
SPK Penilaian Supplier Barang dengan TOPSIS
Pendahuluan
Dalam konteks industri dan perdagangan modern, pemilihan supplier (pemasok) barang menjadi salah satu aspek krusial dalam manajemen rantai pasok. Supplier yang dipilih tidak hanya menentukan harga bahan baku, tetapi juga memengaruhi kualitas produk, ketepatan pengiriman, konsistensi pasokan, dan kelancaran operasional perusahaan secara keseluruhan. Jika keputusan pemilihan supplier hanya berdasarkan intuisi atau hanya satu kriteria seperti harga, maka kemungkinan besar perusahaan akan menghadapi risiko seperti keterlambatan pengiriman, ketidaksesuaian kualitas bahan, atau supplier yang tidak konsisten dalam memenuhi kebutuhan.
Oleh karena itu, dibutuhkan suatu metode yang sistematis, objektif, dan transparan dalam mengevaluasi dan menilai alternatif supplier berdasarkan banyak kriteria sekaligus. Salah satu metode yang banyak digunakan untuk tujuan ini adalah TOPSIS (Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution), sering diterapkan dalam kerangka Sistem Pendukung Keputusan (SPK). Artikel ini membahas pengertian TOPSIS, bagaimana konsep SPK untuk seleksi supplier, serta bagaimana metode ini dapat diimplementasikan dalam penilaian supplier barang, termasuk contoh penelitian terkini dari Indonesia.
Definisi TOPSIS
Definisi TOPSIS Secara Umum
TOPSIS adalah salah satu metode dalam analisis keputusan multikriteria (multi-criteria decision making / MCDM). Metode ini membantu pengambil keputusan (decision-maker) untuk memilih alternatif terbaik dari sejumlah alternatif berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Intinya, TOPSIS bekerja dengan membandingkan jarak setiap alternatif terhadap solusi ideal positif (alternatif terbaik secara teoretis) dan solusi ideal negatif (alternatif terburuk secara teoretis). Alternatif yang memiliki jarak terpendek ke solusi ideal positif dan jarak terjauh ke solusi ideal negatif dianggap sebagai alternatif terbaik. Metode ini terstruktur, logis, dan tergolong sederhana dalam penerapan, sehingga cocok untuk berbagai konteks keputusan, termasuk seleksi supplier. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Definisi TOPSIS Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi dan karakterisasi TOPSIS menurut literatur/ahli dan penelitian:
- Menurut Ding, Liang, Yang & Wu (dalam konteks implementasi SPK), TOPSIS menggunakan prinsip bahwa alternatif terbaik adalah yang memiliki jarak geometrik paling dekat dengan solusi ideal positif dan paling jauh dari solusi ideal negatif. [Lihat sumber Disini - journal.stmikjayakarta.ac.id]
- Dalam kerangka seleksi supplier, penelitian A TOPSIS Framework for Supplier Selection Problem menyebutkan bahwa TOPSIS adalah metode sistematis dan terstruktur untuk mengevaluasi dan merangking calon supplier berdasarkan berbagai kriteria, seperti kualitas, harga, layanan, pengiriman, sehingga membantu pembuat keputusan memilih supplier terbaik secara objektif. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
- Penelitian Sustainable Supplier Selection and Order allocation using AHP‑TOPSIS and Goal Programming (2023) menekankan bahwa TOPSIS, apabila digabungkan dengan metode penentuan bobot seperti AHP atau metode lain, dapat secara efektif menangani keputusan multikriteria termasuk aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam supply chain. [Lihat sumber Disini - eprints.umm.ac.id]
- Dalam kajian literatur Analisa Metode Sistem Pendukung Keputusan dalam Konteks Perusahaan: Systematic Literature Review (2024), disebutkan bahwa metode SPK berbasis TOPSIS kerap diandalkan karena kemampuannya melakukan evaluasi kinerja alternatif dengan cepat dan objektif, terutama bila metode lain (misalnya metode subyektif manual) kurang memadai. [Lihat sumber Disini - mail.jer.or.id]
Definisi TOPSIS dalam KBBI
Karena TOPSIS adalah istilah teknis dari literatur manajemen/keputusan, maka tidak ditemukan entri resmi di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang mendefinisikannya. Dengan demikian, pengertian TOPSIS lebih banyak berasal dari literatur akademik dan praktis di bidang manajemen rantai pasok dan Sistem Pendukung Keputusan, bukan dari kamus umum.
SPK Penilaian Supplier Barang dengan TOPSIS
Komponen dan Tahapan Umum
Dalam penerapan SPK untuk penilaian supplier barang dengan TOPSIS, beberapa langkah utama yang lazim dilakukan adalah:
- Menetapkan alternatif supplier, yaitu daftar calon supplier yang akan dievaluasi.
- Menentukan kriteria evaluasi berdasarkan kebutuhan perusahaan: misalnya kualitas barang, harga, ketepatan / kecepatan pengiriman, layanan purna jual/garansi, fleksibilitas, legalitas, reputasi, dan lain-lain. (Kriteria bisa berbeda sesuai jenis barang dan kebutuhan perusahaan.) [Lihat sumber Disini - journal.global.ac.id]
- Menentukan bobot untuk setiap kriteria, bisa menggunakan metode pembobotan subjektif seperti Analytic Hierarchy Process (AHP), atau metode lain/objektif seperti entropy weighting. [Lihat sumber Disini - jpti.journals.id]
- Mengumpulkan data penilaian dari setiap supplier untuk tiap kriteria, bisa berupa data kuantitatif (misalnya harga, waktu pengiriman) maupun kualitatif (mutu, reputasi, layanan).
- Normalisasi data dan menghitung skor preferensi tiap supplier menggunakan TOPSIS, yaitu menghitung jarak ke ideal positif dan ideal negatif, kemudian menghitung nilai kedekatan (closeness) relatif. Supplier dengan skor kedekatan tertinggi dianggap sebagai pilihan terbaik. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Kelebihan Metode SPK-TOPSIS untuk Supplier Barang
- Objektif dan sistematis, keputusan tidak berdasarkan intuisi semata, melainkan berdasarkan data dan kriteria yang jelas. Hal ini mengurangi subjektivitas dalam pemilihan supplier.
- Mampu mempertimbangkan banyak kriteria sekaligus, baik aspek harga, kualitas, pengiriman, layanan, fleksibilitas, dan faktor-faktor lain. Ini penting ketika supplier harus dievaluasi secara menyeluruh.
- Relatif mudah diterapkan, meskipun melibatkan perhitungan matematis, struktur metode sudah baku; banyak penelitian dan aplikasi nyata menggunakan TOPSIS. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
- Transparansi dalam keputusan, hasil perhitungan berupa skor dan peringkat, sehingga keputusan bisa dipertanggungjawabkan. Ini penting untuk audit internal atau evaluasi supplier secara berkala.
Kekurangan / Batasan
- Hasil sangat bergantung pada pemilihan kriteria dan bobot, jika bobot atau kriteria ditentukan kurang tepat, hasil bisa bias.
- Sulit menangani data yang bersifat sangat subjektif atau sulit diukur secara numerik, misalnya reputasi, fleksibilitas, kualitas layanan pasca-jual; meskipun bisa dikonversi ke skor, tetap ada unsur subjektivitas.
- Tidak mempertimbangkan dinamika waktu secara langsung, misalnya perubahan kinerja supplier dari waktu ke waktu, yang bisa membuat ranking berubah jika data tidak diperbarui secara rutin.
Contoh Penelitian di Indonesia
Beberapa penelitian terkini yang menggunakan SPK + TOPSIS untuk seleksi supplier di Indonesia:
- Penelitian A TOPSIS Framework for Supplier Selection Problem (2024) pada universitas di Semarang membuktikan bahwa TOPSIS efektif untuk mengevaluasi dan merangking calon supplier berdasarkan kriteria seperti kualitas, harga, layanan, dan pengiriman. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
- Studi Sustainable Supplier Selection and Order allocation using AHP‑TOPSIS and Goal Programming (2023) mengombinasikan AHP untuk bobot kriteria dan TOPSIS untuk ranking, serta menambahkan aspek keberlanjutan (sosial & lingkungan), menunjukkan bahwa metode ini fleksibel untuk kebutuhan modern seperti supply chain berkelanjutan. [Lihat sumber Disini - eprints.umm.ac.id]
- Penelitian pada supplier shrimp untuk restoran di Yogyakarta menggunakan AHP + TOPSIS menunjukkan bahwa kualitas menjadi kriteria tertinggi, dan TOPSIS berhasil memprioritaskan supplier terbaik berdasarkan hasil hitung. [Lihat sumber Disini - journal.unpar.ac.id]
- Implementasi dalam industri bentuk baut/paku, penelitian Analisis Pemilihan Supplier Baut Menggunakan AHP dan TOPSIS (2025) memberikan contoh nyata bagaimana metode ini dipakai untuk memilih supplier bahan produksi dengan memperhitungkan kualitas, harga, pengiriman, dan kriteria relevan lainnya. [Lihat sumber Disini - ejournal.undip.ac.id]
Implementasi Praktis: Panduan Singkat Menggunakan TOPSIS untuk Supplier Barang
Berikut panduan praktis langkah demi langkah bagi perusahaan yang ingin menggunakan SPK + TOPSIS untuk menilai supplier:
- Identifikasi alternatif supplier, kumpulkan daftar semua calon supplier potensial yang memenuhi kebutuhan dasar perusahaan.
- Rumuskan kriteria evaluasi, tentukan kriteria yang relevan dengan kebutuhan barang: misalnya kualitas produk, harga, waktu pengiriman, layanan purna jual/garansi, fleksibilitas pemesanan, minimum order, reputasi/legalitas, dan lain-lain.
- Tentukan bobot tiap kriteria, gunakan metode pembobotan seperti AHP, atau metode objektif seperti entropy weighting, agar bobot mencerminkan prioritas perusahaan.
- Kumpulkan data untuk tiap alternatif berdasarkan kriteria, bisa dari data historis, survei, atau hasil penilaian supplier. Untuk data kualitatif (misalnya reputasi), bisa dibuat skala penilaian (misal 1–5).
- Normalisasi data dan hitung skor preferensi dengan TOPSIS, lakukan perhitungan jarak ke ideal positif dan ideal negatif, kemudian hitung skor kedekatan setiap supplier.
- Peringkat dan pilih supplier terbaik, supplier dengan skor tertinggi dianggap terbaik; bisa juga menentukan rangking 1, 2, 3 dst. Jika perlu, lakukan verifikasi tambahan (misalnya audit supplier, uji kualitas bahan).
- Evaluasi secara berkala, update data secara berkala (misalnya setiap 6 bulan atau 1 tahun), karena performa supplier bisa berubah seiring waktu; dengan demikian keputusan tetap relevan dan akurat.
Kesimpulan
Metode TOPSIS dalam kerangka SPK adalah alat yang sangat berguna dan relevan untuk membantu perusahaan dalam pemilihan supplier barang. Dengan kemampuan untuk menilai dan membandingkan banyak alternatif berdasarkan berbagai kriteria secara sistematis, objektif, dan terstruktur, TOPSIS membantu mengurangi risiko subjektivitas dan keputusan yang kurang optimal.
Berbagai penelitian di Indonesia dari tahun 2023–2025 telah membuktikan efektivitas metode ini dalam konteks supplier selection pada industri manufaktur, makanan/minuman, serta produksi bahan baku.
Namun, keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada pemilihan kriteria yang tepat, penentuan bobot yang akurat, serta konsistensi dalam pengumpulan dan pembaruan data supplier. Oleh karena itu, perusahaan perlu memperlakukan SPK + TOPSIS sebagai bagian dari proses manajemen supply chain secara kontinu, bukan hanya sekali pakai.
Dengan demikian, SPK Penilaian Supplier Barang dengan TOPSIS bisa menjadi fondasi yang kuat untuk pengambilan keputusan supply chain yang matang, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.