
Perilaku Komunal: Konsep dan Praktik Kolektif
Pendahuluan
Perilaku komunal merupakan satu aspek penting dalam pembentukan kehidupan sosial yang sehat dan kohesif dalam suatu komunitas. Dalam masyarakat tradisional maupun modern, pola perilaku ini mencerminkan bagaimana individu berinteraksi secara kolektif dalam memecahkan masalah bersama, mengatur norma bersama, serta menjaga keharmonisan sosial. Fenomena perilaku komunal tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari tetapi juga menjadi fokus kajian kritis ilmu sosial karena dampaknya yang luas terhadap solidaritas, keterlibatan sosial, dan struktur komunitas itu sendiri. Studi-studi kontemporer menunjukkan bahwa semakin kuat hubungan komunal dalam suatu kelompok, semakin besar kecenderungan terjadinya kerja sama, rasa saling memiliki, serta penyelesaian konflik secara partisipatif dalam komunitas tersebut. [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]
Definisi Perilaku Komunal
Definisi Perilaku Komunal Secara Umum
Perilaku komunal secara umum merujuk pada pola interaksi antara anggota komunitas yang ditandai oleh kolaborasi, kepedulian terhadap kesejahteraan bersama, serta orientasi terhadap kebutuhan dan tujuan kolektif daripada kebutuhan individu semata. Ini bukan sekadar interaksi sosial biasa tetapi sebuah bentuk perilaku yang terinternalisasi secara kolektif di mana setiap anggota berperan aktif dalam kesejahteraan kelompoknya. [Lihat sumber Disini - iplbijournals.id]
Definisi Perilaku Komunal dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah komunal berasal dari kata komunitas yang berarti bersifat atau berkaitan dengan komunitas/kelompok masyarakat. Perilaku komunal dipahami sebagai pola tingkah laku yang berkembang dalam kehidupan bersama antarindividu dalam suatu komunitas atau masyarakat. (Referensi online KBBI dapat ditemukan di situs resmi KBBI).
Link: [Lihat sumber Disini - kbbi.kemdikbud.go.id]
Definisi Perilaku Komunal Menurut Para Ahli
Hilliard dan Rappaport mengemukakan bahwa perilaku komunal mencerminkan rasa saling kepemilikan dan tanggung jawab antar anggota komunitas yang diwujudkan dalam tindakan kolaboratif dan saling membantu, terutama ketika menyelesaikan masalah bersama. [Lihat sumber Disini - drdavidmcmillan.com]
McMillan dan Chavis menyatakan bahwa : “Sense of community adalah rasa memiliki, pengaruh, kebutuhan terpenuhi bersama, serta pengalaman emosional yang dibagikan yang merupakan inti dari keterlibatan komunitas.” Konsep ini mencerminkan perilaku komunal dalam psikologi sosial. [Lihat sumber Disini - drdavidmcmillan.com]
Clark & Mills (1989) menjelaskan bahwa hubungan komunal berbeda dari hubungan pertukaran sosial karena memberi manfaat berdasarkan kebutuhan bersama tanpa memandang imbalan pribadi secara langsung. [Lihat sumber Disini - clarkrelationshiplab.yale.edu]
Penelitian arsitektur sosial kontemporer menunjukkan bahwa ruang komunal dirancang untuk meningkatkan interaksi sosial dan perilaku komunal antar penghuni, mengukuhkan teori bahwa perilaku komunal dipengaruhi oleh struktur sosial dan ruang komunitas. [Lihat sumber Disini - dspace.uii.ac.id]
Ciri-Ciri Perilaku Komunal
Perilaku komunal menunjukkan karakteristik perilaku sosial yang berbeda dari perilaku individual. Ciri-ciri utama perilaku komunal antara lain:
1. Orientasi pada Kepentingan Bersama
Anggota komunitas dalam pola perilaku komunal tidak hanya memperhatikan kebutuhan pribadi tetapi menempatkan kepentingan kelompok sebagai prioritas dalam pengambilan keputusan, tindakan, dan interaksi sosial. Ini tercermin dalam tindakan gotong royong, saling membantu, serta kerja sama kolektif dalam menghadapi tantangan komunitas. [Lihat sumber Disini - iplbijournals.id]
2. Rasa Saling Memiliki dan Solidaritas
Perilaku komunal biasanya muncul bersamaan dengan rasa solidaritas yang kuat di antara anggota komunitas. Rasa ini menunjukkan adanya keterikatan emosional, empati, dan komitmen terhadap kesejahteraan bersama. Studi menunjukkan bahwa semakin tinggi rasa solidaritas, semakin kuat perilaku komunal yang terbentuk dalam komunitas. [Lihat sumber Disini - drdavidmcmillan.com]
3. Keterlibatan Aktif dalam Interaksi Sosial
Komunitas yang menunjukkan perilaku komunal memiliki tingkat partisipasi tinggi dalam kegiatan sosial, diskusi kelompok, serta keterlibatan dalam pembentukan norma dan penyelesaian masalah bersama. Ruang komunal sering menjadi indikator dimana perilaku ini terwujud dalam praktik nyata sebagai wadah interaksi dan tukar pemikiran antar anggota. [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]
Faktor Pembentuk Perilaku Komunal
Berbagai faktor memengaruhi terbentuknya perilaku komunal dalam masyarakat. Faktor-faktor tersebut meliputi:
1. Nilai dan Norma Sosial
Nilai budaya, tradisi, dan norma sosial yang diterima dalam komunitas sangat menentukan bagaimana individu bertindak secara komunal. Nilai gotong royong dan saling menghormati adalah contoh norma yang memperkuat perilaku komunal dalam masyarakat. [Lihat sumber Disini - sejurnal.com]
2. Struktur Sosial dan Lingkungan Fisik
Penelitian arsitektur sosial menunjukkan bahwa desain ruang komunal yang baik, misalnya ruang pertemuan warga, area berkumpul, atau fasilitas umum yang dirancang untuk interaksi, dapat mendorong terjadinya hubungan sosial yang komunal serta memperkuat perilaku kolektif. [Lihat sumber Disini - dspace.uii.ac.id]
3. Interaksi dan Keterhubungan Antar Individu
Semakin sering individu berinteraksi dan merasa terhubung satu sama lain, semakin besar kemungkinan perilaku komunal akan terbentuk. Studi dalam psikologi komunitas membuktikan bahwa interaksi intensif memicu rasa kepemilikan, rasa aman, serta keterlibatan dalam kegiatan komunitas. [Lihat sumber Disini - drdavidmcmillan.com]
Praktik Perilaku Komunal dalam Masyarakat
1. Gotong Royong dalam Masyarakat Desa
Secara empiris, praktik gotong royong merupakan salah satu ekspresi perilaku komunal yang paling sering ditemukan dalam masyarakat Indonesia. Gotong royong mencerminkan kerja sama tanpa pamrih untuk mencapai tujuan bersama seperti membangun infrastruktur lokal, membantu tetangga, hingga mengadakan acara komunitas secara kolektif. [Lihat sumber Disini - sejurnal.com]
2. Ruang Komunal sebagai Wadah Interaksi Sosial
Ruang komunal seperti balai desa, halaman kampung, atau area pertemuan berkumpul menjadi tempat masyarakat berinteraksi, berdiskusi, hingga memecahkan masalah lokal. Perancangan ruang seperti ini sering digunakan sebagai strategi memperkuat perilaku komunal karena memberikan media fisik bagi interaksi sosial. [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]
3. Kegiatan Komunal di Lingkungan Perkotaan
Dalam konteks urban, ruang komunal seperti taman umum, pasar tradisional, dan fasilitas olahraga sering menjadi pusat aktivitas komunal yang menciptakan solidaritas sosial, rasa aman, dan keterikatan antar warga yang tinggal di kawasan tersebut. [Lihat sumber Disini - border.upnjatim.ac.id]
Perilaku Komunal dan Solidaritas Sosial
Perilaku komunal berkaitan erat dengan konsep solidaritas sosial. Solidaritas sosial merupakan ikatan normatif dan emosional yang mengikat individu dalam suatu komunitas sehingga mereka merasa berkewajiban untuk saling membantu, berbagi, serta berpartisipasi dalam kehidupan bersama. Ketika perilaku komunal kuat dalam suatu komunitas, maka solidaritas sosial juga cenderung tinggi karena kedua konsep ini saling memperkuat satu sama lain melalui tindakan nyata seperti kerja sama, gotong royong, dan rasa saling menghormati. [Lihat sumber Disini - drdavidmcmillan.com]
Perilaku komunal dan solidaritas sosial saling berkaitan: perilaku komunal menjadi manifestasi nyata solidaritas sosial, sedangkan solidaritas sosial menjadi basis nilai yang mendasari terbentuknya perilaku komunal.
Dampak Perilaku Komunal terhadap Kehidupan Sosial
1. Penguatan Keterikatan Komunitas
Perilaku komunal membantu memperkuat keterikatan emosional dan sosial antar anggota kelompok, menciptakan jaringan sosial yang solid. Ini berdampak pada stabilitas sosial komunitas dan rasa aman kolektif.
2. Penyelesaian Konflik yang Lebih Efisien
Komunitas dengan perilaku komunal yang kuat cenderung memiliki mekanisme internal yang efektif dalam menyelesaikan konflik secara damai melalui musyawarah, diskusi, atau konsensus bersama.
3. Peningkatan Kesejahteraan Sosial
Kerja sama dan gotong royong dalam komunitas yang memiliki perilaku komunal yang baik akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan, baik dalam aspek ekonomi, pendidikan, maupun keamanan sosial.
Ketiga dampak ini menunjukkan bahwa perilaku komunal bukan sekadar interaksi sosial, tetapi juga merupakan fondasi penting dalam pembentukan masyarakat yang harmonis dan tertata.
Kesimpulan
Perilaku komunal adalah pola interaksi yang melibatkan orientasi kolektif, solidaritas, dan partisipasi aktif dalam kehidupan komunitas. Ciri-ciri utama perilaku komunal meliputi orientasi pada kepentingan bersama, rasa saling memiliki, serta keterlibatan dalam interaksi sosial yang erat. Faktor pembentuk perilaku komunal antara lain nilai budaya, struktur sosial, dan keterhubungan antar individu dalam komunitas. Praktek perilaku komunal dapat dilihat dalam berbagai bentuk, mulai dari gotong royong hingga interaksi di ruang komunal fisik yang dirancang untuk memperkuat hubungan sosial. Dampak perilaku komunal pada kehidupan sosial sangat luas, mulai dari penguatan solidaritas sosial hingga peningkatan kesejahteraan komunitas secara keseluruhan. Perilaku komunal tetap menjadi aspek penting yang perlu dipahami dan dijaga agar komunitas dapat berfungsi secara efektif, inklusif, dan berkelanjutan di era modern ini.