
Perspektif Hermeneutik dalam Penelitian Sosial
Pendahuluan
Penelitian sosial sering menghadapi kompleksitas makna karena ia menyangkut realitas manusia: norma, nilai, simbol, bahasa, pengalaman, dan interaksi dalam konteks sejarah-budaya. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tidak sekadar mengumpulkan data numerik atau fakta empiris, melainkan mampu menangkap makna mendalam dari fenomena sosial, termasuk interpretasi atas simbol, tindakan, wacana, dan konteks. Dalam kerangka ini, Hermeneutika muncul sebagai perspektif penting: bukan sekadar metode, melainkan landasan teoretis dan filosofis untuk memahami realitas sosial secara lebih holistik. Artikel ini bertujuan memaparkan perspektif hermeneutik dalam penelitian sosial, definisi, landasan filosofis, proses interpretasi, perbandingan dengan pendekatan positivistik, teknik penelitian, kelebihan dan keterbatasan, serta contoh penerapannya.
Definisi Hermeneutik
Definisi Hermeneutik Secara Umum
Secara umum, hermeneutik dipahami sebagai “ilmu tentang penafsiran” (science of interpretation). Istilah ini melibatkan aktivitas menafsirkan teks, baik teks literal (tulisan, buku, dokumen) maupun “teks” dalam arti luas: tindakan manusia, simbol, budaya, norma sosial, dan peristiwa historis. [Lihat sumber Disini - rumahfilsafat.com]
Definisi Hermeneutik dalam KBBI
Menurut penjelasan bahasa resmi, istilah hermeneutika (terjemahan dari hermeneutics) mengandung tiga arti utama: (1) ilmu penafsiran, (2) ilmu untuk mengetahui maksud yang terkandung dalam kata-kata dan ungkapan penulis, dan (3) penafsiran yang secara khusus menunjuk pada penafsiran kitab suci. [Lihat sumber Disini - badanbahasa.kemendikdasmen.go.id]
Definisi Hermeneutik Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi hermeneutik menurut para ahli:
-
Friedrich Schleiermacher, dianggap sebagai “bapak hermeneutika modern”. Ia memandang hermeneutik sebagai aktivitas rekonstruksi makna teks dengan memperhatikan konteks sejarah dan psikologis penulis, sehingga penafsiran tidak terbatas pada makna harfiah. [Lihat sumber Disini - ejurnal.iiq.ac.id]
-
Paul Ricoeur, menekankan hermeneutik sebagai metode interpretasi yang memungkinkan pemahaman simbol, bahasa, tindakan manusia, dan struktur makna. Hermeneutik menurut Ricoeur membuka ruang bagi interpretasi simbolik dan eksistensial, bukan sekadar teks literal. [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]
-
Menurut perspektif teoretis modern: hermeneutik tidak cuma eksklusif untuk teks suci atau klasik; ia berkembang menjadi landasan metodologis bagi ilmu humaniora dan ilmu sosial untuk memahami tindakan, interaksi, budaya, dan makna, karena semua itu bisa diperlakukan sebagai “teks” untuk diinterpretasikan. [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]
-
Sebagai teori penafsiran umum: hermeneutik mencakup penafsiran bahasa, simbol, nilai-nilai, dan wacana; bukan sekadar teks formal, tetapi makna yang tersirat dalam komunikasi, budaya, dan tindakan manusia. [Lihat sumber Disini - rumahfilsafat.com]
Landasan Filosofis Pemikiran Hermeneutik
Hermeneutik berakar pada tradisi filsafat dan humaniora, dengan beberapa aspek filosofi sebagai landasan:
-
Hermeneutik sebagai reaksi terhadap positivisme: Hermeneutik menolak gagasan bahwa realitas sosial bisa diselami sepenuhnya lewat metode kuantitatif atau empiris objektif semata. Sebaliknya, ia menekankan bahwa makna sosial tidak bisa dipisahkan dari konteks sejarah, budaya, nilai, dan subjektivitas manusia. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Bahasa dan simbol sebagai medium makna: Dalam perspektif hermeneutik, bahasa, simbol, teks, tindakan manusia adalah medium yang sarat makna; memahami realitas sosial berarti menginterpretasikan medium-medium itu, bukan sekadar melihat fakta kasar. [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]
-
Historisitas dan kontekstualitas: Hermeneutik menekankan bahwa teks atau fenomena sosial selalu terkait dengan konteks sejarah, budaya, dan pengalaman, pemahaman harus mempertimbangkan latar belakang tersebut agar makna tidak diselewengkan. [Lihat sumber Disini - ejurnal.iiq.ac.id]
-
Pemahaman sebagai proses interpretatif dan eksistensial: Dalam hermeneutik modern, memahami bukan sekadar kognisi, tapi juga eksistensi, artinya, interpretasi membawa manusia untuk “menghidupkan kembali” makna lewat pemahaman. [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]
Landasan-landasan filosofis ini membuat hermeneutik bukan sekadar teknik penelitian, melainkan paradigma untuk memahami realitas sosial secara mendalam.
Proses Penafsiran (Interpretasi) dalam Kajian Sosial
Dalam penelitian sosial dengan perspektif hermeneutik, proses interpretasi melibatkan beberapa tahap/komponen penting:
-
Teks / “Bahan Interpretasi”, bisa berupa dokumen tertulis, wacana, simbol, tindakan, budaya, artefak, praktik sosial, cerita kehidupan, dll. Hermeneutik memperluas konsep teks. [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]
-
Penafsir (Interpreter), orang/researcher yang mencoba memahami makna. Sang penafsir perlu punya kesadaran terhadap konteks historis, sosial, dan budaya agar interpretasi bisa relevan. [Lihat sumber Disini - ejurnal.iiq.ac.id]
-
Konteks & Historisitas, penting untuk memperhatikan latar belakang sosial, budaya, sejarah agar makna tidak dilepaskan dari akar aslinya. [Lihat sumber Disini - ejurnal.iiq.ac.id]
-
Dialog antara Teks dan Pembaca, pemahaman bukan linier: penafsir membawa horizon (keilmuan, pengalaman, nilai), dan membaca horizon itu bisa berevolusi ketika dipertemukan dengan teks. Proses ini dinamis. [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]
-
Rekonstruksi Makna, hasil interpretasi tidak selalu literal, bisa simbolik, kritis, reflektif. Penafsiran bisa membuka makna tersembunyi atau relevansi kontemporer. [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]
Dengan demikian, interpretasi hermeneutik tidak sekadar membaca teks, tetapi “menggali makna”, “merevivifikasi” makna dengan memasukkannya ke dalam konteks saat ini, dan menjembatani antara masa lalu, teks, serta realitas sekarang.
Hermeneutik vs Pendekatan Positivistik
Perbandingan antara hermeneutik dan pendekatan positivistik dalam penelitian sosial bisa diringkas sebagai berikut:
Positivistik
-
Berfokus pada objek empiris, data kuantitatif, fakta yang bisa diukur dan diuji secara objektif.
-
Mengutamakan generalisasi, prediksi, hukum sosial universal, mirip ilmu alam.
-
Pendekatan cenderung distansial: peneliti sebagai pengamat eksternal.
Hermeneutik
-
Berfokus pada makna, interpretasi, kontekstualitas, pengalaman subyektif, simbol, nilai.
-
Tidak mengejar generalisasi universal, melainkan pemahaman mendalam terhadap fenomena sosial spesifik.
-
Peneliti bisa menjadi bagian dari proses interpretasi, “subjektif”, tetapi dengan kesadaran filosofis dan reflektif.
-
Menekankan bahwa realitas sosial tidak netral, ada sejarah, nilai, budaya yang mempengaruhi.
Dengan demikian, hermeneutik lebih cocok ketika yang dibutuhkan adalah pemahaman mendalam atas makna, nilai, simbol, pengalaman, bukan sekadar data kuantitatif.
Teknik Penelitian dalam Perspektif Hermeneutik
Dalam penelitian sosial dengan pendekatan hermeneutik, teknik yang umum digunakan meliputi:
-
Studi pustaka / dokumen (documentary analysis / content analysis hermeneutik), menafsirkan teks tertulis, wacana, dokumen, arsip, literatur, kebijakan, dsb. Banyak penelitian hermeneutik di Indonesia menggunakan pendekatan pustaka. [Lihat sumber Disini - online-journal.unja.ac.id]
-
Analisis wacana (discourse analysis), menelaah bahasa, simbol, wacana publik, narasi sosial, untuk memahami makna dan konstruksi sosial. Pendekatan ini cocok untuk riset budaya, media, sosial. (Misalnya dalam kajian kebudayaan atau agama) [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Interpretasi simbolik/kultural, ketika objek penelitian adalah budaya, nilai, praktik sosial, narasi, simbol, maka hermeneutik memungkinkan memahami makna yang tersirat, juga nilai historis atau kultural. [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]
-
Pendekatan fenomenologis, hermeneutik, kadang digabung dengan pendekatan fenomenologi: menekankan pengalaman manusia, makna subjektif, kesadaran, eksistensi; peneliti berusaha memahami realitas dari sudut pandang aktor/subjek sosial. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
Teknik-teknik ini umumnya bersifat kualitatif dan interpretatif, bukan kuantitatif.
Kelebihan dan Keterbatasan Hermeneutik
Kelebihan
-
Memungkinkan pemahaman mendalam terhadap makna, nilai, konteks, simbol dan aspek-aspek non-empiris dari realitas sosial.
-
Sensitif terhadap konteks historis, budaya, simbolik, sehingga hasil penelitian lebih kontekstual dan relevan secara kultural.
-
Fleksibel: dapat diterapkan pada teks, tindakan, wacana, budaya, kebijakan, wacana keagamaan, norma sosial, dan sebagainya.
-
Cocok untuk penelitian yang menekankan makna, pengalaman, interpretasi, narasi, bukan sekadar kuantifikasi.
-
Memberi ruang bagi refleksi filosofis, kritis, dan interpretatif, bisa membuka makna tersembunyi, kritik sosial, transformasi pemahaman.
Keterbatasan
-
Rentan terhadap subjektivitas: interpretasi sangat bergantung pada penafsir; hasil bisa berbeda jika penafsir berbeda.
-
Sulit untuk menghasilkan generalisasi atau prediksi, hermeneutik lebih cocok untuk studi kasus atau konteks spesifik.
-
Prosedur interpretasi tidak seketat metode kuantitatif; kadang dianggap “kurang ilmiah” oleh penganut positivisme.
-
Memerlukan ketajaman penafsir: penafsir harus paham konteks sejarah, budaya, bahasa, supaya interpretasi tidak bias atau terdistorsi.
-
Hasil penelitian bisa sulit diverifikasi atau direplikasi, karena interpretasi bersifat unik dan kontekstual.
Contoh Penerapan Hermeneutik dalam Penelitian Sosial
Beberapa contoh penerapan hermeneutik di penelitian sosial di Indonesia (terutama dalam rentang 2021, 2025) atau publik tersedia:
-
Studi “Hermeneutika sebagai Metode dalam Kajian Kebudayaan” (2021) oleh M. Ied Al Munir, yang memaparkan posisi hermeneutik sebagai metode dalam studi kebudayaan, menunjukkan bagaimana budaya, simbol, nilai bisa dianalisis lewat hermeneutik. [Lihat sumber Disini - online-journal.unja.ac.id]
-
Penelitian “Hermeneutika Emansipasi Perempuan dan Religiusitas” (2025) yang menganalisis novel dalam konteks sosial, tradisi, modernitas, memperlihatkan bagaimana hermeneutik bisa dipakai untuk memahami konstruksi nilai dan identitas sosial. [Lihat sumber Disini - journal.trunojoyo.ac.id]
-
Kajian kritik sosial melalui pendekatan hermeneutik dalam artikel “Kritik Sosial dengan Pendekatan Hermeneutika dalam Kajian Sosial” (2024), menunjukkan hermeneutik juga berguna untuk analisis kritis terhadap struktur sosial, norma, dan budaya. [Lihat sumber Disini - journal.uhamka.ac.id]
-
Penelitian yang mengombinasikan hermeneutik dengan fenomenologi, misalnya artikel “Penerapan Metode Penelitian Fenomenologi” (2023) menggunakan hermeneutik untuk menganalisis makna dalam fenomena manusia. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa hermeneutik bukan hanya relevan untuk studi teks keagamaan atau sejarah, tetapi luas: kebudayaan, sosial, gender, nilai, kritik sosial, identitas, sesuai kebutuhan penelitian sosial modern.
Kesimpulan
Pendekatan hermeneutik menawarkan paradigma yang kaya untuk penelitian sosial, memungkinkan peneliti menembus permukaan data empiris dan menggali makna, konteks, nilai, simbol, serta dimensi historis dan budaya dari fenomena sosial. Dengan hermeneutik, teks, dalam arti luas, tindakan manusia, wacana, simbol budaya, semuanya bisa diinterpretasikan untuk memahami realitas sosial secara mendalam dan kontekstual.
Namun demikian, hermeneutik bukanlah jawaban universal: keterbatasan berupa subjektivitas interpretasi, sulitnya generalisasi, dan tantangan verifikasi membuatnya tidak selalu cocok untuk semua penelitian sosial. Oleh karena itu, pilihan hermeneutik harus disesuaikan dengan tujuan riset: jika yang dibutuhkan adalah pemahaman mendalam atas makna, simbol, atau nilai sosial, hermeneutik sangat tepat; tapi jika penelitian memerlukan data kuantitatif, generalisasi, prediksi, pendekatan lain mungkin lebih sesuai.
Dengan memahami definisi, landasan filosofis, proses interpretasi, teknik, kelebihan, keterbatasan, dan contoh penerapan, peneliti sosial mendapatkan kerangka konseptual dan metodologis yang kuat untuk menggunakan hermeneutik secara tepat dan kritis.