-baja, serta beban yang bervariasi dalam rentang waktunya. Analisis struktural modern menggunakan metode numerik juga memasukkan hukum viskoelastis untuk memodelkan perkembangan deformasi akibat creep secara lebih akurat dalam kurun waktu panjang. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])


Kesimpulan

Rangkak beton adalah fenomena deformasi jangka panjang beton di bawah beban tetap yang merupakan hasil interaksi viskoelastis dan perubahan mikrostruktur material beton. Secara umum, fenomena ini menyebabkan deformasi permanen yang meningkat seiring waktu dan mempengaruhi lendutan balok, pemendekan kolom, dan redistribusi tegangan internal struktur beton. Pemahaman mekanisme, faktor yang mempengaruhi, serta dampaknya sangat krusial dalam perencanaan struktur beton untuk memastikan serviceability dan keselamatan dalam jangka panjang. Perencana struktur menggunakan koefisien creep dan parameter viskoelastisitas untuk memprediksi rangkak dalam desain dan analisis struktural, sehingga struktur beton berfungsi sesuai dengan umur layanan yang diharapkan. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Rangkak beton adalah deformasi atau perubahan bentuk beton yang terjadi secara bertahap dalam jangka waktu panjang akibat beban yang bekerja terus-menerus. Deformasi ini berkembang setelah deformasi elastis awal dan bersifat permanen selama beban tetap bekerja.

Rangkak beton penting karena memengaruhi perilaku struktur dalam jangka panjang, seperti peningkatan lendutan balok, pemendekan kolom, serta redistribusi gaya internal. Jika tidak diperhitungkan, rangkak dapat menyebabkan struktur tidak memenuhi batas layan (serviceability).

Faktor yang memengaruhi rangkak beton meliputi rasio air-semen, jenis dan proporsi agregat, umur beton saat dibebani, besar dan durasi beban, serta kondisi lingkungan seperti kelembaban dan suhu.

Beban jangka panjang menyebabkan deformasi beton terus bertambah seiring waktu. Beban mati seperti berat sendiri struktur merupakan penyebab utama terjadinya rangkak, sehingga sangat berpengaruh pada lendutan dan pemendekan elemen beton.

Rangkak beton tidak dapat dihilangkan sepenuhnya karena merupakan sifat alami beton. Namun, besarnya rangkak dapat dikendalikan melalui perencanaan campuran beton yang tepat, penggunaan agregat berkualitas, serta perhitungan desain struktur yang mempertimbangkan efek jangka panjang.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Susut Beton: Konsep, Mekanisme Penyusutan, dan Dampak Struktur Susut Beton: Konsep, Mekanisme Penyusutan, dan Dampak Struktur Mutu Beton: Konsep, Klasifikasi Kekuatan, dan Standar Mutu Mutu Beton: Konsep, Klasifikasi Kekuatan, dan Standar Mutu Kuat Tekan Beton: Konsep, Parameter Pengujian, dan Faktor Mutu Kuat Tekan Beton: Konsep, Parameter Pengujian, dan Faktor Mutu Slump Beton: Konsep, Metode Uji, dan Interpretasi Hasil Slump Beton: Konsep, Metode Uji, dan Interpretasi Hasil Modulus Elastisitas Beton: Konsep, Hubungan Tegangan–Regangan, dan Deformasi Modulus Elastisitas Beton: Konsep, Hubungan Tegangan–Regangan, dan Deformasi Kuat Tarik Beton: Konsep, Mekanisme Retak, dan Perilaku Material Kuat Tarik Beton: Konsep, Mekanisme Retak, dan Perilaku Material Retak Beton: Konsep, Jenis Retak, dan Penyebab Struktural Retak Beton: Konsep, Jenis Retak, dan Penyebab Struktural Workability Beton: Konsep, Kelecakan Adukan, dan Kemudahan Pelaksanaan Workability Beton: Konsep, Kelecakan Adukan, dan Kemudahan Pelaksanaan Beban: Konsep, Klasifikasi, dan Pencocokan Biaya Beban: Konsep, Klasifikasi, dan Pencocokan Biaya Beban Operasional: Konsep dan Pengaruh Laba Beban Operasional: Konsep dan Pengaruh Laba Beban Kognitif: Konsep dan Proses Belajar Beban Kognitif: Konsep dan Proses Belajar Beban Mental: Konsep dan Performa Beban Mental: Konsep dan Performa Beban Kerja Tenaga Rekam Medis Beban Kerja Tenaga Rekam Medis Laporan Laba Rugi: Konsep, Unsur Pendapatan, dan Beban Laporan Laba Rugi: Konsep, Unsur Pendapatan, dan Beban Pengujian Load Test pada Sistem Web Pengujian Load Test pada Sistem Web Beban Penyakit: Konsep, Pengukuran DALY, dan Implikasi Kebijakan Beban Penyakit: Konsep, Pengukuran DALY, dan Implikasi Kebijakan Metode Saldo Menurun: Konsep dan Percepatan Beban Metode Saldo Menurun: Konsep dan Percepatan Beban Investasi Jangka Panjang: Konsep dan Nilai Perusahaan Investasi Jangka Panjang: Konsep dan Nilai Perusahaan Metode Garis Lurus: Konsep dan Perhitungan Metode Garis Lurus: Konsep dan Perhitungan Liabilitas Jangka Pendek: Konsep dan Kewajiban Lancar Liabilitas Jangka Pendek: Konsep dan Kewajiban Lancar
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…