
Pengetahuan Empiris: Pengertian dan Ciri-Cirinya
Pendahuluan
Dalam kehidupan ilmiah dan keseharian, manusia senantiasa berhubungan dengan istilah “pengetahuan”. Salah satu bentuk pengetahuan yang sering dibahas dalam epistemologi adalah pengetahuan empiris, yakni pengetahuan yang bersumber dari pengalaman, pengamatan, atau indera. Penting bagi kita memahami pengertian dan karakteristik dari pengetahuan empiris, karena hal ini berkaitan dengan bagaimana manusia memperoleh, menjustifikasi, dan menggunakan pengetahuan dalam praktik ilmiah, sosial, maupun sehari-hari. Dengan pemahaman ini, kita dapat membedakan antara jenis pengetahuan yang berbeda serta meningkatkan cara kita dalam menyikapi kebenaran, bukti, dan validitas.
Pada artikel ini akan dibahas secara menyeluruh: definisi pengetahuan empiris (secara umum, menurut KBBI, menurut para ahli), kemudian ciri-ciri pengetahuan empiris, hingga akhirnya kesimpulan yang merangkum. Harapannya, pembaca memperoleh halaman referensi yang kuat yang bisa digunakan dalam penulisan, pengajaran, atau pengembangan pengetahuan.
Definisi Pengetahuan Empiris
Definisi Pengetahuan Empiris Secara Umum
Secara umum, “pengetahuan empiris” merujuk pada pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman atau pengamatan langsung terhadap realitas. Kata ‘empiris’ sendiri berasal dari kata Yunani empeiria yang artinya pengalaman, atau ‘percobaan’. Menurut satu kajian, empirisme didefinisikan sebagai “suatu cara menemukan pengetahuan berdasarkan pengamatan dan percobaan”. [Lihat sumber Disini - jurnal.uny.ac.id]
Dengan demikian, pengetahuan empiris menekankan bahwa sumber utama pengetahuan adalah pengalaman inderawi, pengamatan langsung atau data yang dapat diindra. Dalam penggunaan sehari-hari, ketika seseorang mengatakan “saya tahu karena melihat langsung”, maka bisa dikatakan ia memperoleh pengetahuan empiris.
Definisi Pengetahuan Empiris Menurut KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata “empiris” diartikan sebagai “berdasarkan pengalaman” atau “berdasarkan pengujian/percobaan”. Maka frasa “pengetahuan empiris” dapat dirumuskan sebagai pengetahuan yang diperoleh atau dibuktikan melalui pengalaman atau pengamatan, bukan hanya melalui pemikiran semata.
Dengan demikian secara kamus, pengetahuan empiris menekankan unsur pengalaman nyata, bukan sekadar konseptual atau spekulatif.
Definisi Pengetahuan Empiris Menurut Para Ahli
Untuk memperkaya pemahaman, berikut beberapa pendapat ahli tentang pengetahuan empiris:
- Menurut Fitri (2025) dalam “Epistemologi Empirisme” disebutkan bahwa “segala pengetahuan yang kita miliki berasal dari data yang diperoleh melalui indera, seperti penglihatan, pendengaran atau peraba”. [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]
- Menurut Ridwan, et al. (2021) dalam “Studi Analisis tentang Makna Pengetahuan dan Ilmu” menyatakan bahwa “jenis pengetahuan empiris … bersumber dari pengalaman yang dialami manusia” dan “pengetahuan empiris menekankan pada pengalaman indrawi dan pengamatan atas segala fakta tertentu”. [Lihat sumber Disini - journal.geutheeinstitute.com]
- Menurut artikel “Hakikat, Sumber, dan Klasifikasi Pengetahuan” (2025) bahwa dalam filsafat Barat, pengetahuan empiris berarti berbasis pengalaman (a posteriori) dan berlainan dengan pengetahuan rasional (a priori). [Lihat sumber Disini - ejournal.unu.ac.id]
- Menurut artikel “Penelitian Empiris: Definisi…” (Deepublish) menyebut bahwa penelitian empiris “berdasarkan pengalaman, terutama pengalaman melalui penemuan, percobaan atau pengamatan”. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
- Menurut artikel “Empirisisme, Sebuah Pendekatan Penelitian Arsitektural” bahwa empirisme memandang bahwa pengalaman inderawi adalah sumber utama pengetahuan atau kebenaran. [Lihat sumber Disini - jurnal.uny.ac.id]
Dari beberapa pendapat di atas dapat kita simpulkan: pengetahuan empiris adalah jenis pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dan pengamatan langsung, melalui indera atau alat yang memungkinkan manusia mengenali realitas, serta dapat diuji atau diverifikasi berdasarkan pengalaman tersebut.
Ciri-Ciri Pengetahuan Empiris
Setelah memahami definisinya, berikut ini sejumlah karakteristik utama dari pengetahuan empiris, artinya, apa yang membedakan pengetahuan empiris dengan jenis pengetahuan lainnya.
1. Bersumber dari pengalaman atau pengamatan
Ciri paling mendasar adalah bahwa pengetahuan empiris diperoleh dari pengalaman konkret atau pengamatan inderawi. Sebagai contoh, seseorang yang mengamati bahwa “air mendidih pada 100 °C (pada tekanan standar)” memperoleh pengetahuan melalui percobaan/pengamatan, bukan hanya lewat pemikiran abstrak. Artikel “Fokus Kajian Empirisme dalam Ilmu Administrasi Publik” menyebut bahwa “pengetahuan yang berasal dari pengalaman atau pengamatan manusia atau peneliti”. [Lihat sumber Disini - jurnal.penerbitdaarulhuda.my.id]
Ini berarti bahwa untuk menjadi empiris, pengetahuan tidak bersifat spekulatif murni atau hanya rasional deduktif tanpa kaitan dengan pengalaman.
2. Melibatkan indera atau alat pengamatan
Karakteristik berikutnya: pengetahuan empiris sering melibatkan indera manusia (penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, pengecapan) atau alat bantu pengamatan. Sebagaimana disebutkan dalam kajian empirisme bahwa bukti empiris berkaitan dengan kelima indera. [Lihat sumber Disini - jurnal.penerbitdaarulhuda.my.id]
Dengan demikian, pengetahuan empiris memiliki basis data atau fakta yang bisa dirasakan atau diukur.
3. Bersifat a posteriori (setelah pengalaman)
Dalam terminologi epistemologi, pengetahuan empiris termasuk ke dalam kategori “a posteriori”, artinya diperoleh setelah pengalaman. Sebaliknya, pengetahuan rasional sering dikategorikan “a priori” (sebelum pengalaman). Dalam artikel “Pengetahuan (Knowledge), Ilmu” disebut bahwa “pengetahuan empiris menekankan pada pengalaman indrawi … disebut juga pengetahuan yang bersifat a posteriori”. [Lihat sumber Disini - jurnal.unugha.ac.id]
Ini membantu membedakan bahwa pengetahuan empiris bukan lah pengetahuan yang murni lewat pemikiran tanpa pengalaman.
4. Dapat diverifikasi atau diuji melalui pengalaman
Ciri penting lainnya adalah bahwa pengetahuan empiris memungkinkan proses verifikasi, artinya dapat diuji melalui pengalaman atau pengamatan ulang. Dalam artikel “Struktur Pengetahuan Ilmiah” disebut bahwa pengetahuan ilmiah (yang banyak memiliki unsur empiris) “dapat diperiksa kebenarannya oleh siapapun juga”. [Lihat sumber Disini - journal.lppmunindra.ac.id]
Dengan demikian, pengetahuan empiris tidak bersifat mutlak tertutup, tetapi terbuka terhadap revisi bila pengalaman baru menunjukkan berbeda.
5. Bersifat konkretnya lebih tinggi / lebih dekat ke realitas
Karena basisnya pada pengalaman dan pengamatan, pengetahuan empiris sering kali bersifat “konkrit” atau “terikat oleh keadaan nyata” dibanding pengetahuan yang sepenuhnya abstrak. Misalnya, pengetahuan bahwa “kopi panas menyebabkan kulit terbakar” lebih empiris dibanding spekulasi yang tidak berbasis pengamatan.
Beberapa literatur juga menunjukkan bahwa empirisme menekankan manifestasi nyata dalam pengalaman sebagai kriteria kebenaran. [Lihat sumber Disini - jurnal.uny.ac.id]
6. Terbatas oleh pengalaman, potensi sifat sementara
Satu hal yang sering muncul sebagai “kelemahan” atau karakteristik terkait adalah bahwa karena bergantung pada pengalaman manusia dan indera, pengetahuan empiris bisa terbatas, misalnya oleh keterbatasan indera, alat, atau kondisi pengamatan. Kajian “Fokus Kajian Empirisme dalam Ilmu Administrasi Publik” menyebut kelemahan empirisme: “karena keterbatasan pada indera manusia maka membuat empirisme tidak mampu membedakan antara sesuatu yang bersifat khayalan dan fakta”. [Lihat sumber Disini - jurnal.penerbitdaarulhuda.my.id]
Dengan demikian, meskipun sifat pengalaman memberikan kekuatan empirik, hal itu juga menuntut kehati-hatian dalam interpretasi.
7. Hubungan dengan metode ilmiah
Pengetahuan empiris sering dikaitkan dengan pendekatan atau metode yang bersifat ilmiah, misalnya observasi, eksperimen, pengukuran, dan verifikasi empiris. Sebuah jurnal menyebut bahwa dalam epistemologi empirisme, “metode verifikasi : … mendorong penggunaan metode ilmiah untuk memverifikasi pengetahuan melalui pengamatan dan eksperimen”. [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]
Ini menunjukkan bahwa pengetahuan empiris sangat relevan dalam konteks penelitian ilmiah yang sistematis.
8. Berbasis fakta dan data nyata
Akibat dari sumbernya yang pengalaman nyata, pengetahuan empiris cenderung berorientasi pada fakta dan data yang bisa diobservasi atau direkam, bukan hanya keyakinan atau spekulasi belaka. Sebagai contoh, dalam artikel “Pengetahuan dan Manfaat Empiris Literasi Herbal …” sebuah penelitian mencatat dan mendokumentasikan pengetahuan empiris masyarakat terhadap tumbuhan obat berdasarkan pengalaman dan koleksi nyata. [Lihat sumber Disini - jurnal.uai.ac.id]
Fakta ini memperkuat bahwa pengetahuan empiris sangat berkaitan dengan “bukti” atau “data” yang visual/terukur.
Kesimpulan
Pengetahuan empiris adalah jenis pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman atau pengamatan langsung terhadap realitas, melibatkan indera manusia atau alat pengamatan, bersifat a posteriori, memungkinkan verifikasi, dan dekat dengan kondisi konkret nyata. Berdasarkan definisi dari para ahli dan kajian epistemologi, kita dapat memahami bahwa pengetahuan empiris memiliki kekuatan sebagai basis pemahaman yang grounded dalam kenyataan, namun juga memiliki batasan terkait pengalaman manusia dan alatnya.
Dengan memahami ciri-ciri tersebut, kita sebagai pembelajar, peneliti, atau profesional dapat lebih kritis dalam menggunakan dan menjustifikasi pengetahuan: apakah benar bersifat empiris (berbasis pengalaman/fakta), apakah cukup data dan verifikasi, atau apakah ada unsur spekulatif yang perlu diperkuat dengan observasi. Dalam dunia yang semakin kompleks, kemampuan membedakan dan memanfaatkan pengetahuan empiris secara tepat akan menjadi modal penting dalam pengembangan ilmu, pengambilan keputusan, dan praktik di berbagai bidang.