
Sikap Ibu terhadap Vaksinasi
Pendahuluan
Vaksinasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif dalam pencegahan penyakit menular, baik pada bayi, anak, maupun kelompok rentan seperti ibu hamil. Keberhasilan program imunisasi sangat dipengaruhi oleh penerimaan dan sikap ibu sebagai pihak utama dalam mengambil keputusan pemberian vaksin bagi diri sendiri maupun anak. Oleh karena itu, memahami bagaimana sikap ibu terhadap vaksinasi, serta faktor-faktor yang mempengaruhi sikap tersebut, menjadi sangat penting, terutama di konteks Indonesia. Artikel ini bertujuan mengulas “Sikap Ibu terhadap Vaksinasi”: tingkat penerimaan, faktor-faktor yang mempengaruhi, pengaruh pengetahuan, mitos/mispersepsi, peran tenaga kesehatan, dukungan keluarga, serta implikasi sikap terhadap kepatuhan imunisasi anak.
Definisi Sikap Ibu terhadap Vaksinasi
Definisi Secara Umum
Sikap ibu terhadap vaksinasi merujuk pada pandangan, kepercayaan, dan kecenderungan emosi serta niat ibu dalam menerima atau menolak vaksin bagi dirinya sendiri atau anaknya. Sikap ini bisa positif (mendukung, percaya, bersedia) atau negatif (ragu, curiga, menolak) tergantung pada berbagai faktor sosial, budaya, ekonomi, dan pengetahuan.
Definisi dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “sikap” diartikan sebagai “cara pandang, perasaan, atau kecenderungan seseorang terhadap sesuatu berdasarkan penilaian dan pengalaman”. Dalam konteks vaksinasi, maka “sikap ibu terhadap vaksinasi” adalah kecenderungan emosional dan kognitif ibu terhadap program imunisasi.
Definisi Menurut Para Ahli
-
Menurut penelitian oleh Jurnal Kesehatan Jompa (2025), sikap ibu diartikan sebagai respons psikologis dan sosial yang mempengaruhi keputusan pemberian vaksin booster campak. [Lihat sumber Disini - jurnal.jomparnd.com]
-
Jurnal Farmasi Komunitas (2024) mendefinisikan sikap ibu terhadap vaksinasi sebagai kecenderungan menerima vaksin berdasarkan tingkat pengetahuan dan persepsi risiko serta manfaat. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Dalam penelitian dari Jurnal Penelitian Ilmu Wanita dan Parenting (2024), sikap ibu diartikan sebagai pandangan dan kepercayaan ibu terhadap keamanan, efektivitas, dan kebutuhan vaksin bagi anaknya. [Lihat sumber Disini - ejournal.upnvj.ac.id]
-
Studi di Jurnal Women’s Health and Midwifepreneurship (2025) menekankan bahwa sikap ibu hamil terhadap vaksinasi COVID-19 mencerminkan penerimaan dan keputusan untuk divaksin, dipengaruhi pengetahuan dan persepsi risiko. [Lihat sumber Disini - jurnal.satyaterrabhinneka.ac.id]
Dengan demikian, “sikap ibu terhadap vaksinasi” merupakan kombinasi antara aspek kognitif (pengetahuan, persepsi), emosional (kepercayaan, kekhawatiran), dan niat/keputusan yang mempengaruhi perilaku vaksinasi.
Tingkat Penerimaan Ibu terhadap Vaksinasi
Berbagai studi di Indonesia menunjukkan variasi dalam tingkat penerimaan ibu terhadap vaksinasi, tergantung jenis vaksin, kelompok target (bayi, anak, ibu hamil), dan konteks lokal.
Sebagai contoh:
-
Pada penelitian di Jawa Timur terhadap wanita hamil, 97, 8% responden telah divaksin COVID-19. Hasil menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu, maka semakin besar kemungkinan menerima vaksinasi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Namun, penelitian di wilayah Aceh Selatan (2025) tentang imunisasi booster campak menunjukkan bahwa meskipun banyak ibu memiliki sikap positif, masih ada keraguan, sebagian ibu menolak vaksin booster karena kekhawatiran efek samping dan masalah kehalalan. [Lihat sumber Disini - jurnal.jomparnd.com]
-
Pada penelitian di wilayah kerja pusat kesehatan, 62, 2% bayi mendapatkan imunisasi lengkap. Analisis menunjukkan bahwa pengetahuan, sikap, kepercayaan, dan dukungan keluarga berhubungan signifikan dengan kelengkapan imunisasi. [Lihat sumber Disini - newinera.com]
-
Dalam survei pada 320 ibu (2024), 96, 6% mendukung kebutuhan vaksin, tetapi 7, 8% menunjukkan keraguan (vaccine hesitancy) dan 1, 6% menolak sama sekali. Mayoritas mendukung vaksin sebagai kebutuhan, namun sebagian kecil masih menolak atau ragu. [Lihat sumber Disini - ejournal.upnvj.ac.id]
Data-data ini memperlihatkan bahwa meskipun secara umum ada penerimaan luas, tetap terdapat kelompok ibu yang ragu atau menolak, menunjukkan pentingnya pemahaman terhadap faktor determinan sikap.
Faktor yang Mempengaruhi Sikap Ibu
Beberapa faktor utama mempengaruhi sikap ibu terhadap vaksinasi:
-
Pengetahuan, Ibu dengan pengetahuan baik tentang vaksin dan manfaatnya cenderung memiliki sikap positif. Sebaliknya, kurangnya informasi atau miskonsepsi dapat menyebabkan keraguan atau penolakan. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Pendidikan, Tingkat pendidikan ibu berpengaruh: pendidikan yang lebih tinggi umumnya berkorelasi dengan sikap lebih mendukung vaksinasi. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]
-
Kepercayaan & Persepsi Risiko, Persepsi terhadap keamanan, efektivitas, dan risiko vaksin memengaruhi sikap. Jika ibu merasa vaksin aman dan bermanfaat → cenderung menerima; jika khawatir efek samping, kurang percaya, bisa menolak. [Lihat sumber Disini - publikasi.dinus.ac.id]
-
Informasi & Media / Komunikasi Kesehatan, Sumber informasi (tenaga kesehatan, media, peer group) mempengaruhi kepercayaan. Ibu yang mendapat edukasi baik lebih mendukung vaksinasi. [Lihat sumber Disini - journals.sagepub.com]
-
Dukungan Keluarga & Demografi Rumah Tangga, Keputusan vaksinasi sering dipengaruhi oleh anggota keluarga lain, terutama suami/ayah. Jika ada dukungan keluarga → lebih mungkin menerima vaksin. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id]
-
Kemudahan Akses & Sistem Imunisasi, Meskipun tidak selalu signifikan secara statistik, faktor akses layanan, jadwal imunisasi, dan kemudahan mendapatkan vaksin bisa mempengaruhi keputusan. Dalam satu studi, infrastruktur dan biaya bukan faktor signifikan, tetapi aspek sosial seperti dukungan dan keyakinan sangat memengaruhi. [Lihat sumber Disini - newinera.com]
Pengaruh Pengetahuan terhadap Sikap Vaksinasi
Pengetahuan sering dianggap kunci dalam membentuk sikap. Bukti dari berbagai studi mendukung hal ini:
-
Penelitian di Jawa Timur menunjukkan bahwa ibu hamil dengan pengetahuan baik lebih cenderung menerima vaksin COVID-19 (p = 0, 019; r = 0, 243) dibandingkan mereka dengan pengetahuan rendah. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Studi di Aceh Selatan terkait imunisasi campak lanjutan menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap ibu secara bersama-sama berhubungan signifikan dengan penerimaan vaksin (OR tinggi). [Lihat sumber Disini - jurnal.jomparnd.com]
-
Penelitian di wilayah kesehatan lain menemukan bahwa meskipun sebagian besar ibu mendukung vaksinasi, 33, 1% dari mereka yang menolak atau belum vaksin menyebut “kurang pengetahuan” sebagai alasan utama. [Lihat sumber Disini - ejournal.upnvj.ac.id]
-
Namun ada juga temuan yang menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak selalu cukup: sebuah studi pada ibu hamil COVID-19 menyebutkan bahwa meskipun pengetahuan cukup baik, beberapa ibu tetap menolak vaksin karena faktor lain seperti pengaruh keluarga atau keraguan terhadap keamanan vaksin. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id]
Dengan demikian, pengetahuan merupakan fondasi penting, tetapi tidak cukup sendirian. Sikap dan keputusan vaksinasi juga dipengaruhi oleh faktor emosional, sosial, budaya, dan lingkungan.
Mitos dan Mispersepsi tentang Vaksin
Dalam konteks pemberian vaksin di Indonesia, terutama pada vaksin baru seperti COVID-19, muncul berbagai mitos dan mispersepsi yang mempengaruhi sikap ibu:
-
Kekhawatiran bahwa vaksin dapat membahayakan janin atau menyebabkan efek samping serius. Observasi menunjukkan bahwa sebagian ibu hamil memilih menolak meskipun pengetahuan mereka cukup baik. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id]
-
Keyakinan terkait status kehalalan vaksin, terutama di komunitas/religius, yang bisa menjadi hambatan dalam penerimaan. Studi peran komunikasi di vaksin HPV menunjukkan bahwa penyuluhan dan metode komunikasi sangat mempengaruhi perubahan sikap. [Lihat sumber Disini - arl.ridwaninstitute.co.id]
-
Kurangnya informasi atau informasi yang salah dari media sosial, peer group, atau lingkungan, misalnya isu keamanan vaksin, efek samping, rumor bahwa vaksin bisa menyebabkan penyakit lain atau menurunkan imunitas jangka panjang. Hal ini tercatat dalam penelitian terhadap ibu hamil. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id]
-
Rasa takut terhadap unsur asing dalam vaksin (bahan kimia, aditif) serta keraguan terhadap efektivitas vaksin, terutama bila ibu kurang mendapat edukasi yang jelas. Studi menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan ada, mispersepsi tetap dapat menghambat keputusan vaksinasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.jomparnd.com]
Fenomena mitos dan mispersepsi ini menegaskan bahwa edukasi saja tidak cukup; dibutuhkan pendekatan yang menyentuh aspek kepercayaan, budaya, dan komunikasi efektif.
Peran Tenaga Kesehatan dalam Edukasi Vaksin
Tenaga kesehatan, seperti bidan, dokter, petugas Puskesmas, memiliki peran sentral dalam membentuk sikap ibu terhadap vaksinasi, melalui edukasi, komunikasi, dan penyuluhan.
-
Studi 2024 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu menerima informasi imunisasi dari tenaga kesehatan, dan kepercayaan terhadap tenaga kesehatan meningkatkan kemungkinan pemberian vaksin lengkap. [Lihat sumber Disini - ejournal.upnvj.ac.id]
-
Penelitian di Jakarta Barat (vaksin HPV) membuktikan bahwa metode komunikasi yang tepat (misalnya menggunakan teori hirarki belajar) efektif meningkatkan sikap positif ibu terhadap vaksin, nilai rata-rata sikap meningkat signifikan setelah intervensi komunikasi. [Lihat sumber Disini - arl.ridwaninstitute.co.id]
-
Dalam konteks ibu hamil dan vaksin COVID-19, literatur menekankan pentingnya tenaga kesehatan untuk memberikan informasi akurat tentang keamanan, manfaat, dan prosedur vaksinasi, guna mengurangi kekhawatiran yang disebabkan mispersepsi atau informasi negatif di media sosial. [Lihat sumber Disini - publikasi.dinus.ac.id]
Dengan demikian, peran aktif tenaga kesehatan sangat krusial, baik sebagai sumber informasi terpercaya maupun sebagai fasilitator keputusan vaksinasi.
Dukungan Keluarga terhadap Pengambilan Keputusan
Keputusan vaksinasi seringkali bukan keputusan individual semata, dukungan atau pengaruh keluarga, terutama suami/ayah dan anggota keluarga lain, sangat signifikan. Studi menunjukkan bahwa:
-
Dalam rumah tangga, ketika keputusan besar (termasuk imunisasi) dibahas bersama, kemungkinan anak mendapat imunisasi lengkap meningkat. [Lihat sumber Disini - jurnal.pusbindiklatren.bappenas.go.id]
-
Faktor dukungan keluarga menjadi penting, terutama ketika ibu merasa ragu atau menghadapi kekhawatiran, dukungan suami dapat menjadi penentu keputusan akhir. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id]
-
Selain itu, struktur keluarga, jumlah anak, pendapatan keluarga, dan latar belakang sosiodemografi mempengaruhi bagaimana keputusan terkait vaksinasi diambil. [Lihat sumber Disini - ejournal.upnvj.ac.id]
Dengan demikian, upaya meningkatkan penerimaan vaksinasi hendaknya juga melibatkan keluarga, bukan hanya ibu.
Dampak Sikap terhadap Kepatuhan Imunisasi Anak
Sikap ibu terhadap vaksinasi, baik positif maupun negatif, memiliki konsekuensi langsung terhadap status imunisasi anak:
-
Pada penelitian di sekolah dasar (anak 6, 11 tahun), ditemukan bahwa ada hubungan signifikan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan status vaksin anak (p < 0, 01). Banyak anak belum divaksin karena ibu ragu atau menolak. [Lihat sumber Disini - jurnal.syntaxliterate.co.id]
-
Penelitian lain menunjukkan bahwa ketika ibu mendukung vaksinasi, kemungkinan anak mendapat imunisasi lengkap lebih tinggi. Sebaliknya, keraguan atau penolakan menyebabkan kekurangan dalam cakupan imunisasi. [Lihat sumber Disini - newinera.com]
-
Kekurangan imunisasi pada anak berisiko meningkatkan penularan penyakit menular, beban kesehatan, dan potensi wabah, menunjukkan bahwa sikap ibu bukan hanya persoalan individu, tapi terkait kesehatan komunitas. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]
Kesimpulan
Sikap ibu terhadap vaksinasi merupakan elemen kunci yang mempengaruhi keberhasilan program imunisasi, terutama bagi anak dan ibu hamil. Meskipun banyak ibu di Indonesia menunjukkan penerimaan dan dukungan terhadap vaksin, tetap ada kelompok yang ragu atau menolak, disebabkan oleh kombinasi faktor pengetahuan, kepercayaan, persepsi risiko, mitos/mispersepsi, serta pengaruh keluarga dan informasi. Pengetahuan memang penting, tetapi bukan satu-satunya; dibutuhkan edukasi yang komprehensif oleh tenaga kesehatan, komunikasi efektif, dan dukungan keluarga. Untuk meningkatkan cakupan vaksinasi dan kepatuhan imunisasi anak, intervensi harus melibatkan aspek sosial, budaya, dan edukatif, bukan sekadar penyediaan vaksin.