Terakhir diperbarui: 16 November 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 16 November). Realisme Ilmiah: Pengertian dan Contoh dalam Kajian Alam. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/realisme-ilmiah-pengertian-dan-contoh-dalam-kajian-alam  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Realisme Ilmiah: Pengertian dan Contoh dalam Kajian Alam - SumberAjar.com

Realisme Ilmiah: Pengertian dan Contoh dalam Kajian Alam

Pendahuluan

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern, sering muncul pertanyaan mendasar: apakah teori-teori ilmiah sekadar alat bantu untuk memprediksi fenomena, ataukah benar-benar menggambarkan realitas alam yang ada secara mandiri dari pikiran manusia? Pandangan yang menyatakan bahwa ilmu memiliki kemampuan untuk menjelaskan dan menggambarkan dunia nyata secara objektif dikenal sebagai realisme ilmiah. Artikel ini akan memaparkan secara komprehensif pengertian realisme ilmiah, mulai dari definisinya secara umum, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hingga pendapat para ahli filsafat ilmu, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan contoh-aplikasi dari realisme ilmiah dalam kajian alam, dan diakhiri dengan kesimpulan. Dengan demikian, pembaca diharapkan memahami secara mendalam apa yang dimaksud dengan realisme ilmiah, bagaimana implikasinya dalam kajian alam, serta tantangan atau kritik yang mungkin muncul.


Definisi Realisme Ilmiah

Definisi secara umum

Secara umum, realisme ilmiah dapat diartikan sebagai sebuah pandangan dalam filsafat ilmu yang menegaskan bahwa teori-ilmu bukan hanya konstruksi subjektif atau sekadar alat prediksi, melainkan benar‐benar memberikan deskripsi yang mendekati atau menggambarkan dunia alam apa adanya. Sebagai contoh, menurut artikel “Realisme Ilmiah dalam Ilmu Pengetahuan” disebutkan: “Realisme ilmiah merupakan perspektif filosofis yang menyatakan bahwa teori-teori ilmiah memberikan deskripsi yang akurat tentang dunia alam.” [Lihat sumber Disini - academia.edu]
Lebih lanjut, dalam kajian yang dilakukan oleh Az-Zahra & Saefurohman (2024) disebutkan bahwa realisme ilmiah berargumen bahwa teori ilmiah, jika benar, memberikan deskripsi akurat tentang dunia nyata dan entitas yang tidak dapat diamati langsung. [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]
Dengan demikian, secara umum realisme ilmiah menekankan realitas eksternal (dunia alam) yang independen dari pikiran manusia dan bahwa ilmu berkemampuan untuk mengungkap sebagian dari realitas itu.

Definisi dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, kata realisme diartikan sebagai: “paham atau ajaran yang selalu bertolak dari kenyataan; aliran kesenian yang berusaha melukiskan (menceritakan sesuatu sebagaimana kenyataannya)”. [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]
Meskipun definisi ini berasal dari bidang umum (budaya/seni), makna inti yang relevan bagi realisme ilmiah adalah unsur “bersandar pada kenyataan” atau “bertolak dari kenyataan”. Dengan pengertian ini, realisme ilmiah mengadopsi gagasan bahwa ilmu dan teori-ilmiah harus berakar pada kenyataan alam yang nyata, bukan hanya pada konstruksi mental semata.

Definisi menurut para ahli

Berikut beberapa pandangan para ahli filsafat ilmu mengenai realisme ilmiah:

  • Roy Bhaskar: Dalam penelitian “Argumen Realisme Ilmiah Roy Bhaskar” disebut bahwa Bhaskar mendasari argumennya pada ontologi realitas yang intransitif, yaitu bahwa objek-objek dalam ilmu memiliki eksistensi yang mandiri dari pengetahuan (transitif). Dengan demikian, realisme ilmiah bagi Bhaskar menuntut adanya keyakinan atas realitas, kebenaran teori ilmiah, dan kepastian pengetahuan. [Lihat sumber Disini - etd.repository.ugm.ac.id]
  • Anjan Chakravartty: Menurut ringkasan di Wikipedia, realisme ilmiah mencakup tiga komitmen: semantik (klaim teori adalah benar atau salah karena menggambarkan dunia nyata), metafisik (entitas dalam teori ilmiah ada secara objektif dan independen dari pikiran), dan epistemik (kita mempunyai alasan yang baik untuk percaya bahwa banyak klaim tersebut benar atau mendekati benar). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
  • Seena Az‑Zahra & Asep Saefurohman (2024): Dalam artikel kajian mereka disimpulkan bahwa “Realisme ilmiah berpendapat bahwa teori-teori ilmiah memberikan gambaran yang benar tentang dunia nyata, termasuk entitas-entitas yang tidak dapat diamati secara langsung.” [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]
  • G. Maharsi (2017): Dalam disertasinya membahas bahwa realisme ilmiah menekankan bahwa objek-objek dan struktur dalam ilmu memiliki karakter intransitif (ada secara mandiri) dan transitif (termasuk pengetahuan kita) – sehingga teori ilmiah bukan hanya konstruksi manusia semata. [Lihat sumber Disini - etd.repository.ugm.ac.id]

Dengan demikian, menurut para ahli, realisme ilmiah adalah posisi yang cukup kuat dalam filsafat ilmu: bahwa dunia alam ada secara objektif, teori-ilmiah berusaha mendeskripsikannya (bukan hanya memprediksi), dan entitas-ilmiah (termasuk yang tidak diamati) dapat dikatakan memiliki eksistensi.


Realisme Ilmiah dalam Kajian Alam

Asumsi dan karakteristik realisme ilmiah

Ketika kita menerapkan realisme ilmiah ke dalam kajian alam (ilmu alam seperti fisika, kimia, biologi), ada beberapa asumsi dasar dan karakteristik yang perlu dipahami:

  1. Dunia eksternal independen: Alam (fenomena dan entitas) ada secara independen dari pengamatan, pikiran atau teori manusia. Realisme ilmiah mengadopsi bahwa terdapat realitas alam yang tidak hanya hasil persepsi kita. Sebagai contoh dalam pendidikan: “Realisme … berpendapat bahwa objek indera kita memang nyata dan ada secara independen dari pengetahuan atau persepsi manusia.” [Lihat sumber Disini - kabarlah.com]
  2. Teori ilmiah sebagai representasi dari realitas: Teori-ilmiah tidak sekadar alat untuk prediksi saja, tetapi memberikan gambaran (representasi) yang mendekati kebenaran. Sebagaimana disebut, “Realisme ilmiah … menegaskan bahwa teori-teori ilmiah, jika benar, memberikan deskripsi akurat tentang dunia nyata…” [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]
  3. Kemajuan ilmiah dan convergence (kemiripan): Realis percaya bahwa ilmu berkembang menuju representasi yang lebih tepat atas realitas, walaupun belum sempurna. Chakravartty menyebut bahwa realisme mencakup “convergence thesis”, bahwa teori contemporary mendekati teori ideal. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
  4. Entitas yang tidak diamati: Realisme ilmiah memberikan komitmen bahwa entitas ilmiah yang tidak langsung diamati (misalnya atom, gen, partikel sub-atom) benar-benar ada dan menjadi bagian dari realitas ilmiah. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
  5. Implikasi metodologis dan epistemologis: Pendekatan realisme mempengaruhi bagaimana metode ilmiah dipandang,yakni bukan hanya observasi dan pengukuran, tetapi juga interpretasi teori sebagai menggambarkan realitas. [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]

Contoh konkret dalam kajian alam

Berikut beberapa contoh penerapan realisme ilmiah dalam kajian alam:

1. Mikroskop dan entitas mikroskopis

Dalam ilmu biologi dan kimia, teori-ilmiah mengusulkan keberadaan entitas yang tidak langsung “terlihat” oleh indera manusia (misalnya sel, molekul, atom). Pendekatan realisme ilmiah menyatakan bahwa entitas-entitas tersebut memang benar ada secara independen, dan teori kita mencoba menggambarkan bagaimana ia berperilaku. Ketika mikroskop elektron menunjukkan struktur sel atau molekul, hal ini memperkuat pandangan realisme bahwa teori dan teknologi mendekatkan kita ke realitas.

2. Fisika partikel

Dalam fisika, teori seperti partikel-elementer, gaya fundamental, dll, mengusulkan entitas yang tidak dapat diamati langsung oleh manusia biasa (misalnya quark, gluon). Realisme ilmiah menyatakan bahwa jika teori-teori ini berhasil menjelaskan dan memprediksi fenomena, maka ada alasan untuk percaya bahwa entitas tersebut memang bagian dari dunia nyata.

3. Ekologi dan sistem alam kompleks

Dalam kajian ekologi, sistem-alam seperti jaring makanan, interaksi spesies-lingkungan, siklus biogeokimia dianggap sebagai realitas yang eksis secara mandiri. Teori-ilmiah ekologi yang dapat memprediksi perubahan populasi atau dampak lingkungan terhadap sistem alam dianggap mendekati realitas alam yang sesungguhnya. Dari sudut pandang realisme ilmiah, keberhasilan prakiraan tersebut menunjukkan bahwa teori kita “menangkap” aspek realitas alam.

4. Perubahan iklim dan model cuaca

Model-ilmiah perubahan iklim dan sistem cuaca memprediksi fenomena seperti kenaikan suhu global, pola curah hujan, pencairan es di kutub. Realisme ilmiah akan berargumen bahwa jika model-ilmiah terus dikonfirmasi oleh observasi dan eksperimen, maka model-dan-teori tersebut tidak semata konstruksi matematis belaka tetapi benar-benar menggambarkan realitas alam yang mendasarinya. Hal ini penting untuk kebijakan publik dan pengambilan keputusan ilmiah.

5. Pemanfaatan prinsip realisme ilmiah dalam pendidikan sains

Dalam pendidikan IPA, pendekatan realisme ilmiah mendorong siswa untuk memahami bahwa konsep-konsep ilmiah (seperti atom, energi, gelembung udara, struktur sel) bukan hanya “alat bantu pikir” tetapi representasi dari alam nyata yang eksis. Dengan demikian, pembelajaran diarahkan pada pemahaman bahwa ilmu memungkinkan kita menembus indera langsung dan memahami realitas alam di balik pengamatan. Studi “Relevansi aliran filsafat realisme dalam pembelajaran abad 21…” menunjukkan bahwa realisme memberikan landasan bahwa dunia nyata dapat dikenali melalui observasi dan pengalaman langsung. [Lihat sumber Disini - journal.unpas.ac.id]


Kritik dan tantangan terhadap realisme ilmiah

Meskipun realisme ilmiah memiliki daya tarik besar, terdapat berbagai kritik dan tantangan yang perlu diperhatikan:

  • Sejarah sains menunjukkan bahwa banyak teori ilmiah yang dulu dianggap “benar” kemudian digantikan atau direvisi besar-besaran (misalnya eter dalam fisika klasik). Hal ini menjadi tantangan bagi klaim bahwa teori-ilmiah benar atau mendekati kebenaran. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
  • Dalam fisika kuantum, interpretasi realitas menjadi rumit,apa yang “ada” secara ontologis sulit dipastikan. Sebagai contoh dalam studi “The (meta)metaphysics of science…” disebut bagaimana realisme konfrontasi dengan mekanika kuantum. [Lihat sumber Disini - arxiv.org]
  • Ada aliran alternatif seperti instrumentalisme yang menegaskan bahwa teori-ilmiah hanyalah alat prediksi, bukan representasi literal dari realitas. Realisme struktural mencoba menjembatani posisi tersebut, tetapi tetap menimbulkan pertanyaan tentang “apa yang benar-benar ada?”. [Lihat sumber Disini - philarchive.org]
  • Dari perspektif sosiologi ilmu, teori-ilmiah juga dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, paradigma ilmiah, yang memunculkan pertanyaan: sampai sejauh mana teori-ilmiah benar-benar merepresentasikan realitas atau konstruksi manusia?
    Dengan demikian, meski realisme ilmiah memberikan kerangka yang kuat, tetap diperlukan sikap kritis dalam menerapkannya khususnya dalam kajian alam.

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa realisme ilmiah adalah posisi filosofis dalam filsafat ilmu yang sangat penting untuk memahami hubungan antara teori-ilmiah, observasi, dan realitas alam. Realisme ilmiah menegaskan bahwa dunia alam ada secara mandiri dari pikiran manusia, teori-ilmiah berfungsi untuk mendeskripsikan atau merepresentasikan dunia tersebut (termasuk entitas-yang-tidak-teramati), dan ilmu mengalami kemajuan menuju pemahaman yang lebih tepat atas realitas alam. Dalam konteks kajian alam, realisme ilmiah membantu menegaskan bahwa konsep-ilmu (sel, atom, partikel, sistem ekologi) bukan sekadar konstruksi intelektual, tapi memiliki basis eksistensi nyata.

Namun demikian, realisme ilmiah tidak bebas dari kritik. Sejarah sains, perkembangan fisika kuantum, dan pandangan lain seperti instrumentalisme menunjukkan bahwa klaim tentang representasi literal dari realitas harus dihadapi dengan kerendahan hati dan kesadaran akan keterbatasan teori. Dengan demikian, bagi pelaku dan pengguna ilmu,termasuk dalam pendidikan dan pengembangan pembelajaran alam,sikap terbaik adalah menggabungkan optimisme bahwa ilmu mampu mendekati realitas dengan sikap reflektif bahwa pemahaman kita bersifat terbuka dan dapat direvisi.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Realisme ilmiah adalah pandangan dalam filsafat ilmu yang menyatakan bahwa teori ilmiah menggambarkan realitas alam secara objektif dan bahwa entitas ilmiah benar-benar ada meskipun tidak dapat diamati secara langsung.

Contoh realisme ilmiah dalam kajian alam antara lain keberadaan atom, sel, partikel subatom, sistem ekologi, dan model perubahan iklim, yang dianggap sebagai entitas nyata karena didukung teori ilmiah yang konsisten dan terverifikasi.

Ciri utama realisme ilmiah meliputi keyakinan bahwa dunia alam ada secara independen, teori ilmiah merepresentasikan realitas, dan entitas ilmiah memiliki eksistensi meskipun tidak dapat diamati langsung.

Realisme ilmiah penting karena memberikan landasan filosofis bahwa teori ilmiah bukan sekadar alat prediksi, tetapi juga gambaran tentang kebenaran alam. Hal ini memperkuat kepercayaan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.

Realisme ilmiah menegaskan bahwa teori ilmiah menggambarkan realitas sebenarnya, sedangkan antirealisme berpendapat bahwa teori hanya alat untuk menjelaskan fenomena dan tidak perlu dipercaya menggambarkan realitas secara literal.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Idealisme dan Realisme dalam Penelitian Idealisme dan Realisme dalam Penelitian Objek Kajian Ilmiah: Jenis, Ciri, dan Contoh Objek Kajian Ilmiah: Jenis, Ciri, dan Contoh Idealisme Ilmiah: Konsep dan Contohnya Idealisme Ilmiah: Konsep dan Contohnya Ontologi Sosial dalam Filsafat Ilmu Ontologi Sosial dalam Filsafat Ilmu Jurnal Ilmiah: Pengertian, Struktur, dan Contoh penulisan beserta sumber [pdf] Jurnal Ilmiah: Pengertian, Struktur, dan Contoh penulisan beserta sumber [pdf] Nilai Ilmiah: Pengertian, Karakteristik, dan Contohnya Nilai Ilmiah: Pengertian, Karakteristik, dan Contohnya Kebenaran Ilmiah: Pengertian, Jenis, dan Kriterianya Kebenaran Ilmiah: Pengertian, Jenis, dan Kriterianya Teori Correspondence: Pengertian dan Kritiknya Teori Correspondence: Pengertian dan Kritiknya Narasi: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Kajian Ilmiah Narasi: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Kajian Ilmiah Model Eksperimen Lapangan di Pendidikan Model Eksperimen Lapangan di Pendidikan Perspektif Ilmiah: Pengertian dan Contohnya dalam Penelitian Sosial Perspektif Ilmiah: Pengertian dan Contohnya dalam Penelitian Sosial Literasi Ilmiah: Definisi, Ciri, dan Contoh dalam Pendidikan Literasi Ilmiah: Definisi, Ciri, dan Contoh dalam Pendidikan Argument Logis: Ciri, Jenis, dan Contohnya dalam Kajian Ilmiah Argument Logis: Ciri, Jenis, dan Contohnya dalam Kajian Ilmiah Konteks Akademik: Definisi dan Pentingnya dalam Kajian Ilmiah Konteks Akademik: Definisi dan Pentingnya dalam Kajian Ilmiah Penalaran Ilmiah: Ciri, Langkah, dan Contoh Penalaran Ilmiah: Ciri, Langkah, dan Contoh Relativisme Ilmiah: Pengertian dan Kritiknya Relativisme Ilmiah: Pengertian dan Kritiknya Justifikasi Ilmiah: Pengertian, Fungsi, dan Contohnya Justifikasi Ilmiah: Pengertian, Fungsi, dan Contohnya Relevansi Ilmiah: Pengertian, Fungsi, dan Contoh Relevansi Ilmiah: Pengertian, Fungsi, dan Contoh Filsafat Ilmu Kontemporer: Ciri dan Arah Perkembangan Filsafat Ilmu Kontemporer: Ciri dan Arah Perkembangan Prinsip Validasi Pengetahuan Ilmiah Prinsip Validasi Pengetahuan Ilmiah
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…