
SPK Pemetaan Kerusakan Jalan
Pendahuluan
Infrastruktur jalan memegang peranan penting dalam mendukung mobilitas manusia dan distribusi barang, serta menunjang perkembangan ekonomi dan sosial suatu wilayah. Namun pada banyak ruas jalan, kerusakan permukaan seperti retak, lubang, dan deformasi menjadi masalah serius yang dapat menurunkan keselamatan, kenyamanan, serta efisiensi transportasi. Oleh karena itu, diperlukan sistem yang dapat mendeteksi, memetakan, dan membantu pengambilan keputusan terkait prioritas perbaikan jalan. Salah satu pendekatan yang kini berkembang adalah menggunakan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) yang dikombinasikan dengan Geographic Information System (GIS) untuk melakukan pemetaan kerusakan jalan secara spasial dan analitis, sehingga penentuan prioritas perbaikan menjadi lebih objektif, efisien, dan transparan.
Artikel ini membahas definisi SPK pemetaan kerusakan jalan, tinjauan teori dan praktik berdasarkan literatur terkini, metode-metode yang sering dipakai, serta manfaat dan tantangan penerapan sistem semacam ini.
Definisi SPK Pemetaan Kerusakan Jalan
Definisi Secara Umum
Sistem Pendukung Keputusan (SPK) merujuk pada sistem informasi interaktif yang mendukung pengambilan keputusan dalam situasi semiterstruktur atau tidak terstruktur dengan menyediakan model analitis, manipulasi data, dan alternatif keputusan. Dalam konteks pemetaan kerusakan jalan, SPK berfungsi sebagai alat bantu untuk menentukan prioritas penanganan jalan berdasarkan sejumlah kriteria: tingkat kerusakan, jenis kerusakan, lokasi geografis, volume lalu-lintas, anggaran, dan faktor lainnya. Dengan demikian, SPK membantu otoritas atau pemangku kebijakan dalam membuat keputusan perbaikan jalan secara rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.
Definisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Istilah “sistem pendukung keputusan” mungkin tidak secara eksplisit tercantum dalam KBBI sebagai frasa tetap, namun terdiri dari kata “sistem”, “pendukung”, dan “keputusan”. “Sistem” berarti kumpulan unsur yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan. “Pendukung” berarti membantu atau menunjang. “Keputusan” berarti penetapan pilihan atau tindakan setelah mempertimbangkan beberapa kemungkinan. Kombinasi ketiganya mengandung arti suatu sistem yang mendukung pelaksanaan keputusan. Dengan tambahan konteks pemetaan jalan dan penggunaan data spasial, SPK pemetaan kerusakan jalan berarti sistem yang mendukung pengambilan keputusan terhadap penanganan infrastruktur jalan berdasarkan data kondisi jalan.
Definisi Menurut Para Ahli
Beberapa kajian akademis memberikan definisi dan kerangka teoretis terkait SPK serta penerapannya dalam pemetaan kerusakan jalan atau infrastruktur transportasi:
- Dalam penelitian “Sistem Pendukung Keputusan Prioritas Perbaikan Jalan di Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar”, menggunakan metode Multi Factor Evaluation Process (MFEP), dijelaskan bahwa SPK adalah “sistem informasi interaktif yang menyediakan alternatif keputusan berdasarkan kriteria-kriteria terukur untuk membantu pengambil keputusan menentukan prioritas perbaikan jalan”. [Lihat sumber Disini - journal.jisti.unipol.ac.id]
- Kajian “Implementasi SIG pada sistem pendukung …” menyatakan bahwa kombinasi SPK dengan GIS memungkinkan pengolahan data spasial dan atribut secara komprehensif, sehingga rekomendasi perbaikan dapat dihasilkan berdasarkan kondisi kerusakan dan distribusi geografis jalan. [Lihat sumber Disini - journaledutech.com]
- Dalam studi tentang pemetaan kerusakan jalan berbasis GIS, definisi pemetaan dijelaskan sebagai proses pengumpulan data kondisi jalan, analisis spasial, dan visualisasi peta kondisi jalan untuk mendukung pengambilan keputusan pemeliharaan. [Lihat sumber Disini - jurnal.poliupg.ac.id]
- Menurut penelitian terbaru “Road Maintenance Management Based on Geographic Information System (GIS)”, meskipun berfokus pada manajemen perawatan, sistem semacam ini diasumsikan sebagai bagian dari SPK ketika outputnya berupa rekomendasi prioritas perbaikan berdasarkan kondisi jalan, kebutuhan perawatan, dan proyeksi biaya. [Lihat sumber Disini - ijaseit.insightsociety.org]
Dengan demikian, SPK Pemetaan Kerusakan Jalan dapat diartikan sebagai sistem yang menggabungkan data kondisi fisik jalan, analisis spasial, dan model pengambilan keputusan untuk menentukan prioritas pemeliharaan atau perbaikan jalan secara sistematis.
Metode dan Pendekatan dalam SPK Pemetaan Kerusakan Jalan
Metode SPK dalam konteks jalan rusak umumnya tidak berdiri sendiri, sering dikombinasikan dengan metode pemetaan dan analisis kondisi jalan menggunakan GIS dan metode penilaian kerusakan seperti berikut:
Pemetaan dan Analisis GIS + Indeks Kondisi Jalan
Banyak penelitian menggunakan pendekatan berbasis GIS untuk memetakan lokasi dan distribusi kerusakan jalan. Misalnya, penelitian di Karang Anyar, Gandus menggunakan GIS + metode Surface Distress Index (SDI) untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan dan memvisualisasikan kondisi jalan. Hasilnya: 23% jalan dalam kondisi baik, 35% kondisi sedang, 24% kondisi rusak ringan, dan 18% kondisi rusak berat. [Lihat sumber Disini - jurnal.um-palembang.ac.id]
Begitu juga penelitian di ruas jalan Srandakan–Poncosari–Pandansimo (Daerah Bantul, DIY) yang menggunakan GIS untuk memetakan dan menganalisis jenis serta tingkat kerusakan jalan. [Lihat sumber Disini - jurnal.ranahresearch.com]
Pada ruas Jalan Raya Kamojang, metode Pavement Condition Index (PCI) digabung dengan standar penilaian jalan nasional (metode Bina Marga) dan GIS, menghasilkan peta spasial distribusi kerusakan serta rekomendasi perbaikan berdasarkan klasifikasi kondisi jalan. [Lihat sumber Disini - jurnal.itg.ac.id]
Metode SPK untuk Prioritas Perbaikan
Di sisi pengambilan keputusan, berbagai metode SPK telah diterapkan untuk menentukan prioritas perbaikan jalan:
- Metode MFEP seperti di Kota Makassar yang menghasilkan peringkat prioritas berdasarkan faktor-faktor seperti tingkat kerusakan, volume lalu-lintas, urgensi, dan kondisi geografis. [Lihat sumber Disini - journal.jisti.unipol.ac.id]
- Metode Simple Additive Weighting (SAW), diterapkan pada sistem prioritas perbaikan jalan di beberapa daerah. SPK dengan metode SAW mampu mengurutkan ruas jalan menurut prioritas berdasarkan bobot kriteria dan skor terhitung. [Lihat sumber Disini - jidt.org]
- Pada penelitian yang memanfaatkan pendekatan crowdsourcing dan SIG berbasis web, data pelaporan kerusakan jalan dari masyarakat diproses dan divisualisasikan, memungkinkan SPK mengambil keputusan berdasarkan laporan real-time sekaligus memetakan titik-titik rawan. [Lihat sumber Disini - journal.eng.unila.ac.id]
Pemanfaatan Teknologi Tambahan (MMS, UAV, 3D):
Beberapa studi modern menggunakan teknologi seperti Mobile Mapping System (MMS) untuk pengumpulan data foto-tagging kerusakan jalan dan GPS, digabung dengan GIS untuk mempercepat dan meningkatkan akurasi pemetaan. Contoh: studi di Kota Mataram tahun 2024 menunjukkan bahwa dengan metode MMS + GIS + indeks SDI, pemetaan kondisi jalan bisa dilakukan secara cepat, akurat, dan menghasilkan klasifikasi kondisi jalan serta rekomendasi perawatan. [Lihat sumber Disini - technicalgeography.org]
Sementara penelitian lain memanfaatkan foto udara dan model 2D/3D dari UAV sebagai basis peta kondisi jalan, lalu mengolah data untuk menentukan prioritas pemeliharaan dan estimasi biaya perawatan di masa depan. [Lihat sumber Disini - ijaseit.insightsociety.org]
Manfaat dan Keunggulan SPK Pemetaan Kerusakan Jalan
Implementasi SPK yang terintegrasi dengan GIS untuk pemetaan kerusakan jalan memberikan sejumlah manfaat nyata bagi pemerintahan daerah, dinas pekerjaan umum, dan masyarakat:
- Memberikan informasi visual spasial yang jelas tentang lokasi dan sebaran kerusakan jalan, memudahkan identifikasi ruas jalan yang membutuhkan prioritas perbaikan.
- Membantu pengambilan keputusan secara objektif dan sistematis berdasarkan data kuantitatif: jenis dan tingkat kerusakan, panjang/luas kerusakan, frekuensi lalu-lintas, serta anggaran.
- Efisiensi waktu dan biaya, dibanding metode manual tradisional survei fisik secara menyeluruh, metode berbasis GIS, MMS, atau crowdsourcing memungkinkan data dikumpulkan lebih cepat dan diolah secara digital.
- Transparansi dan akuntabilitas, pemilihan prioritas perbaikan jalan dapat didokumentasikan dan dilacak, memperkecil subjektivitas atau manipulasi dalam penentuan prioritas.
- Perencanaan jangka panjang, dengan data spasial dan histori kondisi jalan, pemerintah daerah dapat menyusun program pemeliharaan rutin, rehabilitasi, atau rekonstruksi secara terencana.
Tantangan dan Keterbatasan
Meskipun banyak keunggulan, implementasi SPK pemetaan kerusakan jalan juga menghadapi sejumlah tantangan:
- Ketersediaan data dan akurasi: untuk memperoleh peta kondisi jalan yang baik diperlukan data lengkap, foto, koordinat GPS, jenis kerusakan, yang tidak selalu tersedia atau sulit diakses, terutama di daerah terpencil.
- Standarisasi metode: Berbagai penelitian menggunakan metode berbeda (SDI, PCI, MFEP, SAW, dll.), sehingga perbandingan antar studi atau konsistensi hasil bisa sulit dicapai.
- Sumber daya dan kemampuan teknis: penerapan GIS, MMS, UAV, serta pemrosesan data spasial memerlukan perangkat lunak, hardware, dan SDM yang kompeten, yang mungkin belum tersedia di semua daerah.
- Pemeliharaan data dan update: kondisi jalan berubah seiring waktu, sehingga data harus terus diperbarui agar keputusan tetap relevan, tanpa sistem pemantauan berkala, data bisa usang dan bukan representasi kondisi real.
- Partisipasi masyarakat: jika menggunakan crowdsourcing untuk laporan kerusakan, perlu mekanisme validasi agar data valid; tanpa itu, bisa muncul laporan palsu atau data tidak konsisten.
Contoh Studi Kasus
- Di Kecamatan Karang Anyar – Gandus, penelitian “Identifikasi dan Pemetaan Kerusakan Jalan Berbasis SIG” menunjukkan bahwa dari ruas yang diamati, 18% berada dalam kondisi rusak berat, mendorong rekomendasi perbaikan segera. [Lihat sumber Disini - jurnal.um-palembang.ac.id]
- Studi di ruas Srandakan–Poncosari–Pandansimo (Bantul, Yogyakarta) menggunakan GIS untuk memetakan tingkat kerusakan; hasil analisis menunjukkan distribusi jenis kerusakan seperti retak memanjang, retak acak, retak permukaan, pothole, deformasi, serta memberikan data kuantitatif kerusakan. [Lihat sumber Disini - jurnal.ranahresearch.com]
- Pada ruas Jalan Raya Kamojang (Garut), penerapan metode PCI + standar Bina Marga menunjukkan bahwa kondisi jalan cenderung “fair” dan memerlukan overlay, SPK + pemetaan membantu menentukan jenis pemeliharaan yang tepat. [Lihat sumber Disini - jurnal.itg.ac.id]
Kesimpulan
SPK Pemetaan Kerusakan Jalan merupakan pendekatan yang sangat relevan dan efektif dalam konteks manajemen infrastruktur jalan di Indonesia. Dengan menggabungkan SPK (berbagai metode seperti MFEP, SAW) dan analisis spasial menggunakan GIS (ditambah opsi MMS, UAV, crowdsourcing), sistem ini memungkinkan identifikasi, visualisasi, dan prioritisasi perbaikan jalan secara objektif, efisien, dan akuntabel. Meskipun terdapat tantangan seperti kebutuhan data, kemampuan teknis, dan pemeliharaan update data, keunggulan dari segi transparansi, akurasi, serta efisiensi menjadikannya solusi ideal bagi pemerintah daerah atau instansi terkait.
Dengan demikian, penerapan SPK pemetaan kerusakan jalan layak dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi pengelolaan jalan jangka panjang, agar kondisi jalan tetap baik, keselamatan dan kenyamanan pengguna terjamin, serta anggaran perbaikan dapat dioptimalkan secara tepat guna.