Terakhir diperbarui: 28 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 28 January). Susut Beton: Konsep, Mekanisme Penyusutan, dan Dampak Struktur. SumberAjar. Retrieved 29 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/susut-beton-konsep-mekanisme-penyusutan-dan-dampak-struktur  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Susut Beton: Konsep, Mekanisme Penyusutan, dan Dampak Struktur - SumberAjar.com

Susut Beton: Konsep, Mekanisme Penyusutan, dan Dampak Struktur

Pendahuluan

Susut beton merupakan fenomena penting dalam dunia teknik sipil yang sering kali menjadi penyebab keretakan dan penurunan performa struktur beton bila tidak dikendalikan dengan baik. Beton, sebagai salah satu material konstruksi yang paling banyak digunakan dalam pembangunan jalan, jembatan, gedung, dan bangunan lainnya, memiliki karakteristik fisik dan mekanik tertentu yang membuatnya mengalami perubahan volume selama fase pengerasan dan setelahnya. Salah satu perubahan volume tersebut adalah susut atau shrinkage, yaitu penyusutan volume beton yang terjadi karena hilangnya kelembapan atau reaksi kimiawi selama proses hidrasi semen. Perubahan ini berlangsung dari awal beton dituangkan hingga beton mencapai umur dewasa dan dapat memengaruhi keseluruhan integritas struktur apabila tidak dipahami dan ditangani dengan benar. Perubahan volume ini dapat menciptakan tegangan internal yang, ketika melampaui batas tegangan tarik beton, dapat menyebabkan retak yang merugikan kemampuan struktur menahan beban dan daya tahan jangka panjang. Sifat ini termasuk dalam aspek mekanika beton yang perlu dipahami oleh perencana dan pelaksana konstruksi agar desain dan pelaksanaan dapat mempertimbangkan mitigasi dampaknya sejak tahap awal.([Lihat sumber Disini - journalair.com])


Definisi Susut Beton

Definisi Susut Beton Secara Umum

Susut beton atau concrete shrinkage adalah fenomena di mana beton mengalami pengurangan volume tanpa pengaruh pembebanan eksternal, sebagai akibat dari berbagai proses fisik dan kimia yang terjadi selama proses pengerasan dan setelahnya. Susut ini mencerminkan kontraksi volume material beton dari keadaan segar menuju keadaan padat dan keras, yang dapat disebabkan oleh hilangnya kelembaban melalui penguapan atau perubahan struktur internal akibat reaksi hidrasi semen. Proses ini dapat berlanjut hingga beton mencapai umur lanjut dan dipengaruhi oleh sejumlah faktor internal dan eksternal yang berbeda-beda.([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Definisi Susut Beton dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), susut diartikan sebagai proses berkurangnya volume atau ukuran suatu benda akibat perubahan kondisi seperti pengeringan atau penguapan. Dalam konteks beton, istilah ini digunakan untuk menjelaskan penyusutan volume material beton yang terjadi terutama karena hilangnya air yang terikat dan terlepas dari pori-pori beton selama fase pengerasan. Definisi ini membantu memperkuat pemahaman bahwa fenomena susut adalah perubahan dimensi yang nyata dan terukur dalam material beton dan bukan hanya fenomena teoritis. (Definisi istilah ini dapat dijelaskan dengan merujuk langsung pada laman KBBI daring di [Lihat sumber Disini - kbbi.kemdikbud.go.id])

Definisi Susut Beton Menurut Para Ahli

Para ahli teknik sipil dan material beton menyatakan susut beton sebagai fenomena kontraksi volume yang kompleks yang terjadi selama periode pengerasan dan pasca pengerasan beton. Menurut pernyataan dalam jurnal teknik sipil, susut dapat didefinisikan sebagai perubahan volume beton yang bersifat irreversible yang disebabkan oleh hilangnya kelembapan atau reaksi kimiawi tanpa pengaruh beban eksternal. Susut tersebut diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan mekanisme terjadinya.([Lihat sumber Disini - media.neliti.com])

  1. American Concrete Institute (ACI) menyatakan bahwa susut adalah perubahan dimensi beton akibat hilangnya air dan reaksi hidrasi yang tidak kembali ke volume semula meskipun beton ditambah air kembali.([Lihat sumber Disini - journal.eng.unila.ac.id])

  2. Menurut studi teknologi bahan konstruksi modern, susut merupakan gabungan dari beberapa mekanisme seperti susut plastis, susut autogen, susut pengeringan, dan susut akibat karbonasi.([Lihat sumber Disini - journalair.com])

  3. Dalam literatur material beton, susut juga dijelaskan sebagai volume penurunan yang terjadi karena hilangnya air yang masih tersedia dalam pori-pori sementasi dan pengaruh perubahan temperatur dalam periode awal pengerasan.([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

  4. Para peneliti kimia material beton menganggap susut sebagai manifestasi makroskopik dari pengurangan volume campuran beton akibat reaksi hidrasi semen yang menghasilkan padatan hidrat lebih kecil volumenya dibanding bahan awalnya.([Lihat sumber Disini - mdpi.com])


Jenis-Jenis Susut Beton

Susut beton tidak hanya terjadi dalam satu bentuk, tetapi dibedakan menjadi beberapa jenis utama berdasarkan waktu terjadinya dan penyebab mekanismenya. Pemahaman jenis ini penting karena masing-masing jenis memiliki karakteristik dan dampak yang berbeda terhadap struktur beton.

Susut Plastis

Susut plastis terjadi pada beton saat masih dalam kondisi segar atau plastis segera setelah pengecoran beton. Pada tahap ini, air pada permukaan beton lebih cepat menguap dibandingkan air di dalam, sehingga menyebabkan penurunan volume pada permukaan beton yang belum sepenuhnya mengeras. Kondisi ini menimbulkan tegangan internal yang cukup besar pada lapisan permukaan beton karena bagian dalam masih tetap memiliki volume lebih besar, sehingga dapat menyebabkan retakan susut plastis. Jenis susut ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan angin yang cepat menghilangkan air dari permukaan beton sebelum beton sempat mengeras.([Lihat sumber Disini - journalair.com])

Susut Pengeringan (Drying Shrinkage)

Susut pengeringan adalah jenis susut yang terjadi setelah beton mulai mengeras dan berlangsung dalam jangka waktu panjang, karena hilangnya kelembapan dari beton melalui penguapan dari pori-pori beton ke lingkungan sekitarnya. Proses ini berlangsung selama bertahun-tahun hingga beton mencapai keseimbangan kelembapan dengan lingkungan luar. Susut ini adalah jenis yang paling dominan dalam beton normal dan dapat menghasilkan regangan kontraksi yang signifikan, yang bila tidak diimbangi dengan perpanjangan atau kontrol tegangan, akan menyebabkan retak pada struktur beton.([Lihat sumber Disini - journalair.com])

Susut Autogen (Autogenous Shrinkage)

Susut autogen terjadi akibat reaksi hidrasi kimia pada semen, ketika air terikat secara internal dan konsentrasi air bebas dalam pori beton menurun seiring terjadinya reaksi kimia. Perubahan ini dapat menyebabkan beton menyusut meskipun tidak ada kehilangan kelembapan ke lingkungan luar. Susut autogen menjadi lebih signifikan pada beton berkekuatan tinggi dengan rasio air-semen rendah yang menyebabkan pengeringan internal atau self-desiccation.([Lihat sumber Disini - mdpi.com])

Susut Karbonasi

Susut karbonasi terjadi akibat reaksi karbon dioksida dengan produk hidrasi semen yang menyebabkan perubahan kimia pada fase keras beton, sehingga dapat menyebabkan perubahan dimensi beton. Reaksi ini berjalan lambat tetapi dapat berkontribusi pada susut dalam jangka panjang.([Lihat sumber Disini - eprints.uny.ac.id])

Susut Akibat Temperatur

Perubahan suhu lingkungan, terutama pada awal fase pengerasan ketika beton mengalami kenaikan suhu akibat reaksi hidrasi, dan kemudian pendinginan, dapat menyebabkan perubahan volume beton. Penurunan suhu akan menyebabkan penyusutan serta tegangan termal yang dapat memengaruhi risiko retakan.([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Susut beton merupakan fenomena multimekanisme di mana berbagai jenis susut ini dapat terjadi secara bersamaan atau berurutan selama siklus pengerasan dan pelayanan beton. Pemahaman akan masing-masing jenis ini membantu dalam merancang strategi pengendalian susut yang efektif.([Lihat sumber Disini - journalair.com])


Mekanisme Terjadinya Penyusutan Beton

Penyusutan beton terjadi karena berbagai mekanisme fisik dan kimia yang kompleks selama fase pengerasan serta setelah beton mengeras. Mekanisme ini saling terkait dan masing-masing menyumbang terhadap total susut yang terjadi dalam beton.

Salah satu mekanisme utama penyusutan adalah hilangnya kelembapan dari beton selama proses pengerasan dan setelahnya. Air dalam campuran beton baik yang masih bebas maupun terikat secara kapiler akan bergerak menuju permukaan dan kemudian menguap ke lingkungan, terutama jika beton terkena kondisi lingkungan dengan suhu tinggi dan kelembapan rendah. Hilangnya air ini menyebabkan kontraksi volume beton karena pori-pori beton yang sebelumnya terisi air menjadi kosong dan menyebabkan tegangan kapiler yang mengakibatkan beton menyusut.([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Selain itu, reaksi hidrasi kimia antara semen dan air yang membentuk produk hidrasi juga memiliki volume lebih kecil dibanding jumlah bahan awalnya. Hal ini menciptakan susut internal bahkan ketika air tidak hilang ke luar karena perubahan internal struktur material. Mekanisme ini terutama penting dalam susut autogen.([Lihat sumber Disini - mdpi.com])

Selanjutnya, faktor perubahan suhu juga memengaruhi volume beton. Pada fase awal pengerasan, reaksi hidrasi menghasilkan panas yang menyebabkan ekspansi sementara. Ketika beton mendingin kembali ke suhu lingkungan, kontraksi termal terjadi. Perubahan suhu ini menambah kontribusi terhadap susut beton terutama di lingkungan dengan variasi suhu ekstrem.([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Tekanan kapiler dalam pori-pori beton juga memainkan peran penting dalam mekanisme susut. Ketika air meninggalkan pori-pori beton, tegangan kapiler meningkat sehingga partikel-partikel dalam beton ditarik lebih dekat satu sama lain, menghasilkan kontraksi volume. Mekanisme ini terutama dominan pada susut pengeringan jangka panjang.([Lihat sumber Disini - journalair.com])

Keseluruhan mekanisme ini, hilangnya kelembapan, reaksi hidrasi kimia, dan perubahan suhu, berinteraksi sepanjang umur beton, menyebabkan total susut beton yang diamati dalam struktur nyata. Pemahaman mekanisme ini penting untuk merancang campuran beton dan strategi perawatan yang dapat mengurangi dampak negatif susut terhadap struktur.([Lihat sumber Disini - journalair.com])


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Susut Beton

Besarnya susut beton sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor internal campuran beton maupun kondisi eksternal lingkungan di mana beton tersebut dipasang.

Pertama, rasio air-semen (water-to-cement ratio) merupakan faktor kunci dalam menentukan besarnya susut. Beton dengan rasio air-semen tinggi cenderung memiliki lebih banyak air yang dapat menguap atau terikat dalam pori-pori sehingga memperbesar jumlah susut. Sebaliknya, beton dengan rasio air-semen rendah lebih padat tetapi juga rentan terhadap susut autogen karena self-desiccation yang lebih kuat.([Lihat sumber Disini - mdpi.com])

Komposisi agregat juga berperan besar dalam susut beton. Agregat dengan proporsi yang tinggi cenderung menahan lebih sedikit volume bebas untuk air bergerak dan mengurangi susut relatif terhadap beton tanpa agregat. Agregat yang kasar atau berukuran besar dapat mengurangi susut karena memberikan restriksi terhadap volume pasta semen yang menyusut.([Lihat sumber Disini - journalair.com])

Kondisi lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan kecepatan angin di sekitar beton juga sangat memengaruhi tingkat susut. Suhu tinggi dan kelembapan rendah mempercepat penguapan air pada beton, meningkatkan susut pengeringan, sedangkan kelembapan tinggi cenderung memperlambat proses tersebut.([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Perawatan (curing) beton juga memainkan peran kritis. Perawatan yang baik mempertahankan kelembapan dalam beton selama periode awal pengerasan sehingga mengurangi kehilangan air yang cepat dan susut yang tajam. Kurangnya perawatan yang memadai dapat menyebabkan peningkatan susut dan risiko retakan.([Lihat sumber Disini - journalair.com])

Selain itu, penggunaan aditif kimia seperti superplasticizers atau mineral tambahan dapat memengaruhi laju hidrasi dan struktur mikro beton, sehingga memodifikasi tingkat susut yang terjadi. Aditif tertentu dapat membantu mengurangi susut dengan memperbaiki distribusi air dan memperpanjang periode hidrasi yang efektif.([Lihat sumber Disini - journalair.com])


Dampak Susut Beton terhadap Struktur

Susut beton dapat memiliki dampak signifikan terhadap struktur bangunan jika tidak diperhatikan sejak awal perencanaan dan pelaksanaan konstruksi. Salah satu dampak paling umum adalah munculnya retakan pada permukaan beton atau area struktural lainnya. Retakan ini terjadi ketika tegangan internal akibat susut melebihi kekuatan tarik beton, sehingga menyebabkan beton pecah atau retak secara permukaan atau bahkan menyebar melalui seluruh elemen struktural. Retakan ini tidak hanya mengurangi estetika beton tetapi juga membuka jalur masuk bagi air dan zat korosif ke dalam struktur beton.([Lihat sumber Disini - peracrete.com])

Masuknya air dan zat korosif melalui retakan ini dapat menyebabkan korosi pada tulangan baja di dalam beton, yang mempercepat penurunan kapasitas struktural dan umur layanan elemen beton. Selain itu, retakan dapat mengurangi kekakuan struktur secara keseluruhan, memengaruhi performa struktural seperti defleksi dan vibrasi di bawah beban operasional.([Lihat sumber Disini - peracrete.com])

Retakan akibat susut juga dapat memengaruhi elemen non-struktural seperti perekat, pelapis permukaan, atau elemen fasad yang terikat pada beton. Perubahan dimensi ini dapat menyebabkan kegagalan pada sistem-sistem tersebut, sehingga menambah biaya perbaikan dan pemeliharaan. Oleh karena itu, pemahaman akan penyusutan beton serta desain yang mempertimbangkan kontrol dan mitigasi susut sangat penting untuk ketahanan jangka panjang struktur beton.([Lihat sumber Disini - peracrete.com])


Upaya Mengurangi Susut Beton

Untuk mengurangi susut beton dan dampaknya, beberapa pendekatan dapat dilakukan pada fase desain dan pelaksanaan beton. Salah satu langkah utama adalah mengoptimalkan rasio air-semen agar tidak terlalu tinggi sehingga mengurangi volume air bebas yang dapat menyebabkan susut besar, namun tetap mempertahankan workability beton yang memadai.([Lihat sumber Disini - mdpi.com])

Selanjutnya, pemilihan agregat yang tepat dengan proporsi yang baik dan ukuran yang optimal dapat membantu membatasi volume pasta semen yang rentan terhadap susut. Agregat yang lebih banyak dalam campuran dapat memberikan restriksi internal terhadap kontraksi volume yang terjadi.([Lihat sumber Disini - journalair.com])

Perawatan beton yang baik (curing) sangat krusial, terutama pada periode awal pengerasan beton. Metode-curing yang efektif seperti penggunaan selimut basah, penyiraman air secara berkala, atau penggunaan material curing compound dapat membantu menjaga kelembapan beton sehingga mengurangi kehilangan air yang cepat dan tingkat susut yang tinggi.([Lihat sumber Disini - journalair.com])

Selain itu, penggunaan aditif dan bahan tambahan seperti superplasticizers, fly ash atau slag juga dapat membantu mengontrol laju hidrasi dan mikrostruktur beton yang memengaruhi susut. Dalam beberapa kasus, penggunaan serat dalam campuran beton dapat membantu mengurangi retakan akibat susut dengan memberikan kontrol terhadap redistribusi tegangan tarik internal.([Lihat sumber Disini - journalair.com])


Kesimpulan

Susut beton adalah fenomena perubahan volume beton yang terjadi karena kombinasi mekanisme hilangnya kelembapan, reaksi hidrasi kimia, dan perubahan suhu dari fase segar hingga beton mencapai umur dewasa. Fenomena ini termasuk aspek penting dalam perilaku beton yang memengaruhi kinerja struktural apabila tidak dikendalikan dengan baik. Susut beton terdiri dari beberapa jenis utama seperti susut plastis, susut pengeringan, susut autogen, dan susut karbonasi, masing-masing dengan mekanisme berbeda namun saling berkontribusi terhadap total susut yang terjadi. Faktor-faktor seperti rasio air-semen, komposisi agregat, kondisi lingkungan, dan metode perawatan beton memainkan peran besar dalam menentukan besarnya susut yang terjadi. Dampak susut beton terhadap struktur dapat berupa retakan, penetrasi air, korosi tulangan, dan penurunan kapasitas struktural. Untuk mengurangi dampak tersebut, strategi seperti optimalisasi campuran beton, perawatan curing yang baik, dan penggunaan aditif serta agregat yang tepat perlu diterapkan sejak fase awal perencanaan dan pelaksanaan konstruksi. Pemahaman komprehensif terhadap susut beton sangat penting bagi praktisi teknik sipil untuk memastikan durabilitas dan performa jangka panjang struktur beton.([Lihat sumber Disini - journalair.com])

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Susut beton adalah proses penyusutan volume beton yang terjadi tanpa adanya beban luar, akibat hilangnya air dari pori-pori beton dan reaksi hidrasi semen selama proses pengerasan dan setelah beton mengeras.

Jenis-jenis susut beton meliputi susut plastis, susut pengeringan, susut autogen, susut karbonasi, dan susut akibat perubahan temperatur, yang masing-masing terjadi pada tahap dan mekanisme yang berbeda.

Susut beton menyebabkan retak karena penyusutan volume beton menimbulkan tegangan tarik internal yang melebihi kuat tarik beton, sehingga beton mengalami keretakan terutama jika terjadi pembatasan deformasi.

Besarnya susut beton dipengaruhi oleh rasio air-semen, jenis dan proporsi agregat, kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembapan, metode curing, serta penggunaan bahan tambah atau aditif beton.

Susut beton dapat dikurangi dengan mengontrol rasio air-semen, menggunakan agregat yang memadai, melakukan curing yang baik, memanfaatkan bahan tambah tertentu, serta menerapkan desain campuran beton yang tepat.

Dampak susut beton terhadap struktur meliputi timbulnya retak, penurunan durabilitas, masuknya air dan zat korosif, serta potensi berkurangnya umur layanan dan kinerja struktur beton.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Mutu Beton: Konsep, Klasifikasi Kekuatan, dan Standar Mutu Mutu Beton: Konsep, Klasifikasi Kekuatan, dan Standar Mutu Kuat Tekan Beton: Konsep, Parameter Pengujian, dan Faktor Mutu Kuat Tekan Beton: Konsep, Parameter Pengujian, dan Faktor Mutu Slump Beton: Konsep, Metode Uji, dan Interpretasi Hasil Slump Beton: Konsep, Metode Uji, dan Interpretasi Hasil Modulus Elastisitas Beton: Konsep, Hubungan Tegangan–Regangan, dan Deformasi Modulus Elastisitas Beton: Konsep, Hubungan Tegangan–Regangan, dan Deformasi Kuat Tarik Beton: Konsep, Mekanisme Retak, dan Perilaku Material Kuat Tarik Beton: Konsep, Mekanisme Retak, dan Perilaku Material Rangkak Beton: Konsep, Pengaruh Beban Jangka Panjang, dan Deformasi Rangkak Beton: Konsep, Pengaruh Beban Jangka Panjang, dan Deformasi Retak Beton: Konsep, Jenis Retak, dan Penyebab Struktural Retak Beton: Konsep, Jenis Retak, dan Penyebab Struktural Workability Beton: Konsep, Kelecakan Adukan, dan Kemudahan Pelaksanaan Workability Beton: Konsep, Kelecakan Adukan, dan Kemudahan Pelaksanaan Penyusutan Aset Tetap: Konsep, Metode, dan Tujuan Penyusutan Aset Tetap: Konsep, Metode, dan Tujuan Metode Saldo Menurun: Konsep dan Percepatan Beban Metode Saldo Menurun: Konsep dan Percepatan Beban Metode Garis Lurus: Konsep dan Perhitungan Metode Garis Lurus: Konsep dan Perhitungan Nilai Residu: Konsep dan Estimasi Akuntansi Nilai Residu: Konsep dan Estimasi Akuntansi Umur Manfaat Aset: Konsep dan Pertimbangan Akuntansi Umur Manfaat Aset: Konsep dan Pertimbangan Akuntansi Aset Tidak Lancar: Konsep dan Manfaat Jangka Panjang Aset Tidak Lancar: Konsep dan Manfaat Jangka Panjang Aset Tetap: Konsep, Klasifikasi, dan Pengakuan Aset Tetap: Konsep, Klasifikasi, dan Pengakuan Mekanisme: Definisi, Fungsi, dan Contoh dalam Ilmiah Mekanisme: Definisi, Fungsi, dan Contoh dalam Ilmiah Jurnal Penyesuaian: Konsep, Jenis, dan Tujuan Jurnal Penyesuaian: Konsep, Jenis, dan Tujuan Akun Aset: Konsep, Klasifikasi, dan Pengakuan Akun Aset: Konsep, Klasifikasi, dan Pengakuan Sistem Web Arsip Digital Sistem Web Arsip Digital Aset Tak Berwujud: Konsep dan Amortisasi Aset Tak Berwujud: Konsep dan Amortisasi
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…