
Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan
Pendahuluan
Perubahan iklim merupakan fenomena global yang kini tidak lagi sekadar isu lingkungan, dampaknya sudah nyata dan semakin dirasakan oleh masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Di tengah meningkatnya suhu rata-rata global, perubahan pola curah hujan, serta frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem, dampak terhadap sektor kesehatan menjadi salah satu isu paling krusial yang perlu diwaspadai. Perubahan iklim tidak hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga determinan-determinan kesehatan seperti ketersediaan pangan, kualitas udara dan air, serta penyebaran penyakit menular. Fenomena ini berpotensi memperburuk beban penyakit di masyarakat, terutama pada kelompok rentan, dan menekan sistem pelayanan kesehatan nasional. [Lihat sumber Disini - indonesia.un.org]
Definisi Perubahan Iklim dan Faktor Penyebabnya
Definisi Perubahan Iklim Secara Umum
Perubahan iklim secara umum merujuk pada perubahan jangka panjang dalam kondisi rata-rata cuaca bumi yang terjadi selama periode waktu yang panjang, baik puluhan hingga jutaan tahun. Perubahan ini mencakup variabilitas dalam suhu rata-rata, pola curah hujan, angin, dan fenomena cuaca ekstrem lainnya. Secara umum, perubahan iklim disebabkan oleh kombinasi faktor alami dan antropogenik (manusia), dengan gas rumah kaca seperti karbon dioksida (COβ), metana (CHβ), dan nitrous oxide (NβO) yang dilepaskan dari pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan perubahan penggunaan lahan menjadi penyebab utamanya. [Lihat sumber Disini - indonesia.un.org]
Definisi Perubahan Iklim dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perubahan iklim didefinisikan sebagai perubahan kondisi iklim pada skala waktu panjang yang memengaruhi pola cuaca secara keseluruhan di suatu wilayah atau global. Istilah ini menyiratkan adanya perubahan yang tidak sekadar fluktuasi sementara, melainkan pergeseran permanen dalam pola cuaca dan suhu rata-rata yang signifikan secara statistik. Sering kali definisi dalam KBBI tidak terpisah jauh dari pemahaman ilmiah yang menggabungkan aspek keberlanjutan perubahan tersebut. (Sumber: KBBI Daring)
Definisi Perubahan Iklim Menurut Para Ahli
Para ahli di bidang iklim dan lingkungan memiliki pandangan yang lebih teknis terkait perubahan iklim:
-
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyatakan bahwa perubahan iklim adalah perubahan dalam sistem iklim bumi yang tercatat dari waktu ke waktu yang dapat dikaitkan langsung atau tidak langsung dengan aktivitas manusia yang melepaskan gas rumah kaca dan perubahan dalam sistem fisik bumi. [Lihat sumber Disini - economics.pubmedia.id]
-
Michael E. Mann (ahli klimatologi) menjelaskan bahwa perubahan iklim terutama akibat pemanasan global yang dipicu oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer akibat aktivitas industri dan pembakaran bahan bakar fosil.
-
James Hansen (fisikawan atmosfer) menyatakan bahwa perubahan iklim merupakan dampak akumulatif dari peningkatan energi yang tertahan di atmosfer karena efek rumah kaca, di mana ini memicu gangguan dalam pola cuaca global.
-
Will Steffen (ahli perubahan iklim global) menggarisbawahi bahwa perubahan iklim dipicu oleh gangguan keseimbangan energetik bumi akibat aktivitas manusia, termasuk deforestasi dan industrialisasi.
Pemahaman para ahli ini mendasari argumen ilmiah bahwa perubahan iklim saat ini didorong terutama oleh aktivitas antropogenik yang meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.
Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Masyarakat
Perubahan iklim memiliki dampak luas terhadap kesehatan masyarakat yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, perubahan pola cuaca seperti peningkatan suhu global dapat menyebabkan gelombang panas yang intens, yang berkontribusi terhadap kejadian heat stroke, dehidrasi, dan bahkan mortalitas pada kelompok tertentu. Perubahan iklim juga berkorelasi dengan peningkatan kejadian cuaca ekstrem seperti banjir, badai, dan gelombang panas yang dapat mencederai atau merenggut nyawa ribuan orang setiap tahunnya. [Lihat sumber Disini - ejurnal.ung.ac.id]
Dampak tidak langsung perubahan iklim pada kesehatan masyarakat meliputi pengaruh terhadap kualitas air dan udara serta ketahanan pangan. Misalnya, banjir dapat mencemari sumber air dengan patogen sehingga meningkatkan risiko penyakit diare dan infeksi lainnya, sementara panas ekstrem memperburuk kualitas udara yang dapat memicu gangguan pernapasan seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Selain itu, perubahan iklim mengganggu produksi pangan melalui kekeringan atau banjir yang merusak lahan pertanian, yang pada akhirnya menyebabkan malnutrisi. [Lihat sumber Disini - indonesia.un.org]
Beban penyakit akibat perubahan iklim cenderung tidak merata di masyarakat. Kelompok dengan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, sanitasi, dan infrastruktur yang memadai seringkali mengalami dampak yang lebih parah. Misalnya, masyarakat miskin yang tinggal di daerah rawan bencana memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit serta cedera akibat perubahan iklim dibandingkan kelompok masyarakat yang lebih makmur dengan akses sumber daya yang lebih baik. [Lihat sumber Disini - economics.pubmedia.id]
Penyakit yang Dipengaruhi oleh Perubahan Iklim
Perubahan iklim telah terbukti mempengaruhi pola kejadian berbagai penyakit, terutama yang peka terhadap faktor iklim seperti suhu, kelembaban, dan pola curah hujan. Salah satu kategori utama adalah penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti nyamuk Aedes aegypti yang menyebabkan demam berdarah, chikungunya, dan malaria. Peningkatan suhu dan curah hujan yang tidak stabil memperluas wilayah sebaran vektor dan memperpanjang musim penularan penyakit ini. [Lihat sumber Disini - ejurnal.ung.ac.id]
Selain itu, penyakit gastrointestinal seperti diare sering meningkat setelah kejadian banjir yang mencemari sumber air minum karena limbah dan patogen. Risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan pernapasan juga meningkat di tengah suhu ekstrem serta kualitas udara yang buruk akibat polusi dan partikel halus. [Lihat sumber Disini - ojs.unimal.ac.id]
Selain penyakit infeksi, perubahan iklim juga berkontribusi terhadap gangguan kesehatan non-infeksi seperti malnutrisi akibat ketidakstabilan pasokan pangan, serta gangguan kesehatan mental yang muncul dari trauma dan stres berkepanjangan akibat paparan kejadian iklim ekstrem atau kerugian mata pencaharian. [Lihat sumber Disini - unicef.org]
Kelompok Rentan terhadap Dampak Perubahan Iklim
Beberapa kelompok masyarakat lebih rentan terhadap dampak kesehatan perubahan iklim dibandingkan lainnya. Kelompok ini biasanya memiliki kondisi sosial ekonomi yang rendah atau keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Di antaranya:
-
Anak-anak dan Balita
Anak-anak terutama balita memiliki sistem imun yang belum berkembang sepenuhnya, sehingga mereka lebih rentan terhadap penyakit yang dipicu oleh perubahan iklim seperti diare, pneumonia, dan penyakit tropis yang ditularkan oleh vektor. [Lihat sumber Disini - apghn.com]
-
Lansia
Orang lanjut usia sering memiliki kondisi kesehatan kronis seperti penyakit jantung atau paru-paru yang memperburuk dampak suhu ekstrem seperti gelombang panas yang bisa menyebabkan stroke panas atau komplikasi kesehatan lainnya.
-
Masyarakat Miskin atau Rentan Sosial
Masyarakat dengan akses layanan kesehatan yang terbatas, sanitasi buruk, dan tempat tinggal di wilayah rawan bencana mengalami beban lebih besar dari perubahan iklim. Mereka sering kekurangan sumber daya untuk adaptasi, seperti pendingin udara atau akses air bersih. [Lihat sumber Disini - economics.pubmedia.id]
-
Pekerja Lapangan dan Pekerja dengan Paparan Panas Tinggi
Pekerja di luar ruangan, seperti tukang ojek, petani, atau pekerja konstruksi, lebih sering terpapar suhu panas yang ekstrem. Studi menunjukkan bahwa pekerja lapangan memiliki peningkatan kelelahan dan gangguan kesehatan akibat paparan panas berlebih. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
-
Ibu Hamil
Perubahan iklim juga memengaruhi kesehatan ibu hamil, termasuk masalah nutrisi dan risiko komplikasi kehamilan seperti hipertensi serta infeksi yang lebih tinggi karena stres panas dan kurangnya akses gizi. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Peran Sistem Kesehatan dalam Adaptasi Iklim
Sistem kesehatan memiliki peran penting dalam merespons dan mengadaptasi dampak perubahan iklim. Salah satu strategi utama adalah meningkatkan kesiapsiagaan dan respons terhadap kejadian iklim ekstrem dan dampaknya terhadap penyakit. Hal ini mencakup penguatan sistem surveilans penyakit agar mampu mendeteksi lonjakan penyakit yang sensitif terhadap iklim lebih cepat, serta peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan untuk menangani lonjakan kasus selama dan setelah kejadian cuaca ekstrem. [Lihat sumber Disini - archpublichealth.biomedcentral.com]
Pendekatan lain adalah memperkuat infrastruktur kesehatan agar tahan terhadap bencana, termasuk fasilitas pelayanan kesehatan yang dirancang untuk tetap beroperasi selama banjir atau gelombang panas. Selain itu, intervensi kesehatan masyarakat seperti kampanye pendidikan tentang cara mencegah infeksi yang terkait iklim serta promosi perilaku sehat sangat penting untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Kemitraan antara sektor kesehatan dan sektor lain seperti lingkungan, pertanian, dan perencanaan kota juga krusial untuk strategi adaptasi yang efektif. Pendekatan multisektoral dapat membangun strategi yang lebih terpadu dalam mengatasi dampak iklim terhadap kesehatan masyarakat secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - unicef.org]
Strategi Mitigasi Dampak Kesehatan Akibat Perubahan Iklim
Strategi mitigasi terhadap dampak perubahan iklim pada kesehatan masyarakat mencakup tindakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan memperlambat laju perubahan iklim, serta tindakan langsung yang mencegah atau mengurangi konsekuensi kesehatan. Salah satu strategi penting adalah transisi menuju energi bersih dan ramah lingkungan untuk mengurangi polusi udara yang berdampak negatif pada penyakit pernapasan dan kardiovaskular. [Lihat sumber Disini - indonesia.un.org]
Strategi lainnya adalah penguatan ketahanan pangan melalui diversifikasi produksi dan teknologi pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim untuk memastikan ketersediaan pangan yang stabil dan berkualitas, sehingga dapat mengurangi risiko malnutrisi. Program mitigasi juga harus mencakup penyediaan layanan kesehatan dasar yang kuat, akses air bersih dan sanitasi yang memadai, serta pendidikan kesehatan untuk membangun perilaku pencegahan yang efektif di masyarakat. [Lihat sumber Disini - unicef.org]
Selain itu, program mitigasi dapat mencakup kebijakan perlindungan sosial yang mendukung kelompok rentan dan meningkatkan akses mereka terhadap layanan kesehatan dan sumber daya adaptasi. Pendekatan ini tidak hanya menyelamatkan nyawa tetapi juga meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim dalam jangka panjang. [Lihat sumber Disini - unicef.org]
Kesimpulan
Perubahan iklim merupakan fenomena kompleks yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berkonsekuensi luas terhadap kesehatan masyarakat. Melalui mekanisme langsung maupun tidak langsung, seperti gelombang panas, perubahan pola penyakit, pencemaran udara dan air, serta gangguan ketahanan pangan, perubahan iklim meningkatkan beban penyakit secara global dan khususnya di negara rentan seperti Indonesia. Kelompok yang paling rentan termasuk anak-anak, lansia, pekerja lapangan dan masyarakat miskin yang memiliki akses kesehatan terbatas. Untuk mengatasi tantangan ini, strategi adaptasi dan mitigasi perlu diperkuat, termasuk penguatan sistem kesehatan, kebijakan transisi energi bersih, serta promosi perilaku sehat untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. Dengan pendekatan multisektoral dan berbasis bukti, kita tidak hanya meminimalkan dampak kesehatan dari perubahan iklim, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat terhadap tantangan masa depan yang terus berkembang.