
Realisme Ilmiah: Pengertian dan Contoh dalam Kajian Alam
Pendahuluan
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern, sering muncul pertanyaan mendasar: apakah teori-teori ilmiah sekadar alat bantu untuk memprediksi fenomena, ataukah benar-benar menggambarkan realitas alam yang ada secara mandiri dari pikiran manusia? Pandangan yang menyatakan bahwa ilmu memiliki kemampuan untuk menjelaskan dan menggambarkan dunia nyata secara objektif dikenal sebagai realisme ilmiah. Artikel ini akan memaparkan secara komprehensif pengertian realisme ilmiah, mulai dari definisinya secara umum, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hingga pendapat para ahli filsafat ilmu, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan contoh-aplikasi dari realisme ilmiah dalam kajian alam, dan diakhiri dengan kesimpulan. Dengan demikian, pembaca diharapkan memahami secara mendalam apa yang dimaksud dengan realisme ilmiah, bagaimana implikasinya dalam kajian alam, serta tantangan atau kritik yang mungkin muncul.
Definisi Realisme Ilmiah
Definisi secara umum
Secara umum, realisme ilmiah dapat diartikan sebagai sebuah pandangan dalam filsafat ilmu yang menegaskan bahwa teori-ilmu bukan hanya konstruksi subjektif atau sekadar alat prediksi, melainkan benar‐benar memberikan deskripsi yang mendekati atau menggambarkan dunia alam apa adanya. Sebagai contoh, menurut artikel “Realisme Ilmiah dalam Ilmu Pengetahuan” disebutkan: “Realisme ilmiah merupakan perspektif filosofis yang menyatakan bahwa teori-teori ilmiah memberikan deskripsi yang akurat tentang dunia alam.” [Lihat sumber Disini - academia.edu]
Lebih lanjut, dalam kajian yang dilakukan oleh Az-Zahra & Saefurohman (2024) disebutkan bahwa realisme ilmiah berargumen bahwa teori ilmiah, jika benar, memberikan deskripsi akurat tentang dunia nyata dan entitas yang tidak dapat diamati langsung. [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]
Dengan demikian, secara umum realisme ilmiah menekankan realitas eksternal (dunia alam) yang independen dari pikiran manusia dan bahwa ilmu berkemampuan untuk mengungkap sebagian dari realitas itu.
Definisi dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, kata realisme diartikan sebagai: “paham atau ajaran yang selalu bertolak dari kenyataan; aliran kesenian yang berusaha melukiskan (menceritakan sesuatu sebagaimana kenyataannya)”. [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]
Meskipun definisi ini berasal dari bidang umum (budaya/seni), makna inti yang relevan bagi realisme ilmiah adalah unsur “bersandar pada kenyataan” atau “bertolak dari kenyataan”. Dengan pengertian ini, realisme ilmiah mengadopsi gagasan bahwa ilmu dan teori-ilmiah harus berakar pada kenyataan alam yang nyata, bukan hanya pada konstruksi mental semata.
Definisi menurut para ahli
Berikut beberapa pandangan para ahli filsafat ilmu mengenai realisme ilmiah:
- Roy Bhaskar: Dalam penelitian “Argumen Realisme Ilmiah Roy Bhaskar” disebut bahwa Bhaskar mendasari argumennya pada ontologi realitas yang intransitif, yaitu bahwa objek-objek dalam ilmu memiliki eksistensi yang mandiri dari pengetahuan (transitif). Dengan demikian, realisme ilmiah bagi Bhaskar menuntut adanya keyakinan atas realitas, kebenaran teori ilmiah, dan kepastian pengetahuan. [Lihat sumber Disini - etd.repository.ugm.ac.id]
- Anjan Chakravartty: Menurut ringkasan di Wikipedia, realisme ilmiah mencakup tiga komitmen: semantik (klaim teori adalah benar atau salah karena menggambarkan dunia nyata), metafisik (entitas dalam teori ilmiah ada secara objektif dan independen dari pikiran), dan epistemik (kita mempunyai alasan yang baik untuk percaya bahwa banyak klaim tersebut benar atau mendekati benar). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
- Seena Az‑Zahra & Asep Saefurohman (2024): Dalam artikel kajian mereka disimpulkan bahwa “Realisme ilmiah berpendapat bahwa teori-teori ilmiah memberikan gambaran yang benar tentang dunia nyata, termasuk entitas-entitas yang tidak dapat diamati secara langsung.” [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]
- G. Maharsi (2017): Dalam disertasinya membahas bahwa realisme ilmiah menekankan bahwa objek-objek dan struktur dalam ilmu memiliki karakter intransitif (ada secara mandiri) dan transitif (termasuk pengetahuan kita) – sehingga teori ilmiah bukan hanya konstruksi manusia semata. [Lihat sumber Disini - etd.repository.ugm.ac.id]
Dengan demikian, menurut para ahli, realisme ilmiah adalah posisi yang cukup kuat dalam filsafat ilmu: bahwa dunia alam ada secara objektif, teori-ilmiah berusaha mendeskripsikannya (bukan hanya memprediksi), dan entitas-ilmiah (termasuk yang tidak diamati) dapat dikatakan memiliki eksistensi.
Realisme Ilmiah dalam Kajian Alam
Asumsi dan karakteristik realisme ilmiah
Ketika kita menerapkan realisme ilmiah ke dalam kajian alam (ilmu alam seperti fisika, kimia, biologi), ada beberapa asumsi dasar dan karakteristik yang perlu dipahami:
- Dunia eksternal independen: Alam (fenomena dan entitas) ada secara independen dari pengamatan, pikiran atau teori manusia. Realisme ilmiah mengadopsi bahwa terdapat realitas alam yang tidak hanya hasil persepsi kita. Sebagai contoh dalam pendidikan: “Realisme … berpendapat bahwa objek indera kita memang nyata dan ada secara independen dari pengetahuan atau persepsi manusia.” [Lihat sumber Disini - kabarlah.com]
- Teori ilmiah sebagai representasi dari realitas: Teori-ilmiah tidak sekadar alat untuk prediksi saja, tetapi memberikan gambaran (representasi) yang mendekati kebenaran. Sebagaimana disebut, “Realisme ilmiah … menegaskan bahwa teori-teori ilmiah, jika benar, memberikan deskripsi akurat tentang dunia nyata…” [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]
- Kemajuan ilmiah dan convergence (kemiripan): Realis percaya bahwa ilmu berkembang menuju representasi yang lebih tepat atas realitas, walaupun belum sempurna. Chakravartty menyebut bahwa realisme mencakup “convergence thesis”, bahwa teori contemporary mendekati teori ideal. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
- Entitas yang tidak diamati: Realisme ilmiah memberikan komitmen bahwa entitas ilmiah yang tidak langsung diamati (misalnya atom, gen, partikel sub-atom) benar-benar ada dan menjadi bagian dari realitas ilmiah. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
- Implikasi metodologis dan epistemologis: Pendekatan realisme mempengaruhi bagaimana metode ilmiah dipandang,yakni bukan hanya observasi dan pengukuran, tetapi juga interpretasi teori sebagai menggambarkan realitas. [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]
Contoh konkret dalam kajian alam
Berikut beberapa contoh penerapan realisme ilmiah dalam kajian alam:
1. Mikroskop dan entitas mikroskopis
Dalam ilmu biologi dan kimia, teori-ilmiah mengusulkan keberadaan entitas yang tidak langsung “terlihat” oleh indera manusia (misalnya sel, molekul, atom). Pendekatan realisme ilmiah menyatakan bahwa entitas-entitas tersebut memang benar ada secara independen, dan teori kita mencoba menggambarkan bagaimana ia berperilaku. Ketika mikroskop elektron menunjukkan struktur sel atau molekul, hal ini memperkuat pandangan realisme bahwa teori dan teknologi mendekatkan kita ke realitas.
2. Fisika partikel
Dalam fisika, teori seperti partikel-elementer, gaya fundamental, dll, mengusulkan entitas yang tidak dapat diamati langsung oleh manusia biasa (misalnya quark, gluon). Realisme ilmiah menyatakan bahwa jika teori-teori ini berhasil menjelaskan dan memprediksi fenomena, maka ada alasan untuk percaya bahwa entitas tersebut memang bagian dari dunia nyata.
3. Ekologi dan sistem alam kompleks
Dalam kajian ekologi, sistem-alam seperti jaring makanan, interaksi spesies-lingkungan, siklus biogeokimia dianggap sebagai realitas yang eksis secara mandiri. Teori-ilmiah ekologi yang dapat memprediksi perubahan populasi atau dampak lingkungan terhadap sistem alam dianggap mendekati realitas alam yang sesungguhnya. Dari sudut pandang realisme ilmiah, keberhasilan prakiraan tersebut menunjukkan bahwa teori kita “menangkap” aspek realitas alam.
4. Perubahan iklim dan model cuaca
Model-ilmiah perubahan iklim dan sistem cuaca memprediksi fenomena seperti kenaikan suhu global, pola curah hujan, pencairan es di kutub. Realisme ilmiah akan berargumen bahwa jika model-ilmiah terus dikonfirmasi oleh observasi dan eksperimen, maka model-dan-teori tersebut tidak semata konstruksi matematis belaka tetapi benar-benar menggambarkan realitas alam yang mendasarinya. Hal ini penting untuk kebijakan publik dan pengambilan keputusan ilmiah.
5. Pemanfaatan prinsip realisme ilmiah dalam pendidikan sains
Dalam pendidikan IPA, pendekatan realisme ilmiah mendorong siswa untuk memahami bahwa konsep-konsep ilmiah (seperti atom, energi, gelembung udara, struktur sel) bukan hanya “alat bantu pikir” tetapi representasi dari alam nyata yang eksis. Dengan demikian, pembelajaran diarahkan pada pemahaman bahwa ilmu memungkinkan kita menembus indera langsung dan memahami realitas alam di balik pengamatan. Studi “Relevansi aliran filsafat realisme dalam pembelajaran abad 21…” menunjukkan bahwa realisme memberikan landasan bahwa dunia nyata dapat dikenali melalui observasi dan pengalaman langsung. [Lihat sumber Disini - journal.unpas.ac.id]
Kritik dan tantangan terhadap realisme ilmiah
Meskipun realisme ilmiah memiliki daya tarik besar, terdapat berbagai kritik dan tantangan yang perlu diperhatikan:
- Sejarah sains menunjukkan bahwa banyak teori ilmiah yang dulu dianggap “benar” kemudian digantikan atau direvisi besar-besaran (misalnya eter dalam fisika klasik). Hal ini menjadi tantangan bagi klaim bahwa teori-ilmiah benar atau mendekati kebenaran. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
- Dalam fisika kuantum, interpretasi realitas menjadi rumit,apa yang “ada” secara ontologis sulit dipastikan. Sebagai contoh dalam studi “The (meta)metaphysics of science…” disebut bagaimana realisme konfrontasi dengan mekanika kuantum. [Lihat sumber Disini - arxiv.org]
- Ada aliran alternatif seperti instrumentalisme yang menegaskan bahwa teori-ilmiah hanyalah alat prediksi, bukan representasi literal dari realitas. Realisme struktural mencoba menjembatani posisi tersebut, tetapi tetap menimbulkan pertanyaan tentang “apa yang benar-benar ada?”. [Lihat sumber Disini - philarchive.org]
- Dari perspektif sosiologi ilmu, teori-ilmiah juga dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, paradigma ilmiah, yang memunculkan pertanyaan: sampai sejauh mana teori-ilmiah benar-benar merepresentasikan realitas atau konstruksi manusia?
Dengan demikian, meski realisme ilmiah memberikan kerangka yang kuat, tetap diperlukan sikap kritis dalam menerapkannya khususnya dalam kajian alam.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa realisme ilmiah adalah posisi filosofis dalam filsafat ilmu yang sangat penting untuk memahami hubungan antara teori-ilmiah, observasi, dan realitas alam. Realisme ilmiah menegaskan bahwa dunia alam ada secara mandiri dari pikiran manusia, teori-ilmiah berfungsi untuk mendeskripsikan atau merepresentasikan dunia tersebut (termasuk entitas-yang-tidak-teramati), dan ilmu mengalami kemajuan menuju pemahaman yang lebih tepat atas realitas alam. Dalam konteks kajian alam, realisme ilmiah membantu menegaskan bahwa konsep-ilmu (sel, atom, partikel, sistem ekologi) bukan sekadar konstruksi intelektual, tapi memiliki basis eksistensi nyata.
Namun demikian, realisme ilmiah tidak bebas dari kritik. Sejarah sains, perkembangan fisika kuantum, dan pandangan lain seperti instrumentalisme menunjukkan bahwa klaim tentang representasi literal dari realitas harus dihadapi dengan kerendahan hati dan kesadaran akan keterbatasan teori. Dengan demikian, bagi pelaku dan pengguna ilmu,termasuk dalam pendidikan dan pengembangan pembelajaran alam,sikap terbaik adalah menggabungkan optimisme bahwa ilmu mampu mendekati realitas dengan sikap reflektif bahwa pemahaman kita bersifat terbuka dan dapat direvisi.