
Pengetahuan Ibu tentang Kesehatan Balita
Pendahuluan
Masih tingginya angka masalah kesehatan pada balita, seperti stunting, kurang gizi, dan gangguan perkembangan, telah menjadi fokus penting dalam kesehatan masyarakat di Indonesia. Masa balita, anak usia 0 hingga 59 bulan, merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat, yang menjadi fondasi utama bagi kesehatan fisik, mental, dan sosial sepanjang hidup seseorang. Pada fase tersebut, nutrisi, pola asuh, pemantauan kesehatan, dan stimulasi perkembangan harus dipenuhi dengan baik untuk mencegah dampak jangka panjang seperti gangguan pertumbuhan otak, gangguan imunitas, bahkan hambatan prestasi sekolah di masa depan. WHO memandang masa balita sebagai masa krusial, karena pemenuhan gizi dan perawatan pada periode ini memiliki pengaruh besar terhadap kualitas hidup anak hingga dewasa nanti. [Lihat sumber Disini - perpus-utama.poltekkes-malang.ac.id]
Namun, keberhasilan praktik perawatan balita tidak lepas dari pengetahuan ibu sebagai pengasuh utama. Pengetahuan yang dimiliki ibu akan menentukan kemampuan memilih pola makan sehat, pengaturan imunisasi, pemantauan tumbuh kembang, serta perilaku perawatan lainnya. Banyak studi menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat pengetahuan lebih baik cenderung mampu menerapkan pola asuh yang lebih tepat sehingga berdampak positif pada status kesehatan balitanya. [Lihat sumber Disini - ojs3.poltekkes-mks.ac.id]
Definisi Pengetahuan Ibu tentang Kesehatan Balita
Definisi Pengetahuan secara Umum
Pengetahuan merupakan hasil dari proses pengindraan dan pemahaman seseorang terhadap suatu objek tertentu melalui pengalaman, pendidikan, atau informasi yang diperoleh dari lingkungan sosial. Dalam konteks psikologi dan kesehatan masyarakat, pengetahuan mencakup kemampuan mengenali, mengingat, memahami, serta menerapkan informasi yang relevan terhadap situasi nyata di kehidupan sehari-hari. [Lihat sumber Disini - repository.bku.ac.id]
Pengetahuan tidak sekadar mengetahui, tetapi juga mencakup keterampilan berpikir dan pemahaman yang menjadi landasan bagi keputusan yang diambil seseorang dalam kehidupan, terutama dalam soal kesehatan dan pola hidup. Dengan pengetahuan yang memadai, seseorang akan lebih mampu menghadapi tantangan, termasuk dalam merawat dan menjaga kesehatan balita. [Lihat sumber Disini - repository.stikespantiwaluya.ac.id]
Definisi Pengetahuan dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengetahuan adalah segala hal yang diketahui atau informasi yang dipahami seseorang tentang sesuatu objek atau keadaan tertentu. Istilah ini mencakup akumulasi fakta, prinsip, dan pemahaman yang menjadi dasar seseorang bertindak atau bereaksi terhadap situasi tertentu. (Catatan: definisi KBBI diambil dari rujukan resmi KBBI online, sumber KBBI langsung boleh dilampirkan bila disertakan dalam artikel final).
Definisi Pengetahuan Menurut Para Ahli
-
Notoatmodjo (2018) menyatakan bahwa pengetahuan adalah hasil dari pengindraan melalui panca indra yang kemudian diproses dalam pikiran manusia, sehingga membentuk landasan kognitif yang menentukan sikap dan tindakan seseorang, termasuk dalam konteks kesehatan. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-denpasar.ac.id]
-
Widyawati (2020) menggambarkan pengetahuan sebagai kemampuan individu untuk mengenal, memahami, dan menjelaskan suatu objek secara sadar, di mana hal ini menjadi kebutuhan dasar sebelum seseorang mampu mengambil keputusan yang tepat. [Lihat sumber Disini - repository.bku.ac.id]
-
Soekanto (2003) memandang pengetahuan sebagai kumpulan informasi dan pengalaman yang dimiliki individu yang dapat memengaruhi perspektif, nilai, dan perilaku dalam menerima suatu situasi atau masalah, termasuk dalam memahami kesehatan balita. [Lihat sumber Disini - eprints.uny.ac.id]
-
Departemen Pendidikan Nasional (2008) mendefinisikan pengetahuan sebagai apa saja yang diketahui seseorang tentang hal tertentu, termasuk mencakup fakta, konsep, dan prinsip yang menjadi landasan pemikiran yang digunakan dalam praktik nyata. [Lihat sumber Disini - eprints.uny.ac.id]
Konsep Kesehatan Balita
Kesehatan balita tidak hanya dipahami sebagai tidak sakit, tetapi mencakup status gizi seimbang, pertumbuhan optimal, perkembangan kognitif dan motorik sesuai usia, serta ketahanan terhadap penyakit. Masa balita adalah fase awal kehidupan anak di mana pertumbuhan fisik dan perkembangan mental berjalan pesat, sehingga kebutuhan nutrisi, stimulasi perkembangan, imunisasi lengkap, serta pola hidup sehat menjadi faktor penting yang harus terpenuhi. [Lihat sumber Disini - perpus-utama.poltekkes-malang.ac.id]
Balita dengan status kesehatan baik umumnya memiliki berat badan dan tinggi badan yang sesuai standar, kemampuan sosial-emosional yang berkembang, serta adaptasi terhadap lingkungan yang tepat waktu, yang menjadi tolak ukur perkembangan optimal fase ini. Menjaga kesehatan balita juga melibatkan aspek lingkungan yang bersih, akses terhadap layanan kesehatan preventif, serta edukasi orang tua atau pengasuh untuk memantau indikator pertumbuhan dan perkembangan anak secara berkala. [Lihat sumber Disini - ayosehat.kemkes.go.id]
Tingkat Pengetahuan Ibu
Tingkat pengetahuan ibu dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, seperti baik, cukup, dan kurang, dan sangat berkaitan dengan kemampuan mereka untuk memahami dan menerapkan informasi tentang kesehatan balita dalam praktik sehari-hari. Banyak penelitian menunjukkan variasi tingkat pengetahuan ibu terkait kesehatan anak, misalnya sebagian ibu menunjukkan pengetahuan cukup tentang gizi dan perilaku makan balita, namun masih ada kelompok yang memiliki pengetahuan kurang sehingga praktik perawatannya kurang optimal. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbch.ac.id]
Ibu yang memiliki pengetahuan tinggi tentang kesehatan balita biasanya mengetahui prinsip pemberian makanan bergizi, pentingnya imunisasi, praktik kebersihan untuk mencegah infeksi, serta tanda-tanda dini gangguan kesehatan yang perlu ditindaklanjuti di fasilitas kesehatan. Sebaliknya, ibu dengan pengetahuan rendah sering kali kesulitan menerapkan pola makan seimbang, pemantauan tumbuh kembang yang tepat, serta respon cepat terhadap gangguan kesehatan. [Lihat sumber Disini - ojs3.poltekkes-mks.ac.id]
Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Pengetahuan ibu tidak muncul begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal, termasuk:
1. Pendidikan Formal
Ibu dengan pendidikan formal yang lebih tinggi cenderung memiliki akses lebih baik terhadap informasi kesehatan, memahami materi kesehatan lebih cepat, serta memiliki keterampilan berpikir yang lebih baik sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat mengenai perawatan balita. [Lihat sumber Disini - jurnal.pabki.org]
2. Akses Informasi dan Edukasi Kesehatan
Akses terhadap media edukasi, penyuluhan dari tenaga kesehatan, atau sumber informasi yang terpercaya berperan besar dalam meningkatkan pengetahuan ibu terkait pola makan sehat, imunisasi, dan tanda-tanda masalah kesehatan lainnya. Banyak studi menemukan bahwa penyuluhan gizi dan kesehatan mampu meningkatkan pemahaman ibu secara signifikan. [Lihat sumber Disini - perpustakaan.poltekkes-malang.ac.id]
3. Lingkungan Sosial dan Budaya
Lingkungan sosial tempat ibu tinggal, norma budaya tentang pola asuh anak, dan dukungan keluarga turut memengaruhi seberapa cepat seorang ibu menerima dan menerapkan informasi kesehatan balita dalam kehidupan sehari-hari.
4. Pengalaman Pribadi
Ibu yang pernah mengalami atau melihat kasus kesehatan pada anak atau balita sering kali lebih cepat memahami pentingnya perawatan yang tepat dan responsif, yang kemudian meningkatkan pengetahuannya terhadap isu-isu kesehatan anak.
Hubungan Pengetahuan dengan Praktik Perawatan
Banyak penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara pengetahuan ibu dengan praktik perawatan balita yang benar. Contohnya:
-
Studi di Desa Adisara menemukan bahwa ibu dengan pengetahuan cukup memiliki hubungan positif yang sangat kuat dengan perilaku makan balita yang baik, yang berdampak pada status gizi anak. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbch.ac.id]
-
Penelitian lain menyatakan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan baik tentang kesehatan balita lebih cenderung menerapkan pola pemberian makan yang bergizi, imunisasi lengkap, serta kebersihan lingkungan yang baik, yang semuanya merupakan indikator praktik perawatan balita yang baik. [Lihat sumber Disini - ojs3.poltekkes-mks.ac.id]
Dengan demikian, pengetahuan bukan hanya informasi pasif, tetapi menjadi dasar perilaku dan keterampilan nyata yang menentukan bagaimana ibu merawat balitanya sehari-hari.
Dampak Pengetahuan terhadap Status Kesehatan Balita
Pengetahuan ibu tidak hanya berdampak pada praktik perawatan saja, tetapi juga pada status kesehatan balita secara keseluruhan. Penelitian di Puskesmas Rantau Panjang Jambi menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu memiliki pengaruh signifikan terhadap status kesehatan balita, di mana ibu dengan pengetahuan baik memiliki kontribusi yang lebih tinggi terhadap balita yang sehat dibandingkan ibu dengan pengetahuan cukup. [Lihat sumber Disini - jurnal.pabki.org]
Secara spesifik, penelitian tersebut menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan baik terhadap kesehatan balita memiliki balita dengan status kesehatan yang sehat dalam persentase lebih tinggi dibanding ibu dengan pengetahuan cukup, menunjukkan bahwa pengetahuan mampu menjelaskan lebih dari 40β% variasi kesehatan balita dalam studi tersebut. [Lihat sumber Disini - jurnal.pabki.org]
Selain itu, pemahaman yang baik juga berkaitan dengan penurunan risiko masalah seperti stunting, kurang gizi, dan penyakit infeksi yang berhubungan dengan pola asuh. Ibu yang mengetahui pentingnya pola makan sehat, jadwal imunisasi lengkap, serta praktik kebersihan yang benar cenderung mampu mencegah masalah-masalah tersebut dari awal. [Lihat sumber Disini - ojs3.poltekkes-mks.ac.id]
Kesimpulan
Pengetahuan ibu tentang kesehatan balita merupakan faktor fundamental dalam menentukan kualitas perawatan, praktik pola hidup sehat, dan status kesehatan balita secara keseluruhan. Pengetahuan yang baik mencakup kemampuan memahami informasi kesehatan, menerapkannya dalam praktik pemberian makanan bergizi, imunisasi, pemantauan tumbuh kembang, serta kebersihan lingkungan. Faktor-faktor seperti pendidikan formal, akses informasi kesehatan, pengalaman pribadi, dan lingkungan sosial turut memengaruhi tingkat pengetahuan seorang ibu. Berbagai penelitian ilmiah menunjukkan hubungan kuat antara tingkat pengetahuan ibu dengan praktik perawatan balita yang tepat dan dampaknya pada status kesehatan balita itu sendiri. Pengetahuan ibu yang baik secara konsisten dikaitkan dengan balita yang sehat, pola makan yang baik, dan kemampuan ibu dalam menangani masalah kesehatan secara dini, yang semuanya merupakan pondasi penting dalam meningkatkan kualitas hidup anak di masa depan dan memutus rantai masalah kesehatan di tingkat keluarga maupun masyarakat.