Terakhir diperbarui: 13 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 13 December). Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Frekuensi Makan Cepat Saji. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/hubungan-pengetahuan-gizi-dengan-frekuensi-makan-cepat-saji  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Frekuensi Makan Cepat Saji - SumberAjar.com

Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Frekuensi Makan Cepat Saji

Pendahuluan

Makanan cepat saji atau fast food telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Kepraktisan, cita rasa, serta keterjangkauan harga menjadikan makanan cepat saji pilihan utama banyak orang yang memiliki jadwal padat atau mobilitas tinggi. Namun, di balik kemudahan itu, muncul kekhawatiran terhadap dampaknya pada kesehatan, khususnya status gizi dan kebiasaan makan secara keseluruhan. Berbagai penelitian menunjukkan pola konsumsi makanan cepat saji yang tinggi seringkali dikaitkan dengan kenaikan prevalensi gizi lebih dan obesitas, yang menjadi masalah kesehatan masyarakat global. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: sejauh mana pengetahuan gizi seseorang memengaruhi frekuensi mereka mengonsumsi makanan cepat saji dan pilihan makan sehari-hari? Artikel ini akan membahas secara komprehensif hubungan antara pengetahuan gizi dan frekuensi makan cepat saji, implikasinya terhadap pilihan makanan dan status gizi, serta faktor lingkungan yang turut berperan.


Definisi Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Frekuensi Makan Cepat Saji

Definisi Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Frekuensi Makan Cepat Saji Secara Umum

Hubungan pengetahuan gizi dengan frekuensi makan cepat saji secara umum merujuk pada bagaimana tingkat pemahaman seseorang tentang informasi nutrisi, kualitas makanan, serta dampak kesehatan dari pilihan makanan dapat memengaruhi seberapa sering mereka mengonsumsi makanan cepat saji. Pengetahuan gizi memainkan peranan penting dalam membantu individu menentukan apa yang sehat dan apa yang kurang sehat dalam pola makan mereka, sehingga diharapkan dapat mengarahkan kebiasaan makan yang lebih baik dan seimbang. Ketika seseorang memahami nilai gizi makanan dan efek jangka panjangnya terhadap kesehatan, orang tersebut cenderung membuat pilihan makanan yang lebih bijak, termasuk membatasi konsumsi makanan cepat saji yang tinggi kalori, lemak, dan garam serta rendah serat dan mikronutrien penting. [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]

Definisi Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Frekuensi Makan Cepat Saji dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengetahuan adalah “hasil dari kegiatan mengenal sesuatu melalui pikiran, pengalaman, dan pancaindra”, sedangkan gizi didefinisikan sebagai “zat atau nutrien yang diperlukan tubuh untuk pertumbuhan, pemeliharaan, dan perbaikan jaringan tubuh”. Frekuensi berarti “jumlah kali atau seringnya suatu peristiwa terjadi dalam periode tertentu”. Sedangkan makanan cepat saji didefinisikan sebagai makanan yang disiapkan dan disajikan dalam waktu singkat, biasanya melalui proses yang lebih sedikit dan cenderung memiliki kandungan nutrisi yang rendah namun tinggi energi. Dengan demikian, hubungan antara pengetahuan gizi dan frekuensi makan cepat saji dapat diartikan sebagai keterkaitan antara tingkat pemahaman nutrisi seseorang dengan seberapa sering ia mengonsumsi makanan yang disiapkan secara cepat tersebut.

Definisi Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Frekuensi Makan Cepat Saji Menurut Para Ahli

  1. Brown et al. mendefinisikan pengetahuan gizi sebagai kemampuan untuk memahami komponen nutrisi suatu makanan, cara tubuh memprosesnya, serta implikasi dari pola makan terhadap kesehatan jangka panjang. Hal ini mencakup pemahaman tentang kebutuhan energi, makronutrien dan mikronutrien yang sesuai untuk fungsi fisiologis tubuh.

  2. Wardle et al. mengemukakan bahwa pengetahuan gizi berperan sebagai salah satu determinan penting dalam perilaku makan individu, dimana orang yang memiliki pengetahuan nutrisi yang lebih tinggi cenderung membuat pilihan makanan yang lebih sehat dan mengurangi konsumsi makanan olahan yang kurang bergizi.

  3. Contento (2016) menyatakan bahwa pengetahuan gizi merupakan komponen penting dalam pendidikan kesehatan karena dapat meningkatkan kesadaran individu terhadap konsekuensi kesehatan dari pilihan makanan yang buruk, termasuk makanan cepat saji.

  4. Gibney et al. dalam kajian nutrisi populasi menyebutkan bahwa meskipun pengetahuan gizi bukan satu-satunya faktor yang menentukan perilaku makan seseorang, ia merupakan dasar yang memungkinkan individu mengevaluasi informasi makanan dan membuat keputusan yang lebih sehat.


Tingkat Pengetahuan Gizi pada Kelompok Usia Produktif

Tingkat pengetahuan gizi di kalangan usia produktif sangat beragam dan dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal, akses informasi, lingkungan sosial, serta pengalaman pribadi dalam memilih makanan. Kelompok usia produktif, yang biasanya mencakup rentang usia awal 20 hingga sekitar 40-an tahun, sering kali menjadi bagian aktif dari tenaga kerja dan mobilitas tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat pengetahuan gizi yang memadai dalam kelompok ini sangat penting untuk mengatur pola makan sehat di tengah derasnya gaya hidup modern.

Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar remaja maupun dewasa muda masih memiliki pengetahuan gizi yang bervariasi. Sebuah studi di SMA AL-Hikmah mengidentifikasi bahwa pengetahuan gizi remaja mencakup pemahaman mengenai makanan dan komponen zat gizi, sumber nutrien serta makanan yang aman dikonsumsi, namun masih banyak yang belum memiliki pemahaman mendalam terkait dampak konsumsi makanan cepat saji terhadap kesehatan. [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]

Pengetahuan yang lebih tinggi tentang gizi sering dikaitkan dengan keputusan makan yang lebih sehat karena individu mampu membedakan antara makanan yang bergizi dan yang kurang bergizi. Namun demikian, ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa meskipun seseorang memiliki pengetahuan gizi yang baik, hal itu tidak selalu diterjemahkan menjadi perilaku makan sehat. Sebagai contoh, penelitian di Surabaya menemukan bahwa di antara anak sekolah yang memiliki pengetahuan gizi yang baik, tidak selalu diterjemahkan menjadi konsumsi makanan cepat saji yang lebih rendah, menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak selalu cukup untuk mengubah perilaku makan secara signifikan. [Lihat sumber Disini - journalmpci.com]

Faktor lain yang memengaruhi tingkat pengetahuan gizi pada kelompok usia produktif termasuk sistem pendidikan gizi di sekolah dan universitas, kampanye kesehatan masyarakat, serta ketersediaan informasi melalui media massa dan internet. Campur tangan edukasi gizi yang terstruktur di tempat kerja dan komunitas juga dapat membantu meningkatkan pemahaman gizi secara keseluruhan di kelompok usia ini.


Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji

Frekuensi konsumsi makanan cepat saji merujuk pada seberapa sering seseorang mengonsumsi jenis makanan yang dikenal sebagai fast food dalam periode tertentu, misalnya per minggu atau per bulan. Konsumsi makanan cepat saji tinggi telah menjadi tren global, termasuk di Indonesia, sejalan dengan urbanisasi dan perubahan pola makan tradisional menuju pola makan yang lebih praktis dan cepat. Hasil penelitian di Surakarta menyatakan bahwa rata-rata responden mengonsumsi fast food sekitar 7 kali dalam sebulan, dimana responden yang sering mengonsumsi fast food memiliki angka prevalensi status gizi lebih serta obesitas yang lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - jurnal.untirta.ac.id]

Frekuensi konsumsi ini penting diperhatikan karena seringnya mengonsumsi makanan cepat saji yang tinggi energi tetapi rendah nutrisi berpotensi meningkatkan asupan kalori secara berlebihan dan berkontribusi terhadap gangguan status gizi seperti obesitas dan gizi lebih. Pola konsumsi ini juga sering dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti ketersediaan restoran cepat saji, promosi makanan di media, serta hunian di lokasi perkotaan yang biasanya memiliki akses mudah terhadap makanan cepat saji.

Selain itu, penelitian lain di kelompok mahasiswa gizi menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar responden memiliki frekuensi konsumsi yang dikategorikan jarang, preferensi terhadap rasa merupakan faktor utama dalam pemilihan makanan cepat saji dibandingkan pengetahuan mengenai keseimbangan nutrisi. [Lihat sumber Disini - ijhn.ub.ac.id]


Pengaruh Pengetahuan terhadap Pilihan Makanan

Pengetahuan gizi memiliki pengaruh penting terhadap pilihan makanan yang dibuat oleh individu. Semakin tinggi pemahaman seseorang tentang nilai gizi makanan dan dampak kesehatan dari pilihan makanannya, semakin besar kemungkinan individu tersebut membuat pilihan makanan yang lebih sehat dan seimbang.

Berbagai studi menyatakan bahwa pengetahuan gizi dapat membantu individu menyaring informasi makanan dengan lebih kritis, memperhatikan label nutrisi, serta memahami pentingnya variasi makanan yang kaya zat gizi makro dan mikro untuk pemeliharaan kesehatan optimal. Individu yang memahami hubungan antara konsumsi fast food yang tinggi dengan risiko penyakit metabolik seperti obesitas, hipertensi, dan diabetes tipe 2 cenderung membatasi konsumsi makanan cepat saji.

Namun demikian, tidak semua penelitian menemukan hubungan langsung antara pengetahuan gizi dengan perubahan perilaku makan yang signifikan. Studi di Riau menunjukkan bahwa meskipun sebagian responden memiliki pengetahuan gizi yang baik, tidak secara signifikan memengaruhi frekuensi konsumsi fast food. Hal ini menunjukkan bahwa selain pengetahuan, faktor lain seperti lingkungan sosial, preferensi rasa, serta kebiasaan lama juga turut menentukan pilihan makanan seseorang. [Lihat sumber Disini - jurnal.unsil.ac.id]

Intervensi edukasi gizi yang sistematis melalui kurikulum sekolah atau kampanye kesehatan masyarakat dapat mendorong perubahan perilaku makan dengan lebih efektif apabila diiringi dengan strategi lingkungan yang mendukung pilihan makanan sehat. Pendekatan ini mencakup penyediaan pilihan makanan sehat di kantin sekolah atau kantor, pemberian informasi labeling yang jelas, serta program dukungan bagi individu untuk memilih makanan bergizi rendah energi.


Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Konsumsi Fast Food

Selain pengetahuan gizi, berbagai faktor lingkungan turut berperan dalam frekuensi dan pola konsumsi makanan cepat saji. Faktor-faktor ini dapat berupa kondisi sosial, ekonomi, budaya, serta kondisi fisik lingkungan tempat tinggal dan bekerja.

Salah satu faktor lingkungan utama adalah mudahnya akses terhadap restoran cepat saji dan outlet makanan siap saji lainnya. Di daerah perkotaan, penetrasi restoran cepat saji cenderung lebih tinggi, sehingga individu lebih sering terpapar pilihan makanan yang kurang sehat. Promosi makanan yang agresif melalui iklan televisi, media sosial, dan aplikasi pesan antar juga mendorong frekuensi konsumsi makanan tersebut di kalangan masyarakat, terutama remaja yang merupakan pengguna media sosial aktif.

Faktor lain yang memengaruhi konsumsi makanan cepat saji adalah tingkat pendapatan atau uang saku, terutama di kalangan mahasiswa dan remaja. Penelitian menunjukkan bahwa uang saku yang lebih besar seringkali terkait dengan kecenderungan membeli makanan cepat saji yang lebih sering karena dianggap sebagai pilihan yang lebih praktis, walaupun tidak selalu memberikan nilai gizi yang baik. [Lihat sumber Disini - jurnal.fkm.untad.ac.id]

Budaya makan juga memainkan peran penting. Dalam kebanyakan masyarakat urban, makanan cepat saji seringkali diidentikkan dengan gaya hidup modern dan status sosial tertentu. Pengaruh teman sejawat dan lingkungan sosial lain juga dapat mendorong seseorang untuk mengikuti tren konsumsi makanan cepat saji walaupun ia menyadari dampak buruknya terhadap kesehatan.


Dampak Fast Food terhadap Status Gizi

Konsumsi makanan cepat saji secara berlebihan dapat berdampak negatif terhadap status gizi. Makanan cepat saji biasanya tinggi kalori, lemak jenuh, gula dan garam, tetapi rendah serat, vitamin dan mineral. Pola makan yang demikian berkontribusi terhadap asupan energi yang berlebihan tanpa dukungan nutrisi yang seimbang, sehingga meningkatkan risiko overnutrition seperti gizi lebih dan obesitas. Penelitian di Surakarta menunjukkan bahwa responden yang sering mengonsumsi makanan cepat saji memiliki prevalensi status gizi lebih dan obesitas yang cukup tinggi dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya. [Lihat sumber Disini - jurnal.untirta.ac.id]

Selain itu, konsumsi fast food yang tinggi telah diasosiasikan dengan berbagai masalah kesehatan lainnya, seperti peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan lipid darah, serta tekanan darah tinggi. Konsumsi jangka panjang dari makanan tinggi energi dan rendah nutrisi juga dapat memperburuk kualitas diet secara keseluruhan serta menimbulkan gangguan metabolik yang signifikan pada kelompok usia produktif.


Kesimpulan

Hubungan antara pengetahuan gizi dan frekuensi konsumsi makanan cepat saji merupakan persoalan multifaktorial yang melibatkan pengetahuan individu, preferensi pribadi, serta kondisi lingkungan sosial dan ekonomi. Meskipun pengetahuan gizi yang lebih tinggi secara teori dapat mendorong individu untuk membuat pilihan makanan yang lebih sehat dan mengurangi frekuensi makan cepat saji, berbagai bukti penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak selalu cukup mengubah perilaku makan secara signifikan. Faktor-faktor lain seperti akses terhadap makanan cepat saji, promosi makanan, lingkungan sosial, serta gaya hidup modern turut memengaruhi frekuensi konsumsi. Oleh karena itu, strategi untuk menurunkan konsumsi makanan cepat saji di masyarakat perlu melibatkan pendekatan yang komprehensif, termasuk edukasi gizi yang efektif, perubahan lingkungan yang mendukung pilihan makanan sehat, serta kebijakan kesehatan masyarakat yang menyeluruh untuk menciptakan pola makan yang lebih baik di kalangan usia produktif dan masyarakat umum.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Pengetahuan gizi adalah pemahaman individu mengenai zat gizi, fungsi nutrisi bagi tubuh, kebutuhan gizi seimbang, serta dampak pola makan terhadap kesehatan dan status gizi.

Makanan cepat saji adalah jenis makanan yang disiapkan dan disajikan dalam waktu singkat, umumnya tinggi energi, lemak, gula, dan garam, namun rendah serat serta mikronutrien.

Pengetahuan gizi dapat memengaruhi frekuensi makan cepat saji, karena individu yang memahami dampak kesehatan fast food cenderung lebih selektif. Namun, faktor lingkungan dan kebiasaan juga berperan besar.

Kelompok usia produktif sering mengonsumsi fast food karena keterbatasan waktu, mobilitas tinggi, kemudahan akses, pengaruh lingkungan kerja, serta gaya hidup modern yang menuntut kepraktisan.

Konsumsi makanan cepat saji yang berlebihan dapat meningkatkan risiko gizi lebih, obesitas, serta gangguan metabolik karena tingginya kalori dan rendahnya kandungan zat gizi esensial.

Edukasi gizi dapat membantu mengurangi konsumsi fast food jika disertai dengan dukungan lingkungan yang sehat, ketersediaan makanan bergizi, serta perubahan kebiasaan makan secara berkelanjutan.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pola Makan Tidak Teratur: Konsep, Dampak Metabolik, dan Kesehatan Pola Makan Tidak Teratur: Konsep, Dampak Metabolik, dan Kesehatan Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Pola Makan Tidak Teratur dan Masalah Pencernaan Pola Makan Tidak Teratur dan Masalah Pencernaan Perilaku Makan Tidak Teratur pada Mahasiswa Perilaku Makan Tidak Teratur pada Mahasiswa Pola Makan Tidak Teratur: Faktor dan Dampaknya Pola Makan Tidak Teratur: Faktor dan Dampaknya Frekuensi Data: Pengertian, Jenis, dan Contoh dalam Statistik Frekuensi Data: Pengertian, Jenis, dan Contoh dalam Statistik Pengetahuan Remaja tentang Makan Malam Sehat Pengetahuan Remaja tentang Makan Malam Sehat Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Pola Makan Keluarga dan Risiko Obesitas Anak Pola Makan Keluarga dan Risiko Obesitas Anak Frekuensi Relatif dan Kumulatif: Definisi dan Fungsi Frekuensi Relatif dan Kumulatif: Definisi dan Fungsi Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan Hubungan Stress dan Pola Makan Hubungan Stress dan Pola Makan Frekuensi Relatif: Definisi, Fungsi, dan Contoh dalam Statistik Frekuensi Relatif: Definisi, Fungsi, dan Contoh dalam Statistik Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita Evaluasi Pola Makan Harian berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang Evaluasi Pola Makan Harian berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang Pengaruh Pola Tidur terhadap Nafsu Makan Pengaruh Pola Tidur terhadap Nafsu Makan Hubungan Pola Makan dengan IMT Hubungan Pola Makan dengan IMT Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan Pola Asuh dan Stunting Pola Asuh dan Stunting
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…