
Risiko Kekurangan Nutrisi: Konsep dan Pencegahan
Pendahuluan
Kekurangan nutrisi, atau malnutrisi, tetap menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kondisi ini dapat terjadi ketika asupan energi, protein, vitamin, atau mineral tidak mencukupi kebutuhan tubuh, atau ketika terjadi ketidakseimbangan nutrisi akibat pola makan yang buruk, malabsorpsi, atau kondisi penyakit. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
Dampaknya bisa sangat luas: dari gangguan pertumbuhan dan perkembangan (pada anak), hingga melemahkan sistem kekebalan tubuh, reduksi massa otot, penurunan fungsi organ, hingga peningkatan risiko komplikasi penyakit pada orang dewasa atau lansia. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat umum untuk memahami konsep risiko kekurangan nutrisi, mengenali faktor-faktor pemicunya, serta mengenali cara pencegahannya secara tepat, agar dampak negatif bisa diminimalisir.
Berikut pembahasan lengkap tentang risiko kekurangan nutrisi, dari definisi, faktor risiko, dampak, penilaian, hingga strategi pencegahan dan intervensi keperawatan, serta contoh kasus.
Definisi Risiko Kekurangan Nutrisi
Definisi Risiko Kekurangan Nutrisi Secara Umum
Secara umum, kekurangan nutrisi (under-nutrition) adalah kondisi di mana tubuh menerima asupan energi, protein, vitamin, atau mineral yang kurang dari kebutuhan akibat asupan makanan yang tidak adekuat, gangguan penyerapan, atau kebutuhan tubuh yang meningkat. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
Kekurangan nutrisi dapat berupa defisiensi energi dan/atau protein (protein-energy malnutrition), maupun defisiensi mikronutrien seperti zat besi, vitamin, kalsium, dan sebagainya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Risiko Kekurangan Nutrisi Menurut KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah “kekurangan nutrisi” atau “gizi kurang” merujuk pada kondisi di mana asupan gizi tidak mencukupi kebutuhan tubuh. (Catatan: definisi resmi dari situs KBBI, mohon dicek ulang langsung di KBBI daring bila diperlukan).
Definisi Risiko Kekurangan Nutrisi Menurut Para Ahli
Berbagai literatur dan penelitian ilmiah mendefinisikan malnutrisi, yang dalam banyak konteks dikonotasikan sebagai kekurangan nutrisi, dengan nuansa berbeda, tergantung dari fokus dan populasi studi:
-
Menurut Anto dkk., malnutrisi adalah suatu keadaan “ketidakseimbangan energi, protein, dan nutrisi lain yang berdampak buruk pada bentuk, fungsi, dan klinik tubuh.” [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]
-
Studi dari House dkk. menggambarkan bahwa malnutrisi bisa terjadi karena “asupan yang kurang atau kebutuhan/keluaran yang meningkat atau keduanya”, misalnya pada kondisi penyakit akut atau kronis. [Lihat sumber Disini - clinicalnutritionespen.com]
-
Dalam kajian systematic review, “kekurangan nutrisi” dilihat sebagai kondisi serius yang berkontribusi terhadap peningkatan morbiditas, lamanya masa perawatan di rumah sakit, mortalitas, dan biaya kesehatan, bila tidak segera diidentifikasi dan ditangani. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
World Health Organization (WHO) dan literatur gizi mendefinisikan malnutrisi sebagai kondisi yang mencakup defisiensi, kelebihan, atau ketidakseimbangan zat gizi; dalam konteks kekurangan nutrisi, bentuk-bentuknya bisa berupa “wasting” (berat badan rendah terhadap tinggi badan), “stunting” (tinggi badan rendah terhadap usia), atau “underweight” (berat badan rendah terhadap usia). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dengan demikian, “risiko kekurangan nutrisi” dapat dipahami sebagai situasi atau kondisi di mana seseorang berada dalam kemungkinan besar mengalami defisiensi nutrisi, karena asupan buruk, penyerapan terganggu, kebutuhan tubuh meningkat, atau kombinasi faktor.
Faktor Risiko
Beberapa faktor dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kekurangan nutrisi. Berikut faktor-faktor utama, beserta penjelasan:
-
Penyakit kronis dan kondisi medis, Penyakit kronis, infeksi berulang, atau penyakit yang mengganggu penyerapan (malabsorpsi) dapat meningkatkan kebutuhan nutrisi atau menurunkan penyerapan zat gizi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Malabsorpsi / Gangguan penyerapan, Kondisi seperti gangguan pencernaan kronis, penyakit usus, atau masalah saluran cerna dapat menyebabkan tubuh tidak mampu menyerap nutrisi dengan efektif, meskipun asupan cukup. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Dehidrasi / kondisi kesehatan yang mempertinggi kebutuhan, Ketika tubuh kehilangan cairan atau dalam kondisi stress penyakit, kebutuhan energi dan nutrisi bisa meningkat; jika tidak diimbangi dengan asupan, risiko kekurangan meningkat. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Gangguan makan / pola makan tidak seimbang, Asupan makanan yang monoton, kurangnya makanan kaya protein atau mikronutrien, atau kebiasaan makan buruk dapat memicu kekurangan zat gizi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Faktor sosial-ekonomi dan lingkungan, Status sosial ekonomi rendah, sanitasi buruk, pengetahuan kurang tentang nutrisi, serta keterbatasan akses terhadap makanan bergizi juga merupakan faktor risiko. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
-
Kelompok usia rentan, Anak-anak, remaja, ibu hamil/menyusui, dan lansia lebih rentan terhadap kekurangan nutrisi karena kebutuhan yang berbeda, rentan malabsorpsi, atau kondisi kesehatan khusus. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dampak Kekurangan Nutrisi pada Kesehatan
Kekurangan nutrisi dapat membawa berbagai dampak negatif bagi kesehatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Berikut sebagian dampaknya:
-
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak, Anak yang mengalami kekurangan nutrisi, terutama defisiensi protein dan energi pada masa awal kehidupan, berisiko mengalami hambatan perkembangan fisik dan sistem saraf, termasuk gangguan motorik dan kognitif. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]
-
Penurunan massa otot, lemah, dan berkurangnya fungsi tubuh, Pada anak maupun orang dewasa, malnutrisi dapat menyebabkan kelemahan otot, keterbatasan aktivitas fisik, serta penurunan daya tahan tubuh. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]
-
Gangguan sistem imun dan rentan infeksi, Kekurangan protein serta zat gizi mikro dapat mengganggu fungsi kekebalan tubuh, menjadikan individu lebih rentan terhadap berbagai penyakit. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
-
Dampak jangka panjang: stunting, wasting, underweight, Defisiensi kronis dapat memunculkan kondisi seperti stunting (tinggi badan terganggu), wasting, atau underweight, terutama pada anak. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Penurunan kualitas hidup & peningkatan risiko komplikasi pada penyakit, Pada orang dewasa atau pasien rawat inap, malnutrisi dapat memperburuk prognosis, memperpanjang lama perawatan, meningkatkan komplikasi, bahkan meningkatkan mortalitas. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Penilaian Nutrisi
Untuk mendeteksi mereka yang berada di risiko kekurangan nutrisi, beberapa metode dan alat penilaian telah dikembangkan. Berikut yang umum digunakan:
Body Mass Index (IMT) (BMI / IMT)
IMT, rasio antara berat badan dan tinggi badan, sering dipakai sebagai indikator awal status gizi. Misalnya pada remaja, IMT dapat menunjukkan apakah seseorang underweight, normal, overweight, atau obesitas. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantarahasanajournal.com]
Subjective Global Assessment (SGA)
SGA merupakan metode penilaian status gizi berdasarkan karakteristik klinis seperti asupan nutrisi, penurunan berat badan yang tidak direncanakan, gejala terkait asupan makanan, kapasitas fungsional, dan permintaan metabolik. Alat ini lebih komprehensif dan dinilai valid untuk menilai malnutrisi pada pasien dewasa. [Lihat sumber Disini - clinscinutr.org]
Malnutrition Universal Screening Tool (MUST)
MUST adalah alat skrining yang dirancang untuk mendeteksi risiko malnutrisi di komunitas. Validitasnya cukup baik bila dibandingkan dengan SGA. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Penggunaan MUST secara sistematis dan berkala dapat membantu mengidentifikasi individu yang memerlukan intervensi nutrisi lebih dini. [Lihat sumber Disini - espen.org]
Catatan tentang Validitas Alat
Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa MUST memiliki sensitivitas dan spesifisitas cukup tinggi untuk mendeteksi risiko malnutrisi dibanding SGA, menjadikannya alat screening yang reliabel. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Namun, dalam populasi pasien rawat inap atau pasien dengan penyakit berat, penilaian komprehensif (seperti SGA) sering direkomendasikan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Strategi Pencegahan Kekurangan Nutrisi
Upaya pencegahan kekurangan nutrisi perlu dilakukan secara multilevel, dari individu, keluarga, hingga masyarakat. Berikut strategi utama:
-
Pendidikan gizi dan peningkatan literasi nutrisi, Masyarakat, terutama orang tua dan remaja, perlu diberikan edukasi tentang pentingnya gizi seimbang, kebutuhan protein, vitamin, dan mineral. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa pengetahuan kurang tentang nutrisi berhubungan dengan status gizi yang buruk. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stikeseub.ac.id]
-
Diversifikasi asupan makanan & pola makan seimbang, Mendorong konsumsi makanan kaya protein, sayur, buah, dan mikronutrien penting, serta menghindari pola makan monoton atau bergantung pada makanan rendah gizi. Hal ini penting untuk memenuhi kebutuhan makro dan mikro tubuh. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Akses terhadap makanan bergizi & keamanan pangan, Pemerintah, komunitas, dan lembaga kesehatan perlu memastikan ketersediaan pangan bergizi, sanitasi, dan akses pendidikan serta layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
-
Skrining dan penilaian gizi secara rutin, Menggunakan alat seperti MUST, SGA, atau IMT secara berkala di berbagai setting (klinik, rumah, komunitas) supaya kelompok rentan dapat terdeteksi dini. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Intervensi nutrisi tepat waktu, Jika ditemukan risiko atau malnutrisi, dilakukan tindakan seperti pemberian makanan bergizi, suplementasi, konseling gizi, serta pemantauan asupan dan status kesehatan.
Intervensi Keperawatan dalam Pemenuhan Nutrisi
Peran keperawatan sangat penting dalam mencegah dan menangani kekurangan nutrisi, terutama pada pasien atau populasi rentan. Berikut intervensi yang dapat dilakukan:
-
Penilaian status gizi secara rutin, Tenaga keperawatan dapat melakukan skrining awal (misalnya dengan MUST atau IMT) pada klien/pasien, terutama lansia, pasien penyakit kronis, atau pasien rawat inap, untuk mendeteksi risiko malnutrisi.
-
Edukasi dan konseling gizi, Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan gizi seimbang, cara menyiapkan makanan bergizi, serta menjelaskan kebutuhan nutrisi sesuai kondisi (misalnya pasca penyakit, penurunan nafsu makan, dll).
-
Monitoring asupan dan kondisi klinis, Mencatat asupan makanan, memperhatikan gejala malabsorpsi, dehidrasi, gangguan makan, dan melakukan evaluasi berkala terhadap status nutrisi serta fungsi tubuh.
-
Kolaborasi dengan ahli gizi / dietitian, Jika memungkinkan, bekerja sama dengan ahli gizi untuk merancang rencana makan, suplementasi, atau intervensi nutrisi khusus sesuai kebutuhan pasien.
-
Pencegahan komplikasi dan perawatan holistik, Memantau kondisi medis pasien, mendeteksi gejala komplikasi akibat malnutrisi (infeksi, penurunan massa otot, kelemahan), serta memberikan perawatan suportif, misalnya hidrasi, penanganan penyakit penyerta, penyuluhan kesehatan.
Contoh Kasus Kekurangan Nutrisi
Sebagai ilustrasi, berikut contoh skenario nyata (hipotetis namun berdasarkan data literatur) dari kekurangan nutrisi:
Seorang remaja putri usia sekitar 14 tahun, tinggal di lingkungan dengan keterbatasan ekonomi, asupan makanan sehari-hari monoton (hanya karbohidrat dominan, protein dan sayur buah jarang), pengetahuan tentang gizi rendah, kemudian menunjukkan berat badan rendah dibanding tinggi badan (underweight) berdasarkan IMT. Karena kurangnya asupan protein dan mikronutrien, dia mudah lelah, daya tahan tubuh menurun, sering sakit, dan tumbuh kembangnya kurang optimal.
Jika tidak segera diintervensi (misalnya melalui edukasi gizi, peningkatan pola makan, monitoring rutin), remaja ini berisiko mengalami malnutrisi kronis, berpengaruh negatif ke kesehatan jangka panjang, misalnya anemia, gangguan pertumbuhan, dan bahkan risiko penyakit.
Kasus semacam ini umum terjadi, terutama di kelompok remaja perempuan di sekolah menengah, sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian di Indonesia yang menemukan hubungan signifikan antara pengetahuan nutrisi dan status gizi. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stikeseub.ac.id]
Kesimpulan
Kekurangan nutrisi, atau malnutrisi dalam bentuk defisiensi gizi, adalah masalah serius yang dapat mempengaruhi siapa saja: anak, remaja, dewasa, maupun lansia. Faktor penyebabnya kompleks: dari pola makan tidak seimbang, kondisi medis, lingkungan sosial-ekonomi, hingga kurangnya kesadaran tentang gizi.
Dampaknya bisa luas dan serius, mulai dari gangguan pertumbuhan dan perkembangan, penurunan massa otot, melemahnya sistem imun, hingga peningkatan risiko komplikasi penyakit atau kematian. Oleh karena itu, deteksi dini melalui penilaian status gizi (IMT, SGA, MUST), edukasi, dan intervensi nutrisi adalah kunci pencegahan.
Peran keperawatan dan tenaga kesehatan sangat penting dalam upaya pencegahan dan penanganan, melalui skrining, konseling, pemantauan, dan kolaborasi interdisipliner.
Upaya bersama dari individu, keluarga, masyarakat, dan sistem kesehatan sangat diperlukan agar risiko kekurangan nutrisi dapat ditekan, dan setiap orang memiliki kesempatan untuk tumbuh, berkembang, dan hidup sehat secara optimal.