
Hubungan Pola Makan dengan IMT
Pendahuluan
Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan indikator penting dalam menilai status gizi dan risiko kesehatan pada individu maupun populasi. IMT yang tinggi sering kali dihubungkan dengan kelebihan berat badan dan obesitas, kondisi yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular. Pola makan, termasuk jenis makanan, frekuensi, porsi, dan kualitas nutrisi, merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap perubahan IMT seseorang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan konsumsi makanan tinggi kalori, rendah serat, dan berlemak tinggi berkorelasi dengan peningkatan IMT, sementara pola makan seimbang berpotensi menjaga IMT tetap dalam rentang yang sehat. [Lihat sumber Disini - sosains.greenvest.co.id]
Definisi Hubungan Pola Makan dengan IMT
Definisi Hubungan Pola Makan dengan IMT secara Umum
Hubungan pola makan dengan IMT menggambarkan bagaimana kebiasaan konsumsi makanan seseorang memengaruhi berat badan relatif terhadap tinggi badan, yang diukur sebagai IMT. IMT dihitung dengan rumus berat badan (kg) dibagi tinggi badan (m) kuadrat, dan digunakan secara luas sebagai alat skrining status gizi yang sederhana. Secara umum, pola makan yang seimbang mengandung proporsi tepat dari energi (kalori), karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral dapat membantu mempertahankan IMT dalam kisaran normal. Sebaliknya, pola makan yang tinggi energi tetapi rendah nutrisi berkualitas berkontribusi pada kelebihan berat badan dan obesitas, yang tercermin lewat IMT yang meningkat. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Definisi Hubungan Pola Makan dengan IMT dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), pola makan adalah kebiasaan atau tata cara seseorang dalam mengatur waktu, jenis, dan kuantitas makan yang dilakukannya sehari-hari, sedangkan Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan angka yang menunjukkan perbandingan antara berat badan dan kuadrat tinggi badan untuk mengetahui status gizi seseorang. Dengan demikian, hubungan antara pola makan dan IMT menunjukkan keterkaitan antara kebiasaan makan dan angka yang mencerminkan status gizi.
Definisi Hubungan Pola Makan dengan IMT Menurut Para Ahli
-
Kusumastuty (2025) menjelaskan bahwa hubungan antara kebiasaan makan dan status gizi berdasarkan IMT mencerminkan bagaimana pola makan berperan penting dalam menentukan apakah seseorang memiliki berat badan normal, kurang, atau berlebih. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Pakpahan (2024) mendefinisikan pola makan sebagai cara memperoleh, jenis makanan, frekuensi makan, yang berdampak langsung pada asupan energi dan nutrisi yang kemudian tercermin pada IMT seseorang. [Lihat sumber Disini - jurnal.uisu.ac.id]
-
StatPearls (2025) menyatakan bahwa pola makan, perilaku makan, dan lingkungan makanan mempengaruhi status antropometrik dan IMT melalui asupan energi dan kualitas makanan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Jurnal kesehatan lainnya menegaskan bahwa diet berkualitas rendah dengan asupan tinggi makanan ultraprocessed berkontribusi pada kenaikan IMT karena kepadatan energi tinggi dan rendahnya serat serta mikronutrien. [Lihat sumber Disini - prin.or.id]
Karakteristik Pola Makan pada Berbagai Kelompok Usia
Karakteristik pola makan dapat berbeda signifikan antar kelompok usia, dan variasi ini berdampak pada IMT.
Anak dan Remaja
Kelompok usia ini sering berisiko memiliki pola makan yang tidak seimbang karena pengaruh lingkungan sekolah, aktivitas fisik bervariasi, dan paparan makanan cepat saji yang tinggi energi. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa perilaku makan berlebih atau pola makan buruk pada remaja berkorelasi dengan berat badan berlebih dan kenaikan IMT yang berarti. [Lihat sumber Disini - researchhub.id]
Dewasa Muda
Pada usia dewasa awal, transisi hidup seperti memasuki dunia kerja sering mengubah pola makan, misalnya konsumsi makanan cepat saji, minuman manis, atau makan malam larut. Studi di Indonesia pada mahasiswa coass menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pola makan yang kurang sehat dan IMT yang meningkat. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Lansia
Usia lanjut cenderung mengalami perubahan fisiologis seperti penurunan sensasi rasa, kesulitan mengunyah, serta masalah pencernaan, yang dapat mempengaruhi pilihan makanan. Pola makan kurang sehat pada lansia juga dikaitkan dengan risiko obesitas dan perubahan IMT yang tidak ideal. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Ringkasan
Secara umum, perubahan pola makan sepanjang siklus hidup mempengaruhi keseimbangan energi. Anak dan remaja rentan terhadap pola makan rendah nutrisi tinggi energi; dewasa muda sering menghadapi pola makan tidak teratur; lansia mempunyai tantangan fisiologis yang mempengaruhi pilihan makanan, semua ini berdampak pada IMT dan status gizi.
Faktor yang Mempengaruhi Perubahan IMT
Perubahan IMT dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara pola makan, aktivitas fisik, genetika, dan faktor lingkungan.
Asupan Energi dan Nutrisi
Jumlah energi masuk dibandingkan dengan energi yang dibakar menentukan perubahan berat badan. Pola makan tinggi energi, sering ditemukan dalam makanan cepat saji dan minuman manis, mendorong kelebihan energi yang disimpan sebagai lemak tubuh, meningkatkan IMT. [Lihat sumber Disini - sosains.greenvest.co.id]
Kualitas Diet
Diet yang kaya serat, buah, sayur, dan sumber protein lean cenderung terkait dengan IMT yang lebih sehat, sementara diet rendah nutrisi berkualitas tinggi sering dikaitkan dengan kenaikan IMT. [Lihat sumber Disini - prin.or.id]
Aktivitas Fisik
Kurangnya aktivitas fisik mengurangi pembakaran energi, sehingga kelebihan asupan kalori menjadi penyimpanan lemak yang meningkatkan IMT. Penelitian di remaja melaporkan rendahnya aktivitas fisik sebagai faktor obesitas signifikan. [Lihat sumber Disini - jurnal.balitbangda.lampungprov.go.id]
Faktor Psikososial dan Lingkungan
Stres, tidur tidak cukup, dan paparan makanan tidak sehat di lingkungan rumah atau kerja juga mempengaruhi pilihan pola makan dan akhirnya IMT. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Dampak Kualitas Diet terhadap Status Gizi
Kualitas diet memainkan peran sentral dalam determinasi status gizi dan IMT.
Diet Berkualitas Tinggi
Diet seimbang dengan proporsi nutrien tepat mendukung pemeliharaan berat badan sehat, metabolisme optimal, serta keseimbangan hormon yang memengaruhi rasa lapar dan penyimpanan energi. [Lihat sumber Disini - dietaryguidelines.gov]
Diet Berkualitas Rendah
Diet yang kaya kalori kosong (gula, lemak jenuh) berkontribusi pada peningkatan lemak tubuh, resistensi insulin, dan kenaikan IMT yang tidak sehat. Hal ini berdampak pada peningkatan risiko obesitas dan penyakit tidak menular. [Lihat sumber Disini - prin.or.id]
Peran Aktivitas Fisik sebagai Variabel Pendukung
Aktivitas fisik adalah variabel pendukung yang memoderasi hubungan antara pola makan dan IMT. Aktivitas fisik membantu membakar kalori, meningkatkan metabolisme, dan mempertahankan massa otot. Kekurangan aktivitas fisik di berbagai kelompok usia berkontribusi pada kenaikan IMT meskipun asupan kalori tidak berubah. Studi lokal melaporkan bahwa remaja dengan aktivitas fisik rendah cenderung memiliki IMT lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - jurnal.balitbangda.lampungprov.go.id]
Hubungan Kebiasaan Makan dengan Risiko Obesitas
Hubungan antara kebiasaan makan dan risiko obesitas sangat kuat, yang tercermin pada perubahan IMT. Pola makan buruk, misalnya sering mengonsumsi makanan berkalori tinggi, porsi besar, konsumsi cepat saji, berkorelasi dengan obesitas yang tercermin lewat kategori IMT tinggi pada banyak populasi di Indonesia. [Lihat sumber Disini - sosains.greenvest.co.id]
Kesimpulan
Hubungan pola makan dengan IMT merupakan hubungan yang kompleks namun krusial dalam memahami status gizi suatu populasi. IMT mencerminkan status gizi yang dipengaruhi oleh kualitas makanan, jumlah energi yang dikonsumsi, dan gaya hidup seperti aktivitas fisik. Pola makan yang tidak seimbang dengan asupan tinggi energi dan rendah nutrisi berkualitas secara konsisten dikaitkan dengan kenaikan IMT dan risiko obesitas di berbagai kelompok usia dan setting. Variasi dalam karakteristik pola makan menurut usia menunjukkan bahwa intervensi nutrisi harus disesuaikan dengan fase kehidupan. Selain itu, faktor pendukung seperti aktivitas fisik dan lingkungan makan berkontribusi signifikan terhadap perubahan IMT. Secara keseluruhan, upaya peningkatan kualitas diet dan gaya hidup aktif perlu menjadi fokus utama dalam strategi kesehatan masyarakat untuk mengendalikan IMT yang ideal dan mengurangi risiko obesitas.