
Nutrisi Buruk sebagai Faktor Risiko Efek Samping Obat
Pendahuluan
Masalah nutrisi buruk atau malnutrisi bukan hanya berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan tubuh secara umum, tetapi juga memiliki implikasi serius terhadap efektivitas dan keamanan terapi obat. Ketika tubuh tidak menerima nutrisi yang adekuat, baik energi, protein, maupun mikronutrien, fungsi organ yang terlibat dalam metabolisme obat seperti hati, ginjal, dan sistem imun dapat terganggu. Gangguan ini tidak hanya memengaruhi kemampuan tubuh dalam menetralkan atau mengeliminasi obat, tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya efek samping yang merugikan pasien. Malnutrisi sering ditemukan pada populasi dengan penyakit kronis atau infeksi berat, dan hubungan antara status gizi dan respons terhadap obat menjadi semakin penting dalam praktik klinis modern yang berfokus pada keselamatan dan efektivitas terapi pasien. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Malnutrisi sebagai Nutrisi Buruk
Definisi Malnutrisi Secara Umum
Malnutrisi secara umum merujuk pada kondisi ketidakseimbangan nutrisi dalam tubuh yang disebabkan oleh kurangnya atau bahkan kelebihan asupan zat gizi yang diperlukan tubuh dalam jumlah tepat untuk menjalankan fungsi fisiologis normal. Dalam konteks umum kesehatan masyarakat, malnutrisi sering dikaitkan dengan kekurangan energi dan protein yang memengaruhi proses tumbuh kembang serta sistem imun tubuh. [Lihat sumber Disini - jurnal.htp.ac.id]
Definisi Malnutrisi dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “malnutrisi” bukan istilah yang selalu tercantum secara terpisah, tetapi konsep malnutrisi dapat dipahami sebagai “keadaan tubuh yang tidak mendapat asupan zat gizi yang cukup, seimbang, atau berlebihan sehingga menimbulkan gangguan kesehatan”. Ini mencakup kondisi gizi buruk (under nutrition) maupun gizi lebih (over nutrition). [Lihat sumber Disini - web.rshs.go.id]
Definisi Malnutrisi Menurut Para Ahli
-
Menurut Sari dan Septiani, malnutrisi adalah keadaan ketidakseimbangan dalam asupan kalori, protein, dan zat gizi lain yang memengaruhi fungsi tubuh, komposisi jaringan, serta hasil klinis kesehatan seseorang. [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]
-
Allen (2023) mendeskripsikan malnutrisi sebagai kondisi yang terjadi ketika asupan nutrisi tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh, yang bisa berupa kekurangan maupun kelebihan nutrisi. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Pengertian malnutrisi menurut NHS Inform juga didefinisikan sebagai nutrisi buruk akibat tidak cukup makan atau tidak cukup makanan yang seimbang secara nutrisi. [Lihat sumber Disini - nhsinform.scot]
-
Pada perspektif farmakokinetik, malnutrisi atau status gizi buruk dapat memengaruhi metabolisme obat, sehingga istilah ini diartikan sebagai kondisi tubuh yang tidak cukup nutrisi yang mengubah cara obat diserap, didistribusikan, dimetabolisme, dan diekskresikan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Hubungan Status Gizi dengan Metabolisme Obat
Status gizi memiliki peran penting dalam proses farmakokinetik obat, yaitu serangkaian proses yang mencakup absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi obat dalam tubuh. Pada individu dengan nutrisi buruk, perubahan fisiologis yang signifikan sering terjadi. Salah satunya adalah perubahan pada protein plasma seperti albumin yang berdampak pada kadar obat bebas (free drug concentration). Obat yang biasanya terikat protein akan mengalami peningkatan fraksi bebas apabila albumin rendah, yang dapat meningkatkan toksisitasnya. [Lihat sumber Disini - journal.unimma.ac.id]
Selain itu, malnutrisi juga memengaruhi aktivitas enzim hati yang berperan dalam metabolisme obat, terutama sistem cytochrome P450, sehingga memengaruhi laju metabolisme dan eliminasi obat. Perubahan ini dapat menyebabkan akumulasi obat dalam tubuh dan meningkatkan risiko efek samping. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Penelitian farmakokinetik juga menunjukkan bahwa malnutrisi mengurangi kemampuan ginjal untuk mengeliminasi obat dan metabolitnya, sehingga memperpanjang waktu tinggal obat dalam sirkulasi tubuh dan meningkatkan toksisitas. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Risiko Efek Samping pada Pasien Malnutrisi
Individu dengan status gizi buruk memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami efek samping obat dibandingkan dengan individu yang bergizi baik. Penelitian klinis pada pasien tuberkulosis paru menunjukkan bahwa pasien dengan asupan nutrisi kurang dan status gizi buruk cenderung mengalami efek samping obat yang lebih berat dibandingkan pasien dengan status gizi lebih baik. [Lihat sumber Disini - nersbaya.poltekkes-surabaya.ac.id]
Efek samping obat pada kondisi malnutrisi juga dapat dipicu oleh perubahan fungsi hati dan ginjal yang menjadi kurang optimal dalam memetabolisme dan mengeliminasi obat, sehingga efek dosis yang sama pada individu dengan status gizi buruk dapat menjadi berlebihan secara klinis. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Beberapa obat sendiri juga dapat menyebabkan gangguan nutrisi atau malnutrisi sekunder, contohnya isoniazid yang dapat menyebabkan defisiensi vitamin B6, yang dapat memperburuk status nutrisi pasien. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dampak Nutrisi Buruk terhadap Toleransi Obat
Toleransi obat merujuk pada kemampuan tubuh untuk mentoleransi pemberian obat tanpa mengalami efek merugikan yang hebat. Pada individu dengan nutrisi buruk, toleransi obat seringkali lebih rendah. Penyebabnya antara lain:
-
Penurunan fungsi organ metabolik: Malnutrisi menurunkan fungsi hati dan ginjal dalam memetabolisme dan ekskresi obat, yang membuat efek farmakologis obat menjadi lebih kuat atau bertahan lebih lama. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Perubahan distribusi obat: Kekurangan protein plasma berdampak pada distribusi obat, sehingga obat yang terikat protein berubah proporsinya dan dapat meningkatkan toksisitas. [Lihat sumber Disini - journal.unimma.ac.id]
-
Gangguan sistem imun: Status gizi buruk juga menurunkan respons imun tubuh, yang berkontribusi pada peningkatan komplikasi efek samping yang ditimbulkan obat. [Lihat sumber Disini - jurnal.htp.ac.id]
Peran Penilaian Gizi sebelum Terapi
Penilaian status gizi pasien sebelum terapi obat sangat penting untuk mengidentifikasi risiko malnutrisi yang berpotensi memengaruhi respons terhadap obat. Penilaian ini mencakup penggunaan indikator antropometri (berat badan, indeks massa tubuh), status protein plasma, dan penilaian klinis lainnya. Tujuannya adalah menyesuaikan dosis obat, merencanakan intervensi nutrisi, dan meminimalkan risiko efek samping. [Lihat sumber Disini - prosiding.ummetro.ac.id]
Beberapa penelitian klinis menekankan pentingnya penilaian gizi sebagai bagian dari perilaku klinis yang komprehensif, karena ini dapat membantu profesional kesehatan dalam merencanakan intervensi farmakologis yang lebih aman dan efektif untuk pasien dengan status gizi buruk. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Pendekatan Terapi Berbasis Status Gizi
Pendekatan terapi yang mempertimbangkan status gizi pasien melibatkan beberapa langkah:
-
Intervensi nutrisi sebelum terapi obat: Pemberian dukungan nutrisi yang adekuat seperti suplementasi energi, protein, dan mikronutrien sebelum memulai terapi obat dapat memperbaiki fungsi organ dan mereduksi risiko efek samping.
-
Penyesuaian dosis obat: Berdasarkan hasil penilaian gizi dan fungsi organ, dosis obat dapat disesuaikan untuk mencocokkan kapasitas metabolik tubuh pasien.
-
Monitoring secara ketat: Pemantauan kadar obat dalam plasma dan tanda-tanda efek samping secara reguler diperlukan terutama pada pasien dengan status gizi buruk.
-
Kolaborasi multidisiplin: Tenaga kesehatan termasuk dokter, ahli gizi, dan apoteker perlu bekerja sama untuk menyusun rencana terapi yang mempertimbangkan aspek nutrisi dan farmakologi.
Pendekatan semacam ini tidak hanya meningkatkan keamanan terapi, tetapi juga potensi keberhasilan pengobatan, terutama pada pasien dengan penyakit kronis dan kondisi malnutrisi yang kompleks.
Kesimpulan
Status gizi atau nutrisi buruk merupakan faktor risiko penting yang memengaruhi metabolisme obat dan meningkatkan kemungkinan terjadinya efek samping. Malnutrisi menyebabkan perubahan fisiologis yang dapat mengganggu proses absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi obat, sehingga toleransi terhadap obat menurun dan risiko toksisitas meningkat. Penilaian gizi yang menyeluruh sebelum terapi obat bersama dengan pendekatan terapi berbasis status gizi dapat membantu meminimalkan risiko ini dan meningkatkan hasil klinis pasien. Dengan integrasi evaluasi nutrisi dalam perencanaan terapi, profesional kesehatan dapat mengoptimalkan penggunaan obat sekaligus menjaga keselamatan pasien.