Terakhir diperbarui: 07 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 7 January). Konsep Regulasi Emosi dalam Kehidupan Akademik. SumberAjar. Retrieved 12 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/konsep-regulasi-emosi-dalam-kehidupan-akademik 

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Konsep Regulasi Emosi dalam Kehidupan Akademik - SumberAjar.com

Konsep Regulasi Emosi dalam Kehidupan Akademik

Pendahuluan

Kehidupan akademik mahasiswa di perguruan tinggi bukan hanya tentang pemahaman konten kuliah dan nilai ujian, tetapi juga bagaimana individu mengelola emosi yang muncul sepanjang proses akademik. Emosi yang tidak terkendali dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan mental, hubungan interpersonal, hingga prestasi akademik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa sering menghadapi tekanan akademik yang tinggi, seperti tuntutan tugas kuliah, ujian, dan penyusunan skripsi yang dapat memicu stres akademik yang signifikan. Regulasi emosi menjadi salah satu kemampuan penting yang perlu dimiliki mahasiswa untuk menghadapi tantangan ini secara efektif, karena kemampuan untuk mengelola emosi berperan dalam menurunkan intensitas tekanan emosional dan membantu individu tetap produktif dan adaptif dalam kegiatan akademik mereka. [Lihat sumber Disini - ejournal.undhari.ac.id]


Definisi Regulasi Emosi

Definisi Regulasi Emosi Secara Umum

Regulasi emosi secara umum dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk mengenali, memahami, dan mengatur emosi-emosi yang dirasakannya, sehingga respon emosional terhadap situasi tertentu dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks lingkungan. Individu yang mampu meregulasi emosinya dengan baik umumnya memiliki kontrol terhadap ekspresi emosi, mampu meredam emosi berlebihan, dan mengambil tindakan yang adaptif dalam menghadapi tekanan atau konflik emosional dalam kehidupan sehari-hari. [Lihat sumber Disini - jurnal.fe.unram.ac.id]

Definisi Regulasi Emosi dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah regulasi merujuk pada proses pengaturan atau penataan sesuatu sehingga sesuai dengan aturan tertentu. Dalam konteks regulasi emosi, istilah ini menggambarkan kemampuan mengendalikan atau menata respons emosional yang timbul dalam berbagai situasi, termasuk dalam lingkungan sosial dan akademik, agar tetap efektif dan sesuai dengan norma yang berlaku. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi Regulasi Emosi Menurut Para Ahli

Para ahli psikologi memberikan definisi regulasi emosi yang lebih mendalam dan komprehensif berdasarkan penelitian ilmiah. Gross (2007) menyatakan bahwa regulasi emosi adalah proses dimana individu mempengaruhi emosi yang mereka miliki, kapan emosi tersebut muncul dan bagaimana mereka mengalami serta mengekspresikannya, yang mencakup berbagai strategi kognitif dan perilaku untuk mengelola respons emosional. [Lihat sumber Disini - ejournal.unesa.ac.id]

Safarina (2024) mendefinisikan regulasi emosi sebagai kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi secara efektif, sehingga individu dapat menghadapi tekanan dan tantangan dengan lebih adaptif dalam kehidupan akademik dan sosialnya. [Lihat sumber Disini - journals.id]

Selain itu, Thomson mengemukakan regulasi emosi sebagai kemampuan seseorang untuk memonitor, mengevaluasi, dan memodifikasi reaksi emosional guna mencapai tujuan individu secara optimal dalam konteks apapun termasuk akademik. [Lihat sumber Disini - etheses.iainkediri.ac.id]

Berdasarkan berbagai definisi tersebut, regulasi emosi mencakup kemampuan kesadaran terhadap emosi sendiri, kontrol kognitif atas respon emosional, serta kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara sesuai dengan situasi yang dihadapi. [Lihat sumber Disini - jurnal.fe.unram.ac.id]


Strategi Regulasi Emosi

Strategi regulasi emosi merujuk pada berbagai cara yang digunakan individu untuk menanggapi, menilai ulang, mengubah, atau mengekspresikan emosi untuk menjaga keseimbangan psikologis dan menjalankan peran hidup dengan lebih efektif. Strategi-strategi ini dapat dilakukan secara sadar maupun otomatis dan seringkali melibatkan proses kognitif dan perilaku. Gross (2007) membagi strategi regulasi emosi menjadi dua aspek utama: cognitive reappraisal dan expressive suppression.

Cognitive reappraisal merupakan strategi kognitif dimana individu menilai ulang situasi yang memicu emosi sehingga dapat merendahkan intensitas respons emosional negatif. Hal ini sering dilakukan sebelum emosi mencapai puncaknya. Strategi ini termasuk adaptif karena membantu individu memproses situasi stres tanpa menimbulkan konflik emosional yang berlebihan. [Lihat sumber Disini - journal.upy.ac.id]

Sedangkan expressive suppression merupakan strategi pengendalian ekspresi emosional yang dilakukan setelah emosi dirasakan. Individu akan berusaha mengurangi ekspresi eksternal dari emosi tersebut, meskipun respon internal tetap dirasakan. Strategi ini sering digunakan ketika konteks sosial mensyaratkan pengendalian emosi, namun apabila terlalu sering digunakan tanpa strategi lain, dapat menimbulkan beban psikologis yang lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - journal.upy.ac.id]

Selain dua strategi tersebut, ada juga teknik seperti mindfulness dan pernapasan terkontrol yang dapat membantu menurunkan respons emosional secara fisiologis dan meningkatkan fokus dalam situasi stress akademik. Strategi-strategi ini memungkinkan individu tidak terjebak dalam reaksi impulsif tetapi mengambil keputusan yang lebih bijak dalam konteks akademik yang penuh tekanan. [Lihat sumber Disini - jurnal.fe.unram.ac.id]


Faktor yang Mempengaruhi Regulasi Emosi Mahasiswa

Berbagai faktor internal dan eksternal dapat mempengaruhi kemampuan regulasi emosi mahasiswa. Faktor internal seperti kesadaran diri terhadap emosi yang dirasakan, efikasi diri, serta keterampilan kognitif dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menghadapi situasi emosional yang kompleks. Misalnya, mahasiswa dengan efikasi diri yang tinggi cenderung menunjukkan kemampuan regulasi emosi yang lebih baik, sehingga mampu menurunkan tingkat stres akademik yang mereka alami. [Lihat sumber Disini - jurnal.pabki.org]

Faktor eksternal yang sering mempengaruhi regulasi emosi mahasiswa antara lain tekanan akademik seperti tuntutan tugas kuliah, persiapan ujian, dan penyusunan skripsi. Tekanan ini dapat memicu respons emosional seperti kecemasan dan frustrasi yang intens. Lingkungan sosial seperti dukungan teman, keluarga, serta bimbingan akademik juga berperan penting dalam membentuk kemampuan regulasi emosi. Dukungan sosial yang kuat dapat membantu mahasiswa mengelola tekanan emosional dengan lebih efektif. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]

Selain itu, tantangan kehidupan kampus seperti persaingan akademik, perubahan hubungan sosial, dan ketidakpastian masa depan juga menjadi faktor eksternal yang mempengaruhi regulasi emosi. Tekanan-tekanan tersebut sering kali memaksa mahasiswa untuk membangun strategi coping yang adaptif, termasuk regulasi emosi yang efektif. [Lihat sumber Disini - ejournal.undhari.ac.id]


Regulasi Emosi dalam Menghadapi Stres Akademik

Stres akademik merupakan fenomena umum yang dialami oleh mahasiswa, terutama mahasiswa tingkat akhir yang terlibat dalam penulisan skripsi dan persiapan ujian akhir. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa regulasi emosi memiliki peran penting dalam bagaimana respons individu terhadap stres akademik tersebut. Misalnya, penelitian pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala menemukan adanya hubungan negatif antara regulasi emosi dan stres akademik, di mana mahasiswa dengan regulasi emosi yang lebih baik cenderung mengalami tingkat stres akademik yang lebih rendah. [Lihat sumber Disini - jim.usk.ac.id]

Namun, beberapa studi juga menunjukkan bahwa hubungan antara regulasi emosi dan stres akademik tidak selalu signifikan secara statistik, meskipun deskriptif menunjukkan bahwa mahasiswa dengan regulasi emosi yang baik memiliki kemampuan lebih tinggi untuk menghadapi tekanan akademik. Hal ini menunjukkan bahwa regulasi emosi bukan satu-satunya faktor penentu stres akademik, tetapi termasuk dalam berbagai mekanisme coping yang kompleks bersama faktor lain seperti manajemen waktu dan dukungan sosial. [Lihat sumber Disini - ejournal.undhari.ac.id]

Dalam konteks pembelajaran online maupun suasana akademik yang dinamis saat ini, kemampuan mahasiswa untuk meregulasi emosi membantu mengurangi intensitas tekanan emosional, meningkatkan kemampuan fokus pada tugas akademik, serta menjaga kesejahteraan psikologis dalam jangka panjang. Strategi seperti menilai ulang stresor, mencari dukungan sosial, dan menggunakan teknik relaksasi dapat membantu mahasiswa untuk merespon tekanan akademik dengan lebih adaptif. [Lihat sumber Disini - journal.unibos.ac.id]


Regulasi Emosi dan Kinerja Akademik

Kemampuan regulasi emosi tidak hanya berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis mahasiswa, tetapi juga berkaitan dengan kinerja akademik. Mahasiswa yang mampu mengelola emosinya secara efektif cenderung memiliki konsentrasi yang lebih baik, kemampuan pengambilan keputusan yang lebih stabil, serta hubungan yang lebih baik dengan dosen dan teman sejawat. Hal ini karena regulasi emosi membantu menurunkan dampak negatif dari kecemasan dan stres, sehingga fokus dapat diarahkan pada kegiatan belajar dan penyelesaian tugas akademik secara lebih optimal.

Penelitian menunjukkan bahwa keterampilan regulasi emosi yang baik dapat menjadi prediktor peningkatan prestasi akademik, karena mahasiswa tidak mudah terganggu oleh emosi negatif yang muncul akibat tekanan tugas atau ujian. Strategi regulasi emosi yang adaptif membantu individu tetap produktif dan konsisten dalam menjalankan rutinitas belajar mereka. [Lihat sumber Disini - jurnal.fe.unram.ac.id]


Peran Regulasi Emosi dalam Kehidupan Kampus

Dalam kehidupan kampus yang penuh dinamika sosial dan akademik, regulasi emosi berperan dalam membantu mahasiswa menjalankan berbagai peran mereka secara efektif. Mahasiswa harus mampu mengelola emosi dalam situasi presentasi, diskusi kelompok, konflik interpersonal dengan teman, serta saat menerima kritik konstruktif dari dosen. Kemampuan ini sangat penting untuk membangun kepercayaan diri, menjaga hubungan interpersonal yang sehat, serta menciptakan suasana akademik yang kondusif.

Selain itu, kemampuan regulasi emosi juga membantu mahasiswa dalam pembentukan identitas diri, adaptasi terhadap lingkungan baru, dan peningkatan resilience atau ketahanan mental ketika menghadapi berbagai tantangan selama studi. Mahasiswa yang memiliki regulasi emosi yang kuat cenderung memiliki kemampuan coping yang lebih adaptif dan hubungan sosial yang lebih harmonis, sehingga kehidupan kampus mereka tidak hanya produktif secara akademik tetapi juga sehat secara psikologis. [Lihat sumber Disini - journals.id]


Kesimpulan

Regulasi emosi merupakan kemampuan penting yang mencakup proses mengenali, memahami, dan mengelola emosi secara adaptif dalam berbagai situasi kehidupan, termasuk kehidupan akademik. Kemampuan ini berperan dalam membantu mahasiswa menghadapi stres akademik, meningkatkan kinerja akademik, dan menjaga kesejahteraan psikologis secara keseluruhan. Regulasi emosi dipengaruhi oleh faktor internal seperti efikasi diri dan keterampilan kognitif, serta faktor eksternal seperti tekanan akademik dan dukungan sosial. Dalam kehidupan kampus, kemampuan meregulasi emosi tidak hanya membantu mahasiswa menyelesaikan tugas akademik tetapi juga membentuk resilience dan hubungan sosial yang sehat. Dengan demikian, pengembangan keterampilan regulasi emosi menjadi salah satu aspek penting dalam pendidikan tinggi yang mendukung kesuksesan akademik dan kesejahteraan individu mahasiswa.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Regulasi emosi dalam kehidupan akademik adalah kemampuan mahasiswa untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi secara efektif dalam menghadapi tuntutan perkuliahan, seperti tugas, ujian, tekanan akademik, dan dinamika sosial kampus, sehingga tetap dapat berfungsi secara optimal.

Regulasi emosi penting bagi mahasiswa karena membantu mengurangi stres akademik, menjaga kesehatan mental, meningkatkan fokus belajar, serta mendukung kinerja akademik dan hubungan sosial yang sehat di lingkungan kampus.

Strategi regulasi emosi yang umum digunakan mahasiswa meliputi penilaian ulang kognitif terhadap situasi stres, pengendalian ekspresi emosi, teknik relaksasi, mindfulness, manajemen waktu, serta mencari dukungan sosial dari teman, keluarga, atau dosen.

Regulasi emosi memiliki hubungan erat dengan stres akademik, dimana mahasiswa yang mampu meregulasi emosinya dengan baik cenderung mengalami tingkat stres akademik yang lebih rendah dan mampu menghadapi tekanan perkuliahan secara lebih adaptif.

Regulasi emosi mempengaruhi kinerja akademik dengan membantu mahasiswa menjaga konsentrasi, mengelola kecemasan, serta mengambil keputusan belajar yang lebih efektif, sehingga mendukung pencapaian prestasi akademik yang optimal.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Regulasi Emosi: Konsep, Proses, dan Strateginya Ekspresi Emosi: Bentuk dan Faktor Budaya Konsep Keseimbangan Emosi Konsep Kematangan Emosi Mahasiswa Emosi Negatif: Jenis dan Dampaknya Ketidakstabilan Emosi Pasien: Faktor dan Pendekatan Ketidakstabilan Emosi Pasien: Konsep, Pendekatan, dan Dukungan Stabilitas Emosi: Konsep dan Implikasi Perilaku Emosi Positif: Manfaat dan Contoh Kematangan Emosi: Konsep dan Indikator Emotional Intelligence Akademik: Konsep dan Prestasi Kecerdasan Emosional: Komponen dan Pengaruhnya dalam Belajar Regulasi Diri: Konsep dan Mekanisme Psikologis Regulasi Stres: Konsep dan Strategi Adaptif Perubahan Emosi pada Ibu Hamil Neurotisisme: Konsep dan Implikasi Psikologis Keseimbangan Emosional: Konsep dan Stabilitas Mental Mental Toughness: Konsep dan Ketahanan Diri Toxic Positivity: Konsep dan Kritik Psikologis Perubahan Emosi Kehamilan: Konsep, Adaptasi Psikologis, dan Dukungan
Artikel Terbaru
Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah: Konsep dan Legitimasi Kebijakan Publik: Konsep dan Dampak Sosial Advokasi Sosial: Konsep dan Perubahan Kebijakan Good Governance: Konsep dan Akuntabilitas Sosial Civil Society: Konsep dan Peran Sosial Demokrasi Sosial: Konsep dan Partisipasi Warga Identitas Kolektif: Konsep dan Pembentukan Kelompok Dinamika Kelompok Sosial: Konsep dan Interaksi Internal Inklusi Sosial: Konsep dan Keadilan Sosial Eksklusi Sosial: Konsep dan Marginalisasi Minoritas Sosial: Konsep dan Relasi Kekuasaan Mayoritas Sosial: Konsep dan Dominasi Sosial Polarisasi Sosial: Konsep dan Konflik Kepentingan Interaksi Antarbudaya: Konsep dan Tantangan Sosial Relasi Sosial Virtual: Konsep dan Perubahan Makna