
Teori Pengetahuan: Perspektif Kritis dan Modern
Pendahuluan
Pengetahuan adalah fondasi dari seluruh aktivitas intelektual manusia, mulai dari sains, filsafat, hingga kehidupan sosial sehari-hari. Namun, sebelum kita mengklaim bahwa kita “tahu”, penting untuk mempertanyakan: apa sebenarnya arti dari “tahu”? Bagaimana pengetahuan diperoleh, divalidasi, dan dibatasi? Inilah ruang kajian dari teori pengetahuan atau epistemologi. Dengan memahami epistemologi secara kritis dan modern, kita mampu menyikapi pengetahuan tidak sekadar sebagai kumpulan fakta, melainkan sebagai suatu proses reflektif yang terus menerus diuji. Artikel ini akan menguraikan pengertian epistemologi, membandingkan perspektif tradisional dan modern, mengeksplorasi kritik terhadap proses pengetahuan, serta menunjukkan relevansi teori pengetahuan di era kontemporer melalui kajian dalam ilmu sosial.
Definisi Epistemologi
Definisi Epistemologi Secara Umum
Epistemologi, atau teori pengetahuan, adalah cabang filsafat yang membahas hakikat, asal-usul, serta batas-batas pengetahuan. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]
Epistemologi memperhatikan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan, melalui sumber apa, dengan metode apa, serta sejauh mana pengetahuan itu dapat dianggap sahih dan benar. [Lihat sumber Disini - ejournal.uncm.ac.id]
Definisi Epistemologi dalam KBBI
Menurut definisi dari sumber populer (referensi terhadap penggunaan umum), epistemologi diartikan sebagai cabang ilmu filsafat yang membahas dasar-dasar maupun batas pengetahuan. [Lihat sumber Disini - detik.com]
Artinya, secara terminologis, epistemologi bukan sekadar kumpulan pengetahuan, melainkan studi sistematis mengenai bagaimana, dari mana, dan sampai di mana manusia dapat mengklaim “tahu”. [Lihat sumber Disini - jurnalfuda.iainkediri.ac.id]
Definisi Epistemologi Menurut Para Ahli
Beberapa definisi dari para ahli:
-
Dalam artikel “Epistemologi: Teori, Konsep dan Sumber-sumber Ilmu dalam Tradisi Islam”, disebut bahwa epistemologi adalah disiplin yang menyelidiki sumber, kaedah, proses, dan batasan pengetahuan sehingga mengarah pada pemahaman tentang kebenaran. [Lihat sumber Disini - ojs.diniyah.ac.id]
-
Pada artikel “Epistemologi Ilmu Pengetahuan: Landasan Filsafat dalam Pengembangan Pengetahuan”, epistemologi dipahami sebagai pondasi bagi perkembangan ilmu, mengatur metode dan validitas pengetahuan ilmiah. [Lihat sumber Disini - ejurnal.unikarta.ac.id]
-
Menurut kajian “Teori Pengetahuan dan Kebenaran dalam Epistemologi”, epistemologi menentukan karakter pengetahuan dan menetapkan kriteria mana kebenaran yang pantas diterima sebagai pengetahuan. [Lihat sumber Disini - ejournal.undiksha.ac.id]
-
Dalam “Konstruksi Epistemologi Ilmu Pengetahuan” (2024), dijelaskan epistemologi sebagai upaya memahami sifat, sumber, dan batas pengetahuan, termasuk dalam konteks ilmu pengetahuan modern. [Lihat sumber Disini - ejournal.uncm.ac.id]
Dengan demikian, epistemologi dapat dilihat sebagai studi teoretis yang mendalam mengenai hakikat pengetahuan, bukan sekadar pengetahuan itu sendiri, namun bagaimana manusia sampai pada pengetahuan, mengujinya, dan menjamin validitasnya.
Perspektif Tradisional vs Modern dalam Pengetahuan
Perspektif Tradisional
Dalam pandangan tradisional, epistemologi sering dikaitkan dengan asumsi bahwa pengetahuan bersifat mutlak, objektif, dan universal. Hal ini tercermin dari definisi klasik yang menekankan bahwa pengetahuan harus berdasarkan akal, pengalaman inderawi, dan (tergantung tradisi) wahyu atau otoritas tertentu. [Lihat sumber Disini - ojs.diniyah.ac.id]
Misalnya dalam konteks tradisi Islam, epistemologi bisa mencakup sumber-sumber pengetahuan seperti wahyu (naqliyyah) dan akal (aqliyyah), memberi ruang bagi metafisika dan keyakinan, bukan hanya observasi inderawi. [Lihat sumber Disini - ojs.diniyah.ac.id]
Dalam kerangka ini, pengetahuan dianggap sebagai cerminan kebenaran hakiki, kebenaran yang bersifat tetap, melekat, dan tidak tergantung pada konteks perubahan zaman.
Perspektif Modern
Dengan berkembangnya sains, metode empiris, dan filsafat modern, epistemologi turut mengalami pergeseran. Sebagai pondasi bagi ilmu pengetahuan modern, epistemologi sekarang menekankan pentingnya metode, verifikasi, dan validitas empiris. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
Dalam kerangka modern, pengetahuan tidak lagi dilihat semata sebagai warisan tradisi atau otoritas, melainkan sebagai hasil proses sistematis: observasi, eksperimen, analisis, dan refleksi kritis. [Lihat sumber Disini - ejournal.sembilanpemuda.id]
Dengan demikian, pengetahuan mengandung syarat: kejelasan metode, keterbukaan terhadap koreksi, dan validitas berdasarkan bukti serta argumentasi rasional.
Pandangan Kritis terhadap Proses Pengetahuan
Kritik atas Asumsi Objektivitas dan Mutlak
Salah satu kritik utama terhadap epistemologi tradisional dan modern adalah bahwa pengetahuan tidak selalu bersifat objektif atau mutlak. Kadang klaim pengetahuan dibentuk oleh kepentingan, bias, atau struktur sosial tertentu, sehingga “kebenaran” bisa bersifat relatif. [Lihat sumber Disini - jurnalfuda.iainkediri.ac.id]
Misalnya dalam kajian kontemporer disebut bahwa tidak ada pengetahuan yang benar-benar “bebas nilai”: mulai dari pilihan topik, metode, hingga interpretasi hasil penelitian, seringkali dipengaruhi oleh tujuan, ideologi, atau kepentingan tertentu. [Lihat sumber Disini - jurnalfuda.iainkediri.ac.id]
Pentingnya Kritisisme, Skeptisisme, dan Verifikasi
Dengan pendekatan kritis, epistemologi menuntut agar klaim pengetahuan selalu dibuka untuk dipertanyakan, diuji, dan direvisi. Ini penting agar pengetahuan tidak stagnan, serta selalu relevan dengan perkembangan zaman. Sebagai contoh, epistemologi modern dalam ilmu pengetahuan mengombinasikan rasionalisme dan empirisme untuk menghasilkan pengetahuan yang valid, logis, dan empiris. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
Kritik epistemologis juga membuka ruang bagi pluralitas metode dan sumber pengetahuan: tidak hanya indera atau akal, tetapi juga pengalaman sosial, kontekstual, dan historis. Hal ini penting terutama dalam kajian ilmu sosial di mana pengetahuan bersifat kontekstual.
Kontribusi Pemikir Modern dalam Epistemologi
Pergeseran ke Filsafat Ilmu dan Validitas Ilmiah
Artikel “Epistemologi Ilmu: Landasan Filsafat dalam Pengembangan Pengetahuan” (2025) menunjukkan bagaimana epistemologi modern telah menjadi pijakan penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan di berbagai disiplin. [Lihat sumber Disini - ejournal.sembilanpemuda.id]
Dengan demikian, epistemologi tidak lagi hanya menjadi bagian abstrak filsafat, tetapi menjadi landasan metodologis bagi penelitian ilmiah, pendidikan, dan pemahaman sosial.
Penyempurnaan Konsep Kebenaran dan Justifikasi
Melalui kajian modern, epistemologi modern telah mengembangkan konsep bahwa pengetahuan harus disertai justifikasi, bukan hanya percaya bahwa sesuatu itu “benar”, tapi memiliki dasar, bukti, dan argumentasi yang kuat. [Lihat sumber Disini - ejournal.undiksha.ac.id]
Dengan demikian epistemologi modern membantu memisahkan antara pengetahuan yang sahih (justified belief) dan hanya kepercayaan atau opini yang tidak teruji.
Perluasan Sumber dan Metode Pengetahuan
Epistemologi modern dan kontemporer memungkinkan integrasi berbagai pendekatan: empirisme, rasionalisme, konstruktivisme, hingga interpretasi sosial-kultural, sehingga pendekatan terhadap pengetahuan menjadi lebih beragam dan kontekstual. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
Hubungan Pengetahuan, Kekuasaan, dan Interpretasi
Epistemologi tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan politik. Pengetahuan sering kali menjadi instrumen kekuasaan, siapa yang mengklaim tahu, siapa yang dianggap “berilmu”, sering menentukan legitimasi dalam masyarakat. Kritik epistemologis menekankan bahwa klaim pengetahuan perlu dibuka untuk analisis kekuasaan, bias, dominasi interpretatif. Hal ini penting agar pengetahuan tidak menjadi alat penindasan, melainkan sarana emansipasi.
Selain itu, dalam ilmu sosial contohnya, struktur sosial, budaya, dan ideologi memengaruhi cara kita melihat realitas, sehingga pengetahuan bukan semata “cermin realitas”, tetapi hasil interpretasi kontekstual. Oleh karena itu epistemologi modern/kritis menyadari bahwa kebenaran bisa bersifat relatif terhadap konteks, dan interpretasi selalu dipengaruhi oleh posisi sosial.
Tantangan Teori Pengetahuan pada Era Kontemporer
-
Relativisme dan Fragmentasi: Dengan semakin banyak perspektif, metode, dan interpretasi, muncul risiko fragmentasi pengetahuan; sulit mencapai konsensus tentang “kebenaran”.
-
Komersialisasi dan Teknisasi Ilmu: Di era sains terapan dan teknologi, pengetahuan bisa dipersempit menjadi utilitarian (apa yang bisa dipakai), mengabaikan aspek reflektif, sehingga epistemologi filosofis terpinggir.
-
Bias Sosial, Politik, dan Kultural: Pengetahuan tetap dipengaruhi kekuasaan, hegemonik, sehingga klaim “ilmiah” bisa menyembunyikan dominasi ideologi tertentu.
-
Overload Informasi dan Disinformasi: di dunia modern/ digital: ledakan informasi membuat sulit memverifikasi kebenaran, memisahkan fakta, opini, hoaks, epistemologi kritis lebih dibutuhkan dari sebelumnya.
-
Krisis Epistemik dalam Ilmu Sosial & Humaniora: Ketika realitas sosial berubah cepat, paradigma lama bisa jadi tidak relevan, diperlukan fleksibilitas epistemologis yang bisa menangkap dinamika baru.
Contoh Kajian Pengetahuan dalam Ilmu Sosial
Dalam konteks pendidikan, misalnya artikel “Teori Pengetahuan dalam Pendidikan” (2025) menunjukkan bahwa pemahaman epistemologi memungkinkan guru/peneliti memformulasikan strategi pembelajaran sesuai bagaimana siswa memperoleh pengetahuan, bukan sekadar transfer fakta, tapi membangun pengetahuan secara kritis dan kontekstual. [Lihat sumber Disini - ejournal.sembilanpemuda.id]
Dalam penelitian sosial, epistemologi modern membantu menilai metode penelitian, apakah data diperoleh melalui observasi, wawancara, pengalaman sosial, serta bagaimana interpretasi dilakukan, siapa yang “bersuara”, dan bagaimana kuasa memengaruhi validitas pengetahuan.
Kesimpulan
Epistemologi, teori pengetahuan, bukan sekadar istilah abstrak, melainkan fondasi penting bagi seluruh usaha manusia dalam memahami dunia. Dari pengertian tradisional hingga modern, dari klaim mutlak ke pengetahuan yang dikontekskan secara kritis, epistemologi mengajak kita untuk terus merefleksikan: bagaimana kita “tahu”, dan mengapa kita percaya suatu hal sebagai kebenaran. Dalam era kontemporer yang penuh kompleksitas, sosial, kultural, teknologi, pendekatan epistemologis kritis dan modern menjadi semakin relevan. Dengan demikian, pemahaman epistemologi bukan hanya penting bagi filsafat atau ilmu pengetahuan semata, melainkan juga bagi siapa pun yang peduli pada keadilan, pengetahuan yang sahih, dan pemahaman dunia yang mendalam.