Terakhir diperbarui: 01 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 1 January). Regulasi Emosi: Konsep, Proses, dan Strateginya. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/regulasi-emosi-konsep-proses-dan-strateginya  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Regulasi Emosi: Konsep, Proses, dan Strateginya - SumberAjar.com

Regulasi Emosi: Konsep, Proses, dan Strateginya

Pendahuluan

Regulasi emosi adalah kemampuan penting yang menentukan bagaimana seseorang dapat menjalani kehidupan secara efektif dan sehat. Ketika menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari, seperti tekanan akademik, konflik interpersonal, atau perubahan lingkungan sosial, kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan menyesuaikan respons emosional sangat berperan dalam kesehatan mental dan kualitas hidup secara keseluruhan. Penelitian ilmiah modern telah menunjukkan bahwa strategi-strategi regulasi emosi dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis dan hubungan interpersonal, serta berperan besar dalam mengurangi gejala depresi, kecemasan, dan stres kronis. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]

Regulasi emosi bukan sekadar “menahan” perasaan; prosesnya mencakup cara kita mengidentifikasi emosi, menentukan apakah akan mengubahnya, memilih strategi yang sesuai, dan memonitor hasilnya. Dalam artikel ini, pembaca akan dibimbing melalui konsep, definisi formal dan teoritis, proses terjadinya regulasi emosi, berbagai strategi adaptif maupun maladaptif, faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan ini, serta implikasi regulasi emosi dalam konteks kehidupan sosial.


Definisi Regulasi Emosi

Definisi Regulasi Emosi Secara Umum

Dalam psikologi, regulasi emosi mengacu pada kemampuan seseorang untuk memodifikasi pengalaman emosionalnya, baik intensitas, durasi, maupun ekspresinya, dalam berbagai konteks kehidupan. Ini bukan hanya tentang menghilangkan emosi negatif, tetapi juga mampu mempertahankan dan mengekspresikan emosi positif sesuai dengan kebutuhan situasional agar respons perilaku tetap adaptif dan fungsional. [Lihat sumber Disini - repository.unj.ac.id]

Emosi dapat memengaruhi pikiran, perilaku, dan hubungan sosial jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, regulasi emosi dipandang sebagai proses aktif yang melibatkan kesadaran diri, penilaian terhadap emosi yang muncul, dan pilihan strategi yang tepat untuk mengubah jalannya pengalaman emosional tersebut. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]

Definisi Regulasi Emosi dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), regulasi secara umum berarti tindakan, cara, atau proses mengatur agar berjalan sesuai dengan aturan atau tujuan tertentu. Ketika dikaitkan dengan emosi, regulasi emosi akan berarti proses pengaturan perasaan dan respons emosional agar sesuai dengan harapan, situasi, atau norma sosial tertentu. (Definisi KBBI dapat dilihat langsung melalui laman resmi KBBI daring untuk frasa regulasi emosi.)

Definisi Regulasi Emosi Menurut Para Ahli

  1. James J. Gross: Gross adalah salah satu tokoh utama dalam riset regulasi emosi. Ia mendefinisikan regulasi emosi sebagai proses dimana individu memengaruhi mana emosi yang muncul, kapan emosi itu terjadi, dan bagaimana emosi tersebut dialami serta diekspresikan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  2. McRae, Preece & Ditzer (2025): Regulasi emosi merupakan aktivasi tujuan untuk memodifikasi respons emosional yang sedang berlangsung, termasuk perubahan dalam bagaimana emosi dialami atau diekspresikan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  3. Greenberg (2002): Regulasi emosi adalah kemampuan yang dimiliki individu untuk menilai, mengatasi, mengelola, dan mengungkapkan emosi sesuai dengan konteks sosial dan tujuan psikologis. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]

  4. Penelitian Psikologi Kontemporer: Definisi lain menyatakan regulasi emosi sebagai upaya individu dalam mengolah emosi yang dirasakan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti jenis emosi, intensitas, dan bagaimana emosi itu dialami serta diungkapkan. [Lihat sumber Disini - journal.untar.ac.id]


Proses Terjadinya Regulasi Emosi

Regulasi emosi bukanlah respons tunggal, melainkan sebuah proses dinamis yang terdiri dari tahapan-tahapan yang saling terkait. Model proses regulasi emosi yang dikenal luas adalah Model Proses Gross yang membagi upaya regulasi emosi ke dalam beberapa fase utama:

  1. Pemilihan Situasi (Situation Selection), Individu memilih untuk memasuki atau menghindari situasi tertentu yang dapat memicu emosi. Ini adalah bentuk regulasi emosional yang paling awal atau antecedent-focused. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  2. Modifikasi Situasi (Situation Modification), Setelah situasi teridentifikasi, individu dapat mencoba mengubah aspek situasi itu agar berdampak lebih rendah terhadap emosi negatifnya. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  3. Pengalihan Perhatian (Attentional Deployment), Individu mengalihkan fokus perhatian dari stimulus emosional yang kuat ke hal lain yang lebih netral atau positif. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  4. Perubahan Kognitif (Cognitive Change), Ini termasuk reinterpretasi situasi atau reappraisal, yaitu melihat ulang situasi secara berbeda agar emosi yang muncul lebih terkendali atau berkurang intensitasnya. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  5. Modulasi Respons (Response Modulation), Tahap ini terjadi setelah emosi muncul, mencakup upaya untuk menahan atau mengekspresikan emosi melalui kontrol perilaku atau fisiologis (misalnya melalui latihan pernapasan atau ekspresi wajah yang disengaja). [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Setiap tahap ini mencerminkan pilihan strategi yang bisa digunakan untuk mengatur emosi. Strategi yang diterapkan pada tahap awal, seperti cognitive reappraisal, cenderung lebih adaptif dibandingkan strategi yang muncul setelah respons emosional penuh terbentuk. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]


Strategi Regulasi Emosi Adaptif

Strategi adaptif adalah pendekatan yang secara umum dikaitkan dengan hasil psikologis dan sosial yang lebih sehat. Ini termasuk:

  1. Cognitive Reappraisal (Reinterpretasi Kognitif), Individu menilai ulang situasi untuk melihatnya dari perspektif yang lebih positif atau netral, sehingga respons emosional menjadi lebih terkendali. Strategi ini umumnya dikaitkan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Acceptance, Menerima emosi tanpa menolaknya atau bereaksi secara berlebihan. Ini membantu individu tetap tenang dan reflektif terhadap pengalaman emosionalnya. [Lihat sumber Disini - e-journals.unmul.ac.id]

  3. Problem-Solving, Mengidentifikasi aspek yang dapat diubah dalam situasi dan mengambil tindakan untuk mengatasi masalah, yang secara tidak langsung mengurangi beban emosional situasi tersebut. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  4. Mindfulness dan Meditasi, Fokus pada kesadaran saat ini tanpa menghakimi membantu mengatur respons fisiologis dan kognitif terhadap emosi kuat. [Lihat sumber Disini - cambridge.org]

  5. Sosial Support Seeking (Mencari Dukungan Sosial), Berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu meredakan emosi negatif melalui pemahaman, dukungan, dan solusi bersama. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Strategi-strategi ini seringkali dikaitkan dengan hasil positif seperti peningkatan kesejahteraan psikologis, hubungan interpersonal yang sehat, dan kemampuan lebih baik dalam menghadapi tekanan hidup. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]


Strategi Regulasi Emosi Maladaptif

Strategi maladaptif sering dikaitkan dengan dampak negatif pada kesejahteraan psikologis dan hubungan sosial. Jenis strategi ini termasuk:

  1. Expressive Suppression, Menahan ekspresi emosi tanpa mengubah pengalaman emosional internal. Meskipun dapat mengurangi ekspresi luar, ini sering dikaitkan dengan peningkatan tekanan fisiologis dan hubungan interpersonal yang buruk. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  2. Rumination (Merenung Berlebihan), Terus menerus memikirkan hal-hal negatif tanpa solusi; ini justru memperpanjang respons emosional dan menghambat penyelesaian masalah. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  3. Avoidance/Escape, Menghindari situasi yang memicu emosi secara drastis tanpa penyelesaian masalah inti, sehingga gejolak emosi bisa muncul berkali-kali. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  4. Catastrophizing, Melihat suatu situasi secara jauh lebih buruk daripada sebenarnya, yang dapat meningkatkan kecemasan dan perasaan tidak berdaya. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Strategi-strategi ini sering kali dikaitkan dengan peningkatan gejala psikopatologi seperti depresi, kecemasan, gangguan stres pasca-trauma, dan respons sosial yang kurang adaptif. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Faktor yang Mempengaruhi Regulasi Emosi

Kemampuan seseorang untuk mengatur emosinya dipengaruhi oleh berbagai faktor:

  1. Perkembangan Biologis dan Neurosains, Regulasi emosi melibatkan jaringan otak yang kompleks, termasuk area prefrontal cortex yang berperan dalam kontrol kognitif dan evaluasi ulang emosional. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  2. Pengalaman Hidup dan Belajar Sosial, Individu yang tumbuh dengan model pengelolaan emosi yang sehat cenderung memiliki strategi regulasi yang lebih efektif. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  3. Kesadaran Diri dan Kognisi, Kepekaan terhadap emosi sendiri dan kemampuan berpikir reflektif membantu seseorang memilih strategi yang tepat secara fleksibel. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  4. Dukungan Sosial dan Hubungan Interpersonal, Ketersediaan dukungan sosial yang kuat dapat memperkuat kemampuan regulasi emosi melalui umpan balik sosial dan praktik keterampilan emosional. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  5. Kepribadian dan Temperamen, Individu dengan kecenderungan temperamental tertentu mungkin lebih cepat merespons emosi negatif dan memerlukan strategi tambahan untuk mengelolanya. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]


Regulasi Emosi dalam Konteks Kehidupan Sosial

Dalam kehidupan sosial, regulasi emosi memainkan peran penting dalam membentuk hubungan interpersonal dan interaksi sosial yang sehat. Individu yang dapat mengatur emosinya dengan baik cenderung lebih mampu membangun empati, menyelesaikan konflik, dan menjaga hubungan dalam jangka panjang.

Dalam konteks kelompok, regulasi emosi berkontribusi pada dinamika sosial yang positif dengan mengurangi perilaku agresif dan meningkatkan kerja sama serta keterbukaan. Selain itu, regulasi emosi adaptif telah dikaitkan dengan tingkat kebahagiaan dan subjektif well-being yang lebih tinggi di kalangan remaja dan dewasa muda. [Lihat sumber Disini - ojs.fkip.ummetro.ac.id]


Kesimpulan

Regulasi emosi merupakan proses psikologis kompleks yang mencakup identifikasi, evaluasi, dan pengelolaan pengalaman emosional individu dalam berbagai konteks kehidupan. Definisi dari Gross hingga riset kontemporer menekankan peran strategi adaptif seperti reinterpretasi kognitif dan penerimaan sebagai kunci kesejahteraan psikologis. Sebaliknya, strategi maladaptif seperti ekspressive suppression dan rumination dikaitkan dengan hasil kesehatan mental yang kurang optimal. Faktor-faktor seperti perkembangan otak, pengalaman hidup, dukungan sosial, dan kesadaran diri turut memengaruhi efektivitas regulasi emosi. Dalam kehidupan sosial, kemampuan ini memperkuat hubungan interpersonal, meningkatkan kesejahteraan, dan meminimalkan dampak negatif konflik atau stres. Pemahaman yang mendalam akan praktik regulasi emosi tidak hanya penting dalam psikologi klinis tetapi juga bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai keseimbangan emosional yang sehat.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Regulasi emosi adalah kemampuan individu untuk mengenali, mengelola, dan menyesuaikan respons emosional yang muncul agar sesuai dengan situasi dan tujuan tertentu. Regulasi emosi mencakup pengaturan intensitas, durasi, serta ekspresi emosi agar tetap adaptif.

Regulasi emosi penting karena membantu individu mengendalikan reaksi emosional terhadap stres, konflik, dan tekanan sosial. Kemampuan ini berperan dalam menjaga kesehatan mental, meningkatkan kualitas hubungan sosial, serta mendukung pengambilan keputusan yang rasional.

Strategi regulasi emosi adaptif meliputi reinterpretasi kognitif, penerimaan emosi, pemecahan masalah, mindfulness, serta mencari dukungan sosial. Strategi ini terbukti berkontribusi terhadap kesejahteraan psikologis dan stabilitas emosi.

Regulasi emosi adaptif membantu individu menyesuaikan emosi secara sehat, sedangkan regulasi emosi maladaptif cenderung memperburuk kondisi emosional. Contoh maladaptif meliputi menekan emosi secara berlebihan, ruminasi, dan penghindaran masalah.

Kemampuan regulasi emosi dipengaruhi oleh faktor biologis, perkembangan otak, pengalaman hidup, pola asuh, dukungan sosial, kepribadian, serta tingkat kesadaran diri individu dalam memahami emosinya.

Dalam kehidupan sosial, regulasi emosi membantu individu berinteraksi secara lebih positif, mengelola konflik, meningkatkan empati, serta membangun hubungan interpersonal yang sehat dan berkelanjutan.

โฌ‡
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Konsep Regulasi Emosi dalam Kehidupan Akademik Konsep Regulasi Emosi dalam Kehidupan Akademik Ekspresi Emosi: Bentuk dan Faktor Budaya Ekspresi Emosi: Bentuk dan Faktor Budaya Konsep Keseimbangan Emosi Konsep Keseimbangan Emosi Emosi Negatif: Jenis dan Dampaknya Emosi Negatif: Jenis dan Dampaknya Ketidakstabilan Emosi Pasien: Faktor dan Pendekatan Ketidakstabilan Emosi Pasien: Faktor dan Pendekatan Ketidakstabilan Emosi Pasien: Konsep, Pendekatan, dan Dukungan Ketidakstabilan Emosi Pasien: Konsep, Pendekatan, dan Dukungan Stabilitas Emosi: Konsep dan Implikasi Perilaku Stabilitas Emosi: Konsep dan Implikasi Perilaku Konsep Kematangan Emosi Mahasiswa Konsep Kematangan Emosi Mahasiswa Emosi Positif: Manfaat dan Contoh Emosi Positif: Manfaat dan Contoh Kematangan Emosi: Konsep dan Indikator Kematangan Emosi: Konsep dan Indikator Regulasi Stres: Konsep dan Strategi Adaptif Regulasi Stres: Konsep dan Strategi Adaptif Kecerdasan Emosional: Komponen dan Pengaruhnya dalam Belajar Kecerdasan Emosional: Komponen dan Pengaruhnya dalam Belajar Regulasi Diri: Konsep dan Mekanisme Psikologis Regulasi Diri: Konsep dan Mekanisme Psikologis Emotional Intelligence Akademik: Konsep dan Prestasi Emotional Intelligence Akademik: Konsep dan Prestasi Perubahan Emosi pada Ibu Hamil Perubahan Emosi pada Ibu Hamil Neurotisisme: Konsep dan Implikasi Psikologis Neurotisisme: Konsep dan Implikasi Psikologis Keseimbangan Emosional: Konsep dan Stabilitas Mental Keseimbangan Emosional: Konsep dan Stabilitas Mental Toxic Positivity: Konsep dan Kritik Psikologis Toxic Positivity: Konsep dan Kritik Psikologis Perubahan Emosi Kehamilan: Konsep, Adaptasi Psikologis, dan Dukungan Perubahan Emosi Kehamilan: Konsep, Adaptasi Psikologis, dan Dukungan Mental Toughness: Konsep dan Ketahanan Diri Mental Toughness: Konsep dan Ketahanan Diri
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaruโ€ฆ