Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Risiko Kekurangan Nutrisi: Konsep dan Pencegahan. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/risiko-kekurangan-nutrisi-konsep-dan-pencegahan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Risiko Kekurangan Nutrisi: Konsep dan Pencegahan - SumberAjar.com

Risiko Kekurangan Nutrisi: Konsep dan Pencegahan

Pendahuluan

Kekurangan nutrisi, atau malnutrisi, tetap menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kondisi ini dapat terjadi ketika asupan energi, protein, vitamin, atau mineral tidak mencukupi kebutuhan tubuh, atau ketika terjadi ketidakseimbangan nutrisi akibat pola makan yang buruk, malabsorpsi, atau kondisi penyakit. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]

Dampaknya bisa sangat luas: dari gangguan pertumbuhan dan perkembangan (pada anak), hingga melemahkan sistem kekebalan tubuh, reduksi massa otot, penurunan fungsi organ, hingga peningkatan risiko komplikasi penyakit pada orang dewasa atau lansia. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat umum untuk memahami konsep risiko kekurangan nutrisi, mengenali faktor-faktor pemicunya, serta mengenali cara pencegahannya secara tepat, agar dampak negatif bisa diminimalisir.

Berikut pembahasan lengkap tentang risiko kekurangan nutrisi, dari definisi, faktor risiko, dampak, penilaian, hingga strategi pencegahan dan intervensi keperawatan, serta contoh kasus.


Definisi Risiko Kekurangan Nutrisi

Definisi Risiko Kekurangan Nutrisi Secara Umum

Secara umum, kekurangan nutrisi (under-nutrition) adalah kondisi di mana tubuh menerima asupan energi, protein, vitamin, atau mineral yang kurang dari kebutuhan akibat asupan makanan yang tidak adekuat, gangguan penyerapan, atau kebutuhan tubuh yang meningkat. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]

Kekurangan nutrisi dapat berupa defisiensi energi dan/atau protein (protein-energy malnutrition), maupun defisiensi mikronutrien seperti zat besi, vitamin, kalsium, dan sebagainya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi Risiko Kekurangan Nutrisi Menurut KBBI

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah “kekurangan nutrisi” atau “gizi kurang” merujuk pada kondisi di mana asupan gizi tidak mencukupi kebutuhan tubuh. (Catatan: definisi resmi dari situs KBBI, mohon dicek ulang langsung di KBBI daring bila diperlukan).

Definisi Risiko Kekurangan Nutrisi Menurut Para Ahli

Berbagai literatur dan penelitian ilmiah mendefinisikan malnutrisi, yang dalam banyak konteks dikonotasikan sebagai kekurangan nutrisi, dengan nuansa berbeda, tergantung dari fokus dan populasi studi:

  • Menurut Anto dkk., malnutrisi adalah suatu keadaan “ketidakseimbangan energi, protein, dan nutrisi lain yang berdampak buruk pada bentuk, fungsi, dan klinik tubuh.” [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]

  • Studi dari House dkk. menggambarkan bahwa malnutrisi bisa terjadi karena “asupan yang kurang atau kebutuhan/keluaran yang meningkat atau keduanya”, misalnya pada kondisi penyakit akut atau kronis. [Lihat sumber Disini - clinicalnutritionespen.com]

  • Dalam kajian systematic review, “kekurangan nutrisi” dilihat sebagai kondisi serius yang berkontribusi terhadap peningkatan morbiditas, lamanya masa perawatan di rumah sakit, mortalitas, dan biaya kesehatan, bila tidak segera diidentifikasi dan ditangani. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • World Health Organization (WHO) dan literatur gizi mendefinisikan malnutrisi sebagai kondisi yang mencakup defisiensi, kelebihan, atau ketidakseimbangan zat gizi; dalam konteks kekurangan nutrisi, bentuk-bentuknya bisa berupa “wasting” (berat badan rendah terhadap tinggi badan), “stunting” (tinggi badan rendah terhadap usia), atau “underweight” (berat badan rendah terhadap usia). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Dengan demikian, “risiko kekurangan nutrisi” dapat dipahami sebagai situasi atau kondisi di mana seseorang berada dalam kemungkinan besar mengalami defisiensi nutrisi, karena asupan buruk, penyerapan terganggu, kebutuhan tubuh meningkat, atau kombinasi faktor.


Faktor Risiko

Beberapa faktor dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kekurangan nutrisi. Berikut faktor-faktor utama, beserta penjelasan:

  • Penyakit kronis dan kondisi medis, Penyakit kronis, infeksi berulang, atau penyakit yang mengganggu penyerapan (malabsorpsi) dapat meningkatkan kebutuhan nutrisi atau menurunkan penyerapan zat gizi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Malabsorpsi / Gangguan penyerapan, Kondisi seperti gangguan pencernaan kronis, penyakit usus, atau masalah saluran cerna dapat menyebabkan tubuh tidak mampu menyerap nutrisi dengan efektif, meskipun asupan cukup. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Dehidrasi / kondisi kesehatan yang mempertinggi kebutuhan, Ketika tubuh kehilangan cairan atau dalam kondisi stress penyakit, kebutuhan energi dan nutrisi bisa meningkat; jika tidak diimbangi dengan asupan, risiko kekurangan meningkat. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Gangguan makan / pola makan tidak seimbang, Asupan makanan yang monoton, kurangnya makanan kaya protein atau mikronutrien, atau kebiasaan makan buruk dapat memicu kekurangan zat gizi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

  • Faktor sosial-ekonomi dan lingkungan, Status sosial ekonomi rendah, sanitasi buruk, pengetahuan kurang tentang nutrisi, serta keterbatasan akses terhadap makanan bergizi juga merupakan faktor risiko. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]

  • Kelompok usia rentan, Anak-anak, remaja, ibu hamil/menyusui, dan lansia lebih rentan terhadap kekurangan nutrisi karena kebutuhan yang berbeda, rentan malabsorpsi, atau kondisi kesehatan khusus. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Dampak Kekurangan Nutrisi pada Kesehatan

Kekurangan nutrisi dapat membawa berbagai dampak negatif bagi kesehatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Berikut sebagian dampaknya:

  • Gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak, Anak yang mengalami kekurangan nutrisi, terutama defisiensi protein dan energi pada masa awal kehidupan, berisiko mengalami hambatan perkembangan fisik dan sistem saraf, termasuk gangguan motorik dan kognitif. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]

  • Penurunan massa otot, lemah, dan berkurangnya fungsi tubuh, Pada anak maupun orang dewasa, malnutrisi dapat menyebabkan kelemahan otot, keterbatasan aktivitas fisik, serta penurunan daya tahan tubuh. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]

  • Gangguan sistem imun dan rentan infeksi, Kekurangan protein serta zat gizi mikro dapat mengganggu fungsi kekebalan tubuh, menjadikan individu lebih rentan terhadap berbagai penyakit. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]

  • Dampak jangka panjang: stunting, wasting, underweight, Defisiensi kronis dapat memunculkan kondisi seperti stunting (tinggi badan terganggu), wasting, atau underweight, terutama pada anak. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Penurunan kualitas hidup & peningkatan risiko komplikasi pada penyakit, Pada orang dewasa atau pasien rawat inap, malnutrisi dapat memperburuk prognosis, memperpanjang lama perawatan, meningkatkan komplikasi, bahkan meningkatkan mortalitas. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Penilaian Nutrisi

Untuk mendeteksi mereka yang berada di risiko kekurangan nutrisi, beberapa metode dan alat penilaian telah dikembangkan. Berikut yang umum digunakan:

Body Mass Index (IMT) (BMI / IMT)

IMT, rasio antara berat badan dan tinggi badan, sering dipakai sebagai indikator awal status gizi. Misalnya pada remaja, IMT dapat menunjukkan apakah seseorang underweight, normal, overweight, atau obesitas. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantarahasanajournal.com]

Subjective Global Assessment (SGA)

SGA merupakan metode penilaian status gizi berdasarkan karakteristik klinis seperti asupan nutrisi, penurunan berat badan yang tidak direncanakan, gejala terkait asupan makanan, kapasitas fungsional, dan permintaan metabolik. Alat ini lebih komprehensif dan dinilai valid untuk menilai malnutrisi pada pasien dewasa. [Lihat sumber Disini - clinscinutr.org]

Malnutrition Universal Screening Tool (MUST)

MUST adalah alat skrining yang dirancang untuk mendeteksi risiko malnutrisi di komunitas. Validitasnya cukup baik bila dibandingkan dengan SGA. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Penggunaan MUST secara sistematis dan berkala dapat membantu mengidentifikasi individu yang memerlukan intervensi nutrisi lebih dini. [Lihat sumber Disini - espen.org]

Catatan tentang Validitas Alat

Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa MUST memiliki sensitivitas dan spesifisitas cukup tinggi untuk mendeteksi risiko malnutrisi dibanding SGA, menjadikannya alat screening yang reliabel. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Namun, dalam populasi pasien rawat inap atau pasien dengan penyakit berat, penilaian komprehensif (seperti SGA) sering direkomendasikan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Strategi Pencegahan Kekurangan Nutrisi

Upaya pencegahan kekurangan nutrisi perlu dilakukan secara multilevel, dari individu, keluarga, hingga masyarakat. Berikut strategi utama:

  • Pendidikan gizi dan peningkatan literasi nutrisi, Masyarakat, terutama orang tua dan remaja, perlu diberikan edukasi tentang pentingnya gizi seimbang, kebutuhan protein, vitamin, dan mineral. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa pengetahuan kurang tentang nutrisi berhubungan dengan status gizi yang buruk. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stikeseub.ac.id]

  • Diversifikasi asupan makanan & pola makan seimbang, Mendorong konsumsi makanan kaya protein, sayur, buah, dan mikronutrien penting, serta menghindari pola makan monoton atau bergantung pada makanan rendah gizi. Hal ini penting untuk memenuhi kebutuhan makro dan mikro tubuh. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

  • Akses terhadap makanan bergizi & keamanan pangan, Pemerintah, komunitas, dan lembaga kesehatan perlu memastikan ketersediaan pangan bergizi, sanitasi, dan akses pendidikan serta layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]

  • Skrining dan penilaian gizi secara rutin, Menggunakan alat seperti MUST, SGA, atau IMT secara berkala di berbagai setting (klinik, rumah, komunitas) supaya kelompok rentan dapat terdeteksi dini. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Intervensi nutrisi tepat waktu, Jika ditemukan risiko atau malnutrisi, dilakukan tindakan seperti pemberian makanan bergizi, suplementasi, konseling gizi, serta pemantauan asupan dan status kesehatan.


Intervensi Keperawatan dalam Pemenuhan Nutrisi

Peran keperawatan sangat penting dalam mencegah dan menangani kekurangan nutrisi, terutama pada pasien atau populasi rentan. Berikut intervensi yang dapat dilakukan:

  • Penilaian status gizi secara rutin, Tenaga keperawatan dapat melakukan skrining awal (misalnya dengan MUST atau IMT) pada klien/pasien, terutama lansia, pasien penyakit kronis, atau pasien rawat inap, untuk mendeteksi risiko malnutrisi.

  • Edukasi dan konseling gizi, Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan gizi seimbang, cara menyiapkan makanan bergizi, serta menjelaskan kebutuhan nutrisi sesuai kondisi (misalnya pasca penyakit, penurunan nafsu makan, dll).

  • Monitoring asupan dan kondisi klinis, Mencatat asupan makanan, memperhatikan gejala malabsorpsi, dehidrasi, gangguan makan, dan melakukan evaluasi berkala terhadap status nutrisi serta fungsi tubuh.

  • Kolaborasi dengan ahli gizi / dietitian, Jika memungkinkan, bekerja sama dengan ahli gizi untuk merancang rencana makan, suplementasi, atau intervensi nutrisi khusus sesuai kebutuhan pasien.

  • Pencegahan komplikasi dan perawatan holistik, Memantau kondisi medis pasien, mendeteksi gejala komplikasi akibat malnutrisi (infeksi, penurunan massa otot, kelemahan), serta memberikan perawatan suportif, misalnya hidrasi, penanganan penyakit penyerta, penyuluhan kesehatan.


Contoh Kasus Kekurangan Nutrisi

Sebagai ilustrasi, berikut contoh skenario nyata (hipotetis namun berdasarkan data literatur) dari kekurangan nutrisi:

Seorang remaja putri usia sekitar 14 tahun, tinggal di lingkungan dengan keterbatasan ekonomi, asupan makanan sehari-hari monoton (hanya karbohidrat dominan, protein dan sayur buah jarang), pengetahuan tentang gizi rendah, kemudian menunjukkan berat badan rendah dibanding tinggi badan (underweight) berdasarkan IMT. Karena kurangnya asupan protein dan mikronutrien, dia mudah lelah, daya tahan tubuh menurun, sering sakit, dan tumbuh kembangnya kurang optimal.

Jika tidak segera diintervensi (misalnya melalui edukasi gizi, peningkatan pola makan, monitoring rutin), remaja ini berisiko mengalami malnutrisi kronis, berpengaruh negatif ke kesehatan jangka panjang, misalnya anemia, gangguan pertumbuhan, dan bahkan risiko penyakit.

Kasus semacam ini umum terjadi, terutama di kelompok remaja perempuan di sekolah menengah, sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian di Indonesia yang menemukan hubungan signifikan antara pengetahuan nutrisi dan status gizi. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stikeseub.ac.id]


Kesimpulan

Kekurangan nutrisi, atau malnutrisi dalam bentuk defisiensi gizi, adalah masalah serius yang dapat mempengaruhi siapa saja: anak, remaja, dewasa, maupun lansia. Faktor penyebabnya kompleks: dari pola makan tidak seimbang, kondisi medis, lingkungan sosial-ekonomi, hingga kurangnya kesadaran tentang gizi.

Dampaknya bisa luas dan serius, mulai dari gangguan pertumbuhan dan perkembangan, penurunan massa otot, melemahnya sistem imun, hingga peningkatan risiko komplikasi penyakit atau kematian. Oleh karena itu, deteksi dini melalui penilaian status gizi (IMT, SGA, MUST), edukasi, dan intervensi nutrisi adalah kunci pencegahan.

Peran keperawatan dan tenaga kesehatan sangat penting dalam upaya pencegahan dan penanganan, melalui skrining, konseling, pemantauan, dan kolaborasi interdisipliner.

Upaya bersama dari individu, keluarga, masyarakat, dan sistem kesehatan sangat diperlukan agar risiko kekurangan nutrisi dapat ditekan, dan setiap orang memiliki kesempatan untuk tumbuh, berkembang, dan hidup sehat secara optimal.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Risiko kekurangan nutrisi adalah kondisi ketika seseorang berada dalam kemungkinan besar mengalami defisiensi gizi karena asupan tidak adekuat, malabsorpsi, penyakit, atau peningkatan kebutuhan tubuh.

Faktor risiko kekurangan nutrisi meliputi penyakit kronis, gangguan penyerapan, dehidrasi, gangguan makan, pola makan tidak seimbang, kondisi sosial ekonomi rendah, serta kelompok usia rentan seperti anak dan lansia.

Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan penurunan massa otot, gangguan pertumbuhan, penurunan imunitas, peningkatan risiko infeksi, stunting, wasting, underweight, serta memperburuk kondisi penyakit yang sudah ada.

Status nutrisi dapat dinilai menggunakan IMT, Subjective Global Assessment (SGA), dan Malnutrition Universal Screening Tool (MUST) yang membantu mendeteksi risiko malnutrisi secara dini.

Strategi pencegahan meliputi edukasi gizi, diversifikasi makanan, akses pangan sehat, skrining nutrisi berkala, serta intervensi nutrisi sejak dini untuk kelompok rentan.

Perawat berperan dalam melakukan skrining nutrisi, memberikan edukasi gizi, memantau asupan harian, mengidentifikasi gejala malnutrisi, serta berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan intervensi terbaik.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Risiko Kekurangan Nutrisi: Konsep, Identifikasi, dan Pencegahan Risiko Kekurangan Nutrisi: Konsep, Identifikasi, dan Pencegahan Gangguan Pola Nutrisi: Konsep, Penatalaksanaan, dan Peran Perawat Gangguan Pola Nutrisi: Konsep, Penatalaksanaan, dan Peran Perawat Persepsi Konsumen tentang Label Nutrisi Persepsi Konsumen tentang Label Nutrisi Status Nutrisi Pasien: Indikator dan Metode Penilaian Status Nutrisi Pasien: Indikator dan Metode Penilaian Gangguan Pola Nutrisi: Faktor dan Penatalaksanaan Gangguan Pola Nutrisi: Faktor dan Penatalaksanaan Pengaruh Nutrisi terhadap Metabolisme Obat Pengaruh Nutrisi terhadap Metabolisme Obat Nutrisi Ibu Menyusui: Konsep, Kebutuhan Gizi, dan Kualitas ASI Nutrisi Ibu Menyusui: Konsep, Kebutuhan Gizi, dan Kualitas ASI Risiko Malnutrisi: Konsep, Faktor Penyebab, dan Pencegahan Risiko Malnutrisi: Konsep, Faktor Penyebab, dan Pencegahan Status Nutrisi Pasien: Definisi dan Pengukurannya Status Nutrisi Pasien: Definisi dan Pengukurannya Asupan Nutrisi dan Daya Tahan Tubuh Asupan Nutrisi dan Daya Tahan Tubuh Pengetahuan Ibu tentang Nutrisi Trimester Ketiga Pengetahuan Ibu tentang Nutrisi Trimester Ketiga Gizi Buruk: Faktor dan Pencegahan Gizi Buruk: Faktor dan Pencegahan Dampak Kekurangan Iodium terhadap Perkembangan Kognitif Dampak Kekurangan Iodium terhadap Perkembangan Kognitif Hubungan Pola Minum Obat dengan Penyerapan Nutrisi Hubungan Pola Minum Obat dengan Penyerapan Nutrisi Pengetahuan Ibu tentang Pencegahan Stunting Pengetahuan Ibu tentang Pencegahan Stunting Perilaku Ibu dalam Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan Perilaku Ibu dalam Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan Anemia Ibu Hamil: Konsep, Faktor Gizi, dan Pencegahan Anemia Ibu Hamil: Konsep, Faktor Gizi, dan Pencegahan Nutrisi Ibu Menyusui: Kebutuhan dan Pengaruh Nutrisi Ibu Menyusui: Kebutuhan dan Pengaruh Dampak Kekurangan Vitamin B Kompleks Dampak Kekurangan Vitamin B Kompleks Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…