
Ketahanan Komunitas: Konsep dan Solidaritas Sosial
Pendahuluan
Ketahanan komunitas merupakan topik yang semakin mendapat perhatian dalam kajian sosial‐humaniora dan pembangunan. Fenomena global seperti pandemi, perubahan iklim, urbanisasi, serta disrupsi ekonomi menunjukkan bahwa kemampuan suatu komunitas untuk bertahan, beradaptasi, dan berkembang di tengah berbagai goncangan merupakan aspek penting dalam pembangunan berkelanjutan. Hal ini dikarenakan komunitas yang memiliki ketahanan kuat mampu mempertahankan fungsi sosial, struktur, identitas, dan hubungan antarpersonalnya meskipun mengalami tekanan eksternal yang signifikan ([Lihat sumber Disini - penerbit.brin.go.id]). Solidaritas sosial menjadi kunci utama dalam mendukung proses tersebut, karena tanpa adanya ikatan dan dukungan kolektif antarmasyarakat, ketahanan komunitas mudah rapuh dan kehilangan daya tanggapnya terhadap ancaman yang kompleks.
Definisi Ketahanan Komunitas
Definisi Ketahanan Komunitas Secara Umum
Ketahanan komunitas secara umum dipahami sebagai kemampuan suatu kelompok masyarakat untuk merespon, menahan, serta pulih dari berbagai goncangan atau tekanan sosial, ekonomi, lingkungan, maupun politik yang mengancam eksistensi kolektif mereka. Konsep ini tidak hanya mencakup bagaimana komunitas menghadapi situasi darurat seperti bencana, tetapi juga melibatkan proses adaptasi jangka panjang dan transformasi struktur masyarakat untuk tetap berjalan dalam konteks perubahan sosial yang cepat ([Lihat sumber Disini - ejournal.brin.go.id]).
Dalam kajian pembangunan sosial, ketahanan komunitas juga dipandang sebagai proses yang dinamis, berkelanjutan, dan multifaset, di mana interaksi antara individu, keluarga, kelompok, organisasi, dan lembaga lokal berkontribusi terhadap kapasitas kolektif untuk bertahan dan berkembang di tengah kondisi yang tidak stabil ([Lihat sumber Disini - journal.uir.ac.id]).
Definisi Ketahanan Komunitas dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah ketahanan merujuk pada keadaan atau kualitas dapat bertahan atau tahan menghadapi berbagai goncangan atau gangguan. Ketahanan komunitas dalam konteks ini berarti kecakapan suatu komunitas dalam mempertahankan kelangsungan hidup, fungsi sosial, dan struktur sosialnya saat mengalami tekanan internal maupun eksternal. Secara terminologis, ini selaras dengan pengertian bahwa ketahanan melibatkan daya tahan, adaptasi, dan respons efektif terhadap berbagai tantangan yang dihadapi. Keterangan lebih lanjut mengenai istilah ini tersedia secara daring di laman resmi KBBI.
Definisi Ketahanan Komunitas Menurut Para Ahli
-
Grayshaw (2021) mendefinisikan ketahanan komunitas sebagai “kemampuan individu dan komunitas untuk menanggapi perubahan dan mengembangkan mekanisme adaptif terhadap berbagai goncangan dan hambatan” sehingga komunitas dapat pulih dan beradaptasi secara efektif terhadap tantangan yang dihadapi. Definisi ini mencakup tidak hanya respons langsung terhadap krisis tetapi juga strategi dan adaptasi jangka panjang yang memperkuat kapasitas komunitas secara keseluruhan ([Lihat sumber Disini - ejournal.brin.go.id]).
-
Brown dan Kulig (2009) menekankan bahwa ketahanan komunitas merupakan kemampuan komunitas untuk pulih dari atau menyesuaikan diri secara efektif terhadap stres dan tekanan sosial yang berkelanjutan, termasuk kemampuan untuk menjaga fungsi inti komunitas dan belajar dari pengalaman tersebut ([Lihat sumber Disini - journal.uir.ac.id]).
-
Runtunuwu (2020) menyatakan bahwa ketahanan komunitas adalah proses adaptasi positif masyarakat dalam menghadapi kesulitan atau risiko, yang melibatkan kapasitas kolektif untuk bertindak bersama mengatasi tantangan tersebut ([Lihat sumber Disini - jurnal.polimdo.ac.id]).
-
Studi pada komunitas adat menunjukkan bahwa ketahanan komunitas juga melibatkan kapasitas untuk mengidentifikasi kerentanan yang ada dan merumuskan strategi preventif serta responsif untuk mengurangi dampak stressor sosial maupun lingkungan di masa depan ([Lihat sumber Disini - ejournal.brin.go.id]).
Komponen Ketahanan Komunitas
Ketahanan komunitas bukan fenomena tunggal, melainkan terdiri dari berbagai komponen yang saling terkait. Komponen tersebut mencerminkan kapasitas struktural dan fungsional komunitas dalam menghadapi tekanan dan adaptasi terhadap perubahan sosial.
Pertama, modal sosial atau social capital, yaitu jaringan relasi sosial, norma, dan tingkat kepercayaan di antara anggota masyarakat, menjadi pilar penting dalam membangun ketahanan. Modal sosial memperkuat kolaborasi, pertukaran sumber daya, dan solidaritas yang memungkinkan komunitas merespon secara cepat terhadap gangguan sosial maupun ekonomi ([Lihat sumber Disini - repository.penerbiteureka.com]).
Kedua, kapasitas adaptif komunitas, mencakup kemampuan untuk belajar, berinovasi, dan menyesuaikan strategi atau struktur sosial sesuai dengan dinamika perubahan lingkungan atau kebijakan. Komunitas yang mampu beradaptasi dengan cepat memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan stabilitas sosial dan pola kehidupan kolektifnya.
Ketiga, pemberdayaan ekonomi lokal dianggap sebagai komponen penting yang memengaruhi ketahanan komunitas. Ketika komunitas mampu mengelola sumberdaya ekonominya secara efektif, seperti melalui koperasi komunitas atau usaha bersama, mereka cenderung lebih tahan dalam menghadapi tekanan ekonomi eksternal ([Lihat sumber Disini - journal.uir.ac.id]).
Keempat, informasi dan komunikasi internal, yaitu mekanisme pertukaran informasi yang efektif di dalam komunitas, juga dinilai penting karena memungkinkan respon yang cepat dan koordinatif saat terjadi krisis atau perubahan tak terduga ([Lihat sumber Disini - lib.lemhannas.go.id]).
Kelima, keterlibatan institusi lokal, seperti lembaga adat, kelompok warga, atau badan sosial lainnya, dalam pengambilan keputusan strategis komunitas dapat memperkuat struktur ketahanan sosial melalui dukungan dan koordinasi aktif di tingkat dasar masyarakat ([Lihat sumber Disini - e-journal.nusantaraglobal.ac.id]).
Peran Solidaritas Sosial dalam Ketahanan
Solidaritas sosial merupakan fondasi emosional dan moral yang memungkinkan komunitas bertindak bersama dalam kondisi sulit. Dalam kajian sosiologi klasik, Émile Durkheim menjelaskan solidaritas sebagai ikatan sosial yang menghubungkan individu dalam suatu masyarakat, dan perbedaan bentuk solidaritas ini muncul tergantung pada struktur sosial masyarakat tersebut, mechanical solidarity pada masyarakat tradisional dan organic solidarity pada masyarakat yang lebih kompleks dan terorganisir ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]).
Dalam konteks ketahanan komunitas, solidaritas sosial mendorong kerja sama dan bantuan timbal balik, sehingga anggota komunitas dapat saling mendukung ketika terjadi tekanan sosial atau bencana. Solidaritas memungkinkan mobilisasi cepat sumber daya, tenaga, dan dukungan moral yang diperlukan untuk menahan dan pulih dari dampak krisis.
Kajian empiris menyatakan bahwa solidaritas sosial membantu individu dalam memanfaatkan beragam pengetahuan, keterampilan, serta sumber daya bersama demi mempertahankan keberlanjutan komunitasnya dalam menghadapi gangguan sosial ataupun lingkungan ([Lihat sumber Disini - mdpi.com]).
Selain itu, solidaritas sosial memperkuat konektivitas masyarakat yang berperan dalam pengelolaan konflik internal, mitigasi risiko, dan pemulihan pasca kejadian krisis. Keterikatan emosional dan rasa tanggung jawab bersama menciptakan landasan moral bagi tindakan proaktif bersama untuk melindungi kelompok yang lebih rentan serta memulihkan fungsi sosial komunitas secara keseluruhan.
Faktor Pendukung Ketahanan Komunitas
Beberapa faktor yang dapat memperkuat ketahanan komunitas antara lain:
-
Kearifan lokal dan budaya komunitas, sebagai basis nilai dan norma bersama yang mengatur interaksi sosial, mendukung solidaritas, serta memberi arah dalam pengambilan keputusan kolektif dalam menghadapi krisis.
-
Partisipasi aktif anggota komunitas dalam kegiatan kolektif seperti musyawarah, gotong royong, atau jaringan sosial formal yang membangun kapasitas kolektif.
-
Kelembagaan lokal yang kuat, termasuk kelompok pemuda, organisasi masyarakat sipil, dan lembaga adat yang membantu dalam koordinasi dan strategi adaptasi komunitas.
-
Akses terhadap sumber daya dan informasi, termasuk akses terhadap fasilitas layanan kesehatan, pendidikan, transportasi, serta komunikasi yang efektif untuk pertahanan dan pemulihan komunitas saat terjadi goncangan sosial.
-
Sistem dukungan eksternal, berupa dukungan dari pemerintah, lembaga non-pemerintah, maupun jaringan kerja sama lintas komunitas yang dapat menyediakan sumberdaya tambahan, pelatihan, dan pengetahuan teknis ketika dibutuhkan.
Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi membentuk jaringan kapasitas kolektif yang relevan ketika komunitas menghadapi kondisi ketidakpastian dan tekanan sosial yang kompleks.
Ketahanan Komunitas dalam Menghadapi Krisis
Ketahanan komunitas diuji secara nyata pada situasi krisis seperti bencana alam, pandemi, konflik sosial, hingga perubahan ekonomi yang ekstrem. Komunitas yang memiliki struktur sosial yang kuat mampu merespon goncangan ini secara lebih efektif karena mereka telah mengembangkan mekanisme internal untuk koordinasi, pembagian peran, serta pemulihan pasca kejadian krisis.
Penelitian di komunitas masyarakat adat menunjukkan bahwa kemampuan mereka dalam menghadapi pandemi atau tekanan eksternal lainnya tidak hanya tergantung pada respons langsung terhadap kejadian tersebut, tetapi juga mencakup strategi adaptif jangka panjang yang mengintegrasikan nilai budaya, kearifan lokal, serta solidaritas sosial sebagai mekanisme mitigasi risiko baru yang muncul di masa depan ([Lihat sumber Disini - ejournal.brin.go.id]).
Ketahanan komunitas yang kuat juga didukung oleh adanya pemimpin atau tokoh masyarakat yang mampu memfasilitasi diskusi, mengorganisir sumber daya, serta memastikan keterlibatan aktif seluruh anggota komunitas dalam proses pengambilan keputusan saat krisis.
Ketahanan Komunitas dan Pembangunan Sosial
Ketahanan komunitas berperan penting dalam pembangunan sosial karena ia menciptakan basis stabilitas kolektif yang memungkinkan masyarakat berkembang secara berkelanjutan. Ketika komunitas memiliki kemampuan adaptasi, jaringan solidaritas, serta modal sosial yang kuat, komunitas tersebut tidak hanya mampu bertahan dari tekanan jangka pendek tetapi juga memanfaatkan kesempatan untuk inovasi sosial, pembangunan ekonomi lokal, serta peningkatan kesejahteraan sosial dalam jangka panjang.
Pembangunan sosial yang berpijak pada penguatan ketahanan komunitas juga mencakup pemberdayaan kelompok marginal melalui pendidikan, pelatihan keterampilan, serta akses terhadap fasilitas umum yang memperkuat struktur sosial komunitas.
Rendahnya tingkat solidaritas sosial dan partisipasi kolektif justru dapat memperlemah jaringan ketahanan komunitas karena mengurangi kapasitas kolektif dalam tindakan bersama dan respons cepat terhadap perubahan sosial. Oleh karena itu, pembangunan sosial yang inklusif dan partisipatif menjadi kunci dalam memastikan bahwa setiap anggota komunitas memiliki peran dan kontribusi dalam ketahanan kolektif yang berkelanjutan.
Kesimpulan
Ketahanan komunitas merupakan konsep kompleks yang mencakup kemampuan masyarakat untuk merespon, bertahan, pulih, dan beradaptasi terhadap berbagai tekanan sosial, ekonomi, lingkungan, serta politik. Konsep ini melibatkan proses kolektif dan interaksi antara modal sosial, kapasitas adaptif, solidaritas sosial, serta dukungan kelembagaan dan sumber daya yang memadai. Solidaritas sosial menjadi fondasi moral dan emosional yang menjaga keterhubungan antarmanusia sehingga tindakan kolektif dapat dijalankan dalam kondisi krisis.
Komponen-komponen ketahanan komunitas harus dipahami sebagai elemen yang saling terkait dan dinamis, di mana setiap faktor pendukung berkontribusi terhadap kemampuan komunitas untuk tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang melalui mekanisme adaptasi dan pembelajaran sosial. Dalam konteks pembangunan sosial, ketahanan komunitas dapat memperkuat pemerataan kesejahteraan, membangun jaringan kerja sama antarkelompok, serta memastikan bahwa struktur sosial komunitas tetap utuh dan berdaya di tengah berbagai tantangan zaman.