
Perilaku Minum Obat Remaja
Pendahuluan
Remaja merupakan kelompok usia rentan yang berada dalam fase perkembangan fisik, psikologis, dan sosial yang pesat. Pada periode ini, remaja mulai mengambil keputusan sendiri, termasuk dalam hal kesehatan. Salah satu fenomena yang banyak terjadi adalah pola konsumsi obat secara mandiri tanpa pengawasan tenaga kesehatan profesional, terutama obat yang dijual bebas (OTC, Over The Counter).
Perubahan gaya hidup, akses mudah ke obat-obatan, hingga pengaruh kelompok teman sebaya dan media digital turut mempengaruhi bagaimana remaja mengonsumsi obat. Praktik ini dipandang sebagai bentuk swamedikasi, yang bila dilakukan secara tidak tepat dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan serius, seperti dosis yang salah, interaksi obat, atau bahkan kontribusi terhadap resistensi obat tertentu.
Karena alasan-alasan ini, penting untuk memahami bagaimana perilaku minum obat remaja terjadi, faktor apa yang memengaruhi, dan bagaimana konsekuensinya bagi kesehatan mereka. Artikel ini akan membahas secara komprehensif perilaku tersebut, dimulai dari definisi sampai rekomendasi edukasi dan pengawasan yang relevan.
Definisi Perilaku Minum Obat Remaja
Definisi Perilaku Minum Obat Remaja Secara Umum
Perilaku minum obat remaja secara umum merupakan tindakan atau kebiasaan remaja dalam menggunakan obat-obatan, baik yang diresepkan maupun yang dapat dibeli bebas tanpa resep dokter, untuk meredakan gejala atau penyakit yang mereka rasakan. Dalam konteks remaja, perilaku ini seringkali dilakukan tanpa konsultasi tenaga kesehatan, sehingga termasuk dalam praktik swamedikasi (self-medication).
Swamedikasi sendiri didefinisikan sebagai penggunaan obat oleh individu untuk mengatasi gangguan kesehatan atau gejala yang dialami tanpa saran medis profesional, dengan harapan dapat menyembuhkan atau meredakan keluhan tersebut. Dalam banyak kasus, obat bebas (OTC) sering digunakan karena mudah diperoleh dan tidak memerlukan resep dokter. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Definisi Perilaku Minum Obat Remaja dalam KBBI
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perilaku minum obat remaja dapat diinterpretasikan sebagai “tindakan atau kebiasaan yang berkaitan dengan cara remaja mengonsumsi obat-obatan tertentu” (definisi perilaku + definisi obat). Definisi ini mencakup aspek tindakan (perilaku) dan objek tindakan (obat) yang dilakukan oleh individu berusia remaja, baik atas saran profesional maupun sendiri.
Sementara itu, KBBI secara terpisah mendefinisikan obat sebagai zat atau bahan yang digunakan untuk mengobati, mencegah, atau meringankan penyakit atau gangguan fungsi tubuh.
Definisi Perilaku Minum Obat Remaja Menurut Para Ahli
-
World Health Organization (WHO)
WHO mendefinisikan swamedikasi sebagai pemilihan serta pemakaian obat modern, herbal, maupun tradisional oleh seseorang untuk mengatasi penyakit atau gejala tanpa pengawasan tenaga kesehatan. Definisi ini relevan ketika dilihat dari perilaku remaja dalam memilih dan menggunakan obat sendiri. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Risanti (2021)
Menurut Risanti, swamedikasi merupakan tindakan memilih dan menggunakan obat tanpa resep tenaga medis, biasanya untuk mengatasi gangguan kesehatan ringan. Risiko dari perilaku ini muncul ketika individu tidak memahami cara penggunaan yang benar, termasuk dosis dan durasi penggunaan. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Sitindaon (2020)
Sitindaon menjelaskan bahwa swamedikasi merupakan bagian dari self-care, yakni usaha menanggulangi gangguan kesehatan secara mandiri, termasuk mengambil kembali resep lama, menggunakan sisa obat di rumah, atau mengikuti rekomendasi keluarga tanpa berkonsultasi dokter. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Ma dan Zhang (2025)
Penelitian terbaru juga memandang swamedikasi sebagai perilaku di mana individu, termasuk remaja, menggunakan obat OTC berdasarkan penilaian pribadi tentang kebutuhan obat, baik berdasarkan gejala dirasakan maupun informasi yang ia peroleh sendiri. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
Kebiasaan Remaja dalam Mengonsumsi Obat OTC
Remaja sering menggunakan obat OTC seperti analgesik (pereda nyeri), antipiretik (penurun demam), obat batuk-pilek, dan suplemen tanpa resep dokter. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja pernah melakukan swamedikasi setidaknya sekali untuk keluhan ringan dalam setahun terakhir. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
Fenomena ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk rasa percaya diri untuk mengatasi keluhan sendiri, pengalaman sebelumnya, serta persepsi bahwa gejala ringan tidak memerlukan bantuan medis formal. Selain itu, obat OTC mudah diperoleh di apotek maupun toko obat tanpa prosedur yang rumit, sehingga memperkuat kecenderungan remaja untuk melakukan praktik ini tanpa pengawasan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Meskipun banyak remaja melihat swamedikasi sebagai solusi praktis, pendekatan ini membawa konsekuensi jika tidak disertai pemahaman yang memadai tentang dosis, efek samping, atau interaksi obat. Beberapa studi juga menemukan bahwa kurangnya pengetahuan obat dapat menyebabkan penggunaan yang tidak tepat atau berulang tanpa evaluasi kondisi kesehatan yang tepat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Faktor yang Mempengaruhi Pola Minum Obat
Berbagai faktor memengaruhi bagaimana remaja mengonsumsi obat, baik OTC maupun resep. Ini meliputi:
-
Kesadaran dan Pengetahuan Obat:
Remaja yang memiliki pengetahuan rendah tentang obat cenderung mengambil keputusan berdasarkan pengalaman pribadi atau rekomendasi teman/keluarga tanpa merujuk informasi medis yang akurat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Akses dan Ketersediaan Obat:
Mudahnya akses ke obat OTC di apotek tanpa resep dokter meningkatkan peluang penggunaan obat tanpa evaluasi medis formal. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
-
Latar Belakang Sosial dan Ekonomi:
Remaja dari keluarga dengan akses terbatas ke layanan kesehatan mungkin melihat swamedikasi sebagai opsi yang lebih murah dan cepat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Pengaruh Lingkungan Sosial:
Teman sebaya, keluarga, atau bahkan iklan produk kesehatan di media dapat memengaruhi keputusan remaja untuk mencoba obat tertentu meskipun tanpa pengetahuan lengkap. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Motivasi Pribadi:
Rasa ingin cepat sembuh demi aktivitas sekolah, olahraga, atau sosial membuat remaja cenderung memilih solusi cepat melalui obat OTC atau suplemen tanpa refleksi kesehatan yang matang. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
Peran Media Sosial dalam Self-Medication Remaja
Di era digital, media sosial menjadi sumber informasi utama bagi remaja dalam berbagai aspek hidup, termasuk kesehatan. Konten seputar tips kesehatan, review obat, atau rekomendasi “tepat guna” kerap beredar luas tanpa disertai rujukan ilmiah terpercaya.
Media sosial juga mendorong perilaku imitasi, ketika remaja melihat teman atau influencer mempromosikan produk tertentu, mereka lebih cenderung mencoba hal yang sama tanpa mempertimbangkan kebutuhan medis masing-masing. Ini dapat memperkuat keputusan self-medication yang tidak terkontrol. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Selain itu, informasi yang salah atau simplifikasi saran medis di platform daring dapat membuat remaja merasa cukup memiliki pengetahuan tentang obat, padahal pemahaman tersebut belum tentu sesuai dengan panduan kesehatan resmi.
Pengetahuan Remaja tentang Risiko Obat
Pengetahuan remaja tentang risiko penggunaan obat OTC sangat bervariasi. Beberapa studi menunjukkan bahwa sebagian remaja tidak memahami perbedaan antara penggunaan yang aman dan penggunaan yang berpotensi berbahaya, termasuk risiko overdosis, efek samping, dan interaksi obat.
Ketidaktahuan ini dapat menyebabkan perilaku yang berisiko, seperti mengonsumsi obat dalam dosis lebih tinggi dari rekomendasi atau mencampurkan beberapa jenis obat tanpa pertimbangan medis. Edukasi tentang keamanan obat, termasuk membaca label dengan teliti dan mengikuti petunjuk penggunaan, menjadi aspek penting dalam mencegah perilaku berbahaya tersebut.
Motivasi Remaja dalam Menggunakan Suplemen atau Vitamin
Motivasi remaja untuk mengonsumsi suplemen atau vitamin sering didorong oleh keinginan untuk meningkatkan kesehatan umum, memperbaiki stamina, atau memenuhi tren gaya hidup sehat yang dipromosikan di media sosial.
Namun, penggunaan suplemen tanpa panduan medis juga memiliki risiko tersendiri, termasuk kemungkinan overdosis mikro-nutrien, interaksi dengan obat lain, dan persepsi bahwa suplemen dapat menggantikan kebutuhan nutrisi dari pola makan seimbang.
Dampak Pola Minum Obat yang Tidak Tepat
Penggunaan obat secara tidak tepat, terutama di kalangan remaja, dapat menyebabkan:
-
Efek samping yang tidak diinginkan
-
Resistensi terhadap obat tertentu
-
Interaksi obat yang berbahaya
-
Masking gejala penyakit serius sehingga keterlambatan diagnosis medis
-
Kerusakan organ tubuh jika dosis berlebihan
Peran Orang Tua dalam Pengawasan Konsumsi Obat
Peran orang tua sangat penting dalam membimbing remaja mengenali risiko penggunaan obat. Diskusi terbuka tentang cara membaca label, pentingnya mengikuti instruksi profesional kesehatan, serta menanamkan sikap kritis terhadap informasi obat sangat membantu meminimalkan perilaku self-medication yang tidak tepat.
Edukasi Obat pada Usia Remaja
Program edukasi kesehatan di sekolah dan komunitas yang membahas penggunaan obat yang aman, termasuk pembelajaran cara membaca label dan memahami dosis, dapat membantu remaja membuat keputusan yang lebih bijak terhadap obat yang mereka konsumsi.
Hubungan Gaya Hidup dengan Perilaku Minum Obat
Gaya hidup yang sibuk, tekanan akademis, dan kebutuhan untuk tetap aktif di berbagai kegiatan sering menjadi alasan remaja untuk memilih obat OTC sebagai solusi cepat tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang.
Risiko Penyalahgunaan Obat pada Remaja
Kasus penyalahgunaan obat, termasuk obat resep yang digunakan tanpa indikasi medis, telah dilaporkan dalam berbagai penelitian. Perilaku ini dipicu oleh kepercayaan bahwa obat tertentu “aman” karena mudah diperoleh, serta kurangnya pengawasan yang efektif baik dari orang tua maupun tenaga kesehatan. [Lihat sumber Disini - jak.ubr.ac.id]
Kesimpulan
Perilaku minum obat remaja adalah fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh pengetahuan, akses terhadap obat, media sosial, lingkungan sosial, motivasi pribadi, dan peran orang tua. Meskipun penggunaan obat OTC sering dianggap aman, pemahaman yang kurang tentang aturan pemakaian dan risiko medis dapat menyebabkan konsekuesni negatif. Edukasi yang tepat, pengawasan orang tua dan tenaga kesehatan, serta peningkatan literasi obat di kalangan remaja merupakan strategi penting untuk meminimalkan perilaku yang berpotensi membahayakan kesehatan mereka.