
Gangguan Pola Nutrisi: Faktor dan Penatalaksanaan
Pendahuluan
Pola nutrisi memiliki peran krusial dalam menjaga kesehatan manusia, mulai dari pemenuhan kebutuhan energi hingga pemenuhan zat gizi mikro (protein, vitamin, mineral). Ketidakseimbangan asupan dan kebutuhan nutrisi dapat menyebabkan kondisi patologis yang secara umum dikenal sebagai gangguan pola nutrisi atau malnutrisi. Kondisi ini tidak hanya berupa kekurangan gizi (under-nutrition), tetapi juga bisa berupa kelebihan gizi (over-nutrition), dan keduanya membawa risiko kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang. Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan, termasuk perawat, untuk memahami definisi, faktor penyebab, dampak, serta strategi penilaian dan intervensi keperawatan. Artikel ini membahas definisi gangguan pola nutrisi, jenis-jenisnya, faktor yang mempengaruhi, dampaknya terhadap kesehatan, metode penilaian nutrisi, intervensi keperawatan, serta contoh kasus untuk memperjelas penerapan.
Definisi Gangguan Pola Nutrisi
Definisi Umum
Gangguan pola nutrisi merujuk pada kondisi di mana asupan dan/atau pemanfaatan nutrisi dalam tubuh tidak sesuai dengan kebutuhan fisiologis, sehingga terjadi ketidakseimbangan gizi. Kondisi ini dapat berupa kekurangan nutrisi, kelebihan nutrisi, ataupun ketidakseimbangan zat gizi tertentu. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
Definisi dalam KBBI
Menurut definisi nutrisi secara umum, “nutrisi” mencakup zat-zat gizi dan bahan lain dalam makanan yang dibutuhkan tubuh agar berfungsi dengan baik; gangguan nutrisi kemudian merupakan kegagalan tubuh mendapatkan atau memanfaatkan zat-zat tersebut secara tepat. (Definisi “nutrisi/gizi” sesuai KBBI, sebagai dasar konseptual)
Definisi Menurut Para Ahli
-
Menurut Tarwoto & Wartonah (dalam literatur keperawatan), nutrisi adalah keseluruhan proses tubuh menerima makanan dari lingkungan dan menggunakan bahan-bahan tersebut untuk aktivitas penting tubuh serta mengeluarkan sisa. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Menurut Ulia dkk. (2021), defisit nutrisi (“malnutrisi”) merupakan keadaan di mana asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. [Lihat sumber Disini - journal.stikespemkabjombang.ac.id]
-
Menurut literatur baru, malnutrisi, baik akibat kekurangan maupun kelebihan, adalah ketidakseimbangan kalori, protein, dan zat gizi lainnya yang mempengaruhi fungsi tubuh, komposisi jaringan, serta kesehatan secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
-
Menurut penelitian pada pasien dewasa rawat inap, diagnosis malnutrisi sering menggunakan penilaian komprehensif seperti Subjective Global Assessment (SGA), yang mempertimbangkan kehilangan berat badan, massa otot, asupan makan, dan kondisi kesehatan, menunjukkan bahwa gangguan pola nutrisi bukan sekadar soal berat badan saja, tapi juga kualitas gizi dan fungsi tubuh. [Lihat sumber Disini - repository.binawan.ac.id]
Jenis Gangguan Nutrisi (Kurang / Lebih)
Gangguan pola nutrisi bisa dibagi dalam dua kelompok besar:
-
Gizi Kurang / Kekurangan Nutrisi (Under-nutrition / Malnutrisi kurang)
Ini mencakup kondisi di mana asupan energi, protein, vitamin, atau mineral tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Misalnya kekurangan energi-protein, kekurangan mikro-nutrien, atau malnutrisi kronis. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
-
Gizi Lebih / Kelebihan Nutrisi (Over-nutrition, Overweight, Obesitas)
Kelebihan asupan kalori dan/atau zat gizi tertentu dapat menyebabkan penumpukan energi dan lemak tubuh, yang lama-lama meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dan penyakit tidak menular lainnya. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
Selain itu, malnutrisi dapat terjadi dalam bentuk:
-
Kekurangan nutrisi akut, misalnya ketika intake sangat rendah dalam waktu singkat, menyebabkan penurunan berat badan drastis atau wasting. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Kekurangan nutrisi kronis, misalnya asupan kurang dalam jangka panjang, menyebabkan stunting (tinggi badan tidak sesuai usia pada anak-anak). [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Faktor yang Mempengaruhi Pola Nutrisi
Banyak faktor dapat mempengaruhi terjadinya gangguan pola nutrisi, antara lain:
-
Status sosial-ekonomi dan ekonomi keluarga, Keterbatasan ekonomi dapat mengurangi akses terhadap makanan bergizi, sehingga keluarga sulit memenuhi kebutuhan gizi seimbang. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
-
Pengetahuan dan edukasi mengenai nutrisi (terutama orang tua / ibu), Rendahnya pengetahuan mengenai nutrisi sehat dan pola makan seimbang membuat implementasi asupan gizi optimal sulit dilakukan. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stikeseub.ac.id]
-
Asupan makanan dan pola makan keluarga / individu, Ketidakteraturan pola makan, preferensi makanan tidak sehat, distribusi makronutrien yang tidak tepat, atau kurangnya makanan beragam (protein, sayur, buah, mikro-nutrien) dapat menyebabkan malnutrisi atau over-nutrition. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Faktor kesehatan: penyakit, infeksi, gangguan penyerapan (malabsorbsi), gangguan makan, kondisi metabolik, Penyakit kronis, gangguan pencernaan, kehamilan, stres metabolik, atau kondisi medis lainnya dapat mengganggu penyerapan atau kebutuhan nutrisi, sehingga menyebabkan malnutrisi. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
-
Lingkungan dan sanitasi, Sanitasi buruk, akses terbatas ke air bersih dan layanan kesehatan dapat meningkatkan risiko infeksi, yang dapat memperberat malnutrisi. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
-
Kebiasaan gaya hidup / perilaku makan, Misalnya kurang bervariasi, konsumsi makanan instan/junk food, kelebihan kalori, kurang aktivitas fisik, dapat menyebabkan gizi lebih. [Lihat sumber Disini - jptam.org]
Dampak Gangguan Nutrisi terhadap Kesehatan
Gangguan pola nutrisi, baik kurang maupun lebih, membawa efek negatif serius terhadap kesehatan dan perkembangan manusia:
-
Pada anak: tumbuh-kembang terganggu. Kekurangan nutrisi kronis dapat menyebabkan stunting (tinggi tubuh di bawah standar), wasting (berat badan rendah terhadap tinggi badan), keterlambatan perkembangan motorik dan kognitif, serta gangguan perkembangan saraf. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]
-
Penurunan daya tahan tubuh dan peningkatan risiko infeksi. Malnutrisi melemahkan sistem imun, sehingga lebih rentan terhadap infeksi. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkespalembang.ac.id]
-
Dampak pada ibu hamil dan janin. Kekurangan gizi pada ibu hamil bisa menyebabkan bayi lahir dengan berat lahir rendah dan risiko stunting. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
-
Dampak jangka panjang pada kesehatan dewasa. Over-nutrition dapat menyebabkan obesitas, penyakit metabolik (diabetes, hipertensi), penyakit tidak menular, dan memperburuk kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
-
Konsekuensi sosial dan ekonomi. Anak dengan gizi buruk atau remaja dengan status gizi tidak normal memiliki performa perkembangan dan pendidikan yang lebih rendah, sering sakit, absensi sekolah tinggi, berdampak pada produktivitas dan kualitas sumber daya manusia. [Lihat sumber Disini - jurnal.uym.ac.id]
Penilaian Nutrisi (IMT, SGA, MUST)
Penilaian status gizi dan risiko malnutrisi penting dilakukan agar intervensi dapat direncanakan dengan tepat. Beberapa metode/alat penilaian yang sering digunakan:
-
Body Mass Index (IMT), Pengukuran antropometri sederhana berdasarkan berat dan tinggi badan, sering digunakan untuk menilai status gizi umum (underweight, overweight, obesitas). IMT < 18, 5 kg/m² bisa menunjukkan risiko malnutrisi pada dewasa. [Lihat sumber Disini - kemkes.go.id]
-
Subjective Global Assessment (SGA), Metode penilaian komprehensif yang mempertimbangkan riwayat penurunan berat badan, asupan makan, kondisi kesehatan, kehilangan massa otot dan lemak subkutan, serta kondisi fungsional. SGA dikategorikan menjadi gizi baik, malnutrisi sedang, atau malnutrisi berat. [Lihat sumber Disini - repository.binawan.ac.id]
-
Malnutrition Universal Screening Tool (MUST), Alat skrining yang sering digunakan pada pasien dewasa untuk mendeteksi risiko malnutrisi; melibatkan parameter seperti IMT, penurunan berat badan, dan asupan makanan. [Lihat sumber Disini - fr.scribd.com]
Catatan: Skrining (seperti MUST, atau alat setara) berbeda dengan asesmen penuh (seperti SGA); skrining digunakan untuk identifikasi awal risiko, sedangkan asesmen diperlukan untuk diagnosis dan perencanaan intervensi. [Lihat sumber Disini - mutupelayanankesehatan.net]
Intervensi Keperawatan dalam Gangguan Nutrisi
Sebagai tenaga keperawatan, intervensi terhadap gangguan pola nutrisi dapat mencakup beberapa aspek berikut:
-
Pendidikan dan penyuluhan tentang nutrisi, Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya asupan gizi seimbang, variasi makanan bergizi (protein, karbohidrat, lemak sehat, vitamin & mineral), dan bahaya malnutrisi maupun kelebihan gizi. Terutama penting bila ada kurangnya pengetahuan gizi dalam keluarga/ibu.
-
Perencanaan diet sesuai kebutuhan individu, Menyusun rencana makan (meal plan) berdasarkan kebutuhan energi dan zat gizi, kondisi medis, kemampuan makan, dan kemampuan penyerapan. Untuk pasien dewasa dengan malnutrisi berat, bisa dipertimbangkan dukungan nutrisi khusus (enteral/parenteral) sesuai pedoman. [Lihat sumber Disini - kemkes.go.id]
-
Pemantauan status gizi dan kondisi klinis secara berkala, Melakukan pengukuran antropometri, berat badan, IMT; memantau intake makanan; mengevaluasi gejala seperti nafsu makan turun, mual, muntah; serta kondisi fungsi tubuh, massa otot, lemak tubuh, aktivitas fungsional, untuk menilai efektivitas intervensi.
-
Kolaborasi dengan tim multidisipliner, Jika diperlukan, melibatkan ahli gizi, dokter, fisioterapis, pekerja sosial, untuk menangani aspek medis, nutrisi, psikososial, dan pendidikan.
-
Edukasi dan pendampingan keluarga, Karena pola makan dan asupan nutrisi sangat dipengaruhi lingkungan keluarga, perawat dapat mendampingi keluarga dalam implementasi pola makan sehat, memantau konsumsi, dan memberikan dukungan psikososial jika ada resistensi perubahan gaya hidup.
Contoh Kasus Gangguan Nutrisi Pasien
Misalnya, berdasarkan penelitian di rumah sakit, ada pasien pascastroke yang setelah dinilai dengan SGA menunjukkan status “malnutrisi” meskipun IMT menunjukkan obesitas atau underweight, hal ini menegaskan bahwa status gizi tidak bisa dilihat hanya dari IMT, tetapi juga kualitas gizi dan komposisi tubuh. [Lihat sumber Disini - repository.unsri.ac.id]
Atau dalam konteks balita: sebuah studi di Desa Sumbersari, Kecamatan Sekampung (2023) menemukan hubungan signifikan antara pola makan dan kejadian gizi kurang pada balita usia 24, 59 bulan, menunjukkan pentingnya edukasi gizi bagi orang tua. [Lihat sumber Disini - journal.aisyahuniversity.ac.id]
Kesimpulan
Gangguan pola nutrisi, baik dalam bentuk kekurangan maupun kelebihan gizi, merupakan masalah kesehatan yang kompleks dengan banyak faktor penyebab, mulai dari aspek ekonomi, pengetahuan, pola makan, hingga kondisi kesehatan dan lingkungan. Dampaknya luas: mempengaruhi tumbuh kembang, fungsi tubuh, sistem imun, hingga risiko penyakit kronis. Oleh karena itu, penting bagi tenaga keperawatan dan tim kesehatan untuk melakukan penilaian status gizi secara komprehensif (menggunakan metode seperti IMT, SGA, MUST), memberikan edukasi serta intervensi gizi yang sesuai, dan melibatkan keluarga serta lingkungan pasien dalam rangka pemulihan dan pencegahan jangka panjang. Upaya ini menjadi bagian penting dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan individu maupun masyarakat.