
Status Gizi Remaja: Konsep, Tantangan Nutrisi, dan Pencegahan
Pendahuluan
Remaja merupakan fase perkembangan manusia yang penuh dinamika, bukan sekadar masa transisi dari anak-anak ke dewasa, melainkan periode krusial di mana pertumbuhan fisik, psikososial, dan kognitif berlangsung secara cepat dan intensif. Nutrisi yang adekuat merupakan salah satu kunci utama dalam memastikan remaja mencapai potensi kesehatan optimalnya. Namun, di banyak negara termasuk Indonesia, remaja masih menghadapi beragam tantangan gizi seperti kekurangan nutrisi mikro, obesitas, pola makan tidak sehat, dan ketidakseimbangan asupan energi serta zat gizi makro lainnya yang berdampak pada perkembangan jangka panjang. Pengetahuan tentang status gizi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya menjadi penting untuk merancang intervensi yang efektif demi mencegah masalah kesehatan di kemudian hari seperti penyakit tidak menular (PTM) dan gangguan pertumbuhan. [Lihat sumber Disini - journal.umpr.ac.id]
Definisi Status Gizi Remaja
Definisi Status Gizi Remaja Secara Umum
Status gizi remaja secara umum dapat diartikan sebagai kondisi tubuh seseorang yang mencerminkan keseimbangan antara asupan makanan dan kebutuhan nutrisi sepanjang masa pertumbuhan. Status ini mencakup berbagai kategori seperti gizi buruk, kurang gizi, gizi baik, gizi lebih, dan obesitas yang masing-masing menunjukkan sejauh mana asupan nutrisi sesuai dengan kebutuhan fisiologis tubuh. [Lihat sumber Disini - journal.umpr.ac.id]
Definisi Status Gizi Remaja dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), status gizi diartikan sebagai “keadaan gizi seseorang yang dapat dinilai berdasarkan asupan dan pemanfaatan zat gizi untuk kehidupan dan aktivitas tubuh.” Walaupun KBBI tidak secara spesifik mendefinisikan status gizi remaja saja, istilah ini digunakan untuk menjelaskan kondisi gizi individu pada rentang usia tertentu termasuk masa remaja. (sumber KBBI langsung dari laman resmi KBBI, sertakan link KBBI di artikel).
Definisi Status Gizi Remaja Menurut Para Ahli
-
Menurut Parajuli (2025), status gizi remaja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif dari nutrisi tubuh yang menunjukkan bagaimana tubuh memperoleh, menyimpan, dan menggunakan energi serta zat gizi selama periode pertumbuhan, yang esensial untuk perkembangan fisik dan fungsi metabolik yang optimal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Jaleel (2024) menyatakan bahwa penilaian status gizi pada remaja mencerminkan keseimbangan antara berat badan, tinggi badan, serta komposisi tubuh yang dianalisis melalui indeks antropometri seperti BMI dan BAZ yang dikaitkan dengan standar WHO. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Das dan rekan (2017) mendefinisikan status gizi remaja sebagai hasil dari interaksi antara asupan diet, kebutuhan metabolik, serta perubahan fisiologis selama masa pubertas yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tubuh. [Lihat sumber Disini - nyaspubs.onlinelibrary.wiley.com]
-
Menurut laporan Riskesdas dan peneliti gizi anak, status gizi remaja juga dipengaruhi oleh perilaku makan, aktivitas fisik, dan faktor sosial-ekologis yang membentuk pola diet mereka. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Perubahan Fisiologis Remaja dan Kebutuhan Gizi
Masa remaja ditandai oleh percepatan pertumbuhan tubuh, perubahan hormon, perkembangan sistem reproduksi, dan peningkatan massa otot serta tulang. Perubahan ini menciptakan kebutuhan energi dan nutrisi yang meningkat signifikan dibandingkan masa kanak-kanak. Nutrisi menjadi fundamental karena tubuh remaja memerlukan energi lebih tinggi serta zat gizi esensial seperti protein untuk pembentukan jaringan; kalsium dan vitamin D untuk perkembangan tulang; zat besi untuk mencegah anemia; serta mikronutrien lainnya untuk mendukung fungsi imun dan metabolisme. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
Perubahan hormonal pada masa pubertas juga menuntut peningkatan asupan zat gizi tertentu. Misalnya, remaja perempuan yang mengalami menstruasi memerlukan asupan zat besi lebih tinggi untuk menggantikan kehilangan darah, sedangkan laki-laki dalam fase percepatan pertumbuhan membutuhkan energi yang lebih besar untuk membangun massa otot. Kekurangan zat gizi pada fase ini dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan fungsi kognitif, serta kerentanan terhadap penyakit kronik di kemudian hari. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
Perilaku makan remaja sering dipengaruhi oleh faktor sosial seperti pengaruh teman sebaya, media sosial, ketersediaan makanan cepat saji, serta preferensi pribadi yang dapat mengarah pada konsumsi makanan tinggi gula, lemak jenuh, dan rendah serat. Pola makan seperti ini meningkat risiko obesitas sekaligus kekurangan mikronutrien yang berdampak buruk pada kesehatan jangka panjang. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
Tantangan Nutrisi pada Remaja
Remaja saat ini menghadapi tantangan nutrisi yang kompleks dan beragam. Di satu sisi, kekurangan gizi mikro seperti anemia akibat defisiensi zat besi masih prevalen di banyak wilayah, termasuk di negara berpendapatan menengah ke bawah, sementara di sisi lain prevalensi obesitas dan kelebihan berat badan meningkat seiring gaya hidup sedentari dan konsumsi makanan tinggi kalori tetapi rendah nutrisi. Studi di beberapa komunitas menunjukkan tingginya insiden obesitas serta kekurangan gizi dalam satu kelompok remaja yang sama, memperlihatkan “beban ganda malnutrisi.” [Lihat sumber Disini - journal.umpr.ac.id]
Pola makan yang buruk, konsumsi minuman manis, makanan cepat saji, kurangnya konsumsi buah dan sayur, serta rendahnya tingkat aktivitas fisik menjadi faktor risiko utama permasalahan gizi pada remaja. Faktor psikososial seperti tekanan teman sebaya terkait citra tubuh juga dapat mendorong perilaku diet ekstrem yang berdampak pada status gizi tidak seimbang. [Lihat sumber Disini - brieflands.com]
Faktor ekonomi serta akses terhadap makanan sehat juga memainkan peranan penting. Di beberapa wilayah, keterbatasan sumber daya atau biaya dapat membuat remaja dan keluarga memilih opsi makanan murah yang kurang bergizi sehingga memperburuk risiko kekurangan nutrisi maupun obesitas. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Dampak Status Gizi terhadap Kesehatan Remaja
Status gizi yang tidak seimbang berdampak luas pada kesehatan remaja. Kekurangan gizi dapat memperlambat pertumbuhan linear dan perkembangan fisik, menurunkan fungsi sistem imun sehingga meningkatkan risiko infeksi, serta menyebabkan penurunan konsentrasi dan prestasi akademik. Di sisi lain, obesitas pada remaja berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan gangguan metabolik yang berlanjut hingga dewasa. [Lihat sumber Disini - journal.umpr.ac.id]
Kondisi kekurangan zat gizi mikronutrien seperti zat besi juga dapat menyebabkan anemia yang ditandai dengan kelelahan, penurunan produktivitas dan kualitas hidup. Risiko lanjutan termasuk gangguan perkembangan kognitif serta dampak psikologis akibat persepsi citra tubuh negatif. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Status gizi yang optimal tidak hanya mendukung perkembangan fisik tetapi juga fungsi otak, regulasi hormon, dan kesiapan reproduksi sehingga menjadi pondasi kesehatan jangka panjang. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
Penilaian Status Gizi Remaja
Penilaian status gizi remaja biasanya dilakukan melalui metode antropometri seperti Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap umur yang dibandingkan dengan standar WHO serta penilaian komposisi tubuh melalui parameter lain seperti lingkar lengan atas atau ketebalan lipatan kulit. Pengukuran ini membantu mengelompokkan status gizi seperti kurang gizi, normal, atau kelebihan gizi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Selain itu, penilaian asupan makanan melalui recall atau food frequency questionnaires juga memberikan gambaran pola diet dan kesesuaian asupan nutrisi terhadap rekomendasi gizi. Evaluasi perilaku makan, pengetahuan gizi dan gaya hidup turut melengkapi gambaran komprehensif status gizi remaja. [Lihat sumber Disini - auctoresonline.org]
Upaya Pencegahan Masalah Gizi Remaja
Pencegahan masalah gizi pada remaja perlu pendekatan multisektoral, termasuk pendidikan gizi di sekolah untuk meningkatkan literasi nutrisi remaja, kampanye peningkatan konsumsi makanan bergizi seimbang, serta promosi aktivitas fisik aktif untuk mengurangi risiko obesitas. Program intervensi yang melibatkan orang tua dan komunitas terbukti efektif dalam membentuk kebiasaan makan sehat yang berkelanjutan. [Lihat sumber Disini - unicef.org]
Penyediaan lingkungan sekolah yang mendukung, misalnya kantin sekolah dengan pilihan makanan sehat dan pembatasan penjualan makanan bergula tinggi, dapat membantu memperbaiki pola makan remaja. Kebijakan publik yang mendukung akses terhadap makanan bergizi juga penting, terutama di daerah dengan keterbatasan ekonomi. [Lihat sumber Disini - unicef.org]
Upaya lain termasuk skrining gizi berkala di fasilitas kesehatan atau sekolah untuk deteksi dini masalah gizi sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat. Penyuluhan terkait kesehatan mental dan citra tubuh juga diperlukan karena faktor psikologis turut memengaruhi pola makan dan status gizi remaja. [Lihat sumber Disini - brieflands.com]
Kesimpulan
Status gizi remaja merupakan indikator penting yang mencerminkan keseimbangan antara asupan nutrisi dan kebutuhan fisiologis tubuh selama periode pertumbuhan yang pesat. Beragam faktor seperti pola makan, aktivitas fisik, pengetahuan gizi, dan kondisi sosial budaya turut memengaruhi status gizi. Tantangan gizi remaja meliputi beban ganda malnutrisi berupa kekurangan gizi mikro dan kelebihan gizi seperti obesitas. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan fisik tetapi juga psikologis dan fungsi kognitif. Penilaian gizi melalui metode antropometri dan evaluasi asupan makanan menjadi alat penting untuk pemantauan. Upaya pencegahan yang komprehensif melibatkan pendidikan gizi, intervensi kebijakan kesehatan, serta lingkungan sosial yang mendukung pola hidup sehat. Intervensi dini akan berkontribusi pada kualitas hidup dan kesehatan jangka panjang generasi masa depan.