Terakhir diperbarui: 03 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 3 December). SPK Pemilihan Supplier Logistik. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/spk-pemilihan-supplier-logistik  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

SPK Pemilihan Supplier Logistik - SumberAjar.com

SPK Pemilihan Supplier Logistik

Pendahuluan

Di era persaingan bisnis yang semakin ketat, efisiensi dalam manajemen rantai pasokan (supply chain) menjadi kunci utama keberhasilan operasional perusahaan. Salah satu aspek krusial dalam supply chain adalah pemilihan supplier (pemasok). Keputusan memilih supplier yang tepat, terutama untuk kebutuhan logistik, dapat menentukan apakah aliran barang dan jasa berjalan lancar atau mengalami hambatan. Oleh karena itu, perusahaan perlu menggunakan metode yang sistematis dan objektif agar keputusan pemilihan supplier logistik tidak semata-mata berdasarkan persepsi subjektif. Sistem Pendukung Keputusan (SPK) untuk pemilihan supplier logistik hadir sebagai solusi metodologis untuk membantu pengambil keputusan memilih supplier terbaik berdasarkan berbagai kriteria. Artikel ini bertujuan menjelaskan konsep, kerangka, dan praktik SPK dalam pemilihan supplier logistik, serta pentingnya penerapannya dalam meningkatkan performa supply chain.


Definisi SPK Pemilihan Supplier Logistik

Definisi SPK Pemilihan Supplier Logistik secara Umum

Secara umum, SPK (Sistem Pendukung Keputusan) pemilihan supplier logistik dapat dipahami sebagai alat atau sistem, baik manual maupun berbasis komputer, yang membantu manajer atau pengambil keputusan dalam memilih pemasok jasa atau produk logistik terbaik dari sejumlah alternatif. Sistem ini mempertimbangkan berbagai kriteria (seperti harga, kualitas, kecepatan pengiriman, pelayanan, ketersediaan produk, dan sebagainya), membandingkan alternatif supplier berdasarkan bobot tiap kriteria, dan menghasilkan peringkat supplier terbaik. Tujuan utama dari SPK ini adalah meminimalkan risiko, seperti keterlambatan pengiriman, ketidakpastian kualitas, fluktuasi harga, serta memastikan bahwa kebutuhan logistik perusahaan terpenuhi secara tepat, efisien, dan konsisten.

Definisi SPK Pemilihan Supplier Logistik menurut KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “supplier” diartikan sebagai “pemasok, orang atau perusahaan yang memasok barang atau kebutuhan.” Sementara “logistik” merujuk pada “urusan angkutan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian barang.” Dengan demikian, “supplier logistik” dapat diartikan sebagai pihak penyedia jasa atau layanan yang bertanggung jawab atas penyediaan, pengiriman, dan distribusi barang bagi perusahaan. Istilah “SPK” atau “Sistem Pendukung Keputusan” bukan secara harfiah diatur dalam KBBI, tetapi secara terminologi manajemen, SPK merujuk pada sistem informasi yang membantu dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, “SPK Pemilihan Supplier Logistik” dapat dikonstruksi sebagai sistem yang membantu memilih pemasok logistik terbaik berdasarkan berbagai kriteria yang relevan dengan logistik.

Definisi SPK Pemilihan Supplier Logistik Menurut Para Ahli

Berikut beberapa definisi berdasarkan literatur akademik:

  • Menurut penelitian oleh Tiblola (2024), pemilihan supplier adalah “multi-criteria problem where each criterion has a different importance and needs to be precisely known.” Artinya, keputusan memilih supplier melibatkan berbagai kriteria yang memiliki bobot dan tingkat kepentingan berbeda, sehingga diperlukan metode sistematis untuk mengevaluasi alternatif supplier dengan tepat. [Lihat sumber Disini - journal.uny.ac.id]
  • Dalam penelitian oleh Handayani et al., SPK pemilihan supplier menyebutkan bahwa kriteria umum meliputi pengiriman (delivery), pelayanan (service), produk (product), kualitas (quality), dan harga (cost/price). [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
  • Pada penelitian di sektor logistik/trucking oleh Sakti dkk. (2024), SPK untuk pemilihan vendor dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti harga, kualitas produk, waktu pengiriman, after-sales service, dan reputasi vendor. [Lihat sumber Disini - journal.stieamkop.ac.id]
  • Dalam konteks supply chain modern, penelitian menunjukkan bahwa proses pemilihan supplier berdampak langsung pada efisiensi rantai pasokan dan performa operasional perusahaan: pemilihan supplier yang tepat mendukung kelancaran supply chain dan continuity produksi. [Lihat sumber Disini - journal.trunojoyo.ac.id]
  • Selain itu, literatur ulasan global tentang supplier selection dan order allocation menekankan bahwa pemilihan supplier dan alokasi pesanan (order allocation) sering dijadikan bagian dari keputusan strategis yang mempengaruhi cost, kualitas, dan ketepatan pengiriman. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Kerangka & Komponen SPK Pemilihan Supplier Logistik

Dalam mengimplementasikan SPK untuk pemilihan supplier logistik, terdapat beberapa komponen dan tahapan penting yang biasanya digunakan oleh perusahaan/peneliti. Berikut struktur umum dan komponennya:

  • Identifikasi Kriteria dan Sub-Kriteria
    Pertama, perlu ditentukan kriteria evaluasi supplier sesuai kebutuhan perusahaan/logistik: misalnya harga, kualitas produk atau layanan, kecepatan dan ketepatan pengiriman, pelayanan (service), reputasi supplier, after-sales service, ketersediaan produk, fleksibilitas, responsivitas, pengalaman, dan aspek keberlanjutan (sustainability). Pada beberapa penelitian, seperti pada kasus pemilihan supplier bahan baku, kriteria utama dianggap kualitas sebagai paling penting. [Lihat sumber Disini - pels.umsida.ac.id]
  • Penentuan Bobot Tiap Kriteria
    Karena tiap kriteria mempunyai tingkat pentingnya sendiri-sendiri, bobot harus ditentukan agar evaluasi menjadi objektif. Metode seperti Analytic Hierarchy Process (AHP) banyak digunakan untuk menetapkan bobot ini secara sistematik. [Lihat sumber Disini - journal.ubaya.ac.id]
  • Penilaian Alternatif Supplier
    Setelah kriteria dan bobot ditetapkan, setiap alternatif supplier dievaluasi berdasarkan kriteria tersebut. Nilai dapat berupa data kuantitatif (misalnya harga, lead time delivery) maupun kualitatif (misalnya reputasi, pelayanan, fleksibilitas).
  • Perhitungan & Peringkat Supplier
    Sistem kemudian menggabungkan bobot kriteria dan penilaian alternatif untuk menghasilkan skor akhir dan rangking supplier. Alternatif dengan skor tertinggi dianggap supplier terbaik. Banyak penelitian berbasis AHP menunjukkan bahwa metode ini membantu menghasilkan keputusan yang lebih obyektif dan andal. [Lihat sumber Disini - pels.umsida.ac.id]
  • Evaluasi & Monitoring Kinerja Supplier
    Setelah supplier dipilih, evaluasi kinerja supplier secara berkala penting untuk memastikan konsistensi layanan. Beberapa penelitian menggunakan metode evaluasi seperti Analytic Network Process (ANP) atau metode kualitatif/kuantitatif lain untuk mengukur efektivitas pasokan. [Lihat sumber Disini - ejournal.itats.ac.id]

Metode Umum dalam SPK Pemilihan Supplier Logistik

Dalam literatur akademik dan praktik industri, terdapat beberapa metode yang paling sering digunakan untuk SPK pemilihan supplier, khususnya dalam konteks logistik atau rantai pasokan:

  • AHP (Analytic Hierarchy Process): metode paling populer karena kemampuannya memecah masalah keputusan kompleks ke dalam hierarki (tujuan, kriteria, alternatif) dan memudahkan penentuan bobot serta perbandingan antar alternatif. Banyak penelitian di Indonesia dan dunia memakai AHP. [Lihat sumber Disini - pels.umsida.ac.id]
  • Kombinasi metode atau metode alternatif: selain AHP, ada pendekatan seperti Multi-Criteria Decision Making (MCDM) dengan variasi metode, misalnya pendekatan fuzzy, ANP, gabungan antara quantitative dan qualitative, guna menangani ketidakpastian dan kompleksitas dalam evaluasi supplier. [Lihat sumber Disini - inobis.org]
  • Model khusus & optimasi: dalam beberapa kasus, setelah supplier dipilih, juga dilakukan optimasi order allocation, yaitu penentuan berapa banyak order yang harus diberikan ke masing-masing supplier agar biaya minimal dan supply optimal. [Lihat sumber Disini - jurnalindustri.petra.ac.id]

Penerapan SPK Pemilihan Supplier Logistik di Indonesia, Studi Kasus & Praktik Aktual

Beberapa penelitian dari Indonesia menunjukkan bagaimana SPK diterapkan pada konteks nyata logistik, distribusi, atau supply chain:

  • Penelitian di perusahaan trucking (vendor layanan logistik) menggunakan AHP mengevaluasi vendor berdasarkan harga, kualitas, pengiriman, after-sales, dan reputasi. Hasil menunjukkan bahwa layanan purna jual (after-sales) dan kualitas produk menjadi faktor krusial dalam pemilihan vendor. [Lihat sumber Disini - journal.stieamkop.ac.id]
  • Pada industri bahan baku, sebuah studi di MSME makanan menunjukkan bahwa supplier selection penting untuk menjamin kontinuitas produksi, terutama ketika perusahaan belum memiliki sistem seleksi supplier formal. [Lihat sumber Disini - journal.literasisains.id]
  • Dalam industri manufaktur dan logistik besar, perusahaan menggunakan SPK + evaluasi kinerja supplier dengan kombinasi metode kuantitatif & kualitatif untuk memastikan kelancaran supply chain, tepat waktu, dan efisiensi biaya. [Lihat sumber Disini - ejournal.itats.ac.id]

Manfaat & Pentingnya SPK dalam Pemilihan Supplier Logistik

Penerapan SPK pemilihan supplier logistik memberikan beberapa manfaat strategis bagi perusahaan, antara lain:

  • Menjamin objektivitas dalam pengambilan keputusan supplier, sehingga mengurangi kemungkinan bias atau keputusan subjektif semata.
  • Meningkatkan efisiensi operasional dan supply chain, dengan memilih supplier yang tepat serta konsisten, risiko keterlambatan, kekurangan stok, atau gangguan kualitas dapat diminimalkan.
  • Membantu perusahaan dalam mempertimbangkan banyak aspek (cost, kualitas, pengiriman, layanan, reputasi, sustainability) secara bersamaan, sehingga keputusan supplier lebih komprehensif dan strategis.
  • Mendukung kontinuitas produksi atau layanan, terutama bagi perusahaan manufacturing atau logistik, dengan memastikan bahan baku atau layanan logistik selalu tersedia tepat waktu.
  • Memberi dasar yang dapat diukur dan dievaluasi: karena SPK umumnya menghasilkan nilai/peringkat kuantitatif, maka kinerja supplier dapat dievaluasi secara objektif dan dapat ditinjau kembali jika situasi berubah.

Tantangan & Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam SPK Pemilihan Supplier Logistik

Meski SPK menawarkan banyak keuntungan, penerapannya tidak selalu mudah dan tanpa tantangan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Pemilihan kriteria dan bobot yang tepat: Jika kriteria tidak relevan atau bobot ditentukan tanpa analisis yang matang, hasil SPK bisa bias atau tidak sesuai kebutuhan perusahaan.
  • Ketersediaan data: Untuk menilai supplier berdasarkan beberapa kriteria, terutama kualitas, reputasi, after-sales, ketepatan pengiriman, diperlukan data historis dan sistem monitoring yang baik. Tanpa itu, evaluasi bisa subjektif.
  • Kompleksitas dalam kasus supply chain besar: Jika perusahaan memiliki banyak supplier, kategori produk, dan variabel kompleks (misalnya sustainability, fleksibilitas, risiko), metode sederhana bisa kurang memadai, sehingga mungkin diperlukan metode MCDM kompleks atau kombinasi metode.
  • Dinamika lingkungan bisnis: Supplier yang dulu cocok bisa berubah performanya, misalnya karena perubahan harga, biaya logistik, ketersediaan bahan, sehingga SPK perlu diperbarui secara berkala dan diiringi monitoring kinerja supplier.
  • Biaya implementasi: Jika SPK diimplementasikan sebagai sistem berbasis IT, ada biaya pengembangan, data gathering, dan pemeliharaan sistem. Untuk perusahaan kecil, hal ini bisa menjadi beban.

Rekomendasi Praktis bagi Perusahaan yang Ingin Mengimplementasikan SPK Pemilihan Supplier Logistik

Berdasarkan literatur dan praktik, berikut beberapa rekomendasi bagi perusahaan:

  • Tentukan kriteria yang relevan dengan kebutuhan logistik perusahaan, tidak hanya harga, tetapi juga kualitas, kecepatan & keakuratan pengiriman, reputasi, fleksibilitas, dan jika perlu aspek lingkungan/keberlanjutan.
  • Gunakan metode sistematis seperti AHP (atau MCDM lain yang cocok) untuk menentukan bobot kriteria dan melakukan evaluasi alternatif supplier secara objektif.
  • Kumpulkan data historis dan lakukan tracking kinerja supplier secara berkala untuk memastikan bahwa penilaian supplier tetap akurat dari waktu ke waktu.
  • Jika memungkinkan, integrasikan SPK ke dalam sistem informasi perusahaan (misalnya ERP atau sistem procurement), agar proses seleksi menjadi lebih efisien dan terdokumentasi.
  • Lakukan evaluasi ulang secara periodik, misalnya setiap 6–12 bulan, agar supplier tetap relevan dengan kondisi perusahaan serta perubahan pasar/logistik.

Kesimpulan

Pemilihan supplier merupakan aspek kritis dalam manajemen supply chain, khususnya untuk perusahaan yang bergantung pada layanan logistik atau pasokan barang secara regular. Dengan menggunakan SPK pemilihan supplier logistik, yang menggabungkan penentuan kriteria, penilaian alternatif, penentuan bobot, dan evaluasi objektif, perusahaan dapat mengambil keputusan pemasok dengan lebih sistematis, andal, dan efektif. Berbagai penelitian, baik di Indonesia maupun global, menunjukkan bahwa metode seperti AHP atau metode MCDM lainnya sangat membantu dalam meningkatkan ketepatan, efisiensi, dan konsistensi supply chain. Meski demikian, keberhasilan implementasi SPK tidak hanya bergantung pada metode, tetapi juga pada kualitas data, komitmen monitoring, dan evaluasi berkala. Oleh karena itu, bagi perusahaan yang ingin meningkatkan performa logistik dan rantai pasokan, penerapan SPK dalam pemilihan supplier bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis.

 

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

SPK Pemilihan Supplier Logistik adalah sistem yang digunakan untuk membantu perusahaan memilih pemasok logistik terbaik berdasarkan berbagai kriteria seperti harga, kualitas, ketepatan pengiriman, dan layanan. Sistem ini menggunakan pendekatan terstruktur agar keputusan lebih objektif dan akurat.

SPK penting karena membantu perusahaan menilai setiap supplier secara objektif berdasarkan data dan kriteria yang terukur. Dengan SPK, risiko keterlambatan, kualitas buruk, atau biaya tidak efisien dapat dikurangi sehingga rantai pasokan berjalan lebih lancar.

Metode umum dalam SPK pemilihan supplier logistik meliputi Analytic Hierarchy Process (AHP), Multi-Criteria Decision Making (MCDM), Fuzzy AHP, Analytic Network Process (ANP), dan metode pembobotan kriteria lainnya yang membantu menentukan peringkat supplier secara sistematis.

Kriteria pemilihan supplier logistik biasanya mencakup harga, kualitas layanan, ketepatan waktu pengiriman, pengalaman, fleksibilitas, reputasi, dan layanan purna jual. Kriteria dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional perusahaan.

SPK memberikan manfaat berupa pengambilan keputusan yang lebih objektif, akurat, dan transparan. Sistem ini membantu perusahaan memilih pemasok yang mampu memberikan kualitas terbaik, biaya efisien, dan pengiriman tepat waktu.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
SPK Penilaian Supplier Barang dengan TOPSIS SPK Penilaian Supplier Barang dengan TOPSIS Sistem Informasi Logistik: Definisi dan Perannya Sistem Informasi Logistik: Definisi dan Perannya Logistik Penelitian: Pengertian, Peran, dan Contoh Logistik Penelitian: Pengertian, Peran, dan Contoh Regresi Logistik: Pengertian dan Aplikasinya Regresi Logistik: Pengertian dan Aplikasinya Sistem Informasi Pengadaan Barang: Komponen dan Alurnya Sistem Informasi Pengadaan Barang: Komponen dan Alurnya Sistem Web Pelacakan Pengiriman Barang Sistem Web Pelacakan Pengiriman Barang Sistem Informasi Penjualan Berbasis Web Sistem Informasi Penjualan Berbasis Web Sistem Informasi Pengiriman Barang Sistem Informasi Pengiriman Barang Kesiapan Ibu Menghadapi Persalinan Normal Kesiapan Ibu Menghadapi Persalinan Normal Kesiapan Suami Mendampingi Persalinan Kesiapan Suami Mendampingi Persalinan Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Guru Berprestasi Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Guru Berprestasi SPK Pemilihan Software Akuntansi SPK Pemilihan Software Akuntansi Jenis-Jenis Eksperimen dalam Penelitian Jenis-Jenis Eksperimen dalam Penelitian Teknik Sampling Klaster: Pengertian dan Contoh Teknik Sampling Klaster: Pengertian dan Contoh Sampling: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Penelitian Sampling: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Penelitian Arsitektur Sistem & Patterns Modern Arsitektur Sistem & Patterns Modern Kesiapan Persalinan Normal: Konsep, Indikator, dan Kesiapan Ibu Kesiapan Persalinan Normal: Konsep, Indikator, dan Kesiapan Ibu Kelebihan dan Kelemahan Metode Eksperimen Kelebihan dan Kelemahan Metode Eksperimen Faktor yang Mempengaruhi Cakupan Imunisasi Faktor yang Mempengaruhi Cakupan Imunisasi Perbedaan Desain Eksperimen dan Kuasi Eksperimen Perbedaan Desain Eksperimen dan Kuasi Eksperimen
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…