
Tingkat Kerusakan Bangunan: Konsep, Indikator Kerusakan, dan Klasifikasi
Pendahuluan
Bangunan merupakan salah satu elemen penting dalam infrastruktur perkotaan dan pedesaan. Dalam konteks bencana alam seperti gempa bumi, banjir, atau angin puting beliung, bangunan seringkali mengalami berbagai tingkat kerusakan yang memengaruhi fungsi, keselamatan, dan keberlanjutan aktivitas manusia di dalamnya. Pengetahuan tentang tingkat kerusakan bangunan menjadi krusial bagi para profesional rekayasa, perencana kota, dan lembaga penanggulangan bencana untuk mengambil keputusan cepat dan tepat dalam respons dan mitigasi bencana. Terlebih gempa bumi adalah salah satu fenomena yang paling sering memicu kerusakan fisik signifikan pada struktur bangunan di wilayah rawan seismik. Penilaian tingkat kerusakan bangunan setelah kejadian gempa tidak hanya menjadi landasan teknis untuk perbaikan struktural, tetapi juga untuk penentuan kelayakan fungsi kembali serta keselamatan penghuni dan masyarakat umum. Penilaian ini juga berperan dalam perencanaan rekonstruksi jangka panjang yang aman dan berkelanjutan.
Definisi Tingkat Kerusakan Bangunan
Definisi Tingkat Kerusakan Bangunan Secara Umum
Tingkat kerusakan bangunan secara umum merujuk pada ukuran atau level kerusakan yang dialami oleh bangunan akibat berbagai faktor, baik itu faktor internal seperti usia struktur dan kualitas material maupun faktor eksternal seperti gempa bumi, angin kencang, beban berlebih atau penggunaan yang tidak sesuai. Istilah ini menggambarkan kondisi bangunan dari yang hampir tidak rusak hingga kerusakan total yang menghilangkan fungsi utamanya. Kerusakan ini biasanya dikelompokkan berdasarkan signifikansi pada komponen struktural dan non-struktural bangunan serta dampaknya terhadap keselamatan dan fungsi bangunan tersebut. ([Lihat sumber Disini - journal.isas.or.id])
Definisi Tingkat Kerusakan Bangunan dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “kerusakan” diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak berfungsi atau rusak sebagai akibat dari suatu kejadian atau kondisi tertentu. Sedangkan “bangunan” mengacu pada struktur yang dirancang untuk digunakan sebagai tempat tinggal atau aktivitas manusia lainnya. Dalam konteks ini, tingkat kerusakan bangunan adalah ukuran besarnya tingkat tidak berfungsinya atau rusaknya bagian bangunan akibat kejadian tertentu seperti bencana. Sumber langsung dari KBBI daring menegaskan bahwa kerusakan adalah fenomena gangguan atau degradasi fungsi sebuah objek karena sebab eksternal atau internal. (Catatan: Anda dapat merujuk langsung ke laman KBBI daring untuk definisi terminologi tersebut) ([Lihat sumber Disini - perkim.id])
Definisi Tingkat Kerusakan Bangunan Menurut Para Ahli
-
Menurut Adikusuma dkk., kerusakan bangunan adalah suatu keadaan di mana bangunan atau komponen bangunan tidak berfungsi akibat penyusutan, umur bangunan berakhir, perilaku alam atau beban yang melampaui batas toleransi. Kerusakan ini kemudian diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori tingkat kerusakan berdasarkan komponen yang terpengaruh dan seberapa jauh fungsi bangunan tersebut hilang. ([Lihat sumber Disini - journal.isas.or.id])
-
Penelitian lain juga menyatakan bahwa tingkat kerusakan bangunan hendaknya dilihat dari aspek struktur dan non-struktur, di mana kerusakan struktural menunjukkan gangguan serius terhadap integritas bangunan, sedangkan kerusakan non-struktural menggambarkan kerusakan komponen yang tidak terlalu kritis terhadap kekuatan bangunan tetapi memengaruhi fungsi atau estetika. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])
-
Studi evaluasi pasca-gempa menekankan bahwa tingkat kerusakan bangunan mencerminkan seberapa jauh proses pemulihan terhadap kondisi normal dapat dilakukan dan apakah struktur masih aman digunakan, perlu perbaikan, atau justru harus dibongkar. Evaluasi ini melibatkan metode inspeksi visual serta pengukuran parameter teknis. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
-
Menurut Demir (2025), penilaian kerusakan struktural setelah gempa adalah sebuah prosedur sistematis untuk mengevaluasi keselamatan bangunan yang mencakup pemeriksaan retakan, deformasi, dan penurunan kapasitas struktur. Penilaian ini penting untuk menentukan tingkat kerusakan bangunan dalam skala yang dapat dibandingkan antar struktur bangunan. ([Lihat sumber Disini - link.springer.com])
Indikator Kerusakan Struktural dan Non-Struktural
Kerusakan bangunan pasca kejadian gempa atau bencana sebaiknya dinilai dengan melihat indikator-indikator yang jelas, baik yang berkaitan dengan komponen struktural maupun komponen non-struktural.
Komponen struktural adalah bagian bangunan yang berfungsi menahan beban utama seperti pondasi, kolom, balok, dan pelat lantai. Kerusakan struktural menunjukkan gangguan nyata terhadap kemampuan bangunan menahan beban serta stabilitas internalnya. Beberapa indikator structural damage meliputi adanya retakan pada kolom dan balok, deformasi besar pada struktur, atau perubahan geometri dari elemen-elemen pendukung utama. Indikator teknis ini umumnya ditentukan oleh inspeksi visual, pengukuran defleksi, atau analisis numerik kerusakan. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])
Komponen non-struktural mencakup elemen yang tidak berperan penting dalam menahan beban utama tetapi berdampak pada fungsi bangunan jika rusak. Ini termasuk dinding pengisi, plafon, atap, lantai, dan utilitas internal seperti pipa dan instalasi listrik. Kerusakan pada komponen non-struktural biasanya dinilai dari retakan kecil pada dinding, atap bocor, ubin pecah, atau kerusakan estetika lainnya. Kerusakan non-struktural meskipun tidak langsung membahayakan keselamatan struktural bangunan, tetap penting untuk diperbaiki demi kenyamanan dan fungsi bangunan. ([Lihat sumber Disini - perkim.id])
Observasi visual didukung dengan dokumentasi fotografis dan pengukuran merupakan cara umum untuk menentukan indikator kerusakan ini di lapangan. Metode observasi visual deskriptif dipakai untuk mengukur kerusakan ringan hingga sedang pada struktur bangunan seperti kebocoran dak atap atau retakan pada dinding. ([Lihat sumber Disini - ejournal.umm.ac.id])
Klasifikasi Tingkat Kerusakan Bangunan
Klasifikasi tingkat kerusakan bangunan biasanya dibuat berdasarkan persentase kerusakan terhadap keseluruhan struktur atau berdasarkan jenis komponen yang rusak. Secara umum, banyak penelitian dan pedoman teknis mengelompokkan tingkat kerusakan menjadi tiga kategori utama:
-
Kerusakan Ringan (Light Damage)
Kerusakan ini terjadi pada sebagian kecil komponen non-struktural dan tidak mengurangi keseluruhan fungsi bangunan secara signifikan. Contohnya kerusakan pada penutup atap, retakan rambut pada dinding, atau ubin retak yang tidak mengganggu struktur utama. Bangunan dengan tingkat kerusakan ringan biasanya masih aman untuk dihuni dan berfungsi normal. ([Lihat sumber Disini - journal.isas.or.id]) -
Kerusakan Sedang (Moderate Damage)
Pada tingkat ini, kerusakan terjadi pada komponen non-struktural yang lebih luas dan mungkin mencakup kerusakan ringan pada komponen struktural seperti kolom atau balok yang tidak fatal. Kerusakan ini memerlukan perbaikan tetapi masih memungkinkan bangunan untuk digunakan dengan beberapa pembatasan. ([Lihat sumber Disini - journal.isas.or.id]) -
Kerusakan Berat (Severe Damage)
Kerusakan berat mencakup kerusakan pada sebagian besar komponen struktural dan non-struktural. Bangunan dalam kategori ini umumnya tidak layak untuk dihuni tanpa perbaikan besar atau rekonstruksi. Ini termasuk retakan besar pada elemen struktur utama, deformasi signifikan, atau kehilangan kapasitas beban yang serius. ([Lihat sumber Disini - journal.isas.or.id])
Beberapa pedoman juga menambahkan kategori kerusakan total atau runtuh ketika struktur bangunan tidak lagi memiliki kapasitas menahan beban dan tidak dapat direhabilitasi secara ekonomis atau aman. Persentase fisik bangunan yang rusak sering digunakan sebagai indikator numerik dalam klasifikasi ini, misalnya <30% kerusakan untuk ringan, 30, 45% untuk sedang, 45, 65% untuk berat, dan >65% untuk total. ([Lihat sumber Disini - ejournal-polnam.ac.id])
Hubungan Tingkat Kerusakan dengan Kinerja Struktur
Tingkat kerusakan yang dialami oleh bangunan sangat erat hubungannya dengan kinerja struktur terhadap beban gempa atau bencana lainnya. Kinerja struktur mencerminkan bagaimana bangunan bereaksi terhadap gaya yang bekerja padanya, seperti beban gempa yang menghasilkan deformasi, gaya geser, atau lentur pada elemen struktur.
Bangunan dengan kinerja struktur baik cenderung mengalami kerusakan ringan atau sedang ketika mendapat beban gempa, karena kemampuan deformasi dan redistribusi gaya yang baik menjaga integritas elemen struktural utama. Di sisi lain, bangunan dengan desain atau material yang lemah akan mengalami kerusakan berat atau bahkan runtuh karena tidak mampu mengatasi gaya dinamis akibat gempa atau bencana. ([Lihat sumber Disini - link.springer.com])
Penilaian kinerja struktur ini melibatkan analisis retakan, defleksi, dan perubahan geometri yang muncul setelah kejadian gempa. Perubahan besar pada elemen struktur utama menunjukkan bahwa bangunan telah mengalami kerusakan signifikan yang memengaruhi kapasitasnya untuk mendukung beban dan menjaga keselamatan penghuni. ([Lihat sumber Disini - link.springer.com])
Penilaian Kerusakan Pasca Gempa
Proses penilaian kerusakan bangunan pasca gempa biasanya dilakukan dengan kombinasi inspeksi visual di lapangan dan alat ukur sederhana hingga lanjut. Inspeksi ini menilai kerusakan pada komponen struktural serta non-struktural, kemudian mengklasifikasikan tingkat kerusakan sesuai pedoman teknis yang berlaku. Dalam konteks gempa, tujuan utama penilaian ini adalah untuk menentukan apakah bangunan masih aman untuk dihuni, perlu penanganan segera, atau harus ditutup sementara/dibongkar. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
Metode penilaian dapat mencakup rapid visual screening untuk penilaian cepat, atau metode yang lebih rinci dengan pengukuran defleksi, retakan, dan indikator lain yang relevan. Protokol seperti AeDES (Agibilità e Danno nell’Emergenza Sismica) digunakan di beberapa negara sebagai formulir penilaian kerusakan bangunan setelah gempa, meskipun tidak spesifik di Indonesia, namun prinsipnya memberikan contoh bagaimana penilaian dilakukan secara sistematis. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Tingkat Kerusakan dan Keputusan Tindak Lanjut
Keputusan tindak lanjut berdasarkan tingkat kerusakan bangunan sangat penting untuk keselamatan publik dan efektivitas respons bencana. Berdasarkan hasil penilaian, terdapat beberapa tindakan yang mungkin diambil:
-
Bangunan dengan kerusakan ringan biasanya dapat tetap digunakan dengan rekomendasi perbaikan kosmetik atau non-struktural dalam jangka pendek. ([Lihat sumber Disini - journal.isas.or.id])
-
Bangunan dengan kerusakan sedang mungkin perlu pembatasan fungsi hingga perbaikan selesai untuk memastikan keselamatan penghuni. ([Lihat sumber Disini - journal.isas.or.id])
-
Bangunan dengan kerusakan berat atau total biasanya harus ditutup sementara atau permanen, serta ditindaklanjuti dengan perbaikan struktural besar atau pembongkaran jika tidak layak lagi. Keputusan ini didasarkan pada evaluasi teknis dan pertimbangan keselamatan publik. ([Lihat sumber Disini - journal.isas.or.id])
Keputusan tindak lanjut harus mempertimbangkan nilai ekonomi, kapasitas teknis untuk perbaikan, serta faktor keselamatan yang lebih luas. Pendekatan berbasis bukti dari penilaian kerusakan bangunan membantu pemangku kebijakan dan penanggulangan bencana untuk membuat keputusan yang tepat dalam waktu yang sensitif pasca bencana.
Kesimpulan
Tingkat kerusakan bangunan adalah sebuah konsep penting dalam ilmu bangunan dan rekayasa bencana yang menggambarkan seberapa parah sebuah bangunan terpengaruh oleh kejadian tertentu seperti gempa bumi atau bencana lainnya. Penilaian ini mencakup pengamatan terhadap kerusakan struktural dan non-struktural, yang kemudian diklasifikasikan menjadi beberapa kategori berdasarkan dampaknya terhadap fungsi dan keselamatan bangunan. Proses ini memiliki hubungan langsung dengan kinerja struktur bangunan terhadap beban dinamis seperti gempa, dan hasilnya menjadi dasar bagi keputusan tindak lanjut berupa perbaikan, pembatasan fungsi, atau pemutusan penggunaan bangunan. Penilaian yang valid dan akurat penting untuk keselamatan masyarakat serta perencanaan rekonstruksi yang efektif setelah bencana.