
Posisi Menyusui yang Efektif
Pendahuluan
Menyusui (ASI) adalah cara utama pemberian nutrisi ideal bagi bayi baru lahir, mendukung pertumbuhan, perkembangan, dan kekebalan tubuh. Namun, meskipun menyusui bersifat alami, tidak semua ibu otomatis dapat melakukannya dengan benar. Teknik menyusui yang tepat, terutama posisi ibu dan bayi serta perlekatan (latch), memainkan peran penting dalam keberhasilan menyusui. Bila posisi dan perlekatan tidak tepat, dapat terjadi masalah seperti produksi ASI tidak optimal, nyeri payudara, luka puting, hingga putusnya ASI eksklusif. Oleh karena itu pemahaman tentang posisi menyusui yang efektif sangat penting.
Definisi Posisi Menyusui
Definisi Posisi Menyusui Secara Umum
“Posisi menyusui” menunjuk pada cara ibu memegang dan mendekapkan bayi agar bayi dapat menyusu dengan nyaman, serta posisi kepala, tubuh, dan anggota tubuh bayi relatif terhadap payudara ibu. Posisi ini harus memungkinkan bayi membuka mulut lebar, menyentuh areola cukup, dan tubuh bayi mendekat ke ibu, sehingga menyusui menjadi nyaman dan efektif.
Definisi Posisi Menyusui dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “menyusui” berarti memberi susu dari payudara ibu kepada bayi. “Posisi menyusui” secara kontekstual berarti cara ibu dan bayi berposisi saat proses menyusui, meskipun KBBI tidak menjelaskan secara detail.
Definisi Posisi Menyusui Menurut Para Ahli
Beberapa literatur kesehatan mendefinisikan posisi menyusui sebagai bagian dari “teknik menyusui yang benar, ” yang meliputi posisi, perlekatan, dan hisapan (suckling). [Lihat sumber Disini - journal.alifa.ac.id]
Misalnya:
-
Dalam penelitian Determinasi Perlekatan dan Posisi Ibu Menyusui dalam Memberikan ASI terhadap Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif (2024), posisi menyusui dianggap sebagai variabel kunci dalam keberhasilan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - journal.literasisains.id]
-
The Effect of Correct Breastfeeding Techniques on Breastfeeding Success (2023) menyebut bahwa teknik menyusui yang benar (termasuk posisi) berkorelasi dengan peningkatan skor perlekatan (latch) dan keberhasilan menyusui. [Lihat sumber Disini - jurnal.iakmikudus.org]
-
Studi Effective breastfeeding practices among mothers in Legambo district, Ethiopia (2024) menekankan bahwa “effective breastfeeding technique” terdiri dari tiga komponen: posisi yang tepat, perlekatan yang baik, dan hisapan efektif. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Jenis-Jenis Posisi Menyusui
Berikut beberapa posisi umum yang banyak dianjurkan:
-
Cradle hold (gendongan konvensional), Ibu menggendong bayi dengan perut dan dada bayi menghadap ibu, bayi mendekap di lengan ibu, kepala bayi sedikit menyangga agar puting susu tepat di mulut bayi. Posisi ini cocok terutama bayi baru lahir atau ibu pasca caesar (dengan penyesuaian).
-
Cross-cradle hold, Mirip cradle hold, tetapi lengan ibu yang berlawanan dengan payudara digunakan untuk menyangga kepala dan punggung bayi, sementara tangan ibu menopang tubuh bayi. Posisi ini memberi kontrol lebih baik terhadap kepala bayi, memudahkan perlekatan, terutama untuk ibu primipara. [Lihat sumber Disini - journal.bundadelima.ac.id]
-
Football hold (rugby hold), Bayi ditempatkan di samping ibu, dengan tubuh bayi sepanjang sisi ibu, kaki bayi di belakang ibu, dan kepala bayi di dekat payudara. Cocok untuk ibu yang melahirkan caesar, memiliki payudara besar, atau bayi prematur.
-
Side-lying (berbaring menyusui), Ibu dan bayi berbaring miring, saling berhadapan, memungkinkan menyusui sambil beristirahat, cocok untuk malam hari atau ibu yang kelelahan.
-
Biological nurturing / laid-back breastfeeding, Ibu berbaring atau bersandar nyaman, bayi diletakkan di tubuh ibu dengan mendekap, memanfaatkan refleks alami bayi untuk mencari puting susu, sering disebut “posisi natural” atau “posisi biologis.” Penelitian menunjukkan bahwa posisi biologis dapat membantu bayi mendapatkan latch lebih baik dan menyusui lebih nyaman. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.stikesmitraadiguna.ac.id]
Ciri-Ciri Pelekatan yang Baik
Pelekatan (latch) yang baik penting agar bayi mendapat ASI cukup tanpa menyebabkan nyeri atau luka pada ibu. Ciri-ciri perlekatan yang baik mencakup:
-
Mulut bayi terbuka lebar, bibir bawah terlipat ke luar. [Lihat sumber Disini - ayosehat.kemkes.go.id]
-
Bayi menangkap areola (bagian gelap sekitar puting), bukan hanya puting, sebagian besar areola (khususnya bagian bawah) masuk ke mulut bayi. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]
-
Hidung dan dagu bayi menyentuh payudara, tubuh bayi mendekat ke ibu tanpa harus memutar kepala bayi. [Lihat sumber Disini - ayosehat.kemkes.go.id]
-
Tubuh bayi sejajar (bayi, kepala, dan badan membentuk garis lurus), bayi merasa nyaman dan stabil saat menyusu. [Lihat sumber Disini - ayosehat.kemkes.go.id]
-
Ibu tidak merasakan rasa sakit atau tekanan tajam pada puting selama menyusui, hisapan bayi terdengar lemah tetapi berirama dan efektif (suckling efisien). [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Posisi Menyusui
Beberapa faktor yang menentukan apakah posisi dan perlekatan menyusui berhasil atau tidak:
-
Pengetahuan dan edukasi ibu, Ibu yang mendapat konseling menyusui dan pelatihan teknik menyusui (posisi + perlekatan) cenderung lebih sukses. [Lihat sumber Disini - journal.ppniunimman.org]
-
Pengalaman menyusui sebelumnya / paritas, Ibu primipara (baru pertama kali) lebih sering mengalami kesulitan dalam posisi/perlekatan dibanding multipara. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Kondisi ibu dan bayi, Faktor seperti operasi caesar, ukuran payudara, kondisi bayi (misalnya prematur, lip-tie, refleks hisap lemah) bisa mempengaruhi posisi dan perlekatan. [Lihat sumber Disini - thejnp.org]
-
Dukungan tenaga kesehatan / konselor laktasi / keluarga, Konseling laktasi dan pendampingan post-partum terbukti meningkatkan keterampilan menyusui dan keberhasilan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - journal.literasisains.id]
-
Frekuensi menyusui dan pengosongan payudara, Menyusui cukup sering dan payudara dikosongkan secara optimal membantu mencegah masalah seperti bendungan ASI (milk-engorgement). [Lihat sumber Disini - e-jurnal.stikesmitraadiguna.ac.id]
Manfaat Posisi Menyusui yang Tepat
Posisi dan perlekatan menyusui yang tepat membawa banyak manfaat, antara lain:
-
Transfer ASI ke bayi lebih efisien → bayi mendapat cukup nutrisi dan meningkatkan kemungkinan pertumbuhan serta kenaikan berat badan optimal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Mengurangi risiko puting lecet, nyeri payudara, mastitis, dan ketidaknyamanan bagi ibu. [Lihat sumber Disini - jurnal.iakmikudus.org]
-
Mendukung kelangsungan ASI eksklusif (hingga 6 bulan), efektif menyusui berhubungan dengan keberhasilan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Meningkatkan kenyamanan dan rasa percaya diri ibu saat menyusui, serta memperkuat ikatan emosional ibu, bayi (melalui kontak kulit, hisapan, eye contact). [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Meminimalkan risiko masalah kesehatan bayi (seperti infeksi, gangguan nutrisi) dan memaksimalkan manfaat jangka panjang seperti imunitas, perkembangan kognitif, dan kesehatan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Kesalahan Umum dalam Posisi Menyusui
Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
-
Posisi bayi terlalu jauh dari ibu, bayi harus “meraih” payudara → menyebabkan hisapan lemah, bayi sulit menyusu.
-
Pelekatan hanya pada puting (bukan areola), puting saja disedot → lebih rentan lecet, sakit, ASI tidak keluar optimal.
-
Kepala atau badan bayi tidak sejajar, bayi diputar, kepala miring, membuat hisapan tidak efektif dan bisa menyebabkan ketidaknyamanan.
-
Ibu tidak mendapat dukungan/pembelajaran, ibu primipara tanpa pengalaman atau edukasi → cenderung menggunakan posisi yang tidak tepat.
-
Frekuensi menyusui jarang, atau payudara tidak dikosongkan, menyebabkan risiko bendungan ASI, produksi ASI menurun. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.stikesmitraadiguna.ac.id]
Peran Bidan dalam Edukasi Posisi Menyusui
Bidan, sebagai tenaga kesehatan garis depan bagi ibu dan bayi baru lahir, memegang peran penting dalam mendukung keberhasilan menyusui melalui beberapa cara:
-
Memberikan pendidikan dan demonstrasi teknik menyusui (posisi & pelekatan) saat masa kehamilan, setelah melahirkan, dan masa nifas. Beberapa penelitian menunjukkan edukasi semacam ini efektif meningkatkan keterampilan ibu. [Lihat sumber Disini - midwiferia.umsida.ac.id]
-
Mengobservasi dan mengevaluasi proses menyusui (misalnya menggunakan alat observasi seperti LATCH Score) untuk memastikan posisi dan perlekatan benar. [Lihat sumber Disini - ejournal.akperfatmawati.ac.id]
-
Memberikan pendampingan berkelanjutan, konsultasi laktasi, intervensi bila ada masalah (nyeri, luka, produksi ASI kurang). [Lihat sumber Disini - journal.bundadelima.ac.id]
-
Memberi edukasi pada keluarga (ayah, anggota keluarga lain) agar mendukung ibu, karena dukungan sosial penting bagi kelangsungan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - padangjurnal.web.id]
Dampak Posisi Salah terhadap Nyeri Payudara dan ASI
Posisi dan perlekatan yang salah dapat memberi dampak negatif serius, baik pada ibu maupun bayi:
-
Ibu bisa mengalami nyeri puting, luka, lecet, bahkan mastitis, hisapan yang salah bisa menyebabkan iritasi dan kelelahan puting. [Lihat sumber Disini - jneonatalsurg.com]
-
Produksi ASI bisa tidak optimal, hisapan bayi tidak efektif → ASI tidak tersalurkan dengan baik → bayi mendapat ASI kurang, bisa menghambat pertumbuhan. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.stikesmitraadiguna.ac.id]
-
Risiko bendungan ASI (milk engorgement) atau penyumbatan saluran ASI meningkat, terutama jika payudara tidak dikosongkan dengan benar. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.stikesmitraadiguna.ac.id]
-
Dapat menyebabkan penghentian dini menyusui atau lebih cepat beralih ke susu formula, sehingga bayi kehilangan manfaat ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Memberi pengalaman menyusui negatif, ibu merasa stres, tidak nyaman, kehilangan kepercayaan diri, hal ini bisa mempengaruhi ikatan emosional ibu, bayi. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Kesimpulan
Posisi menyusui yang efektif, bersama dengan perlekatan dan hisapan yang benar, adalah fondasi utama keberhasilan menyusui. Teknik menyusui yang tepat tidak hanya mendukung kecukupan nutrisi bayi, tetapi juga menjaga kesehatan dan kenyamanan ibu, serta memperkuat ikatan emosional antara ibu dan bayi. Faktor-faktor seperti pengetahuan ibu, pengalaman, kondisi kesehatan, serta dukungan dari bidan dan keluarga memainkan peran penting dalam menentukan keberhasilan menyusui. Oleh karena itu, edukasi dan pendampingan menyusui, khususnya oleh bidan dan tenaga kesehatan, wajib diberikan kepada setiap ibu, terutama di masa awal post-partum. Kesalahan dalam posisi atau perlekatan dapat membawa dampak negatif serius: dari nyeri payudara, luka, produksi ASI terganggu, hingga penghentian menyusui terlalu dini. Dengan pemahaman dan praktik yang benar, menyusui bisa berlangsung efektif dan nyaman untuk ibu dan bayi.