
Pengaruh Gaya Hidup Modern terhadap Pola Makan
Pendahuluan
Perubahan gaya hidup di era modern telah menjadi sebuah fenomena yang tak terelakkan seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, urbanisasi, dan tuntutan kesibukan sehari-hari. Fenomena ini mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk pola makan. Gaya hidup modern yang sering diasosiasikan dengan kepraktisan, mobilitas tinggi, dan akses mudah terhadap berbagai layanan telah mendorong transformasi pola konsumsi makanan. Akibatnya, masyarakat cenderung mengadopsi kebiasaan baru dalam memilih dan mengonsumsi makanan, terutama di kalangan generasi muda dan pekerja urban yang memiliki keterbatasan waktu untuk menyiapkan makanan sendiri. Kondisi ini berpengaruh pada kualitas nutrisi yang diterima tubuh, di mana makanan siap saji, makanan olahan, serta layanan pemesanan makanan online semakin populer. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup ini berkorelasi dengan pola makan tidak seimbang yang membuka ruang bagi berbagai masalah kesehatan seperti obesitas dan gangguan metabolik lainnya.<sup>[Lihat sumber Disini - arl.ridwaninstitute.co.id]</sup>
Definisi Pengaruh Gaya Hidup Modern terhadap Pola Makan
Definisi Secara Umum
Pengaruh gaya hidup modern terhadap pola makan mengacu pada perubahan cara masyarakat memilih, menyiapkan, dan mengkonsumsi makanan sebagai akibat dari faktor sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi. Komponen gaya hidup modern mencakup kecepatan hidup, mobilitas tinggi, dan fokus pada efisiensi waktu, yang berdampak pada preferensi terhadap makanan yang cepat, mudah diakses, dan sering kali kurang memperhatikan aspek gizi seimbang. Fenomena ini terlihat pada meningkatnya konsumsi makanan siap saji (fast food), makanan instan, serta peningkatan penggunaan layanan pesan antar makanan digital. Perubahan tersebut juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi seperti pendapatan, pendidikan, dan akses terhadap informasi media sosial yang semakin memperkuat tren konsumsi tertentu di masyarakat kontemporer.
Definisi dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gaya hidup didefinisikan sebagai pola tingkah laku atau kebiasaan hidup seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sedangkan pola makan didefinisikan sebagai kebiasaan makan atau cara seseorang mengkonsumsi jenis dan jumlah makanan tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Gabungan kedua istilah ini mencerminkan bagaimana kebiasaan hidup modern mempengaruhi kebiasaan konsumsi makanan dalam konteks frekuensi, jenis makanan, serta cara memperoleh makanan.
Definisi Menurut Para Ahli
-
Ritzer (2007) menjelaskan konsep McDonaldization sebagai representasi fenomena budaya modern di mana efisiensi dan kecepatan menjadi nilai utama dalam konsumsi makanan, mencerminkan dominasi budaya fast food dalam kehidupan masyarakat modern. Ini menunjukkan bahwa cara hidup modern menciptakan pola makan yang cepat, praktis, namun sering kali kurang sehat. <sup>[Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]</sup>
-
Silva et al. (2023) dalam kajiannya tentang food literacy menyatakan bahwa gaya hidup modern telah memunculkan ketidaktahuan terhadap informasi gizi makanan, yang berdampak pada pola konsumsi yang tidak sehat dan ketidakseimbangan gizi masyarakat. <sup>[Lihat sumber Disini - mdpi.com]</sup>
-
Samanta & Arkoudis (2024) mengidentifikasi bahwa gaya hidup modern yang cepat dan menuntut waktu efisien mendorong konsumen untuk mengonsumsi makanan cepat saji dan convenience food dibandingkan masakan tradisional yang memerlukan waktu lebih lama untuk disiapkan. <sup>[Lihat sumber Disini - researchgate.net]</sup>
-
Penelitian dari Universitas Padjadjaran (2025) menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital, termasuk layanan pesan antar makanan online, merupakan bagian dari gaya hidup modern yang mempengaruhi keputusan pembelian makanan terutama di kalangan Generasi Z, menunjukkan hubungan antara aspek gaya hidup dan pola konsumsi makanan melalui teknologi. <sup>[Lihat sumber Disini - jurnal.unigal.ac.id]</sup>
Dampak Kesibukan terhadap Pilihan Makanan
Kesibukan dalam kehidupan modern seringkali mengharuskan individu untuk memilih makanan yang praktis dan cepat disajikan. Aktivitas bekerja, kuliah, atau rutinitas harian yang padat mempengaruhi waktu yang dapat dialokasikan untuk menyiapkan makanan bergizi di rumah. Akibatnya, makanan siap saji (fast food), makanan instan, atau makanan yang mudah diakses menjadi pilihan utama. Penelitian terhadap remaja dan orang dewasa menunjukkan bahwa gaya hidup modern yang penuh kesibukan berkorelasi dengan pola makan tidak seimbang, di mana konsumsi makanan tinggi kalori, lemak, dan garam meningkat sementara asupan nutrisi penting seperti serat dan mikronutrien menurun.<sup>[Lihat sumber Disini - arl.ridwaninstitute.co.id]</sup>
Kesibukan ini juga mengakibatkan terjadinya pola makan yang tidak teratur, seperti melewatkan sarapan atau makan utama, sehingga frekuensi makan menjadi tidak konsisten. Pola makan yang tidak teratur dapat menyebabkan lonjakan gula darah, gangguan metabolik, dan meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes mellitus dan obesitas. Fenomena ini diperkuat oleh kebutuhan praktis yang sering kali ditemui pada pekerja urban dan pelajar, sehingga makanan siap saji menjadi opsi default ketika waktu menjadi kendala.
Peran Fast Food dalam Pola Makan Modern
Makanan cepat saji (fast food) merupakan salah satu simbol jelas dari perubahan pola makan di era modern. Keberadaan restoran cepat saji yang tersebar di berbagai kota besar telah mengubah preferensi konsumsi masyarakat. Faktor utama yang mendorong meningkatnya konsumsi tersebut adalah kepraktisan, harga yang relatif terjangkau, serta strategi pemasaran yang agresif. Tren konsumsi fast food tak hanya dipengaruhi oleh kepraktisan, tetapi juga oleh perubahan nilai sosial di mana makan di restoran dianggap sebagai bagian dari gaya hidup dan rekreasi. Hal ini mendorong konsumen untuk lebih sering memilih makanan siap saji dibanding memasak makanan sehat sendiri, terutama di kalangan remaja dan keluarga urban. Studi di Indonesia menunjukkan bahwa gaya hidup modern yang cepat dan praktis turut memengaruhi preferensi remaja dalam memilih makanan cepat saji sebagai pilihan utama dalam kegiatan makan di luar rumah. <sup>[Lihat sumber Disini - journal.yp3a.org]</sup>
Konsumsi fast food yang tinggi sering terkait dengan peningkatan asupan kalori berlebih, lemak jenuh, serta kadar gula tambahan yang dapat meningkatkan risiko obesitas dan penyakit degeneratif jika dikonsumsi secara rutin dalam jangka panjang. Fenomena ini juga mencerminkan bagaimana sistem makanan modern mempengaruhi pilihan makanan melalui kemudahan akses dan promosi yang luas.
Pengaruh Teknologi dan Aplikasi Pesan Makanan
Kemajuan teknologi informasi telah melahirkan layanan pesan antar makanan online yang memudahkan masyarakat memesan berbagai jenis makanan tanpa harus pergi ke restoran atau tempat makan. Layanan seperti ini semakin populer terutama di kalangan milenial dan generasi Z. Menurut penelitian empiris di Indonesia, penggunaan aplikasi pesan antar makanan online berkorelasi dengan keragaman pola konsumsi pangan, di mana individu yang aktif menggunakan layanan ini memiliki peluang lebih tinggi untuk mengonsumsi berbagai jenis makanan dibandingkan mereka yang tidak aktif menggunakan layanan tersebut. <sup>[Lihat sumber Disini - repository.stikesmitrakeluarga.ac.id]</sup>
Namun, hubungan aplikasi pesan makanan dengan kualitas diet masih kompleks. Beberapa riset menunjukkan bahwa tidak selalu terdapat hubungan langsung antara penggunaan aplikasi pesan antar makanan dan kualitas diet atau frekuensi makan bagi mahasiswa, meskipun layanan ini menyediakan akses mudah ke berbagai pilihan makanan (yang tidak selalu sehat). <sup>[Lihat sumber Disini - researchgate.net]</sup>
Hal ini menunjukkan bahwa teknologi sendiri bukan satu-satunya faktor, tetapi interaksi antara preferensi individu, kemudahan akses, serta ketersediaan pilihan makanan berperan dalam membentuk pola makan. Selain itu, informasi makanan yang ditampilkan dalam aplikasi seperti rating dan ulasan dapat mempengaruhi preferensi konsumen untuk mencoba makanan baru atau restoran tertentu yang mungkin tidak sehat. <sup>[Lihat sumber Disini - ejournal.cahayailmubangsa.institute]</sup>
Perubahan Pola Makan Tradisional
Modernisasi dan globalisasi telah menggeser sebagian besar kebiasaan makan tradisional di masyarakat. Pola makan tradisional umumnya terdiri dari bahan pangan lokal yang kaya serat, vitamin, dan zat gizi mikro lainnya. Namun, dengan hadirnya makanan modern yang praktis dan cepat saji, serta gaya hidup yang sibuk, ketertarikan generasi muda terhadap masakan tradisional menurun. Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat yang tetap mempertahankan pola makan tradisional umumnya memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik, termasuk sistem pencernaan yang lebih sehat, tekanan darah lebih stabil, dan kadar gula darah lebih terkontrol. <sup>[Lihat sumber Disini - ejournal.warunayama.org]</sup>
Perubahan ini bukan hanya sekadar aturan konsumsi, tetapi juga mencerminkan perubahan kultur dan nilai sosial dalam masyarakat modern, di mana makanan tradisional seringkali dianggap kurang praktis jika dibandingkan dengan makanan siap saji atau yang dibeli melalui layanan antar.
Dampak Gaya Hidup Modern terhadap Kesehatan
Pola makan yang dipengaruhi oleh gaya hidup modern dapat membawa dampak signifikan terhadap kesehatan individu. Konsumsi makanan tinggi energi, lemak jenuh, gula, serta rendah serat dalam jangka panjang berkaitan erat dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan gangguan metabolik lainnya. Pengaruh ini diperkuat oleh kombinasi antara pola makan tidak seimbang dan gaya hidup sedentari yang sering menyertai aktivitas modern.
Selain itu, rendahnya pengetahuan tentang nutrisi yang memadai berkontribusi pada kecenderungan individu memilih makanan yang kurang sehat. Ketidaktahuan tentang kandungan nutrisi makanan yang dikonsumsi serta dampaknya pada kesehatan jangka panjang menjadi salah satu faktor utama munculnya masalah kesehatan terkait pola makan modern. <sup>[Lihat sumber Disini - mdpi.com]</sup>
Kesimpulan
Gaya hidup modern telah membawa perubahan signifikan dalam pola makan masyarakat melalui beberapa mekanisme seperti kesibukan yang tinggi, dominasi fast food dan makanan praktis, serta kemajuan teknologi yang mempengaruhi cara makanan diakses. Kesibukan harian mendorong masyarakat memilih makanan cepat dan mudah, sementara fast food telah menjadi bagian dari budaya konsumsi modern dengan risiko kesehatan yang perlu diwaspadai. Teknologi dan aplikasi pesan makanan memperluas akses terhadap berbagai jenis makanan, namun implikasi terhadap kualitas diet masih kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor lain. Pergeseran dari pola makan tradisional ke pola makan modern juga menunjukkan perubahan nilai sosial dan kebiasaan yang berdampak pada kesehatan masyarakat. Secara keseluruhan, gaya hidup modern cenderung meningkatkan risiko pola makan tidak sehat dan kondisi kesehatan kronis, sehingga diperlukan strategi promosi kesehatan, pendidikan gizi, dan upaya mempertahankan kebiasaan makan sehat di tengah perubahan sosial budaya.