Terakhir diperbarui: 09 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 9 December). Kesiapan Mental Ibu Menghadapi Menyusui. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/kesiapan-mental-ibu-menghadapi-menyusui  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Kesiapan Mental Ibu Menghadapi Menyusui - SumberAjar.com

Kesiapan Mental Ibu Menghadapi Menyusui

Pendahuluan

Menjadi seorang ibu bukan hanya soal fisik, menyusui, merawat bayi, dan memenuhi kebutuhan nutrisi saja. Proses menyusui melibatkan aspek fisik, tetapi tak kalah penting adalah kesiapan mental ibu. Kesiapan mental ini mempengaruhi seberapa baik ibu dapat menghadapi tantangan menyusui: tekanan, lelah, kesulitan, adaptasi peran baru, dan kondisi emosional pascapersalinan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kesiapan psikologis ibu berkontribusi signifikan terhadap keberhasilan menyusui eksklusif. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

Dengan memahami apa itu kesiapan mental/psikologis, faktor-faktornya, tantangan yang mungkin muncul, serta strategi untuk memperkuatnya, kita bisa mendukung ibu agar menyusui dengan lebih optimal. Artikel ini akan membahas secara mendalam kesiapan mental ibu menghadapi menyusui: dari definisi, faktor yang mempengaruhi, peran edukasi & keluarga, sampai dampaknya terhadap keberhasilan menyusui.


Definisi Kesiapan Mental Ibu Menghadapi Menyusui

Definisi Secara Umum

Kesiapan mental dalam konteks menyusui dapat dipahami sebagai kondisi psikologis seorang ibu, termasuk kesiapan emosional, sikap, pengetahuan, keyakinan, dan kesiapan untuk menjalani proses menyusui dengan segala tantangannya. Ini melibatkan kesiapan untuk menghadapi perubahan fisik, rutinitas baru, serta adaptasi peran sebagai ibu.

Definisi dalam KBBI

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “mental” berkaitan dengan jiwa atau psikis, dan “kesiapan” berarti keadaan siap, bersedia, mampu siap sedia. Jadi “kesiapan mental” dapat diterjemahkan sebagai “keadaan jiwa/psikis yang siap sedia menerima dan menjalani sesuatu.” Dalam konteks ini: ibu yang secara psikis siap untuk menyusui.

Definisi Menurut Para Ahli

Berikut beberapa definisi dari literatur/penelitian:

  • Dalam penelitian Pengaruh kesiapan ibu terhadap keberhasilan menyusui (2021) disebutkan bahwa “mother’s readiness” mencakup pengetahuan tentang ASI eksklusif dan persiapan laktasi sejak masa kehamilan, sebagai prasyarat keberhasilan menyusui. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

  • Dalam kajian Gambaran kesiapan ibu dalam pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Bergas (2024), kesiapan ibu didefinisikan sebagai dua aspek utama: kesiapan fisik dan kesiapan mental-psikologis. Kesiapan mental diukur lewat sikap ibu terhadap menyusui, dukungan sosial, serta keyakinan dan motivasi untuk melaksanakan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - repository2.unw.ac.id]

  • Menurut KESEHATAN MENTAL IBU MEMENGARUHI PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI: A Scoping Review (2025), kesiapan mental meliputi kemampuan ibu mengelola emosinya pascapersalinan, termasuk mengatasi stres, kecemasan, kelelahan, beban adaptasi peran baru, agar dapat terus menyusui meskipun ada tekanan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Studi Pengaruh Dukungan Tenaga Kesehatan Terhadap Psychological Wellโ€‘Being Ibu Menyusui (2024) menekankan bahwa psychological well-being, sebagai cerminan kesehatan mental ibu, perlu diperkuat selama masa menyusui, antara lain lewat dukungan profesional, untuk mendukung proses menyusui secara optimal. [Lihat sumber Disini - journal.pubmedia.id]

Dengan demikian, kesiapan mental ibu menyusui adalah kondisi psikologis komprehensif yang mencakup pengetahuan, sikap, motivasi, dukungan sosial, serta kemampuan emosional untuk menghadapi tantangan menyusui.


Faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Psikologis Ibu

Beberapa faktor utama yang menurut penelitian berpengaruh terhadap kesiapan mental/psikologis ibu:

  • Pengetahuan dan pemahaman tentang menyusui (ASI eksklusif & laktasi), Ibu yang memahami manfaat ASI, teknik menyusui, serta pentingnya persiapan laktasi sejak kehamilan cenderung lebih siap secara mental. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

  • Dukungan dari tenaga kesehatan, Konseling dari bidan, dokter, perawat, serta edukasi sebelum dan setelah melahirkan membantu meningkatkan psychological well-being ibu. [Lihat sumber Disini - journal.pubmedia.id]

  • Dukungan sosial: suami, keluarga, lingkungan terdekat, Ibu yang mendapat dukungan emosional dan praktis (perawatan bayi, bantuan rumah tangga, dorongan moral) dari pasangan/keluarga lebih siap menghadapi stres awal menyusui. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Kondisi emosional dan kesehatan mental ibu, Jika ibu mengalami kecemasan, stres, kelelahan, atau bahkan gejala depresi postpartum / postpartum blues, hal ini bisa menghambat kesiapan dan keberlanjutan menyusui. [Lihat sumber Disini - jurnal.fk.uisu.ac.id]

  • Kondisi fisik & nutrisi ibu, Meski fokusnya mental, kesiapan fisik dan kecukupan nutrisi juga relevan: ibu dengan kondisi fisik dan gizi memadai akan merasa lebih mampu menyusui, yang mendukung kesiapan mental. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

  • Pengalaman atau ekspektasi sebelumnya, Ibu primigravida (pertama kali melahirkan) atau yang belum pernah menyusui sebelumnya mungkin memerlukan lebih banyak persiapan mental dibanding ibu dengan pengalaman menyusui. [Lihat sumber Disini - repository2.unw.ac.id]


Peran Edukasi dan Konseling Menyusui

Edukasi dan konseling memainkan peran penting dalam membentuk kesiapan mental ibu. Beberapa poin penting:

  • Memberikan pengetahuan yang benar: Edukasi tentang manfaat ASI eksklusif, teknik menyusui, perawatan payudara, frekuensi menyusui, tanda-tanda bayi mendapatkan ASI cukup, semua itu membantu ibu lebih percaya diri dan siap. Penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu berkorelasi dengan kesiapan menyusui dan keberhasilan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

  • Konseling psikologis: Ibu pascapersalinan berpotensi mengalami stres, kecemasan, atau perubahan emosional. Konseling dari tenaga kesehatan dapat membantu meningkatkan psychological well-being ibu, sehingga memudahkan proses menyusui. [Lihat sumber Disini - journal.pubmedia.id]

  • Kelas persiapan laktasi / ibu hamil: Beberapa penelitian menyarankan agar persiapan laktasi dilakukan sejak kehamilan (terutama trimester III) agar ibu punya waktu menyesuaikan diri secara mental dan fisik. [Lihat sumber Disini - repository2.unw.ac.id]

  • Edukasi bersama keluarga: Tidak hanya ibu, edukasi juga perlu melibatkan suami/keluarga agar mereka memahami peran dukungan, sehingga dukungan sosial bisa optimal.

Dengan edukasi dan konseling yang memadai, ibu lebih siap secara mental dan emosional untuk menyusui, serta lebih mampu menghadapi tantangan awal menyusui.


Dukungan Suami dan Keluarga dalam Pembentukan Kesiapan

Dukungan dari lingkungan sosial, terutama suami dan keluarga, sangat krusial. Berikut perannya:

  • Memberikan dukungan emosional: memberi semangat, pengertian terhadap lelah, stres, kelelahan, atau perubahan mood ibu. Ini membantu ibu merasa didampingi dan tidak sendirian.

  • Bantuan praktis: membantu merawat bayi, mengurus rumah, memberi waktu istirahat agar ibu bisa menyusui dan pulih pasca melahirkan, mengurangi beban mental ibu.

  • Motivasi dan keyakinan: dorongan dari pasangan/keluarga meningkatkan rasa percaya diri ibu terhadap kemampuannya menyusui. Dukungan sosial yang baik berkorelasi dengan kesiapan mental positif. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Membantu akses edukasi/reminder: keluarga bisa mendampingi ikut kelas persiapan laktasi, mendukung ibu mengikuti konseling, atau membantu ibu mengambil informasi benar, sehingga tidak bingung dengan banyak informasi.

Dengan dukungan suami/keluarga, ibu merasa lebih aman, dihargai, dan termotivasi, yang sangat membantu dalam menjaga kesehatan mental dan kelancaran menyusui.


Tantangan Mental yang Umum Dihadapi pada Awal Menyusui

Menyusui pada masa awal (pascapersalinan / newborn) sering membawa tantangan psikologis, antara lain:

  • Stres dan kecemasan, adaptasi peran baru, rasa khawatir ASI tidak cukup, kekhawatiran bayi tidak kenyang atau tumbuh, takut gagal, serta kekhawatiran tentang teknik menyusui. [Lihat sumber Disini - jim.unisma.ac.id]

  • Kelelahan fisik dan emosional, sering menyusui, kurang tidur, perubahan hormon, ini bisa membuat ibu mudah lelah, stres, atau merasa overwhelmed. [Lihat sumber Disini - jurnal.fk.uisu.ac.id]

  • Perasaan tidak percaya diri / rendah diri (insekuritas), terutama bagi ibu baru (primigravida) atau ibu yang belum yakin bisa menyusui dengan benar. Kurangnya pengetahuan atau pengalaman memperkuat rasa ragu ini. [Lihat sumber Disini - repository2.unw.ac.id]

  • Tekanan sosial & informasi yang membingungkan, informasi berlebihan dari media sosial, lingkungan, atau orang lain bisa membuat ibu bingung, stres atau merasa ditekan untuk “melakukan dengan sempurna”. [Lihat sumber Disini - hellosehat.com]

  • Dukungan yang kurang dari lingkungan, jika suami/keluarga tidak mendukung, ibu bisa merasa kesepian, tertekan, dan mudah menyerah. [Lihat sumber Disini - journal.pubmedia.id]

  • Masalah kesehatan mental pascapersalinan, seperti depresi postpartum, postpartum blues, kecemasan, atau common mental disorders lainnya, hal ini bisa sangat mempengaruhi motivasi dan kemampuan menyusui. [Lihat sumber Disini - jurnal.fk.uisu.ac.id]

Tantangan-tantangan ini wajar terjadi, tapi jika tidak dikelola dengan baik, bisa menghambat pemberian ASI eksklusif atau membuat ibu menyerah dini.


Strategi Meningkatkan Kesiapan Mental Ibu

Agar ibu bisa menghadapi proses menyusui secara mental dan emosional, berikut beberapa strategi yang direkomendasikan berdasarkan literatur:

  • Melakukan persiapan laktasi sejak masa kehamilan, terutama trimester III, termasuk pemeriksaan payudara, pendidikan menyusui, dan persiapan mental. [Lihat sumber Disini - repository2.unw.ac.id]

  • Mengikuti kelas edukasi menyusui dan konseling dari tenaga kesehatan (bidan, dokter, konselor laktasi) untuk meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan diri ibu. [Lihat sumber Disini - journal.pubmedia.id]

  • Membangun dukungan sosial: suami, keluarga, orang terdekat, edukasi bersama keluarga agar mereka paham pentingnya dukungan, dan melibatkan mereka aktif membantu ibu.

  • Mengatur manajemen stres: istirahat cukup, tidur bila memungkinkan, minta bantuan jika lelah, dan membatasi paparan informasi yang berlebihan atau asal-asalan, agar tidak menambah beban mental. [Lihat sumber Disini - hellosehat.com]

  • Menguatkan afirmasi positif & motivasi diri, ibu bisa mengingat manfaat ASI, kelebihan menyusui, serta positif-positif usaha yang sudah dilakukan; ini bisa memperkuat keyakinan dan konsistensi. [Lihat sumber Disini - jurnalpoltekkesmaluku.com]

  • Mengawasi kesehatan mental pascapersalinan: bila ada tanda kecemasan berat, stres kronis, mood swing ekstrem, atau gejala depresi, sebaiknya konsultasikan dengan profesional kesehatan.

Dengan strategi-strategi tersebut, kemungkinan ibu untuk berhasil menyusui dan mempertahankan ASI eksklusif akan meningkat.


Dampak Kesiapan Mental terhadap Keberhasilan Menyusui

Beberapa penelitian empiris menunjukkan bahwa kesiapan mental/psikologis ibu berhubungan erat dengan keberhasilan menyusui:

  • Dalam studi “Pengaruh kesiapan ibu terhadap keberhasilan menyusui” (2021), ditemukan bahwa ibu yang siap memiliki peluang lebih besar melakukan ASI eksklusif secara sukses dibanding yang kurang siap (nilai p < 0, 05). [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

  • Penelitian di Puskesmas Talang Betutu (2023) menunjukkan bahwa kesiapan mental-psikologis ibu berkorelasi signifikan dengan keberhasilan menyusui, ibu yang menyatakan siap lebih banyak berhasil dibanding yang tidak siap (p-value 0, 000). [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

  • Kajian literatur “Kesehatan mental ibu memengaruhi pemberian ASI eksklusif…” (2025) menyimpulkan bahwa kesehatan mental positif, termasuk stabilitas emosi, dukungan sosial, dan kesiapan psikologis, mendukung keberlanjutan ASI eksklusif, sedangkan stres, kecemasan, kelelahan, postpartum blues/depresi meningkatkan risiko kegagalan menyusui. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Artinya: kesiapan mental bukan sekadar “nilai tambah”, tapi bisa menjadi faktor penentu keberhasilan menyusui. Ibu yang tidak dipersiapkan secara psikologis berisiko lebih tinggi menghentikan ASI lebih dini atau gagal mencapai ASI eksklusif.


Kesimpulan

Kesiapan mental ibu dalam menghadapi proses menyusui merupakan fondasi penting yang mendasari keberhasilan ASI. Pengertian kesiapan mental mencakup aspek psikologis, pengetahuan, sikap, motivasi, kepercayaan diri, regulasi emosi, dan dukungan sosial, yang memungkinkan ibu mampu menjalani proses menyusui dengan baik meskipun menghadapi tantangan. Faktor-faktor seperti pengetahuan, edukasi, dukungan dari tenaga kesehatan, serta dukungan suami/keluarga sangat berpengaruh dalam membentuk kesiapan ini.

Tantangan mental seperti stres, kecemasan, kelelahan, dan perubahan peran sering muncul pada awal menyusui, namun dapat dikelola dengan strategi persiapan laktasi, edukasi, manajemen stres, afirmasi positif, dan dukungan lingkungan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan kesiapan mental yang baik memiliki peluang lebih besar untuk berhasil menyusui, bahkan mencapai ASI eksklusif.

Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat untuk mendukung ibu secara komprehensif, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental dan emosional, agar cita-cita ASI eksklusif dan optimalisasi perkembangan bayi dapat tercapai.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Kesiapan mental ibu adalah kondisi psikologis yang mencakup pengetahuan, keyakinan, sikap, dan kesiapan emosional untuk menjalani proses menyusui, termasuk menghadapi tantangan fisik dan mental pada masa awal menyusui.

Faktor-faktor yang memengaruhi kesiapan mental ibu antara lain pengetahuan tentang menyusui, dukungan tenaga kesehatan, dukungan suami dan keluarga, kondisi emosional ibu, pengalaman sebelumnya, dan kesiapan fisik.

Dukungan suami memberikan bantuan emosional dan praktis yang dapat meningkatkan kepercayaan diri ibu, membantu mengurangi stres, dan memperkuat kesiapan mental ibu dalam menjalani proses menyusui.

Tantangan mental yang umum meliputi stres, kecemasan, kelelahan, rasa tidak percaya diri, tekanan sosial, dan perubahan emosional pascapersalinan.

Kesiapan mental dapat ditingkatkan melalui edukasi dan konseling menyusui, mengikuti kelas persiapan laktasi, mendapatkan dukungan suami dan keluarga, mengelola stres, serta melakukan afirmasi positif untuk memperkuat keyakinan diri.

โฌ‡
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Kesiapan Menyusui: Konsep, Faktor Psikologis, dan Keberhasilan Laktasi Kesiapan Menyusui: Konsep, Faktor Psikologis, dan Keberhasilan Laktasi Self-Efficacy Ibu Menyusui Self-Efficacy Ibu Menyusui Pengetahuan Ibu tentang Persiapan Menyusui sejak Kehamilan Pengetahuan Ibu tentang Persiapan Menyusui sejak Kehamilan Self-Efficacy Ibu Menyusui: Konsep, Peran Motivasi, dan Hasil Laktasi Self-Efficacy Ibu Menyusui: Konsep, Peran Motivasi, dan Hasil Laktasi Ketidaknyamanan Masa Menyusui Ketidaknyamanan Masa Menyusui Posisi Menyusui yang Efektif Posisi Menyusui yang Efektif Paritas dan Keberhasilan Menyusui: Konsep, Hubungan, dan Implikasi Paritas dan Keberhasilan Menyusui: Konsep, Hubungan, dan Implikasi Perubahan Psikologis Ibu pada Masa Menyusui Perubahan Psikologis Ibu pada Masa Menyusui Hubungan Kesiapan Mental Ibu dengan Keberhasilan IMD Hubungan Kesiapan Mental Ibu dengan Keberhasilan IMD Nutrisi Ibu Menyusui: Kebutuhan dan Pengaruh Nutrisi Ibu Menyusui: Kebutuhan dan Pengaruh Hubungan Paritas dengan Kualitas Laktasi Hubungan Paritas dengan Kualitas Laktasi Kesiapan Ibu Menghadapi Proses Laktasi Kesiapan Ibu Menghadapi Proses Laktasi Status Gizi Ibu Menyusui Status Gizi Ibu Menyusui Manajemen Laktasi pada Ibu Bekerja Manajemen Laktasi pada Ibu Bekerja Nutrisi Ibu Menyusui: Konsep, Kebutuhan Gizi, dan Kualitas ASI Nutrisi Ibu Menyusui: Konsep, Kebutuhan Gizi, dan Kualitas ASI Tingkat Pengetahuan Suami tentang ASI Eksklusif Tingkat Pengetahuan Suami tentang ASI Eksklusif Pengetahuan Ibu tentang Perawatan Payudara Pengetahuan Ibu tentang Perawatan Payudara Kesiapan Belajar Mahasiswa: Konsep dan Indikator Kesiapan Belajar Mahasiswa: Konsep dan Indikator Kesiapan Ibu Menghadapi Persalinan Normal Kesiapan Ibu Menghadapi Persalinan Normal Evaluasi Pengetahuan Pasangan tentang Peran Ayah dalam ASI Eksklusif Evaluasi Pengetahuan Pasangan tentang Peran Ayah dalam ASI Eksklusif
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaruโ€ฆ