
Metode Prototyping dalam Pengembangan Sistem
Pendahuluan
Perkembangan kebutuhan terhadap sistem informasi yang fleksibel, dinamis, serta mudah dikonfigurasi memunculkan beragam pendekatan dalam rekayasa perangkat lunak. Salah satu pendekatan yang populer digunakan adalah metode prototyping. Metode ini memungkinkan pengembang dan pengguna untuk berkolaborasi secara intens sejak tahap awal, sehingga sistem yang dikembangkan lebih sesuai dengan kebutuhan nyata, serta meminimalkan risiko kesalahan akibat ketidaksesuaian spesifikasi. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai konsep, tujuan, jenis, tahapan, kelebihan, kekurangan, serta contoh sistem yang paling cocok menggunakan metode prototyping.
Definisi Metode Prototyping
Definisi secara umum
Prototyping adalah suatu pendekatan dalam pengembangan sistem/perangkat lunak di mana dibuat sebuah versi awal (prototype) dari sistem sebelum produk akhir dikembangkan. Prototype ini bertujuan untuk memberikan gambaran awal mengenai sistem, sehingga pengguna atau pemangku kepentingan bisa mencoba, mengevaluasi, dan memberikan umpan balik untuk penyempurnaan sistem. [Lihat sumber Disini - geeksforgeeks.org]
Definisi dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “prototipe” secara umum berarti “tiruan (model) bentuk asli (tentang suatu alat, mesin, dan sebagainya) sebagai contoh untuk menyerupainya.” Dengan demikian, metode prototyping dalam konteks pengembangan sistem mengacu pada pembuatan model awal dari sistem akhir sebagai acuan.
Definisi menurut para ahli
-
Menurut peneliti A dalam artikel tentang penerapan metode prototype, metode prototyping memungkinkan iterasi cepat dan interaksi aktif dengan pengguna sehingga sistem yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pengguna. [Lihat sumber Disini - journal.istn.ac.id]
-
Dalam penelitian tentang perancangan sistem informasi arsip berbasis web, prototype dijelaskan sebagai representasi sistem yang memungkinkan pengembang dan pengguna berinteraksi dengan model tanpa perlu membuat produk final dulu, memungkinkan identifikasi kebutuhan dan penyempurnaan lebih awal. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Dalam literatur umum rekayasa perangkat lunak, metode prototyping disebut sebagai cara untuk menghadirkan versi awal sistem agar pengguna dapat mengevaluasi desain dan memberi umpan balik sebelum finalisasi sistem. [Lihat sumber Disini - karpagamtech.ac.in]
-
Dalam studi terbaru pada 2025, metode prototyping digunakan dalam pengembangan sistem informasi nyata, dimana prototype dipakai sebagai representasi aplikasi sebelum dikembangkan secara penuh, sebagai bagian dari pendekatan dalam siklus hidup pengembangan sistem. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Tujuan dan Manfaat Prototyping
-
Memberikan gambaran awal sistem kepada pengguna sehingga mereka bisa memahami bagaimana sistem akan bekerja. Hal ini membantu menghindari miskomunikasi antara pengembang dan pengguna. [Lihat sumber Disini - geeksforgeeks.org]
-
Memfasilitasi identifikasi kebutuhan secara lebih jelas dan mendalam karena pengguna bisa langsung melihat dan berinteraksi dengan prototipe. [Lihat sumber Disini - journal.aptii.or.id]
-
Meningkatkan partisipasi pengguna dalam proses pengembangan, sehingga sistem akhir lebih sesuai dengan harapan dan kebutuhan pengguna. [Lihat sumber Disini - ftuncen.com]
-
Mempercepat proses pengembangan dan memungkinkan perbaikan lebih awal, potensi kesalahan atau kekurangan bisa ditemukan di tahap prototipe sebelum implementasi final, sehingga menghemat waktu dan biaya di fase akhir. [Lihat sumber Disini - geeksforgeeks.org]
-
Mengurangi risiko pengembangan sistem yang tidak sesuai kebutuhan, serta mempermudah komunikasi antara pengembang, pengguna, dan stakeholder selama siklus pengembangan. [Lihat sumber Disini - geeksforgeeks.org]
Jenis-Jenis Prototype
Dalam praktik pengembangan sistem, ada beberapa tipe prototype, berdasarkan kedalaman dan tujuan penggunaannya:
-
Throwaway / Rapid Prototype
Jenis ini adalah prototype sementara, dibuat dengan cepat hanya untuk mengeksplorasi kebutuhan dan ide awal sistem. Setelah pengguna memberikan umpan balik, prototype ini dibuang (throw away), dan pengembangan sistem dilakukan dari awal dengan spesifikasi yang telah disempurnakan. Pendekatan ini cocok ketika kebutuhan belum jelas dan banyak perubahan diharapkan. [Lihat sumber Disini - tryqa.com]
-
Evolutionary (Incremental) Prototype
Prototype ini tidak dibuang. Sebaliknya, prototype yang dibuat akan terus dikembangkan dan disempurnakan hingga menjadi sistem akhir. Evolusi ini dilakukan melalui iterasi berdasarkan feedback pengguna sehingga sistem berkembang secara bertahap sampai memenuhi kebutuhan akhir. [Lihat sumber Disini - karpagamtech.ac.in]
Selain dua jenis utama di atas, literatur juga menyebut adanya variasi berdasarkan fidelity prototype, seperti low-fidelity (sketsa, mock-up sederhana), medium-fidelity, dan high-fidelity (menyerupai sistem akhir), tergantung pada kebutuhan, kecepatan, dan sumber daya. [Lihat sumber Disini - mockplus.com]
Tahapan Pembuatan Prototype
Berikut alur umum tahapan dalam metode prototyping berdasarkan berbagai literatur:
-
Pengumpulan dan analisis kebutuhan, mengidentifikasi kebutuhan pengguna dan stakeholder melalui wawancara, observasi, atau studi kasus. [Lihat sumber Disini - repository.bsi.ac.id]
-
Quick design (desain cepat), membuat desain kasar atau blueprint sistem (misalnya UI kasar, alur kerja) sebagai dasar untuk prototipe. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Pembuatan prototype (build prototype), membangun versi awal sistem berdasarkan quick design. Ini bisa berupa mock-up, minimal viable interface, atau prototype fungsional sederhana. [Lihat sumber Disini - geeksforgeeks.org]
-
Evaluasi awal oleh pengguna / stakeholder, pengguna mencoba prototype, memberikan feedback tentang fungsionalitas, kenyamanan, antarmuka, dan kebutuhan tambahan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Refinement / penyempurnaan dan iterasi, berdasarkan feedback pengguna, prototype diperbaiki dan disempurnakan. Proses ini bisa berulang beberapa kali sampai prototype memenuhi kebutuhan yang diinginkan. [Lihat sumber Disini - karpagamtech.ac.in]
-
Pengembangan sistem akhir, setelah prototype disetujui, sistem dikembangkan secara penuh dengan semua modul, dokumentasi lengkap, dan pengujian (testing) sebelum implementasi final. [Lihat sumber Disini - karpagamtech.ac.in]
Kelebihan dan Kekurangan Prototyping
Kelebihan
-
Memungkinkan deteksi kesalahan dan kekurangan sejak awal sehingga menghemat biaya dan waktu perbaikan di tahap akhir. [Lihat sumber Disini - geeksforgeeks.org]
-
Meningkatkan partisipasi dan keterlibatan pengguna, mereka dapat melihat, mencoba, dan memberikan masukan langsung terhadap sistem. [Lihat sumber Disini - ftuncen.com]
-
Membantu memperjelas kebutuhan dan spesifikasi sistem, terutama bila kebutuhan awal belum jelas atau berubah-ubah. [Lihat sumber Disini - tryqa.com]
-
Mendukung pengembangan sistem yang lebih user-centered, karena desain dan fitur dapat disesuaikan berdasarkan umpan balik pengguna. [Lihat sumber Disini - ftuncen.com]
-
Mengurangi risiko pengembangan sistem yang gagal atau tidak sesuai harapan pengguna, sehingga kualitas akhir sistem lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - djournals.com]
Kekurangan
-
Biaya dan waktu awal bisa tinggi karena pembuatan dan iterasi prototipe. [Lihat sumber Disini - geeksforgeeks.org]
-
Risiko pengembangan menjadi berlarut-larut (scope creep) karena banyak perubahan dan revisi berdasarkan feedback terus-menerus. [Lihat sumber Disini - karpagamtech.ac.in]
-
Pengguna atau stakeholder terkadang bisa salah paham, mengira prototype adalah sistem akhir, sehingga bisa menimbulkan ekspektasi yang salah. [Lihat sumber Disini - mfgproto.com]
-
Dokumentasi bisa kurang lengkap atau terabaikan, karena fokus lebih pada model prototype dan iterasi cepat ketimbang proses dokumentasi formal. [Lihat sumber Disini - geeksforgeeks.org]
-
Tidak selalu cocok untuk proyek besar atau kompleks, pada proyek dengan kebutuhan sangat besar dan kompleksitas tinggi, overhead prototyping bisa sulit di-manage. [Lihat sumber Disini - aplustopper.com]
Contoh Sistem yang Cocok Menggunakan Metode Prototyping
Beberapa jenis sistem atau konteks di mana metode prototyping sering diterapkan dan terbukti efektif:
-
Sistem informasi berbasis web seperti sistem penjualan, sistem transaksi, atau sistem manajemen, di mana kebutuhan pengguna bisa berubah-ubah atau tidak sepenuhnya jelas di awal. Contoh: sistem penjualan berbasis web yang dirancang dengan metode prototyping untuk memudahkan interaksi pengguna dan penyesuaian fitur. [Lihat sumber Disini - ftuncen.com]
-
Sistem antrian online (misalnya layanan publik, administrasi), metode prototyping bisa membantu dalam mendesain UI/UX dan alur kerja sehingga sesuai kenyamanan pengguna. [Lihat sumber Disini - journal.umg.ac.id]
-
Sistem informasi arsip berbasis web atau sistem administrasi internal, di mana prototyping membantu pemangku kepentingan memahami alur kerja sistem sebelum implementasi penuh. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Sistem dengan kebutuhan pengguna yang tinggi terhadap interaksi, kemudahan penggunaan, dan fleksibilitas, terutama ketika pengguna non-teknis terlibat dalam desain sistem, sehingga prototyping membantu menjembatani komunikasi. [Lihat sumber Disini - journal.arteii.or.id]
Kesimpulan
Metode prototyping adalah pendekatan yang sangat berguna dalam pengembangan sistem, terutama ketika kebutuhan belum jelas, atau sistem memerlukan fleksibilitas dan keterlibatan pengguna yang tinggi. Dengan membuat prototype sejak awal, pengembang dan pengguna dapat berkolaborasi, mengevaluasi, dan memperbaiki desain secara iteratif, sehingga sistem akhir lebih sesuai kebutuhan dan meminimalkan risiko kesalahan. Meski begitu, penggunaan metode ini perlu diimbangi dengan manajemen yang baik terhadap waktu, biaya, dan ruang lingkup proyek agar tidak terjadi “scope creep” dan kebingungan antara prototype dan produk akhir. Untuk proyek dengan kebutuhan kompleks dan stabil, prototyping tetap perlu dipertimbangkan matang-matang agar sesuai tujuan dan sumber daya.