Terakhir diperbarui: 15 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 15 December). Dampak Konsumsi Makanan Ultra-Processed. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/dampak-konsumsi-makanan-ultraprocessed  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Dampak Konsumsi Makanan Ultra-Processed - SumberAjar.com

Dampak Konsumsi Makanan Ultra-Processed

Pendahuluan

Dalam beberapa dekade terakhir, pola konsumsi masyarakat global telah berubah drastis dari makanan tradisional yang minim proses menuju makanan yang sangat diproses secara industri, yang dikenal dengan istilah ultra-processed foods (UPF). Perubahan ini dipicu oleh urbanisasi, gaya hidup modern, dan strategi pemasaran industri makanan, sehingga UPF kini menjadi bagian signifikan dari asupan harian terutama di kalangan anak muda dan dewasa (lihat studi nasional tentang tren konsumsi)[Lihat sumber Disini - jurnal.fk.uisu.ac.id]. Meskipun makanan ultra-proses menawarkan kemudahan, kenyamanan, dan rasa yang menarik, banyak penelitian menunjukkan bahwa konsumsi berlebih terhadap jenis makanan ini berdampak buruk bagi kesehatan jangka panjang. Artikel ini akan membahas secara komprehensif apa itu makanan ultra-processed, karakteristiknya, faktor yang mendorong konsumsi berlebih, serta dampaknya terhadap kesehatan metabolik dan penyakit kronis, termasuk upaya yang diperlukan untuk menguranginya.


Definisi Makanan Ultra-Processed

Definisi Makanan Ultra-Processed Secara Umum

Makanan ultra-processed merujuk pada produk makanan yang telah mengalami serangkaian proses industri tingkat tinggi dan sering kali mengandung banyak bahan tambahan seperti pemanis buatan, pengawet, pewarna, serta perisa buatan yang tidak lazim dalam masakan rumah tangga. Produk ini umumnya dirancang agar praktis, tahan lama, dan sangat menggugah selera, namun sering kali kehilangan sebagian besar nilai gizi alami bahan asalnya (misalnya buah, sayuran, atau biji-bijian)[Lihat sumber Disini - hellosehat.com].

Definisi Makanan Ultra-Processed dalam KBBI

Istilah ultra-processed food secara spesifik belum memiliki entri tersendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) karena merupakan istilah dari literatur ilmu gizi internasional. Namun, konsep sederhananya dapat disimpulkan sebagai “makanan yang melalui proses pengolahan sangat intensif di industri pangan sehingga jauh berbeda dari bentuk bahan aslinya” berdasarkan penggunaan istilah dalam komunikasi kesehatan masyarakat di Indonesia[Lihat sumber Disini - dinkes.acehbaratdayakab.go.id].

Definisi Makanan Ultra-Processed Menurut Para Ahli

  1. Carlos Augusto Monteiro (peneliti dan profesor epidemiologi nutrisi Universitas São Paulo) menyatakan bahwa ultra-processed foods adalah formulasi industri yang dibuat terutama dari zat yang diekstraksi atau dimodifikasi dari makanan, sering kali ditambah bahan dengan sedikit atau tanpa bahan makanan utuh tambahan yang nyata. Produk akhir dirancang agar sangat palatable (mudah menggugah selera) namun jauh dari bentuk makanan alami[Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org].

  2. Mario J. Gibney et al. menjelaskan bahwa makanan ultra-proses mengandung bahan yang tidak umum digunakan dalam persiapan kuliner sehari-hari, seperti pati termodifikasi dan minyak terhidrogenasi, serta berbagai aditif yang berfungsi meniru kualitas sensori makanan asli atau menutupi karakteristik yang tidak diinginkan dari produk akhir[Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov].

  3. Stanford Medicine menunjukkan bahwa istilah UPF muncul pada 1980-an dan dikembangkan dalam sistem klasifikasi NOVA pada 2009 untuk menggambarkan makanan yang mengalami pemrosesan industri yang tinggi, sehingga mudah dikonsumsi dan sangat dipromosikan dalam kebiasaan makan modern[Lihat sumber Disini - med.stanford.edu].

  4. Jurnal Gizi Masyarakat di Indonesia menyatakan bahwa makanan ultra-processed cenderung rendah nilai gizi dan sering dikaitkan dengan peningkatan risiko berat badan lebih serta obesitas karena konsumsi energi yang tinggi melebihi kebutuhan tubuh[Lihat sumber Disini - scholarhub.ui.ac.id].


Karakteristik Makanan Ultra-Processed

Makanan ultra-processed memiliki sejumlah ciri khas yang membedakannya dari makanan alami atau olahan sederhana:

  1. Komposisi Bahan yang Kompleks dan Industriwi

    UPF seringkali terdiri dari banyak bahan, lima atau lebih komponen, yang sebagian besar merupakan zat yang diekstraksi dari makanan atau sintetik, seperti pati termodifikasi, gula tambahan, lemak terhidrogenasi atau isolat protein. Bahan-bahan ini tidak lazim digunakan dalam masakan rumah tangga dan dibuat melalui serangkaian proses industri untuk menghasilkan rasa, tekstur, dan umur simpan tertentu[Lihat sumber Disini - hellosehat.com].

  2. Tinggi Kalori, Gula, Garam, dan Lemak yang Tidak Sehat

    Secara nutrisi, makanan ultra-processed cenderung tinggi energi (kalori tinggi), gula tambahan, natrium (garam), dan lemak jenuh atau trans, namun rendah serat, vitamin, dan mineral. Profil nutrisi seperti ini meningkatkan kecenderungan konsumsi berlebih karena rasa yang sangat palatable tanpa memberikan rasa kenyang yang tahan lama[Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org].

  3. Rasa yang Hyper-palatable dan Mudah Dikonsumsi

    UPF sering dirancang agar sangat menarik secara sensorik (manis, gurih, renyah) sehingga mudah dimakan dalam jumlah besar, cepat memicu rasa lapar lagi, dan berkontribusi pada asupan energi berlebih secara keseluruhan[Lihat sumber Disini - hellosehat.com].

  4. Kemasan dan Promosi

    Produk UPF biasanya dikemas secara menarik dan mudah didapatkan, dipromosikan secara agresif di media serta supermarket, yang turut mendorong konsumsi berlebihan, terutama di kalangan anak-anak dan remaja yang menjadi target pemasaran utama banyak perusahaan makanan[Lihat sumber Disini - jurnal.unsil.ac.id].


Faktor yang Mendorong Konsumsi Berlebihan

Konsumsi makanan ultra-processed tidak terjadi secara acak, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, lingkungan, dan individu:

  1. Gaya Hidup Modern yang Cepat dan Praktis

    Aktivitas harian yang padat membuat banyak orang memilih makanan siap saji atau makanan cepat saji yang praktis dan cepat disajikan. UPF umumnya memerlukan sedikit atau tanpa persiapan, sehingga menjadi solusi makanan instan bagi konsumen yang sibuk[Lihat sumber Disini - jurnal.fk.uisu.ac.id].

  2. Urbanisasi dan Perubahan Pola Pangan

    Urbanisasi membawa perubahan besar dalam pola konsumsi masyarakat; akses ke makanan segar terkadang lebih sulit dan lebih mahal dibandingkan makanan olahan, sehingga masyarakat urban cenderung menggantungkan diri pada makanan ultra-processed sebagai sumber energi utama sehari-hari[Lihat sumber Disini - jurnal.fk.uisu.ac.id].

  3. Promosi dan Strategi Pemasaran Industri

    Perusahaan makanan besar melakukan pemasaran agresif melalui iklan televisi, media sosial, dan promosi di titik penjualan. Promosi ini sering menargetkan anak-anak dan remaja, yang membuat kelompok usia ini lebih rentan terhadap konsumsi produk ultra-processed secara berlebihan [Lihat sumber Disini - jurnal.unsil.ac.id].

  4. Harga yang Lebih Terjangkau

    Karena dibuat dari bahan industri yang relatif murah dan diproduksi dalam skala besar, makanan ultra-processed seringkali lebih murah dibandingkan makanan utuh atau segar berkualitas. Faktor harga ini menjadi alasan kuat konsumen memilih UPF terutama di keluarga berpenghasilan rendah hingga menengah[Lihat sumber Disini - chubb.com].

  5. Preferensi Rasa dan Kebiasaan Konsumsi

    Rasa yang sangat palatable dan tekstur mudah dikonsumsi membuat konsumen sulit berhenti setelah memulai makan, sehingga frekuensi dan jumlah konsumsi meningkat secara tidak sadar. Kebiasaan ini terbentuk sejak usia dini dan terbawa hingga dewasa [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org].


Dampak terhadap Kesehatan Metabolik

Konsumsi makanan ultra-processed dalam jumlah tinggi memiliki dampak signifikan terhadap sistem metabolik tubuh, terutama terkait risiko obesitas dan gangguan metabolik lainnya:

  1. Obesitas dan Kelebihan Berat Badan

    Penelitian menunjukkan bahwa diet tinggi UPF berkaitan erat dengan obesitas dan peningkatan berat badan yang signifikan. Pola makan UPF cenderung mengarah pada asupan energi yang jauh lebih tinggi daripada pola makan dengan makanan minimal proses, karena makanan ini memiliki densitas energi tinggi namun rendah serat yang memberi rasa kenyang lebih lama[Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org].

  2. Resistensi Insulin dan Risiko Diabetes Tipe 2

    Asupan tinggi gula tambahan dan karbohidrat olahan dalam UPF dapat menyebabkan lonjakan cepat gula darah dan insulin. Seiring waktu, respons insulin yang berulang dan lonjakan gula darah dapat memicu resistensi insulin, yang merupakan faktor utama dalam perkembangan diabetes tipe 2[Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov].

  3. Disfungsi Lipid dan Risiko Dislipidemia

    Profil nutrisi UPF yang tinggi lemak jenuh dan trans serta rendah serat dapat menyebabkan ketidakseimbangan lipid darah, seperti peningkatan LDL (kolesterol jahat) dan penurunan HDL (kolesterol baik), yang berkontribusi pada gangguan metabolik dan penyakit kardiovaskular[Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org].

  4. Inflamasi Sistemik Kronis

    Kandungan aditif dan bahan ekstrak dalam makanan ultra-processed dapat memicu respon inflamasi sistemik yang kronis. Inflamasi ini terkait dengan peningkatan risiko resistensi insulin, sindrom metabolik, dan penyakit terkait metabolik lainnya� [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov].


Hubungan Konsumsi Ultra-Processed dengan Penyakit Kronis

Konsumsi makanan ultra-processed tidak hanya berdampak pada metabolisme, tetapi juga dikaitkan dengan berbagai penyakit kronis yang menjadi beban kesehatan masyarakat:

  1. Penyakit Kardiovaskular

    Bukti epidemiologis menunjukkan kaitan kuat antara konsumsi tinggi UPF dan peningkatan risiko penyakit jantung koroner, hipertensi, dan stroke. Diet tinggi lemak jenuh, gula, dan natrium dari UPF adalah faktor risiko utama penyakit kardiovaskular[Lihat sumber Disini - bmj.com].

  2. Kanker

    Beberapa meta-analisis dan studi kohort menunjukkan bahwa konsumsi UPF yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker kolorektal. Meskipun penelitian masih berkembang, hubungan ini semakin mendapatkan dukungan ilmiah dari berbagai penelitian observasional[Lihat sumber Disini - med.stanford.edu].

  3. Gangguan Metabolik Lainnya

    Konsumsi UPF dikaitkan dengan sindrom metabolik, dislipidemia, dan komplikasi lain seperti penyakit hati berlemak non-alkohol dan gangguan fungsi pankreas, yang semuanya merupakan komponen penting dari penyakit kronis metabolik [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov].

  4. Masalah Mental dan Sistemik Lainnya

    Beberapa tinjauan luas menemukan hubungan antara diet tinggi UPF dan gangguan mental umum seperti depresi serta mortalitas lebih tinggi secara keseluruhan, meskipun masih diperlukan penelitian lebih dalam untuk memahami mekanisme kausalnya [Lihat sumber Disini - bmj.com].


Upaya Pengurangan Konsumsi Makanan Ultra-Processed

Mengurangi konsumsi makanan ultra-processed merupakan langkah penting untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Berbagai strategi dapat dilakukan di tingkat individu dan populasi:

  1. Edukasi Gizi dan Kesadaran Masyarakat

    Program edukasi gizi yang menekankan pentingnya makanan utuh, buah-buahan, sayuran, dan makanan minimal proses dapat membantu masyarakat memahami risiko UPF dan memilih pola makan yang lebih sehat.

  2. Kebijakan Publik dan Regulasi Pangan

    Pemerintah dapat memberlakukan regulasi seperti pelabelan nutrisi yang jelas, pembatasan iklan UPF terutama kepada anak-anak, dan insentif pajak terhadap makanan tinggi gula, garam, dan lemak untuk mengurangi konsumsi. [Lihat sumber Disini - who.int].

  3. Promosi Pola Makan Tradisional dan Lokal

    Mendorong pola makan berbasis bahan pangan lokal dan tradisional berserat tinggi serta rendah tambahan dapat memulihkan keseimbangan nutrisi dan mengurangi ketergantungan pada UPF.

  4. Fasilitasi Akses ke Makanan Sehat

    Memfasilitasi akses ke makanan segar melalui pasar tani, subsidi buah dan sayur, serta program bantuan pangan yang menyediakan makanan sehat dapat mengurangi kebutuhan masyarakat terhadap UPF.


Kesimpulan

Makanan ultra-processed telah menjadi bagian dominan dari pola makan modern di berbagai belahan dunia, terutama di masyarakat urban. Walaupun menawarkan kenyamanan dan daya tarik rasa, makanan ini memiliki profil nutrisi yang kurang ideal dan berkaitan erat dengan berbagai masalah kesehatan metabolik serta penyakit kronis seperti obesitas, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan kanker. Faktor sosial, ekonomi, iklan industri, dan gaya hidup modern mendorong konsumsi berlebihan UPF, memperburuk beban penyakit kronis di masyarakat. Upaya mengurangi konsumsi ini membutuhkan kombinasi edukasi gizi, kebijakan publik, promosi pangan sehat, dan akses yang lebih baik ke makanan bergizi. Mengadopsi pola makan yang lebih berbasis makanan minim proses adalah langkah krusial untuk meningkatkan kesehatan jangka panjang individu dan komunitas.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Makanan ultra-processed adalah produk pangan yang dibuat melalui proses industri tingkat tinggi dengan penambahan berbagai bahan seperti pemanis, pengawet, pewarna, perisa buatan, dan zat aditif lain yang jarang digunakan dalam masakan rumah tangga.

Contoh makanan ultra-processed meliputi minuman manis kemasan, makanan cepat saji, sosis dan nugget instan, biskuit kemasan, mie instan, snack ringan, serta produk makanan siap saji yang mengandung banyak bahan tambahan.

Konsumsi makanan ultra-processed perlu dibatasi karena umumnya tinggi gula, garam, dan lemak tidak sehat, tetapi rendah serat dan zat gizi penting. Pola konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan gangguan metabolik lainnya.

Makanan ultra-processed dapat memicu peningkatan berat badan, resistensi insulin, dislipidemia, dan inflamasi kronis yang berperan dalam perkembangan sindrom metabolik dan penyakit tidak menular.

Pengurangan konsumsi makanan ultra-processed dapat dilakukan dengan meningkatkan konsumsi makanan segar dan minim proses, membaca label pangan, memasak sendiri di rumah, serta membiasakan pola makan berbasis bahan pangan lokal dan alami.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pengaruh Meal Prep terhadap Pola Makan Pengaruh Meal Prep terhadap Pola Makan Pengaruh Konsumsi Junk Food terhadap IMT Pengaruh Konsumsi Junk Food terhadap IMT Perilaku Konsumsi Gula Tinggi Perilaku Konsumsi Gula Tinggi Pola Makan Anak Picky Eater Pola Makan Anak Picky Eater Pengaruh Makanan Pedas terhadap Kesehatan Lambung Pengaruh Makanan Pedas terhadap Kesehatan Lambung Perilaku Konsumsi Makanan Fermentasi Perilaku Konsumsi Makanan Fermentasi Pola Konsumsi Fast Food Pola Konsumsi Fast Food Pola Konsumsi Buah pada Anak Sekolah Pola Konsumsi Buah pada Anak Sekolah Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Frekuensi Makan Cepat Saji Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Frekuensi Makan Cepat Saji Konsumsi Gula: Konsep, Risiko Metabolik, dan Pengendalian Konsumsi Gula: Konsep, Risiko Metabolik, dan Pengendalian Pengaruh Gaya Hidup Modern terhadap Pola Makan Pengaruh Gaya Hidup Modern terhadap Pola Makan Konsumsi Simbolik: Konsep dan Identitas Sosial Konsumsi Simbolik: Konsep dan Identitas Sosial Pengetahuan Ibu tentang Zat Aditif dalam Makanan Pengetahuan Ibu tentang Zat Aditif dalam Makanan Faktor yang Mempengaruhi Pilihan Makanan Sehat Faktor yang Mempengaruhi Pilihan Makanan Sehat Pola Konsumsi Gula Tersembunyi pada Remaja Pola Konsumsi Gula Tersembunyi pada Remaja Konsumsi Sayur Harian pada Masyarakat Urban Konsumsi Sayur Harian pada Masyarakat Urban Perilaku Konsumsi Serat pada Remaja Perilaku Konsumsi Serat pada Remaja Pengetahuan Pasien tentang Interaksi Obat–Makanan Pengetahuan Pasien tentang Interaksi Obat–Makanan Pola Diet dan Kesehatan Jangka Panjang Pola Diet dan Kesehatan Jangka Panjang Konsumsi Fast Food: Konsep, Faktor Perilaku, dan Dampak Kesehatan Konsumsi Fast Food: Konsep, Faktor Perilaku, dan Dampak Kesehatan
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…