
Faktor yang Mempengaruhi Pilihan Makanan Sehat
Pendahuluan
Dalam konteks kesehatan masyarakat, pilihan makanan sehat merupakan pilar penting yang menentukan kualitas hidup dan pencegahan penyakit kronis. Pilihan makanan seseorang bukan sekadar soal selera, tetapi merupakan hasil dari proses keputusan yang kompleks yang melibatkan pengetahuan, lingkungan, aspek ekonomi, budaya, serta faktor psikologis. Perubahan pola konsumsi makanan semakin cepat terjadi di era globalisasi, dari makanan tradisional tinggi serat ke makanan olahan tinggi gula dan lemak, yang berdampak pada meningkatnya prevalensi obesitas dan penyakit tidak menular. Pemahaman terhadap faktor yang mempengaruhi pilihan makanan sehat sangat penting dalam merancang intervensi gizi yang efektif untuk masyarakat luas. [Lihat sumber Disini - ejournal3.undip.ac.id]
Definisi Faktor yang Mempengaruhi Pilihan Makanan Sehat
Definisi Secara Umum
Secara umum, pilihan makanan sehat dapat dipahami sebagai keputusan seseorang dalam memilih jenis dan jumlah makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi tubuh dan standar kesehatan yang dianjurkan. Keputusan ini mencakup pertimbangan akan nilai gizi, manfaat kesehatan, serta dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan tubuh. Pilihan makanan sehat tidak hanya mencakup konsumsi buah dan sayuran, tetapi keseluruhan pola makan yang seimbang untuk memenuhi kebutuhan zat gizi makro maupun mikro. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Definisi menurut KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah terkait proses memilih makanan dapat diartikan sebagai kecakapan atau kemampuan seseorang untuk menentukan pilihan makanan yang akan dikonsumsi berdasarkan kriteria tertentu. Meski tidak secara eksklusif terdapat entri untuk pilihan makanan sehat, istilah ini beririsan dengan konteks keterampilan memilih makanan yang baik dan tepat. [Lihat sumber Disini - ejournal.upi.edu]
Definisi Menurut Para Ahli
Berikut adalah sejumlah definisi akademik yang diakui dalam literatur:
-
Fernqvist & kol. (2024) menyatakan bahwa pilihan makanan (food choice) adalah proses keputusan yang kompleks dipengaruhi oleh berbagai determinan termasuk kondisi fisiologis, psikososial, serta pengalaman pribadi. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Wongprawmas et al. (2021) mendefinisikan pilihan makanan sehat sebagai keputusan konsumen yang mengutamakan nilai kesehatan dan nutrisi dari makanan, tetapi tetap dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti sosial, budaya, dan ekonomi. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Santos (2025) menekankan bahwa food choice memiliki konsekuensi langsung pada status kesehatan individu, terutama pada asupan nutrisi penting seperti garam, gula, dan lemak. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Cheikh Ismail et al. (2025) mengelompokkan motivasi pilihan makanan ke dalam kategori kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, dan motivasi emosional, yang semuanya memengaruhi bagaimana individu menentukan makanan yang dikonsumsi. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]
Pengaruh Pengetahuan Gizi terhadap Pilihan Makanan
Pengetahuan gizi adalah kemampuan seseorang memahami informasi seputar zat gizi, peran nutrisi dalam tubuh, dan dampak makanan terhadap kesehatan. Pengetahuan ini sangat menentukan sejauh mana seseorang dapat membedakan antara makanan sehat dan tidak sehat.
Peran Pengetahuan Gizi
Pengetahuan gizi berkaitan erat dengan kapasitas individu untuk membaca label makanan, memahami kebutuhan nutrisi harian, dan menerapkan prinsip diet seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan gizi yang baik telah dikaitkan dengan peningkatan kemampuan memilih makanan yang mendukung kesehatan jangka panjang. [Lihat sumber Disini - europeanreview.org]
Penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki pemahaman gizi yang baik cenderung lebih memprioritaskan kandungan gizi ketika memilih makanan, dan hal ini dapat mengarah pada peningkatan kualitas diet secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - ejournal3.undip.ac.id]
Contoh Temuan Jurnal
Dalam studi yang dilakukan oleh Yugharyanti (2024), meskipun penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan gizi tidak selalu berkorelasi langsung dengan kualitas diet mahasiswa dalam beberapa konteks tertentu, penelitian lain di literatur gizi menegaskan bahwa pengetahuan tetap menjadi fondasi penting dalam pembentukan pilihan makanan sehat, karena individu yang lebih teredukasi gizi lebih mampu melakukan keputusan yang mendukung kesehatan tubuhnya. [Lihat sumber Disini - ejournal3.undip.ac.id]
Pengetahuan gizi juga memengaruhi kemampuan seseorang untuk merespons informasi kesehatan, termasuk rekomendasi pedoman diet dan pembacaan label nutrisi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kemungkinan untuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang secara konsisten. [Lihat sumber Disini - europeanreview.org]
Faktor Sosial dan Lingkungan dalam Konsumsi Pangan
Pilihan makanan tidak terjadi dalam isolasi individu, melainkan dipengaruhi oleh interaksi sosial, norma budaya, serta kondisi lingkungan tempat seseorang tinggal dan bekerja.
Peran Lingkungan Sosial dan Keluarga
Lingkungan sosial seperti keluarga, teman, dan komunitas memiliki pengaruh besar terhadap pola konsumsi seseorang. Individuals cenderung meniru kebiasaan makan orang-orang di sekitarnya, terutama dalam konteks budaya makan bersama. Penelitian sosiologis menunjukkan bahwa ikatan sosial dapat mendorong individu untuk mengadopsi pola makan sehat ketika lingkungan sekitarnya juga memberi contoh serupa. [Lihat sumber Disini - arxiv.org]
Norma budaya juga menentukan jenis makanan yang dianggap layak atau nikmat untuk dikonsumsi. Pengaruh budaya ini mencakup kebiasaan makan tradisional, preferensi rasa lokal, dan ritual makanan yang diwariskan secara turun-temurun. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Dampak Lingkungan Fisik
Ketersediaan fasilitas makanan sehat di lingkungan fisik juga penting. Akses ke pasar sayur dan buah segar, keberadaan penjual makanan sehat di sekitar tempat tinggal, atau keberadaan supermarket dengan produk bergizi merupakan faktor lingkungan yang dapat mempermudah atau menghambat pilihan makanan sehat. [Lihat sumber Disini - ejournal.mandalanursa.org]
Selain itu, lingkungan sosial informasi seperti media sosial, tren diet, dan kampanye kesehatan publik turut membentuk persepsi masyarakat tentang makanan sehat melalui tekanan sosial dan informasi yang tersebar luas di media. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]
Peran Harga dan Ketersediaan Makanan
Faktor ekonomi merupakan determinan penting dalam proses memilih makanan sehat.
Harga sebagai Faktor Penentu
Harga makanan sehat seringkali menjadi kendala, terutama bagi individu dengan pendapatan terbatas. Biaya yang relatif tinggi untuk produk fresh seperti sayur, buah, dan protein berkualitas dapat membuat konsumen beralih ke makanan olahan yang lebih murah namun rendah nilai gizi. Sebuah study international juga menegaskan bahwa aspek ekonomi serta ketersediaan makanan terjangkau menjadi salah satu motivasi dalam food choice. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]
Ketika harga makanan sehat lebih tinggi daripada makanan olahan rendah gizi, ini dapat menciptakan “ketidaksetaraan diet sehat”, di mana individu dengan daya beli rendah lebih kecil kemungkinannya untuk mengadopsi pola makan seimbang. [Lihat sumber Disini - eufic.org]
Ketersediaan Produk Sehat
Ketersediaan makanan di area tempat tinggal juga berpengaruh. Jika makanan sehat tidak mudah ditemukan, misalnya di daerah food deserts atau pedesaan dengan akses minim ke pasar fresh, maka peluang konsumen untuk memilih makanan sehat akan menurun secara signifikan. [Lihat sumber Disini - ejournal.mandalanursa.org]
Pengaruh Kebiasaan dan Budaya Makan
Budaya memiliki peran yang kuat dalam menentukan jenis makanan yang dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari.
Norma Budaya dalam Pilihan Makanan
Dalam banyak masyarakat, makanan bukan hanya sekadar sumber energi tetapi juga bagian dari identitas budaya. Pola makan tradisional, kepercayaan agama tentang makanan tertentu, atau ritual makan bersama dapat memengaruhi pilihan makanan jauh di luar nilai gizi atau kesehatan. [Lihat sumber Disini - journals.sagepub.com]
Kebiasaan makan yang tertanam sejak kecil juga menjadi faktor signifikan. Individu yang tumbuh dalam keluarga yang rutin mengonsumsi makanan sehat lebih mungkin mempertahankan pola makan serupa ketika dewasa. Sebaliknya, kebiasaan konsumsi makanan tinggi gula, garam, atau lemak yang dipelajari sejak kecil cenderung terus berlanjut ke usia dewasa. [Lihat sumber Disini - ejournal.unesa.ac.id]
Hubungan Motivasi Kesehatan dengan Pola Konsumsi
Motivasi kesehatan adalah keinginan internal seseorang untuk menjaga kesehatannya melalui pola makan yang baik.
Motivasi sebagai Dorongan Internal
Motivasi kesehatan dapat menjadi penentu utama dalam memilih makanan sehat karena ia mencerminkan komitmen individu terhadap kesejahteraan jangka panjang. Motivasi ini seringkali muncul setelah seseorang menyadari pentingnya nutrisi melalui pendidikan kesehatan atau pengalaman pribadi (misalnya obesitas atau penyakit kronis). [Lihat sumber Disini - link.springer.com]
Individu yang termotivasi secara kuat oleh alasan kesehatan menunjukkan kecenderungan memilih makanan rendah kalori, tinggi serat, serta menghindari makanan olahan yang berkaitan dengan risiko penyakit kronis. Motivasi ini juga memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengabaikan faktor eksternal seperti iklan makanan tidak sehat dan preferensi sosial. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]
Kesimpulan
Pilihan makanan sehat merupakan hasil interaksi kompleks antara pengetahuan individu, faktor sosial-lingkungan, aspek ekonomi, kebiasaan budaya serta motivasi kesehatan pribadi. Pengetahuan gizi dan pemahaman akan prinsip diet seimbang berperan sebagai fondasi dalam pengambilan keputusan makanan sehat. Lingkungan sosial dan budaya membentuk preferensi serta norma makan yang diinternalisasi sejak masa kanak-kanak. Harga dan ketersediaan makanan sehat sering menjadi penghambat utama, terutama di kelompok berpenghasilan rendah, sementara motivasi kesehatan yang tinggi mendorong konsumen untuk memilih makanan yang lebih bernutrisi. Kesadaran terhadap kelima faktor ini akan sangat membantu dalam merancang strategi promosi gizi, intervensi kesehatan masyarakat, serta kebijakan pangan yang dapat meningkatkan kesadaran dan akses terhadap pola makan sehat di masyarakat secara luas.