
Pengetahuan Ibu tentang Imunisasi
Pendahuluan
Imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat terpenting untuk mencegah berbagai penyakit menular pada bayi dan anak. Melalui pemberian vaksin secara tepat waktu dan lengkap, anak memperoleh kekebalan terhadap penyakit serius yang bisa menyebabkan morbiditas maupun mortalitas tinggi. Namun keberhasilan program imunisasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan vaksin, peran orang tua, khususnya ibu, dalam memahami pentingnya imunisasi juga sangat vital. Pengetahuan ibu tentang imunisasi dapat memengaruhi tingkat kepatuhan pemberian imunisasi dasar pada anak. Oleh karena itu, memahami aspek-aspek seperti jenis dan jadwal imunisasi, faktor pengetahuan ibu, sumber informasi, serta hambatan dan mitos seputar imunisasi menjadi sangat penting agar cakupan imunisasi optimal tercapai.
Definisi “Imunisasi”
Definisi Imunisasi Secara Umum
Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu penyakit melalui pemberian vaksin. Vaksin tersebut umumnya mengandung antigen yang dilemahkan atau dinonaktifkan agar tubuh merespon dengan membentuk antibodi tanpa menyebabkan penyakit. Tujuan imunisasi adalah agar bila seseorang kelak terpapar patogen penyebab penyakit, tubuh sudah memiliki kekebalan sehingga tidak sakit atau hanya sakit ringan. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
Definisi Imunisasi dalam KBBI
Menurut definisi di kamus besar bahasa Indonesia, imunisasi pada dasarnya merujuk pada tindakan memberikan imunitas, yakni perlindungan terhadap penyakit, melalui vaksinasi. (Catatan: definisi persis dari KBBI dapat dilihat di laman resmi KBBI, dan sesuai dengan pemahaman umum bahwa imunisasi berarti “pemberian vaksin untuk menciptakan kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu”).
Definisi Imunisasi Menurut Para Ahli
-
Menurut Proverawati dalam buku “Imunisasi dan Vaksinasi”, imunisasi adalah program memasukkan antigen lemah agar merangsang antibodi, sehingga tubuh memperoleh resisten terhadap penyakit tertentu. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Menurut berbagai literatur kesehatan masyarakat, imunisasi adalah proses meningkatkan kekebalan tubuh seseorang terhadap penyakit sehingga ketika terpapar, tubuh mampu melawan secara efektif. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Dalam konteks program nasional, imunisasi dasar lengkap mencakup serangkaian vaksin yang diberikan sejak bayi lahir hingga usia tertentu untuk membentuk imunitas awal bagi anak. [Lihat sumber Disini - myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id]
-
Menurut lembaga kesehatan di Indonesia, imunisasi dasar lengkap adalah bagian dari upaya pencegahan penyakit menular pada bayi dan balita, sebagai tanggung jawab kolektif antara sistem kesehatan dan orang tua. [Lihat sumber Disini - diskes.baliprov.go.id]
Jenis dan Jadwal Imunisasi Dasar
Imunisasi dasar merupakan rangkaian vaksin wajib yang diberikan pada bayi sejak lahir hingga usia sekitar 11, 12 bulan. [Lihat sumber Disini - ayosehat.kemkes.go.id]
Beberapa jenis vaksin dasar yang umumnya termasuk dalam imunisasi dasar antara lain: vaksin hepatitis B (HB-0), vaksin BCG (tuberkulosis), vaksin polio, vaksin DPT/HB-HiB (difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, Haemophilus influenzae type B), serta vaksin campak/rubella atau MR. [Lihat sumber Disini - myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id]
Menurut rekomendasi terbaru di Indonesia (2024) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), jadwal imunisasi dasar adalah sebagai rangkaian dari lahir hingga bayi berusia 0, 11 bulan. [Lihat sumber Disini - biofarma.co.id]
Untuk mempertahankan kekebalan, setelah imunisasi dasar sering disarankan imunisasi lanjutan (booster), terutama pada masa balita dan usia sekolah, agar imunitas tetap optimal. [Lihat sumber Disini - ayosehat.kemkes.go.id]
Tingkat Pengetahuan Ibu mengenai Imunisasi
Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan variasi tingkat pengetahuan ibu mengenai imunisasi dasar.
Sebagai contoh, sebuah studi di wilayah kerja Puskesmas Medono (2023) mendapati bahwa sebagian besar ibu memiliki pengetahuan kurang: dari 45 responden, 27 orang (60 %) termasuk kategori “kurang”, 15 (33, 3 %) “cukup”, dan hanya 3 (6, 7 %) “baik”. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Penelitian lain menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu terhadap imunisasi dasar bisa berkorelasi dengan kelengkapan imunisasi anak. Dalam penelitian di Puskesmas Menteng (2024), semakin tinggi pengetahuan ibu, semakin besar potensi anak menerima imunisasi dasar lengkap. [Lihat sumber Disini - journal.umpr.ac.id]
Namun tidak selalu hubungan ini konsisten. Di satu survei di Surabaya (2024), dari 145 ibu, 51, 7 % memiliki “pengetahuan tinggi”; tetapi analisis menunjukkan tidak ada korelasi signifikan antara pengetahuan ibu dengan status imunisasi lengkap anak (p = 0, 127). [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan Ibu
Beberapa faktor yang memengaruhi tingkat pengetahuan ibu terhadap imunisasi antara lain:
-
Pendidikan kesehatan dan penyuluhan: Intervensi seperti penyuluhan dengan media booklet terbukti meningkatkan pengetahuan dan sikap orang tua terhadap imunisasi dasar. [Lihat sumber Disini - ejurnal.akbidsteli.ac.id]
-
Dukungan lingkungan dan keluarga: Studi menunjukkan dukungan keluarga berhubungan dengan kelengkapan status imunisasi dasar. [Lihat sumber Disini - jurnal.syedzasaintika.ac.id]
-
Akses informasi (kesehatan, pelayanan Puskesmas, media cetak/elektronik): Ibu yang memiliki akses lebih mudah ke informasi melalui tenaga kesehatan, brosur, posyandu atau program edukasi cenderung memiliki pengetahuan lebih baik. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Kepercayaan dan sikap terhadap imunisasi: Pengetahuan sering berkaitan dengan sikap; apabila ibu memiliki kepercayaan yang positif terhadap manfaat imunisasi, hal ini dapat memperkuat pemahaman dan kepatuhan. [Lihat sumber Disini - jurnal.fkm.umi.ac.id]
Sumber Informasi tentang Imunisasi
Sumber informasi yang umum menjadi rujukan ibu antara lain:
-
Tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan (puskesmas, klinik, posyandu) melalui penyuluhan langsung. Banyak penelitian menunjukkan bahwa interaksi dengan tenaga kesehatan membantu memperbaiki pengetahuan ibu. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbaptis.ac.id]
-
Media cetak seperti booklet, brosur, poster, yang sering digunakan dalam kampanye imunisasi. Penggunaan media booklet terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap orang tua. [Lihat sumber Disini - ejurnal.akbidsteli.ac.id]
-
Media massa atau informasi publik (internet, situs kesehatan, kampanye pemerintah). Dalam era digital, akses informasi online memudahkan ibu mendapatkan pengetahuan soal imunisasi (jenis, manfaat, jadwal).
-
Peer group / komunitas (keluarga, teman, ibu lainnya): pengalaman dan rekomendasi dari ibu lain atau keluarga kadang mempengaruhi keputusan untuk imunisasi.
Dampak Pengetahuan terhadap Kepatuhan Imunisasi Anak
Pengetahuan ibu yang baik terkait imunisasi dasar umumnya dikaitkan dengan tingkat kepatuhan yang lebih tinggi dalam melengkapi imunisasi anak.
Contoh: studi di Puskesmas Masbagik Baru (2025) menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar dengan keikutsertaan imunisasi dasar bayi (p = 0, 029). [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesnh.ac.id]
Begitu pula penelitian yang mengaitkan pengetahuan ibu dan kelengkapan imunisasi dasar dengan kejadian stunting pada batita, implying imunisasi sebagai bagian dari intervensi gizi dan kesehatan anak. [Lihat sumber Disini - ejurnal.kampusakademik.co.id]
Namun, ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan ibu tinggi, tidak selalu imunisasi anak lengkap. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lain (akses layanan, sikap, dukungan keluarga, persepsi risiko, logistik) juga berperan. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Hambatan dan Mitos Seputar Imunisasi
Beberapa hambatan dan mitos yang sering muncul terkait imunisasi antara lain:
-
Kekurangan pengetahuan atau pemahaman ibu tentang manfaat, jenis, dan jadwal imunisasi → menyebabkan ibu menunda atau menolak imunisasi.
-
Persepsi negatif atau ketakutan terhadap efek samping vaksin (misalnya demam, rewel, efek samping jangka panjang), meskipun bukti ilmiah menunjukkan bahwa manfaat jauh lebih besar daripada risiko.
-
Mitos dan informasi keliru di masyarakat (misalnya vaksin menyebabkan penyakit, “anak sehat tidak perlu imunisasi”, atau vaksin bisa “berbahaya”) → ini bisa menurunkan kepercayaan dan komitmen terhadap imunisasi.
-
Akses ke fasilitas kesehatan atau layanan imunisasi yang terbatas, bisa karena jarak, biaya, waktu, atau kurangnya informasi → ini membuat ibu kesulitan membawa anak untuk imunisasi.
-
Kurangnya dukungan keluarga atau lingkungan: jika suami, orang tua, mertua, atau komunitas tidak mendukung imunisasi, ibu cenderung enggan melanjutkan vaksinasi.
Peran Tenaga Kesehatan dalam Edukasi Imunisasi
Tenaga kesehatan, bidan, dokter, petugas posyandu, kader kesehatan, memainkan peran kunci dalam edukasi imunisasi.
-
Memberikan informasi yang tepat dan akurat mengenai manfaat, jenis, jadwal, dan keamanan vaksin kepada ibu dan keluarga.
-
Menyediakan media edukasi: booklet, brosur, leaflet, poster untuk membantu ibu memahami imunisasi secara mandiri. Studi menunjukkan bahwa media booklet efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu terhadap imunisasi. [Lihat sumber Disini - ejurnal.akbidsteli.ac.id]
-
Melaksanakan penyuluhan secara rutin di posyandu, puskesmas, serta melalui kunjungan rumah, terutama di area dengan cakupan imunisasi rendah. Hal ini membantu menjangkau ibu yang belum memiliki informasi memadai.
-
Memberi dukungan dan memfasilitasi akses imunisasi: misalnya mengingatkan jadwal vaksin, membantu ibu dalam proses imunisasi, serta memberikan jawaban atas kekhawatiran atau mitos yang berkembang.
-
Bekerja sama dengan komunitas dan keluarga untuk membangun kepercayaan terhadap imunisasi, serta mendukung ibu untuk melengkapi imunisasi anak.
Kesimpulan
Pengetahuan ibu tentang imunisasi, terutama imunisasi dasar, memiliki peran penting dalam menentukan apakah anak mendapat vaksin lengkap dan tepat waktu. Imunisasi dasar mencakup serangkaian vaksin sejak lahir hingga usia bayi sekitar 0, 11 bulan, dengan tujuan membangun kekebalan terhadap penyakit menular. Berbagai faktor memengaruhi tingkat pengetahuan ibu, termasuk pendidikan kesehatan, akses informasi, dukungan keluarga, dan interaksi dengan tenaga kesehatan. Sumber informasi seperti penyuluhan oleh tenaga kesehatan, media cetak, serta edukasi komunitas terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan. Meskipun pengetahuan yang baik cenderung berasosiasi dengan kepatuhan imunisasi, tidak semua kasus demikian, hambatan seperti mitos, akses layanan, dan sikap juga dapat menghalanginya. Oleh karena itu, peran tenaga kesehatan dalam edukasi, penyuluhan, dan fasilitasi imunisasi menjadi sangat krusial untuk meningkatkan cakupan imunisasi dasar di masyarakat.