Terakhir diperbarui: 14 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 14 December). Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/pengaruh-obat-terhadap-nafsu-makan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan - SumberAjar.com

Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan

Pendahuluan

Nafsu makan adalah aspek penting dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi yang memengaruhi kesehatan fisik maupun mental seseorang. Ketidakseimbangan nafsu makan berpotensi menyebabkan malnutrisi, peningkatan berat badan, obesitas, atau bahkan gangguan metabolik kronis. Dalam praktik klinis, banyak obat yang digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi kesehatan justru memengaruhi nafsu makan pada pasien sebagai efek samping atau bagian dari mekanisme terapeutiknya. Perubahan ini dapat memperburuk kondisi gizi pasien jika tidak dimonitor secara tepat, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, pasien penyakit kronis, dan pasien dengan gangguan metabolik. Artikel ini membahas secara komprehensif bagaimana obat-obatan mempengaruhi nafsu makan, mekanisme yang terlibat, dampaknya terhadap status gizi serta pentingnya monitoring terapi obat dalam pengelolaan gizi pasien.


Definisi Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan

Definisi Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan Secara Umum

Pengaruh obat terhadap nafsu makan merujuk pada perubahan tingkat keinginan atau dorongan individu untuk mengonsumsi makanan sebagai akibat dari pemberian obat tertentu. Obat-obatan tertentu dapat meningkatkan atau menurunkan nafsu makan melalui berbagai mekanisme fisiologis dan neuroendokrin, yang pada akhirnya dapat berdampak pada asupan makanan dan status gizi seseorang dalam jangka pendek maupun panjang.

Definisi Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan dalam KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nafsu makan didefinisikan sebagai keinginan untuk makan yang dipengaruhi oleh kondisi tubuh, faktor psikologis, dan lingkungan. Ketika dikaitkan dengan obat, istilah ini menunjukkan efek farmakologis suatu agen terhadap keinginan atau keperluan makan seseorang, yang bisa berupa peningkatan atau penurunan motivasi untuk makan. (Definisi diadaptasi dari KBBI Online, meskipun tidak tersedia jurnal formal, definisi umum ini diambil dari KBBI sebagai acuan umum).

Definisi Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan Menurut Para Ahli

  1. Menurut Kuzuya et al., obat tertentu dapat menyebabkan adverse drug reactions (ADR) berupa penurunan nafsu makan yang mengarah pada pengurangan asupan makanan dan malnutrisi, terutama pada pasien lansia yang menggunakan banyak jenis obat (polypharmacy). [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Farmakologi dan regulasi nafsu makan melibatkan interaksi antara obat dan sistem gut-brain axis termasuk hormon seperti ghrelin dan leptin yang berperan dalam regulasi lapar dan kenyang. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  3. Rubiniฤ‡ et al. menekankan bahwa obat dan terapi farmakologis dapat dimanfaatkan secara strategis untuk memodulasi nafsu makan melalui target hormon dan sistem saraf pusat. [Lihat sumber Disini - bpspubs.onlinelibrary.wiley.com]

  4. Lewis dalam kajiannya menunjukkan bahwa obat-obatan digunakan dalam gangguan makan untuk mengkategorikan efek terhadap perilaku makan dan berat badan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]


Jenis Obat yang Mempengaruhi Nafsu Makan

Obat-obatan yang memengaruhi nafsu makan memiliki variasi mekanisme yang terkadang luas dan kompleks. Secara umum, ada dua kelompok besar efek obat terhadap nafsu makan: obat yang menekan nafsu makan dan obat yang meningkatkan nafsu makan.

1. Obat-Obat yang Menekan Nafsu Makan

Beberapa obat menurunkan nafsu makan melalui efeknya pada sistem saraf pusat atau metabolik:

  • Suplemen dan obat stimulan: Beberapa obat stimulan seperti amfetamin dan turunannya digunakan dalam terapi obesitas atau ADHD memiliki efek menekan nafsu makan dengan meningkatkan aktivitas dopamin dan norepinefrin di otak yang menekan rasa lapar. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  • Agonis GLP-1 (misalnya semaglutide): Obat-obat ini yang digunakan dalam pengobatan obesitas dan diabetes mellitus tipe 2 dilaporkan mengurangi nafsu makan dengan memengaruhi persepsi rasa, peningkatan rasa kenyang dan penurunan keinginan makan melalui aksi pada gut-brain axis. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

2. Obat-Obat yang Meningkatkan Nafsu Makan

Obat-obatan tertentu dapat meningkatkan nafsu makan dan seringkali diasosiasikan dengan kenaikan berat badan:

  • Obat penambah nafsu makan seperti megestrol acetate: Megestrol acetate sering digunakan untuk meningkatkan nafsu makan pada pasien dengan sindrom wasting atau penurunan berat badan patologis. Walau mekanisme pasti tidak sepenuhnya jelas, obat ini memodulasi sinyal neuropeptida di hipotalamus yang berhubungan dengan peningkatan nafsu makan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Obat antipsikotik atipikal: Beberapa antipsikotik seperti olanzapine, risperidone, atau clozapine berkaitan dengan peningkatan nafsu makan dan penambahan berat badan melalui blokade reseptor histamin H1 dan serotonin yang memicu rasa lapar. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]

  • Kontrasepsi hormonal: Penggunaan hormon tertentu dapat merangsang peningkatan nafsu makan dan perubahan metabolik yang berkontribusi pada kenaikan berat badan. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]


Mekanisme Obat terhadap Regulasi Nafsu Makan

Nafsu makan diatur oleh interaksi kompleks antara sistem neuroendokrin, hormon perifer, dan jaringan saraf pusat, yang sering menjadi target obat-obatan dalam memodulasi asupan energi.

1. Pengaruh terhadap Sistem Neuroendokrin

Obat dapat memodulasi hormon yang berperan dalam lapar atau kenyang:

  • Ghrelin: Hormon yang disekresikan oleh lambung ini disebut orexigenic hormone karena meningkatkan rasa lapar dan asupan makanan. Obat-obatan tertentu mempengaruhi kadar atau efek ghrelin di pusat pengaturan nafsu makan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  • Leptin: Hormon yang dihasilkan adiposit ini mengirim sinyal satiety ke otak, mengurangi keinginan untuk makan. Gangguan pada jalur leptin bisa dimanipulasi oleh beberapa terapi farmakologis. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

2. Modifikasi Persepsi Sensori

Beberapa obat dapat mengubah persepsi rasa dan bau, yang pada gilirannya memengaruhi keinginan makan. Obat-obatan tertentu yang menyebabkan gangguan rasa (dysgeusia) berkontribusi pada penurunan nafsu makan dengan mengurangi kenikmatan dalam makan. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]

3. Interaksi dengan Reseptor Otak

Obat seperti antipsikotik memiliki efek langsung pada reseptor neurotransmitter seperti histamin atau serotonin di hipotalamus yang mengubah respon rasa kenyang dan lapar, sehingga mengubah asupan energi. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]

4. Efek Sistemik dan Metabolik

Beberapa obat juga memengaruhi metabolisme energi dan efek metabolik lain yang secara tidak langsung memodulasi rasa lapar, misalnya dengan memengaruhi kecepatan pengosongan lambung atau respon insulin, yang kemudian berdampak pada perilaku makan individu.


Dampak Perubahan Nafsu Makan terhadap Status Gizi

Perubahan nafsu makan akibat obat tidak hanya mempengaruhi jumlah makanan yang dikonsumsi tetapi juga kualitas nutrisi dan keseimbangan energi tubuh.

1. Penurunan Nafsu Makan dan Risiko Malnutrisi

Obat yang mengurangi nafsu makan sering berkontribusi pada penurunan asupan energi dan makronutrien yang cukup, sehingga meningkatkan risiko malnutrisi, khususnya pada pasien lansia atau yang memiliki kondisi kesehatan kronis. Kekurangan nutrisi dapat mengarah pada kehilangan massa otot, penurunan fungsi imun, dan peningkatan risiko infeksi serta komplikasi kesehatan lainnya. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]

2. Peningkatan Nafsu Makan dan Risiko Obesitas

Obat yang meningkatkan nafsu makan sering dikaitkan dengan kenaikan berat badan yang signifikan. Peningkatan berat badan yang tidak diimbangi dengan kontrol asupan dan aktivitas fisik dapat menyebabkan obesitas, resistensi insulin, dislipidemia, dan penyakit kardiometabolik. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]

3. Perubahan Pola Makan dan Kualitas Diet

Selain perubahan kuantitas konsumsi makanan, beberapa obat juga mempengaruhi preferensi makanan (misalnya keinginan tinggi terhadap makanan berkalori tinggi). Perubahan ini berkontribusi pada pola makan yang buruk, yang selanjutnya memperburuk status gizi pasien dan meningkatkan risiko penyakit metabolik. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Risiko Penurunan atau Peningkatan Berat Badan

Perubahan nafsu makan akibat obat memiliki implikasi yang jelas terhadap berat badan:

1. Risiko Penurunan Berat Badan

Obat-obatan yang menekan nafsu makan dapat menyebabkan penurunan berat badan, yang pada beberapa kasus mungkin diinginkan, misalnya dalam terapi obesitas. Namun, dalam konteks pasien rawat inap atau pasien kronis, penurunan berat badan tanpa pengawasan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas karena kehilangan massa tubuh yang tidak terkendali.

2. Risiko Peningkatan Berat Badan

Obat-obatan yang meningkatkan nafsu makan sering berkaitan dengan peningkatan berat badan yang cepat dan tidak seimbang. Peningkatan ini dikaitkan dengan penumpukan lemak tubuh, perubahan metabolik dan risiko sindrom metabolik yang lebih tinggi, terutama bila pasien tidak diberi edukasi atau pemantauan gizi yang memadai.


Peran Monitoring Terapi Obat

Monitoring yang teratur sangat penting dalam konteks terapi obat yang memengaruhi nafsu makan untuk mencegah komplikasi gizi dan kesehatan.

1. Evaluasi Berkala Asupan Nutrisi

Pemantauan asupan makanan sehari-hari dapat mengidentifikasi perubahan penting dalam pola makan pasien sejak dini. Nutrisionis atau tenaga kesehatan perlu menilai apakah pasien menunjukkan penurunan drastis atau peningkatan konsumsi yang tidak sehat.

2. Pengukuran Status Gizi dan Berat Badan

Pengukuran berat badan dan indeks massa tubuh pasien secara berkala dapat membantu melihat dampak obat terhadap status gizi. Perubahan signifikan memerlukan intervensi, seperti penyesuaian regimen obat, konsultasi gizi intensif atau modifikasi gaya hidup.

3. Kolaborasi Multidisiplin

Tim kesehatan, termasuk dokter, ahli farmasi, dan ahli gizi, harus berkolaborasi untuk mengevaluasi manfaat terapeutik obat terhadap risiko gizi yang muncul. Pendekatan holistik seperti ini membantu meminimalkan efek samping sekaligus memaksimalkan hasil klinis.


Kesimpulan

Artikel ini telah menjelaskan hubungan kompleks antara penggunaan obat dan nafsu makan dengan dukungan bukti ilmiah. Obat-obatan dapat memengaruhi nafsu makan melalui berbagai mekanisme neuroendokrin, sensorik dan metabolik. Perubahan nafsu makan memiliki dampak signifikan terhadap status gizi, yang dapat menunjukkan risiko malnutrisi maupun obesitas tergantung arah perubahan nafsu makan dan kondisi klinis pasien. Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan untuk melakukan monitoring terapi obat secara menyeluruh, termasuk penilaian gizi dan pola makan pasien secara berkala. Pemahaman yang lebih baik tentang efek obat terhadap nafsu makan dapat mendukung pencegahan komplikasi kesehatan jangka panjang serta mendukung perencanaan terapi yang lebih efektif dan personal.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Pengaruh obat terhadap nafsu makan adalah perubahan keinginan atau dorongan untuk makan yang terjadi akibat penggunaan obat tertentu, baik berupa peningkatan maupun penurunan nafsu makan, sebagai efek samping atau bagian dari mekanisme kerja obat.

Beberapa jenis obat yang dapat memengaruhi nafsu makan antara lain obat penekan nafsu makan seperti agonis GLP-1 dan stimulan, serta obat yang meningkatkan nafsu makan seperti kortikosteroid, antipsikotik atipikal, dan obat hormonal.

Obat dapat memengaruhi nafsu makan melalui pengaruh pada sistem saraf pusat, regulasi hormon lapar dan kenyang seperti ghrelin dan leptin, perubahan metabolisme, serta modifikasi persepsi rasa dan sensasi kenyang.

Perubahan nafsu makan akibat obat dapat berdampak pada status gizi, seperti risiko malnutrisi jika nafsu makan menurun atau risiko kelebihan berat badan dan obesitas jika nafsu makan meningkat secara berlebihan.

Monitoring terapi obat penting untuk mendeteksi perubahan nafsu makan dan berat badan sejak dini, sehingga tenaga kesehatan dapat melakukan penyesuaian terapi dan intervensi gizi guna mencegah dampak kesehatan jangka panjang.

โฌ‡
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pengetahuan Masyarakat tentang Obat Penurun Nafsu Makan Pengetahuan Masyarakat tentang Obat Penurun Nafsu Makan Pengetahuan Pasien tentang Obat Penambah Nafsu Makan Pengetahuan Pasien tentang Obat Penambah Nafsu Makan Pengaruh Pola Tidur terhadap Nafsu Makan Pengaruh Pola Tidur terhadap Nafsu Makan Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak Pengetahuan Pasien tentang Obat Penurun Nafsu Makan Pengetahuan Pasien tentang Obat Penurun Nafsu Makan Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Pola Makan Tidak Teratur: Konsep, Dampak Metabolik, dan Kesehatan Pola Makan Tidak Teratur: Konsep, Dampak Metabolik, dan Kesehatan Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Perilaku Makan Tidak Teratur pada Mahasiswa Perilaku Makan Tidak Teratur pada Mahasiswa Pola Makan Tidak Teratur dan Masalah Pencernaan Pola Makan Tidak Teratur dan Masalah Pencernaan Hubungan Stress dan Pola Makan Hubungan Stress dan Pola Makan Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan Pengetahuan Remaja tentang Makan Malam Sehat Pengetahuan Remaja tentang Makan Malam Sehat Pola Makan Tidak Teratur: Faktor dan Dampaknya Pola Makan Tidak Teratur: Faktor dan Dampaknya Pola Makan Keluarga dan Risiko Obesitas Anak Pola Makan Keluarga dan Risiko Obesitas Anak Dampak Stres terhadap Pola Konsumsi Remaja Dampak Stres terhadap Pola Konsumsi Remaja Emotional Eating: Konsep, Faktor Psikologis, dan Implikasi Gizi Emotional Eating: Konsep, Faktor Psikologis, dan Implikasi Gizi Evaluasi Pola Makan Harian berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang Evaluasi Pola Makan Harian berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita Hubungan Pola Makan dengan IMT Hubungan Pola Makan dengan IMT
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaruโ€ฆ