
Pola Makan Anak Picky Eater
Pendahuluan
Anak-anak yang mengalami picky eating sering menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orang tua dan tenaga kesehatan karena perilaku ini dapat mempengaruhi pola makan harian serta kecukupan nutrisi yang diterima anak. Anak picky eater seringkali menolak banyak jenis makanan, enggan mencoba makanan baru, atau hanya bersedia makan beberapa jenis makanan tertentu saja, sehingga variasi dan kualitas asupan gizinya menjadi terbatas. Fenomena ini tidak hanya menimbulkan tantangan di meja makan, tetapi juga berpotensi berdampak pada pertumbuhan, perkembangan, dan status gizi anak bila tidak ditangani dengan tepat. Berbagai penelitian telah mengemukakan bahwa perilaku pilih-pilih makanan ini dipengaruhi oleh banyak faktor dan memerlukan pendekatan strategis dari orang tua serta edukasi gizi yang sesuai. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Definisi Pola Makan Anak Picky Eater
Definisi Pola Makan Anak Picky Eater Secara Umum
Picky eating atau perilaku pilih-pilih makanan pada anak secara umum diartikan sebagai kondisi di mana anak secara konsisten menolak untuk mengonsumsi variasi makanan tertentu, memiliki preferensi yang kuat terhadap jenis makanan tertentu, dan seringkali enggan mencoba makanan baru yang belum dikenalnya. Perilaku ini umumnya ditandai dengan konsumsi yang terbatas pada beberapa jenis makanan saja, baik yang familiar maupun yang tidak familiar, sehingga variasi makanan yang dikonsumsi menjadi sangat rendah. [Lihat sumber Disini - physio-pedia.com]
Definisi Pola Makan Anak Picky Eater dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “pilih-pilih makanan” menggambarkan perilaku seseorang, termasuk anak, yang bersikap selektif terhadap makanan, sering menolak beberapa jenis makanan dan hanya mau makan jenis tertentu saja, yang mengakibatkan asupan makanan menjadi kurang bervariasi dan tidak seimbang. [Lihat sumber Disini - idai.or.id]
Definisi Pola Makan Anak Picky Eater Menurut Para Ahli
-
Taylor et al. (2018) menyatakan bahwa picky eating adalah perilaku makan yang umum terjadi pada masa awal kehidupan anak di mana anak menolak makan makanan baru dan familiar serta memiliki preferensi makanan yang kuat sehingga berdampak pada variasi asupan makanan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Dovey dkk. (Physio-Pedia) mendefinisikan picky eating sebagai perilaku mengonsumsi variasi makanan yang tidak memadai karena penolakan terhadap sejumlah besar makanan, baik familiar maupun tidak familiar, sering disertai food neophobia atau ketakutan terhadap makanan baru. [Lihat sumber Disini - physio-pedia.com]
-
Romdiyani (2024) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa perilaku picky eating ditandai oleh penolakan atau preferensi berlebihan terhadap jenis makanan tertentu yang umum terjadi pada anak usia prasekolah. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
-
Azzahrah dkk. (2023) menjelaskan bahwa picky eating adalah perilaku anak yang mengonsumsi makanan dengan variasi yang tidak cukup dan menolak sejumlah makanan tertentu, baik makanan baru maupun yang sudah dikenal. [Lihat sumber Disini - jurnal.fkm.umi.ac.id]
Karakteristik Perilaku Picky Eater
Perilaku picky eater pada anak dapat dikenali dari beberapa karakteristik yang sering diamati dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang mengalami picky eating biasanya menunjukkan preferensi kuat pada makanan tertentu dan menolak makanan lainnya walaupun makanan tersebut bergizi dan penting untuk pertumbuhan. Karakteristik utama ini mempengaruhi kualitas dan variasi asupan makanan mereka secara signifikan. [Lihat sumber Disini - physio-pedia.com]
Salah satu karakteristik yang paling dominan adalah penolakan terhadap makanan baru (food neophobia). Anak dengan picky eating cenderung takut mencoba makanan yang tidak dikenal, walaupun makanan tersebut seharusnya aman dan bernutrisi. Kondisi ini sering membuat variasi makanan yang dikonsumsi sangat terbatas dan anak hanya mau makan makanan yang familiar setiap hari. [Lihat sumber Disini - physio-pedia.com]
Selain itu, anak picky eater sering menunjukkan preferensi kuat terhadap rasa, tekstur, atau tampilan makanan yang familiar bagi mereka. Misalnya, anak hanya mau makan makanan manis, makanan yang bertekstur halus, atau makanan yang bentuknya mudah dikenali. Ketidaksukaan terhadap tekstur tertentu seperti sayuran berserat juga sangat umum pada anak picky eater. [Lihat sumber Disini - idai.or.id]
Karakteristik lain yang juga sering dijumpai adalah konsumsi makanan yang sangat terfokus pada kelompok makanan tertentu saja, misalnya anak hanya mau makan nasi putih dan ayam goreng, namun menolak sayuran atau buah-buahan yang dapat melengkapi keseimbangan gizi. Hal ini tentu berpotensi menurunkan asupan zat gizi penting seperti serat, vitamin, dan mineral. [Lihat sumber Disini - physio-pedia.com]
Perilaku picky eating umumnya muncul sejak usia dini, terutama pada masa prasekolah, dan bisa menjadi fase perkembangan yang normal. Namun, apabila perilaku ini menetap hingga usia yang lebih tua atau terjadi secara ekstrem sehingga membatasi makanan secara drastis, hal ini dapat berdampak negatif pada kesehatan dan status gizi anak. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Faktor Psikologis dan Lingkungan
Perilaku picky eating tidak muncul secara tiba-tiba tanpa latar belakang faktor penyebab. Berbagai faktor psikologis dan lingkungan diketahui berkonstribusi terhadap perkembangan perilaku ini pada anak. Factor-factor ini saling berinteraksi dan mempengaruhi pola makan anak secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Salah satu faktor psikologis yang penting adalah preferensi rasa dan pengalaman sensorik anak terhadap makanan tertentu. Banyak anak yang lebih sensitif terhadap rasa pahit atau tekstur tertentu, sehingga mereka menolak makanan yang tidak sesuai dengan preferensi sensoriknya. Faktor sensori ini sangat berpengaruh karena pengalaman makan yang tidak nyaman atau tekanan untuk makan makanan tertentu dapat memperkuat perilaku pilih-pilih makanan. [Lihat sumber Disini - physio-pedia.com]
Selain itu, pengalaman sebelumnya terhadap makanan juga memengaruhi perilaku makan anak. Anak yang memiliki pengalaman negatif seperti tersedak, muntah, atau merasa tidak nyaman saat makan makanan tertentu dapat menghubungkan pengalaman tersebut dengan makanan itu sendiri, sehingga mereka cenderung menghindarinya di masa depan. [Lihat sumber Disini - physio-pedia.com]
Faktor lingkungan keluarga juga memainkan peranan besar. Pola asuh orang tua dan perilaku makan di rumah dapat memengaruhi kebiasaan makan anak. Penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang kurang mendukung, seperti terlalu memaksa anak makan atau kurang memberikan variasi makanan di rumah, dapat memperburuk perilaku picky eating. Sebaliknya, pola asuh yang positif, melibatkan anak dalam pemilihan dan penyajian makanan, serta memberi contoh makan sehat, dapat membantu meningkatkan keterbukaan anak terhadap makanan baru. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Ekspose makanan yang terbatas juga dapat menjadi faktor lingkungan yang signifikan. Anak yang tidak sering diperkenalkan pada berbagai jenis makanan sejak usia dini cenderung memiliki rentang makanan yang lebih sempit dan sulit menerima makanan baru. Paparan yang konsisten terhadap berbagai rasa dan tekstur dapat membantu anak mengembangkan preferensi yang lebih luas. [Lihat sumber Disini - idai.or.id]
Dampak Picky Eating terhadap Status Gizi
Perilaku picky eating memiliki dampak yang cukup beragam terhadap status gizi anak. Beberapa penelitian di Indonesia dan internasional telah menunjukkan bahwa anak yang mengalami picky eating cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekurangan zat gizi tertentu karena variasi makanan yang sangat terbatas. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
Dalam beberapa penelitian observasional, anak picky eater sering kali memiliki kecukupan protein, serat, serta vitamin dan mineral yang lebih rendah dibandingkan anak yang tidak picky eater, sehingga berpotensi mengakibatkan kondisi gizi kurang bila tidak diintervensi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
Beberapa studi di Indonesia menemukan hubungan signifikan antara perilaku picky eating dengan status gizi kurang atau gangguan pertumbuhan seperti gizi kurang dan stunting pada anak prasekolah. Temuan ini menunjukkan bahwa anak picky eater yang tidak mendapatkan variasi makanan yang mencukupi cenderung menunjukkan nilai gizi yang lebih rendah dan bahkan memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan anak dengan pola makan yang lebih bervariasi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Namun, tidak semua penelitian menunjukkan hasil yang sama. Beberapa penelitian juga menemukan bahwa hubungan antara picky eating dan status gizi tidak selalu kuat, tergantung pada konteks populasi dan metodologi yang digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun perilaku pilih-pilih makanan bisa menjadi risiko, dampaknya dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti asupan total makanan, dukungan keluarga, dan intervensi gizi yang tepat. [Lihat sumber Disini - jurnal2.umku.ac.id]
Dampak pada status gizi juga dapat terjadi secara tidak langsung melalui asupan nutrisi yang tidak seimbang, misalnya rendahnya asupan serat, vitamin, dan mineral dari sayuran dan buah-buahan, yang dapat mempengaruhi perkembangan sistem imun dan kesehatan secara umum jika berlangsung lama. [Lihat sumber Disini - jurnal.htp.ac.id]
Strategi Orang Tua dalam Mengatasi Picky Eating
Mengatasi picky eating memerlukan pendekatan yang sabar, konsisten, dan berbasis pemahaman terhadap perilaku makan anak. Ada beberapa strategi yang dapat diterapkan oleh orang tua untuk membantu anak meningkatkan variasi makanan dan mengurangi penolakan terhadap makanan baru. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Salah satu strategi utama adalah memperkenalkan makanan baru secara bertahap dan konsisten. Pendekatan ini melibatkan memberi kesempatan pada anak untuk melihat, mencium, dan menyentuh makanan baru beberapa kali sebelum diminta untuk mencobanya. Paparan berulang ini dapat membantu anak menjadi lebih nyaman dengan makanan baru dan menurunkan resistensi terhadapnya. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Orang tua juga dapat mengatur lingkungan makan yang positif tanpa tekanan, di mana waktu makan menjadi pengalaman yang menyenangkan dan tidak dipenuhi permintaan atau paksaan. Tekanan untuk makan atau komentar negatif seperti “kamu harus habiskan ini” cenderung memperburuk picky eating, sementara suasana yang tenang dan menyenangkan dapat membantu anak merasa lebih aman dan terbuka terhadap makanan baru. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Melibatkan anak dalam pemilihan dan penyajian makanan juga merupakan strategi yang efektif. Anak yang ikut serta memilih menu, mencuci sayuran, atau menghias piringnya sendiri cenderung lebih tertarik untuk mencoba makanan yang mereka bantu siapkan. Pendekatan partisipatif ini tidak hanya meningkatkan minat makan tetapi juga memperkuat pengalaman positif terhadap makanan. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Strategi lainnya termasuk memberikan pilihan makanan sehat yang menarik serta menyajikan makanan baru bersama dengan makanan yang familiar, sehingga anak merasa memiliki kendali dalam memilih dan tidak merasa dipaksa. Pendekatan kreatif seperti memvariasikan bentuk penyajian atau menggabungkan makanan favorit anak dengan sayuran juga dapat membantu meningkatkan asupan gizi secara bertahap. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Peran Edukasi Gizi untuk Mengubah Preferensi Makan
Edukasi gizi adalah komponen penting dalam membantu anak mengembangkan preferensi makan yang lebih sehat dan beragam. Edukasi ini tidak hanya ditujukan kepada anak, tetapi juga kepada orang tua dan pengasuh sebagai bagian dari upaya perubahan perilaku makan yang lebih luas. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Salah satu peran edukasi gizi adalah meningkatkan pemahaman orang tua tentang kebutuhan nutrisi anak dan pentingnya variasi makanan. Orang tua yang memahami nilai gizi dari berbagai jenis makanan akan lebih mampu menyusun menu yang seimbang dan menarik bagi anak, serta mampu menjelaskan manfaat makanan tersebut dengan cara yang sesuai untuk anak. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Edukasi gizi juga dapat membantu orang tua mengidentifikasi pola makan yang bermasalah dan mencari pendekatan yang tepat untuk menangani picky eating. Dengan pemahaman yang baik, orang tua dapat lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan makan anak tanpa merasa tertekan atau frustrasi. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Pendidikan gizi yang diberikan di sekolah, klinik kesehatan, atau melalui sumber terpercaya lainnya juga dapat memperkuat pemahaman anak terhadap makanan sehat. Anak yang diperkenalkan konsep makanan bergizi dan variasi makanan secara menyenangkan cenderung memiliki sikap yang lebih positif terhadap makanan tersebut di kemudian hari. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Kesimpulan
Pola makan anak picky eater merupakan perilaku pilih-pilih makanan yang umum terjadi terutama pada masa prasekolah, ditandai oleh penolakan terhadap makanan baru, preferensi kuat terhadap jenis makanan tertentu, serta variasi makanan yang sangat terbatas. Definisi picky eating sendiri mencakup penolakan makanan familiar maupun tidak familiar dan biasanya membuat anak cenderung hanya makan beberapa jenis makanan saja. Perilaku ini dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti preferensi sensorik dan pengalaman makan sebelumnya, serta oleh faktor lingkungan termasuk pola asuh dan paparan makanan di rumah. Dampak dari picky eating terhadap status gizi anak bisa signifikan, terutama bila asupan nutrisi menjadi kurang seimbang, dan berpotensi menyebabkan gizi kurang atau gangguan pertumbuhan seperti stunting bila tidak ditangani. Strategi orang tua yang efektif termasuk memperkenalkan makanan baru secara bertahap, menciptakan suasana makan yang positif, melibatkan anak dalam pemilihan serta penyajian makanan, dan memberikan pilihan makanan sehat secara menarik. Edukasi gizi kepada orang tua dan anak juga berperan penting dalam mengubah preferensi makan sehingga anak dapat mengembangkan pola makan yang lebih sehat dan beragam dalam jangka panjang. Semua pendekatan ini perlu diterapkan secara konsisten untuk mendorong perubahan perilaku makan yang positif pada anak.