
DFD (Data Flow Diagram): Level 0, 2
Pendahuluan
Pada era digital saat ini, kebutuhan akan sistem informasi yang terstruktur dan efisien sangat tinggi. Baik dalam pengembangan aplikasi, sistem informasi perusahaan, maupun sistem berbasis web, diperlukan representasi yang jelas mengenai bagaimana data mengalir, diproses, dan disimpan di dalam sistem agar dapat dipahami bersama oleh tim analis, pengembang, maupun pemangku kepentingan lain. Salah satu alat bantu paling populer dan efektif untuk tujuan tersebut adalah Data Flow Diagram (DFD).
Melalui DFD, kompleksitas sistem bisa disederhanakan menjadi diagram grafis yang menggambarkan aliran data, proses, penyimpanan data, dan interaksi eksternal secara logis. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai DFD, mulai dari definisi, komponen, level-level DFD (termasuk Level 0 hingga Level 2), aturan pembuatan, contoh penerapan pada sistem informasi, hingga kesalahan umum dalam pemodelan DFD.
Definisi Data Flow Diagram (DFD)
Definisi Umum
DFD adalah representasi grafis dari aliran data dalam sebuah sistem informasi. Diagram ini menunjukkan bagaimana data masuk ke sistem (input), diproses melalui sejumlah proses, kemudian dihasilkan output, serta bagaimana data disimpan dalam data store, serta bagaimana sistem berinteraksi dengan entitas eksternal. [Lihat sumber Disini - binus.ac.id]
Sebagai alat pemodelan, DFD membantu memetakan transformasi data dan arus informasi tanpa harus terikat pada detil teknis implementasi (misalnya bahasa pemrograman, struktur basis data, atau user interface). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi dalam KBBI
Istilah “Data Flow Diagram”, dalam bahasa Indonesia kadang diterjemahkan sebagai “Diagram Alir Data (DAD)”, belum lazim tercantum secara resmi di dalam versi daring KBBI. Namun, dalam literatur akademik dan buku teks sistem informasi, DFD atau DAD diartikan sebagai representasi grafis dari aliran data dan pemrosesan data dalam sistem informasi. [Lihat sumber Disini - repo.darmajaya.ac.id]
Dengan demikian, istilah tersebut lebih merupakan istilah teknis/akademik dalam ilmu komputer dan sistem informasi, bukan istilah umum sehari-hari menurut KBBI.
Definisi Menurut Para Ahli
Beberapa definisi dari para ahli / literatur akademik mengenai DFD antara lain:
-
Menurut penulis di modul “DFD dalam Rekayasa Perangkat Lunak”, DFD adalah diagram grafis yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana data mengalir melalui sistem. [Lihat sumber Disini - bse.telkomuniversity.ac.id]
-
Dalam literatur akademik yang lebih lama (teori struktur analisis/desain sistem), DFD digambarkan sebagai bagian dari metodologi analisis terstruktur, untuk memecah sistem kompleks menjadi modul-modul dan memetakan aliran data antar modul. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Dalam sebuah penelitian penerapan DFD untuk sistem pakar berbasis web, DFD digunakan untuk menggambarkan desain sistem mulai dari diagram konteks (context), DFD Level 0, kemudian dilanjutkan ke Level 1. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Dalam sebuah kajian tentang perancangan sistem informasi manufaktur, DFD digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi aliran informasi kebutuhan material dan menggambarkan input, proses, serta output secara logis. [Lihat sumber Disini - corisindo.utb-univ.ac.id]
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa DFD adalah alat pemodelan logis yang berfokus pada aliran data dalam sistem, memetakan bagaimana data bergerak, diproses, dan disimpan, tanpa memedulikan detail implementasi.
Simbol dan Komponen DFD
Dalam DFD, terdapat beberapa komponen dasar yang dibedakan berdasarkan fungsi dan peran mereka di dalam pemodelan sistem. Umumnya komponen tersebut meliputi: proses (process), aliran data (data flow), penyimpanan data (data store), dan entitas eksternal (external entity / terminator). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Process: Merepresentasikan kegiatan atau transformasi data, misalnya pemrosesan input menjadi output, kalkulasi, validasi, atau transformasi lainnya. Simbolnya bisa berupa lingkaran, oval, atau persegi panjang dengan sudut melengkung tergantung notasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Data Flow (Aliran Data): Dilambangkan dengan panah (arrow), menunjukkan pergerakan data dari satu komponen ke komponen lain, misalnya dari entitas eksternal ke proses, dari proses ke data store, atau sebaliknya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Data Store (Penyimpanan Data): Digunakan untuk menyimpan data yang dapat digunakan kembali di kemudian waktu, misalnya database, file, tabel, atau penyimpanan sementara lainnya. Simbolnya biasanya dua garis paralel atau representasi penyimpanan lainnya sesuai notasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
External Entity (Entitas Eksternal / Terminator): Merepresentasikan pihak luar sistem yang berinteraksi dengan sistem, bisa pengguna, sistem eksternal lain, organisasi, atau sumber/penerima data. Digambarkan dengan kotak atau persegi panjang. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Komponen-komponen ini memungkinkan perancang sistem untuk memetakan secara jelas siapa saja yang berinteraksi dengan sistem, bagaimana data masuk dan keluar, bagaimana data diproses, dan di mana data disimpan.
Level DFD: Context Diagram, Level 0, Level 1, Level 2
Context Diagram (Diagram Konteks)
Context Diagram merupakan level tertinggi dari DFD. Diagram ini menggambarkan sistem secara keseluruhan sebagai satu proses tunggal, serta semua entitas eksternal yang terhubung dengannya, termasuk input dan output utama. Dengan demikian, Context Diagram menunjukkan batas sistem secara umum: apa saja yang masuk ke sistem, dan apa saja yang keluar, serta siapa saja yang berinteraksi. [Lihat sumber Disini - repository.dinamika.ac.id]
Contoh dalam penelitian: dalam perancangan sistem pelayanan masyarakat berbasis WhatsApp, context diagram digunakan untuk memetakan semua entitas eksternal (misalnya masyarakat/pengguna, petugas/admin) dan bagaimana data pelaporan masuk ke sistem, serta output seperti notifikasi atau balasan ke masyarakat. [Lihat sumber Disini - journal.eng.unila.ac.id]
DFD Level 0
Setelah membuat Context Diagram, langkah berikutnya adalah mendekomposisi sistem menjadi beberapa proses utama, diagram ini dikenal sebagai DFD Level 0. Di Level 0, sistem dipresentasikan sebagai kumpulan proses besar, data store, aliran data, dan entitas eksternal. Level ini memberikan gambaran struktural sistem tanpa masuk ke detail setiap proses. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
DFD Level 0 membantu stakeholder memahami modul-modul utama dan interaksi data antar modul, serta relasi dengan entitas eksternal. Sebagai contoh, dalam sistem penjualan web-based, proses utama pada Level 0 bisa mencakup: “Kelola Data Produk”, “Proses Pembelian”, “Konfirmasi Pembayaran”, “Kelola Data Pelanggan/Pengguna”, dst. [Lihat sumber Disini - arna.lecturer.pens.ac.id]
DFD Level 1
Pada Level 1, setiap proses di Level 0 dapat di-dekomposisi (dipecah) lagi menjadi sub-proses yang lebih detail, sehingga sistem dipetakan dengan tingkat granularitas lebih tinggi. Contohnya, proses “Proses Pembelian” bisa dipecah menjadi “Pilih Produk”, “Keranjang Belanja”, “Buat Faktur”, “Konfirmasi Pembayaran”, dll. [Lihat sumber Disini - arna.lecturer.pens.ac.id]
Dengan demikian, Level 1 memperlihatkan alur data yang lebih terperinci, interaksi data antar sub-proses, data store yang digunakan, serta entitas eksternal jika relevan. Hal ini membantu tim pengembang dan analis untuk memahami detil fungsional sistem sebelum berpindah ke tingkat implementasi. [Lihat sumber Disini - pranata.kemenkeu.go.id]
DFD Level 2
Jika sistem masih memiliki sub-proses yang kompleks, maka dekomposisi dapat dilanjutkan lagi hingga Level 2 (atau lebih, tergantung kebutuhan). Di Level 2, sub-proses dari Level 1 dipecah kembali menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sehingga setiap proses menjadi lebih mudah dipahami dan terdefinisi dengan jelas. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dalam banyak studi kasus, DFD Level 2 sudah cukup untuk menggambarkan seluruh alur data dan detail proses sistem, seperti dalam penelitian sistem informasi penjualan web, sistem pakar, sistem manajemen material, atau layanan masyarakat berbasis digital. [Lihat sumber Disini - ijite.jredu.id]
Aturan Pembuatan DFD
Agar DFD menjadi efektif, representatif, dan mudah dipahami, ada beberapa aturan dasar dalam pembuatannya:
-
Pastikan setiap proses memiliki nama yang jelas (menggambarkan fungsinya), serta memiliki input dan output data yang terdefinisi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Setiap data flow harus memiliki nama yang mencerminkan data yang ditransfer, dan tiap aliran harus menghubungkan process ↔ store / process ↔ external entity / process ↔ process. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Setiap data store harus memiliki setidaknya satu aliran input dan satu aliran output (kecuali untuk penyimpanan eksternal) untuk menunjukkan penggunaan data. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Entitas eksternal (external entity / terminator) harus berada di luar sistem yang dimodelkan, merepresentasikan actor/pihak di luar sistem, bukan bagian dari proses internal. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Hierarki level DFD (context → level 0 → level 1 → level 2, dst.) harus konsisten: output data, data store, dan entitas eksternal di level tinggi tetap relevan dan terhubung di level-level di bawahnya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Hindari memasukkan logika kontrol (seperti keputusan, loop, kondisi), DFD fokus hanya pada aliran data, bukan kontrol alur. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dengan mengikuti aturan-aturan ini, DFD akan menjadi alat komunikasi yang efektif antar pemangku kepentingan (analis, developer, user), membantu menghindari ambiguitas, serta mempermudah proses perancangan sistem.
Contoh DFD pada Sistem Informasi
Beberapa penelitian dan implementasi sistem informasi menggunakan DFD sebagai bagian dari perilaku sistem dan dokumentasi alur data. Berikut beberapa contoh nyata:
-
Pada penelitian sistem pelayanan masyarakat berbasis WhatsApp, penulis mengembangkan DFD mulai dari Context Diagram, DFD Level 0, hingga Level 1 dan 2 untuk menggambarkan alur laporan masyarakat → admin → validasi → respons ke masyarakat. [Lihat sumber Disini - journal.eng.unila.ac.id]
-
Pada penelitian sistem informasi penjualan web-based (produk minuman tradisional / UMKM), DFD digunakan untuk memetakan proses mulai dari admin memasukkan data produk, pembeli melakukan order, proses pembayaran, konfirmasi, hingga penyimpanan data transaksi. Diagram dibuat hingga Level 2 agar detail alur data dan subsistem terlihat jelas. [Lihat sumber Disini - ijite.jredu.id]
-
Dalam studi kasus di bidang manufaktur, perancangan sistem kebutuhan material menggunakan DFD untuk memetakan aliran informasi dari permintaan material, persetujuan, penyimpanan data material, hingga distribusi dan penggunaan material. [Lihat sumber Disini - corisindo.utb-univ.ac.id]
-
Dalam implementasi sistem pakar berbasis web (misalnya untuk penentuan kebutuhan gizi), DFD digunakan sebagai kerangka dasar untuk mendokumentasikan bagaimana data input (klien, data gizi, aktivitas) diproses ke output rekomendasi gizi, serta bagaimana data disimpan di data store. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Dari contoh-contoh di atas terlihat bahwa DFD sangat fleksibel, bisa diterapkan untuk berbagai jenis sistem informasi: layanan masyarakat, e-commerce/UMKM, manufaktur, sistem pakar, sistem informasi internal, dan lain-lain.
Kesalahan Umum dalam DFD Modeling
Meskipun DFD relatif sederhana dan intuitif, banyak kesalahan umum yang terjadi saat membuat DFD, terutama bagi pemula atau saat dokumentasi dilakukan terburu-buru. Berikut beberapa kesalahan yang sering terjadi:
-
Mencampur aliran data dengan aliran kontrol, memasukkan logika keputusan, loop, atau urutan proses ke dalam DFD. Padahal DFD seharusnya hanya menggambarkan aliran data saja. Hal ini membuat DFD menjadi rumit dan sulit dibaca.
-
Proses tanpa input atau output, membuat “proses” yang tidak memiliki aliran data masuk atau keluar, sehingga fungsi proses menjadi ambigu.
-
Data store tanpa aliran yang jelas, misalnya data store dibuat, tetapi tidak ada flow input atau output ke store tersebut sehingga data store “mengambang” dan tidak jelas perannya.
-
Entitas eksternal yang berada di dalam sistem, memposisikan external entity sebagai bagian dari sistem internal, misalnya menggambarkan user internal sebagai bagian dari sistem, padahal mereka harus dianggap pihak luar/pengguna.
-
Terlalu banyak proses dalam satu diagram (overload), membuat satu level DFD dengan terlalu banyak proses sehingga diagram menjadi padat dan sulit dibaca; idealnya tiap diagram (per proses) dibatasi jumlah proses agar lebih jelas. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Inkonistensi antar level, data flow, nama proses, atau data store yang berubah atau hilang ketika mendekomposisi ke level lebih rendah, sehingga struktur sistem menjadi tidak konsisten.
-
Kurang dokumentasi (nama proses, nama data flow, dsb.), membuat diagram sulit dipahami oleh orang lain karena label kurang jelas atau tidak informatif.
Menghindari kesalahan-kesalahan tersebut penting agar DFD tetap menjadi alat komunikasi yang efektif, mudah dipahami, dan dapat digunakan sebagai dasar perancangan sistem yang akurat.
Kesimpulan
Data Flow Diagram (DFD) adalah alat pemodelan sistem informasi yang powerful dan fleksibel, memungkinkan perancang sistem untuk memvisualisasikan aliran data, proses, penyimpanan data, dan interaksi eksternal secara logis tanpa tergantung detail implementasi.
Dengan menggunakan DFD, kompleksitas sistem bisa disederhanakan melalui representasi grafis, memudahkan komunikasi antar stakeholder, dan membantu analisis serta perancangan sistem secara sistematis.
Penting untuk mengikuti aturan dasar pembuatan DFD agar diagram tetap jelas, konsisten, dan bebas dari ambiguitas. Level-level seperti Context Diagram, Level 0, Level 1, dan Level 2 memungkinkan dekomposisi sistem dari gambaran umum hingga detail operasional.
Pada praktiknya, DFD telah banyak diterapkan dalam berbagai jenis sistem, mulai dari layanan masyarakat, e-commerce/UMKM, sistem manufaktur, hingga sistem pakar, dan terbukti membantu memetakan alur data secara efektif.
Namun, pembuat DFD juga harus berhati-hati terhadap kesalahan umum seperti mencampur aliran kontrol, proses tanpa aliran data, data store yang “mengambang”, dan inkonsistensi antar level.
Secara keseluruhan, DFD tetap menjadi fondasi analisis dan perancangan sistem informasi yang fundamental, asalkan digunakan dengan benar dan konsisten.