
Gizi Buruk: Faktor dan Pencegahan
Pendahuluan
Gizi buruk merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah, khususnya di Indonesia. Fenomena ini memiliki dampak yang luas, tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi fisik anak, namun juga terhadap perkembangan kognitif, kemampuan belajar, kualitas hidup di masa depan, serta produktivitas nasional. Banyak anak balita mengalami berat badan kurang, stunting, atau wasting karena mereka tidak mendapatkan zat gizi yang cukup pada masa penting pertumbuhan. Hal ini memicu urgensi pemahaman mendalam terhadap penyebab, dampak, dan langkah pencegahannya agar upaya intervensi dapat dilakukan lebih efektif dan tepat sasaran.
Definisi Gizi Buruk
Definisi Gizi Buruk Secara Umum
Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana tubuh tidak mendapatkan cukup zat gizi esensial yang diperlukan untuk pertumbuhan dan fungsi tubuh secara optimal. Kondisi ini biasanya terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan nutrisi dengan kebutuhan metabolik tubuh sehingga memengaruhi status gizi seseorang, terutama anak-anak. Gizi buruk mencakup berbagai bentuk malnutrisi, seperti kekurangan energi/protein, stunting (tinggi badan kurang untuk usia), wasting (berat badan rendah untuk tinggi badan), serta defisiensi mikronutrien tertentu. [Lihat sumber Disini - unicef.org]
Definisi Gizi Buruk dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gizi buruk didefinisikan sebagai kondisi kesehatan yang buruk akibat kurangnya asupan zat gizi atau nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Kondisi ini menandakan adanya kekurangan nutrisi yang signifikan dalam waktu tertentu sehingga berdampak langsung terhadap kesehatan fisik dan fungsi tubuh. (KBBI Online)
Definisi Gizi Buruk Menurut Para Ahli
1. World Health Organization (WHO)
Menurut WHO, malnutrisi atau kurang gizi adalah kondisi di mana kekurangan, kelebihan, atau ketidakseimbangan asupan energi dan nutrisi terjadi sehingga berdampak pada ukuran tubuh, fungsi, dan hasil klinis tubuh secara keseluruhan. Dalam konteks anak, malnutrisi sering dimaknai sebagai undernutrition yang mencakup kondisi wasting, stunting, dan underweight akibat kurangnya asupan energi dan/atau nutrien penting. [Lihat sumber Disini - who.int]
2. American Society for Parenteral and Enteral Nutrition (ASPEN)
ASPEN mendefinisikan malnutrisi pediatrik sebagai imbalance antara kebutuhan nutrisi dan asupan nutrisi yang menyebabkan defisit terkumulasi energi, protein, atau mikronutrien yang dapat berdampak negatif terhadap pertumbuhan, perkembangan, dan hasil kesehatan relevan lainnya. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
3. Jurnal Malnutrisi, Jurnal Gizi dan Kesehatan (2022)
Dalam kajian klinis di Jurnal Gizi dan Kesehatan, malnutrisi dijelaskan sebagai keadaan status gizi seseorang yang berada di bawah rata-rata atau kurang gizi, yang mencakup kekurangan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak, dan vitamin yang dibutuhkan tubuh untuk berfungsi optimal. Kondisi ini dapat diukur melalui indikator antropometri seperti BB/TB dan BB/U. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkespalembang.ac.id]
4. Jurnal Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gizi Buruk pada Balita (2024, 2025)
Dalam penelitian terbaru, gizi buruk didefinisikan sebagai suatu keadaan yang menyebabkan kualitas hidup menurun dan meningkatnya risiko kematian serta gangguan perkembangan fisik dan mental akibat ketidakseimbangan asupan dan kebutuhan nutrisi di masa pertumbuhan anak. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
Berdasarkan beberapa pandangan ahli dan sumber ilmiah di atas, gizi buruk pada anak adalah kondisi malnutrisi yang diakibatkan oleh ketidakcukupan asupan energi dan nutrisi penting sehingga terjadi imbalance antara kebutuhan tubuh dan nutrisi yang diterima. Kondisi ini tidak hanya berupa penurunan berat atau tinggi badan di bawah standar, tetapi juga mencakup gangguan fungsi tubuh, perkembangan, serta fisik dan kesehatan secara keseluruhan. Malnutrisi atau gizi buruk harus dipandang sebagai fenomena klinis yang kompleks, yang membutuhkan pendekatan pemantauan antropometri, evaluasi nutrisi, serta intervensi multisektoral untuk pencegahan dan penanganannya. [Lihat sumber Disini - who.int]
Penyebab Utama Gizi Buruk pada Anak
Penyebab gizi buruk pada anak sangat multifaktorial dan saling terkait, melibatkan faktor individu, keluarga, hingga lingkungan sosial ekonomi.
Pertama, penyebab langsung gizi buruk adalah rendahnya asupan makanan yang sesuai kebutuhan nutrisi anak. Asupan makanan yang kurang dari kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral menghambat proses pertumbuhan dan kadar gizi tubuh secara optimal. Hal ini sering terjadi pada balita yang tidak menerima makanan bergizi seimbang atau pola makan yang monoton. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Selain itu, kurangnya pengetahuan orang tua, terutama ibu, tentang kebutuhan nutrisi anak turut menjadi faktor penting. Penelitian menunjukkan bahwa bila tingkat pengetahuan ibu rendah mengenai asupan gizi, jenis makanan seimbang, atau pentingnya pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI tepat waktu, maka risiko terjadinya gizi buruk menjadi lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - ojs3.poltekkes-mks.ac.id]
Faktor kesehatan anak seperti seringnya terkena infeksi juga memperburuk status gizi. Anak yang sering sakit akan mengalami penurunan nafsu makan sehingga asupan nutrisi tidak optimal. Selain itu, infeksi menyebabkan tubuh memerlukan lebih banyak energi untuk melawan penyakit, yang mempercepat hilangnya cadangan nutrisi tubuh. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
Selain faktor langsung di atas, terdapat juga faktor tidak langsung seperti rendahnya pendidikan orang tua, pendapatan keluarga yang terbatas, dan akses yang kurang terhadap layanan kesehatan serta sanitasi yang memadai. Ketiga faktor ini berkontribusi terhadap terbatasnya kemampuan keluarga untuk menyediakan makanan berkualitas serta mendapatkan informasi dan layanan pencegahan penyakit secara optimal. [Lihat sumber Disini - ejournal.unimman.ac.id]
Dengan melihat kompleksitas penyebab ini, pendekatan penanganan gizi buruk harus mencakup pemberdayaan keluarga, edukasi gizi berbasis komunitas, serta penyediaan akses makanan bergizi dan sanitasi yang lebih baik.
Pengaruh Akses Pangan dan Ekonomi
Akses pangan yang mencukupi dan kondisi ekonomi keluarga memainkan peran krusial dalam status gizi anak. Ketidakmampuan ekonomi sering kali menjadi akar dari rendahnya asupan makanan bergizi karena keluarga tidak mampu membeli bahan makanan berkualitas tinggi seperti sumber protein, buah dan sayur segar, susu, dan suplemen mikronutrien. [Lihat sumber Disini - ejournal.unimman.ac.id]
Ketersediaan pangan berkorelasi langsung dengan status gizi keluarga. Ketika pangan yang tersedia kurang bervariasi atau tidak cukup, anak akan kekurangan zat-zat gizi penting sehingga memperbesar risiko malnutrisi. Keluarga dengan pendapatan rendah sering kali mengutamakan jumlah kalori dari makanan murah tanpa memperhatikan kandungan nutrisi seimbang, yang memunculkan kondisi “hidden hunger” atau kelaparan tersembunyi, kekurangan mikronutrien padahal asupan energi mungkin tercukupi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Selain itu, kondisi ekonomi keluarga juga menentukan kemampuan untuk mengakses layanan kesehatan seperti imunisasi, pemeriksaan perkembangan anak secara berkala, serta konsultasi gizi yang sangat penting untuk deteksi dini masalah gizi. Kekurangan layanan kesehatan menyebabkan keterlambatan penanganan masalah pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga beban gizi buruk semakin berat. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
Karena itu, peningkatan akses pangan tidak hanya soal jumlah makanan, tetapi juga kualitasnya; termasuk penyediaan makanan bergizi melalui program intervensi pemerintah di tengah masyarakat serta dukungan ekonomi keluarga melalui kebijakan pembangunan sosial.
Dampak Gizi Buruk terhadap Pertumbuhan
Gizi buruk berdampak luas terhadap aspek fisik dan perkembangan anak. Secara fisik, anak yang mengalami gizi buruk akan tampak kurus, memiliki tinggi badan yang kurang sesuai usianya (stunting), atau berat badan yang jauh di bawah standar pertumbuhan WHO. Kondisi ini juga mengakibatkan sistem kekebalan tubuh yang lemah, sehingga lebih rentan terhadap penyakit infeksi yang berulang. [Lihat sumber Disini - unicef.org]
Dampak gizi buruk tidak hanya terlihat secara fisik tetapi juga pada kemampuan kognitif dan perkembangan mental anak. Anak kekurangan nutrisi berisiko mengalami keterlambatan perkembangan otak, penurunan kemampuan belajar, dan prestasi akademik yang lebih rendah dibandingkan anak yang terpenuhi gizinya. Kondisi ini sering kali berlangsung seumur hidup dan bahkan memengaruhi produktivitas di masa dewasa. [Lihat sumber Disini - unicef.org]
Selain itu, dampak jangka panjang seperti peningkatan risiko penyakit tidak menular saat dewasa seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular juga menjadi konsekuensi dari kurangnya nutrisi pada masa pertumbuhan. Anak yang stunting ataupun mengalami bentuk malnutrisi lainnya dapat menghadapi hambatan kesehatan ini karena perubahan metabolik tubuh akibat kekurangan nutrisi kronis sejak dini. [Lihat sumber Disini - unicef.org]
Dengan demikian, dampak gizi buruk bukan hanya soal ukuran tubuh, tetapi mencakup kualitas kesehatan, daya tahan tubuh, kemampuan belajar, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.
Strategi Pencegahan melalui Edukasi dan Intervensi
Pencegahan gizi buruk memerlukan pendekatan komprehensif, mulai dari edukasi keluarga hingga intervensi berbasis komunitas. Edukasi gizi kepada orang tua, khususnya ibu, tentang pentingnya nutrisi seimbang, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama, serta pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat setelahnya terbukti menjadi strategi penting dalam meningkatkan status gizi anak. [Lihat sumber Disini - ojs3.poltekkes-mks.ac.id]
Selain edukasi langsung, program-program intervensi seperti penyuluhan gizi rutin di posyandu, pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita rentan, dan pembentukan kelompok dukungan gizi keluarga membantu memperkuat pengetahuan dan praktik pemberian makanan di rumah. Intervensi ini juga mendorong perubahan perilaku keluarga dalam pola makan dan pola hidup sehat. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
Pendekatan berbasis masyarakat yang melibatkan para kader kesehatan setempat, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan profesional akan membuat upaya pencegahan lebih relevan dan diterima oleh komunitas. Selain itu, pemantauan pertumbuhan balita secara berkala dan deteksi dini masalah gizi memungkinkan intervensi lebih cepat sebelum kondisi semakin parah. [Lihat sumber Disini - upk.kemkes.go.id]
Penerapan kebijakan nasional yang mendukung ketersediaan pangan sehat dan akses layanan kesehatan juga menjadi bagian penting dari strategi pencegahan gizi buruk secara makro. Kombinasi edukasi, intervensi komunitas, serta dukungan kebijakan akan menguatkan upaya pencegahan yang berkelanjutan.
Peran Puskesmas dan Posyandu
Puskesmas dan posyandu memiliki peran sentral dalam pencegahan dan penanganan gizi buruk di tingkat lokal. Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan primer bertanggung jawab dalam menyediakan layanan pemeriksaan status gizi anak secara rutin, memberikan konsultasi gizi, serta melaksanakan program intervensi yang terintegrasi seperti imunisasi, pemantauan pertumbuhan, dan penyuluhan. [Lihat sumber Disini - upk.kemkes.go.id]
Posyandu sebagai titik layanan masyarakat memainkan peran penting dalam pemantauan tumbuh kembang balita, pemberian vitamin dan suplemen, serta edukasi gizi kepada orang tua di lingkungan sekitar. Posyandu juga menjadi wadah untuk mengidentifikasi dini kasus gizi kurang atau buruk sehingga dapat dirujuk ke Puskesmas untuk penanganan lebih lanjut. [Lihat sumber Disini - upk.kemkes.go.id]
Kolaborasi antara Puskesmas dan posyandu mendukung sistem rujukan dan intervensi yang efektif; keterlibatan aktif kader kesehatan setempat merupakan langkah kunci dalam mendorong perilaku sehat di lingkungan. Melalui pendekatan ini, upaya pencegahan gizi buruk menjadi lebih menyeluruh karena melibatkan fasilitas kesehatan formal dan komunitas lokal secara sinergis.
Kesimpulan
Gizi buruk adalah kondisi kekurangan nutrisi yang kompleks dan berdampak luas terhadap kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan anak. Penyebabnya meliputi rendahnya asupan makanan bergizi, kurangnya pengetahuan orang tua, serta faktor sosial ekonomi seperti pendapatan dan akses pangan. Dampaknya mencakup keterlambatan pertumbuhan fisik, gangguan kognitif, serta peningkatan risiko penyakit di masa depan.
Strategi pencegahan harus bersifat komprehensif, mulai dari edukasi keluarga, intervensi berbasis komunitas, hingga dukungan kebijakan nasional, untuk memastikan makanan bergizi tersedia dan dipahami pentingnya oleh masyarakat. Peran Puskesmas dan posyandu sangat signifikan dalam deteksi dini, edukasi, serta rujukan kasus sehingga upaya pencegahan dan penanganan gizi buruk dapat terlaksana secara optimal. Dengan pendekatan yang terintegrasi dan sumber daya yang memadai, penurunan prevalensi gizi buruk dapat dicapai, memberikan generasi masa depan yang lebih sehat dan produktif.