
Nutrisi Ibu Menyusui: Kebutuhan dan Pengaruh
Pendahuluan
Masa laktasi, yaitu periode setelah melahirkan saat ibu memberikan air susu ibu (ASI) kepada bayinya, merupakan fase krusial bagi kesehatan ibu maupun pertumbuhan dan perkembangan bayi. Pada masa ini, tubuh ibu tidak hanya harus memulihkan kondisi setelah kehamilan dan persalinan, tetapi juga memproduksi ASI yang cukup dan bergizi. Oleh karena itu, asupan nutrisi ibu menyusui menjadi sangat penting. Nutrisi yang baik akan memastikan ibu tetap sehat, mendukung produksi ASI berkualitas, serta menjamin bahwa bayi mendapatkan zat gizi optimal untuk tumbuh dan berkembang secara ideal. Artikel ini akan mengulas secara komprehensif kebutuhan kalori dan nutrisi selama menyusui, jenis makanan yang dianjurkan, pengaruh nutrisi terhadap produksi ASI, faktor yang mempengaruhi pola makan ibu menyusui, peran suplementasi, risiko kekurangan nutrisi, dan dampak pada kesehatan ibu dan bayi.
Definisi Nutrisi Ibu Menyusui
Definisi Nutrisi Ibu Menyusui Secara Umum
“Nutrisi ibu menyusui” merujuk kepada asupan makanan dan zat gizi, baik makronutrien (karbohidrat, protein, lemak, air) maupun mikronutrien (vitamin, mineral, asam lemak esensial), yang dikonsumsi oleh ibu selama periode menyusui, dengan tujuan memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi tambahan akibat produksi ASI serta pemulihan pasca-melahirkan.
Definisi Nutrisi Ibu Menyusui dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “nutrisi” berarti gizi atau makanan dan zat-zati yang diperlukan tubuh untuk hidup dan tumbuh. Maka, “nutrisi ibu menyusui” berarti asupan gizi yang diperuntukkan bagi ibu yang sedang dalam masa menyusui agar tubuhnya mendapatkan zat-zat penting untuk memproduksi ASI dan menjaga kesehatannya sendiri.
Definisi Nutrisi Ibu Menyusui Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi dari literatur dan ahli:
-
Menurut ulasan oleh Marangoni dkk., nutrisi pada masa menyusui berkaitan dengan kebutuhan makro dan mikronutrien yang meningkat, termasuk asam lemak omega-3, vitamin, dan mineral, agar produksi ASI optimal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Dalam artikel tinjauan naratif “Nutrition for Optimal Lactation”, disebutkan bahwa nutrisi ibu laktasi mencakup seluruh asupan makanan dan suplemen bila perlu, serta memperhatikan status gizi awal dan volume ASI yang dihasilkan. [Lihat sumber Disini - karger.com]
-
Menurut hasil penelitian dari Bathula (2024), pola makan dan kebiasaan diet ibu dalam masa nifas dan menyusui sangat mempengaruhi kesehatan ibu dan bayi melalui komposisi ASI. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Studi observasional menunjukkan bahwa asupan energi dan protein ibu menyusui sering kali tidak mencukupi standar rekomendasi, sehingga mengindikasikan bahwa “nutrisi ibu menyusui” juga mencakup kecukupan asupan agar tidak terjadi defisiensi. [Lihat sumber Disini - jurnal.unsil.ac.id]
Dengan demikian, “nutrisi ibu menyusui” merupakan konsep multidimensional yang menyangkut kualitas dan kuantitas asupan zat gizi yang memadai selama periode laktasi untuk mendukung ibu dan bayi.
Kebutuhan Kalori dan Nutrisi Selama Menyusui
Selama menyusui, kebutuhan energi dan zat gizi ibu meningkat dibandingkan sebelum kehamilan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Menurut pedoman umum yang dikutip oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), ibu menyusui sebaiknya mengonsumsi tambahan sekitar +330 hingga +400 kilokalori per hari dibanding sebelum hamil. [Lihat sumber Disini - cdc.gov]
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan merekomendasikan rentang tambahan sebagai berikut: selama 6 bulan pertama menyusui: +330 kalori/hari; pada 6 bulan berikutnya: +400 kalori/hari. Dari segi makronutrien, rekomendasi meliputi peningkatan protein, lemak sehat (terutama asam lemak esensial), karbohidrat, serta asupan cairan, vitamin, dan mineral tertentu. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
Secara lebih spesifik:
-
Protein: tambahan sekitar +15, 20 gram per hari dibanding kebutuhan dasar. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
-
Asam lemak esensial (termasuk omega-3 & omega-6): Asupan lemak sehat jadi penting untuk mendukung kandungan lemak dalam ASI. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
-
Vitamin & mineral: vitamin A, vitamin C, vitamin E, kalsium, yodium, zat besi, seng/zinc, semuanya direkomendasikan lebih tinggi agar tubuh ibu dapat memproduksi ASI bergizi dan menjaga kesehatan ibu. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
-
Cairan: ASI adalah cairan, sehingga kebutuhan hidrasi meningkat, asupan air perlu lebih diperhatikan. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
Namun berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa banyak ibu menyusui belum mencapai kecukupan gizi ideal tersebut. Misalnya, di satu penelitian di Bandung hanya ~61% ibu dengan asupan energi adekuat, dan ~59% dengan asupan protein adekuat. [Lihat sumber Disini - jurnal.unsil.ac.id] Sedangkan penelitian lain menunjukkan proporsi ibu dengan asupan energi dan protein di bawah AKG cukup besar. [Lihat sumber Disini - persagi.org]
Jenis Makanan yang Meningkatkan Kualitas ASI
Agar kualitas ASI optimal, baik dari segi makronutrien maupun mikronutrien, ibu menyusui dianjurkan mengonsumsi makanan bervariasi yang kaya akan: protein, lemak sehat, buah & sayur, sumber vitamin dan mineral, serta cukup cairan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Beberapa contoh makanan/kelompok makanan:
-
Sumber protein: lauk animal (ikan, daging rendah lemak, telur), tahu/tempe (protein nabati), kacang, kacangan, legumes. Protein penting untuk penyusunan sel dan komponen ASI. [Lihat sumber Disini - jurnal.unsil.ac.id]
-
Lemak sehat / asam lemak esensial: terutama omega-3 (misalnya dari ikan berlemak seperti salmon, tuna; atau sumber nabati seperti biji chia, walnut), ini penting untuk perkembangan otak dan penglihatan bayi. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Karbohidrat kompleks: biji-bijian utuh, nasi merah, sayur, buah, umbi, memberi energi berkelanjutan dan mendukung volume ASI. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Buah & sayuran, sayuran hijau: sumber vitamin, mineral, antioksidan, mendukung kesehatan ibu dan kandungan mikronutrien dalam ASI. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Cairan / hidrasi: air putih, susu, jus buah tanpa gula berlebih, hidrasi penting agar produksi ASI terjaga. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
Dalam konteks budaya dan kebiasaan lokal, penelitian menunjukkan pentingnya edukasi gizi agar pola makan ibu menyusui lebih beragam dan mencakup semua kelompok makanan tersebut. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Pengaruh Nutrisi terhadap Produksi ASI
Asupan nutrisi ibu secara langsung mempengaruhi kuantitas dan kualitas ASI. Bila ibu mendapatkan nutrisi yang cukup, terutama makronutrien dan mikronutrien penting, produksi ASI serta kandungan gizi ASI cenderung optimal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa asupan gizi yang tidak memadai pada ibu menyusui dapat menyebabkan produksi ASI kurang optimal. [Lihat sumber Disini - journal.literasisains.id]
Sebaliknya, intervensi nutrisi, misalnya pemberian makanan tambahan berbasis herbal atau sumber alami, dalam beberapa penelitian terbukti meningkatkan produksi ASI. Contohnya: studi di Depok (2025) menemukan bahwa pemberian “food bar” dari bahan tepung daun katuk dan daun torbangun selama beberapa hari meningkatkan produksi ASI secara signifikan. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Namun penting dicatat bahwa suplementasi atau galaktagog harus dipertimbangkan dengan hati-hati, status gizi awal ibu, jenis makanan sehari-hari, dan kebutuhan individu mempengaruhi efektivitasnya. [Lihat sumber Disini - karger.com]
Faktor yang Mempengaruhi Pola Makan Ibu Menyusui
Beberapa faktor yang mempengaruhi pola makan dan asupan nutrisi ibu selama menyusui:
-
Pengetahuan dan pemahaman gizi: Ibu dengan pengetahuan lebih baik cenderung memiliki pola makan lebih seimbang. Sebaliknya, kurangnya edukasi menyebabkan makanan monoton atau tidak beragam. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikespersadanabire.ac.id]
-
Sosial budaya dan kepercayaan tradisional: Ada praktik pantangan makanan pasca-melahirkan (misalnya menghindari buah, susu, protein tertentu) karena dianggap “dingin” atau dapat mempengaruhi bayi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Kesibukan dan beban tugas ibu: Mengurus bayi, kurang tidur, aktivitas rumah tangga dapat membuat ibu sulit menjaga pola makan ideal atau frekuensi makan teratur. [Lihat sumber Disini - fkm.unair.ac.id]
-
Akses terhadap makanan bergizi dan ekonomi keluarga: Keterbatasan ekonomi atau akses ke makanan bergizi bisa menjadi hambatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.ensiklopediaku.org]
-
Dukungan dari tenaga kesehatan / sistem pendampingan: Konseling gizi, edukasi, modul diet-laktasi membantu ibu memahami kebutuhan gizi dan merencanakan asupan dengan lebih baik. [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id]
Peran Suplementasi pada Masa Laktasi
Suplementasi bisa dilihat sebagai pelengkap ketika asupan makanan sehari-hari sulit memenuhi kebutuhan nutrisi ibu menyusui. Dalam literatur internasional, asupan mikronutrien seperti yodium, asam lemak omega-3, vitamin tertentu dianjurkan untuk mendukung kualitas ASI dan perkembangan bayi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Namun, tidak semua ibu perlu suplemen, efektivitasnya tergantung kebutuhan individu, status gizi, dan pola makan. [Lihat sumber Disini - karger.com]
Beberapa penelitian juga menekankan pentingnya pemantauan dan rekomendasi profesional kesehatan sebelum mengambil suplemen agar tidak terjadi kelebihan atau interaksi zat gizi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Risiko Kekurangan Nutrisi pada Ibu
Jika kebutuhan nutrisi tidak tercukupi selama menyusui, ada beberapa risiko baik untuk ibu maupun bayi:
-
Produksi ASI bisa berkurang atau kandungan nutrisinya kurang optimal. [Lihat sumber Disini - persagi.org]
-
Ibu bisa mengalami kelelahan, anemia (jika zat besi rendah), defisiensi vitamin/mineral, penurunan kesehatan umum. [Lihat sumber Disini - analesdepediatria.org]
-
Bayi bisa mendapatkan ASI dengan kekurangan zat gizi tertentu, yang berisiko pada tumbuh-kembang, imunitas, kecerdasan, dan kesehatan jangka panjang. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Pola makan tidak beragam dan rendah gizi juga disebut dalam studi sebagai penyebab stunting pada bayi bila dilanjutkan hingga MP-ASI. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
Dampak Nutrisi terhadap Kesehatan Ibu dan Bayi
Nutrisi adekuat selama menyusui membawa banyak dampak positif:
-
Untuk bayi: ASI berkualitas menyediakan protein, lemak sehat, vitamin, mineral, dan zat gizi lain yang mendukung pertumbuhan fisik, otak, sistem imun, serta perkembangan optimal. [Lihat sumber Disini - gizi.fikk.unesa.ac.id]
-
Untuk ibu: membantu pemulihan pasca-melahirkan, menjaga energi, memperkuat sistem kekebalan, mendukung kesehatan jangka panjang, serta memungkinkan proses menyusui berjalan dengan nyaman dan berkelanjutan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Untuk hubungan ibu & anak: ASI eksklusif dan berkualitas mendukung bonding, nutrisi awal terbaik, dan meminimalkan risiko gangguan kesehatan pada bayi maupun ibu. [Lihat sumber Disini - repository.unhas.ac.id]
Kesimpulan
Nutrisi ibu menyusui adalah aspek krusial dalam kesehatan ibu dan bayi. Selama masa laktasi, ibu membutuhkan tambahan energi, protein, lemak sehat, vitamin, mineral, dan cairan. Konsumsi makanan yang beragam dan memenuhi kebutuhan gizi akan mendukung produksi ASI yang optimal serta memastikan bayi memperoleh nutrisi ideal. Namun kenyataannya banyak ibu yang belum mencapai kecukupan gizi. Penting bagi ibu menyusui untuk menyadari kebutuhan ini, serta mendapatkan edukasi, dukungan, dan bila perlu suplementasi yang tepat. Dengan pola makan dan asupan nutrisi yang baik, masa menyusui akan mendatangkan keuntungan ganda: kesehatan ibu terjaga, dan bayi tumbuh sehat secara optimal.