Terakhir diperbarui: 12 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 12 December). Hubungan Pola Makan dengan IMT. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/hubungan-pola-makan-dengan-imt  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Hubungan Pola Makan dengan IMT - SumberAjar.com

Hubungan Pola Makan dengan IMT

Pendahuluan

Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan indikator penting dalam menilai status gizi dan risiko kesehatan pada individu maupun populasi. IMT yang tinggi sering kali dihubungkan dengan kelebihan berat badan dan obesitas, kondisi yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular. Pola makan, termasuk jenis makanan, frekuensi, porsi, dan kualitas nutrisi, merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap perubahan IMT seseorang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan konsumsi makanan tinggi kalori, rendah serat, dan berlemak tinggi berkorelasi dengan peningkatan IMT, sementara pola makan seimbang berpotensi menjaga IMT tetap dalam rentang yang sehat. [Lihat sumber Disini - sosains.greenvest.co.id]


Definisi Hubungan Pola Makan dengan IMT

Definisi Hubungan Pola Makan dengan IMT secara Umum

Hubungan pola makan dengan IMT menggambarkan bagaimana kebiasaan konsumsi makanan seseorang memengaruhi berat badan relatif terhadap tinggi badan, yang diukur sebagai IMT. IMT dihitung dengan rumus berat badan (kg) dibagi tinggi badan (m) kuadrat, dan digunakan secara luas sebagai alat skrining status gizi yang sederhana. Secara umum, pola makan yang seimbang mengandung proporsi tepat dari energi (kalori), karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral dapat membantu mempertahankan IMT dalam kisaran normal. Sebaliknya, pola makan yang tinggi energi tetapi rendah nutrisi berkualitas berkontribusi pada kelebihan berat badan dan obesitas, yang tercermin lewat IMT yang meningkat. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

Definisi Hubungan Pola Makan dengan IMT dalam KBBI

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), pola makan adalah kebiasaan atau tata cara seseorang dalam mengatur waktu, jenis, dan kuantitas makan yang dilakukannya sehari-hari, sedangkan Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan angka yang menunjukkan perbandingan antara berat badan dan kuadrat tinggi badan untuk mengetahui status gizi seseorang. Dengan demikian, hubungan antara pola makan dan IMT menunjukkan keterkaitan antara kebiasaan makan dan angka yang mencerminkan status gizi.

Definisi Hubungan Pola Makan dengan IMT Menurut Para Ahli

  1. Kusumastuty (2025) menjelaskan bahwa hubungan antara kebiasaan makan dan status gizi berdasarkan IMT mencerminkan bagaimana pola makan berperan penting dalam menentukan apakah seseorang memiliki berat badan normal, kurang, atau berlebih. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

  2. Pakpahan (2024) mendefinisikan pola makan sebagai cara memperoleh, jenis makanan, frekuensi makan, yang berdampak langsung pada asupan energi dan nutrisi yang kemudian tercermin pada IMT seseorang. [Lihat sumber Disini - jurnal.uisu.ac.id]

  3. StatPearls (2025) menyatakan bahwa pola makan, perilaku makan, dan lingkungan makanan mempengaruhi status antropometrik dan IMT melalui asupan energi dan kualitas makanan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  4. Jurnal kesehatan lainnya menegaskan bahwa diet berkualitas rendah dengan asupan tinggi makanan ultraprocessed berkontribusi pada kenaikan IMT karena kepadatan energi tinggi dan rendahnya serat serta mikronutrien. [Lihat sumber Disini - prin.or.id]


Karakteristik Pola Makan pada Berbagai Kelompok Usia

Karakteristik pola makan dapat berbeda signifikan antar kelompok usia, dan variasi ini berdampak pada IMT.

Anak dan Remaja

Kelompok usia ini sering berisiko memiliki pola makan yang tidak seimbang karena pengaruh lingkungan sekolah, aktivitas fisik bervariasi, dan paparan makanan cepat saji yang tinggi energi. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa perilaku makan berlebih atau pola makan buruk pada remaja berkorelasi dengan berat badan berlebih dan kenaikan IMT yang berarti. [Lihat sumber Disini - researchhub.id]

Dewasa Muda

Pada usia dewasa awal, transisi hidup seperti memasuki dunia kerja sering mengubah pola makan, misalnya konsumsi makanan cepat saji, minuman manis, atau makan malam larut. Studi di Indonesia pada mahasiswa coass menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pola makan yang kurang sehat dan IMT yang meningkat. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]

Lansia

Usia lanjut cenderung mengalami perubahan fisiologis seperti penurunan sensasi rasa, kesulitan mengunyah, serta masalah pencernaan, yang dapat mempengaruhi pilihan makanan. Pola makan kurang sehat pada lansia juga dikaitkan dengan risiko obesitas dan perubahan IMT yang tidak ideal. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Ringkasan

Secara umum, perubahan pola makan sepanjang siklus hidup mempengaruhi keseimbangan energi. Anak dan remaja rentan terhadap pola makan rendah nutrisi tinggi energi; dewasa muda sering menghadapi pola makan tidak teratur; lansia mempunyai tantangan fisiologis yang mempengaruhi pilihan makanan, semua ini berdampak pada IMT dan status gizi.


Faktor yang Mempengaruhi Perubahan IMT

Perubahan IMT dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara pola makan, aktivitas fisik, genetika, dan faktor lingkungan.

Asupan Energi dan Nutrisi

Jumlah energi masuk dibandingkan dengan energi yang dibakar menentukan perubahan berat badan. Pola makan tinggi energi, sering ditemukan dalam makanan cepat saji dan minuman manis, mendorong kelebihan energi yang disimpan sebagai lemak tubuh, meningkatkan IMT. [Lihat sumber Disini - sosains.greenvest.co.id]

Kualitas Diet

Diet yang kaya serat, buah, sayur, dan sumber protein lean cenderung terkait dengan IMT yang lebih sehat, sementara diet rendah nutrisi berkualitas tinggi sering dikaitkan dengan kenaikan IMT. [Lihat sumber Disini - prin.or.id]

Aktivitas Fisik

Kurangnya aktivitas fisik mengurangi pembakaran energi, sehingga kelebihan asupan kalori menjadi penyimpanan lemak yang meningkatkan IMT. Penelitian di remaja melaporkan rendahnya aktivitas fisik sebagai faktor obesitas signifikan. [Lihat sumber Disini - jurnal.balitbangda.lampungprov.go.id]

Faktor Psikososial dan Lingkungan

Stres, tidur tidak cukup, dan paparan makanan tidak sehat di lingkungan rumah atau kerja juga mempengaruhi pilihan pola makan dan akhirnya IMT. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]


Dampak Kualitas Diet terhadap Status Gizi

Kualitas diet memainkan peran sentral dalam determinasi status gizi dan IMT.

Diet Berkualitas Tinggi

Diet seimbang dengan proporsi nutrien tepat mendukung pemeliharaan berat badan sehat, metabolisme optimal, serta keseimbangan hormon yang memengaruhi rasa lapar dan penyimpanan energi. [Lihat sumber Disini - dietaryguidelines.gov]

Diet Berkualitas Rendah

Diet yang kaya kalori kosong (gula, lemak jenuh) berkontribusi pada peningkatan lemak tubuh, resistensi insulin, dan kenaikan IMT yang tidak sehat. Hal ini berdampak pada peningkatan risiko obesitas dan penyakit tidak menular. [Lihat sumber Disini - prin.or.id]


Peran Aktivitas Fisik sebagai Variabel Pendukung

Aktivitas fisik adalah variabel pendukung yang memoderasi hubungan antara pola makan dan IMT. Aktivitas fisik membantu membakar kalori, meningkatkan metabolisme, dan mempertahankan massa otot. Kekurangan aktivitas fisik di berbagai kelompok usia berkontribusi pada kenaikan IMT meskipun asupan kalori tidak berubah. Studi lokal melaporkan bahwa remaja dengan aktivitas fisik rendah cenderung memiliki IMT lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - jurnal.balitbangda.lampungprov.go.id]


Hubungan Kebiasaan Makan dengan Risiko Obesitas

Hubungan antara kebiasaan makan dan risiko obesitas sangat kuat, yang tercermin pada perubahan IMT. Pola makan buruk, misalnya sering mengonsumsi makanan berkalori tinggi, porsi besar, konsumsi cepat saji, berkorelasi dengan obesitas yang tercermin lewat kategori IMT tinggi pada banyak populasi di Indonesia. [Lihat sumber Disini - sosains.greenvest.co.id]


Kesimpulan

Hubungan pola makan dengan IMT merupakan hubungan yang kompleks namun krusial dalam memahami status gizi suatu populasi. IMT mencerminkan status gizi yang dipengaruhi oleh kualitas makanan, jumlah energi yang dikonsumsi, dan gaya hidup seperti aktivitas fisik. Pola makan yang tidak seimbang dengan asupan tinggi energi dan rendah nutrisi berkualitas secara konsisten dikaitkan dengan kenaikan IMT dan risiko obesitas di berbagai kelompok usia dan setting. Variasi dalam karakteristik pola makan menurut usia menunjukkan bahwa intervensi nutrisi harus disesuaikan dengan fase kehidupan. Selain itu, faktor pendukung seperti aktivitas fisik dan lingkungan makan berkontribusi signifikan terhadap perubahan IMT. Secara keseluruhan, upaya peningkatan kualitas diet dan gaya hidup aktif perlu menjadi fokus utama dalam strategi kesehatan masyarakat untuk mengendalikan IMT yang ideal dan mengurangi risiko obesitas.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Hubungan pola makan dengan IMT menggambarkan bagaimana jenis, frekuensi, dan kualitas makanan yang dikonsumsi seseorang memengaruhi berat badan relatif terhadap tinggi badan yang tercermin dalam Indeks Massa Tubuh.

Perubahan IMT dipengaruhi oleh keseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi. Pola makan tinggi kalori, makanan olahan, serta konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan IMT, sementara pola makan seimbang dapat menjaga IMT tetap normal.

Ya, kualitas diet sangat memengaruhi status gizi. Diet yang kaya serat, vitamin, dan mineral membantu menjaga berat badan sehat, sedangkan diet rendah kualitas nutrisi dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan dan obesitas.

Kebiasaan makan seperti sering mengonsumsi makanan cepat saji, porsi besar, dan makanan tinggi gula berkontribusi pada peningkatan IMT dan risiko obesitas.

Aktivitas fisik membantu membakar energi, meningkatkan metabolisme, dan mencegah penumpukan lemak berlebih. Kombinasi pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur efektif dalam menjaga IMT ideal.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Pola Makan Tidak Teratur: Konsep, Dampak Metabolik, dan Kesehatan Pola Makan Tidak Teratur: Konsep, Dampak Metabolik, dan Kesehatan Pola Makan Tidak Teratur dan Masalah Pencernaan Pola Makan Tidak Teratur dan Masalah Pencernaan Perilaku Makan Tidak Teratur pada Mahasiswa Perilaku Makan Tidak Teratur pada Mahasiswa Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Pola Makan Tidak Teratur: Faktor dan Dampaknya Pola Makan Tidak Teratur: Faktor dan Dampaknya Pengetahuan Remaja tentang Makan Malam Sehat Pengetahuan Remaja tentang Makan Malam Sehat Pola Makan Keluarga dan Risiko Obesitas Anak Pola Makan Keluarga dan Risiko Obesitas Anak Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan Hubungan Stress dan Pola Makan Hubungan Stress dan Pola Makan Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak Pengaruh Pola Tidur terhadap Nafsu Makan Pengaruh Pola Tidur terhadap Nafsu Makan Evaluasi Pola Makan Harian berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang Evaluasi Pola Makan Harian berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita Pola Asuh dan Stunting Pola Asuh dan Stunting Pola Makan Anak Picky Eater Pola Makan Anak Picky Eater Pengetahuan Pasien tentang Obat Penambah Nafsu Makan Pengetahuan Pasien tentang Obat Penambah Nafsu Makan Pola Makan Selama Kehamilan Pola Makan Selama Kehamilan Pengetahuan Masyarakat tentang Obat Penurun Nafsu Makan Pengetahuan Masyarakat tentang Obat Penurun Nafsu Makan
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…