
Sikap Remaja terhadap Seks Pra Nikah
Pendahuluan
Masa remaja merupakan periode transisi penting dari masa kanak-kanak ke dewasa, di mana terjadi berbagai perubahan fisik, psikologis, dan sosial. Salah satu aspek krusial dalam fase ini adalah perkembangan seksual dan pemahaman tentang seksualitas. Sikap remaja terhadap seks pra nikah menjadi sangat relevan untuk dikaji, mengingat potensi risiko bagi kesehatan reproduksi, kehamilan di luar nikah, infeksi menular seksual, serta dampak psikososial lainnya. Seiring kemajuan informasi dan kemudahan akses media, fenomena seks pra nikah di kalangan remaja tidak bisa dianggap remeh. Oleh karena itu, penting memahami bagaimana remaja memandang seks pra nikah, dari definisi, faktor yang mempengaruhi, hingga risiko dan peran pendidikan seks, agar upaya promotif dan preventif bisa dirancang secara efektif dan sesuai konteks.
Definisi Seks Pra Nikah
Definisi Seks Pra Nikah Secara Umum
Secara umum, “seks pra nikah” merujuk pada aktivitas seksual yang dilakukan oleh individu yang belum menikah, sebelum adanya ikatan pernikahan resmi. Aktivitas ini dapat meliputi hubungan intim maupun bentuk-bentuk kontak seksual lain yang bergantung pada definisi budaya atau hukum di masyarakat tertentu.
Definisi Seks Pra Nikah dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), definisi formal “pra nikah” adalah “sebelum menikah”. Sedangkan “seks” umumnya merujuk pada aktivitas seksual, sehingga “seks pra nikah” dapat diartikan sebagai aktivitas seksual yang dilakukan sebelum menikah.
Definisi Seks Pra Nikah Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi dari literatur ilmiah dan penelitian:
-
Dalam kajian Adolescent Premarital Sexual Behavior: A Narrative Review of Southeast Asia, Indonesia, and Arab Countries (2024), seks pra nikah dipahami sebagai perilaku seksual sebelum menikah yang dilakukan oleh remaja, dan dikategorikan sebagai perilaku berisiko terhadap kesehatan reproduksi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Menurut Determinants of Adolescent Sexual Behaviour in Indonesia during COVID-19 Pandemic (2023), seks pra nikah adalah bagian dari perilaku pra nikah yang dipengaruhi oleh sejumlah determinan seperti pengetahuan reproduksi, peran keluarga, komunikasi media, teman sebaya, dan lingkungan sosial. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]
-
Di dalam Pre‑marital Sexual Behavior of Adolescents (2022), aktivitas seksual pra nikah di kalangan remaja dikaji sebagai bagian dari perilaku seksual, termasuk interaksi emosional dan fisik, yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan remaja. [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id]
-
Dalam artikel review sistematis Determinan Perilaku Seksual Pada Remaja di Indonesia (2023), istilah perilaku seksual pra nikah mencakup segala bentuk tingkah laku seksual oleh remaja belum menikah, yang bisa berkonsekuensi pada risiko kesehatan reproduksi dan sosial. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
Berdasarkan berbagai definisi tersebut, “seks pra nikah” dapat dipahami sebagai perilaku seksual yang dilakukan sebelum pernikahan resmi, oleh individu belum menikah, dan seringkali dikaitkan dengan konsekuensi kesehatan, moral, dan sosial.
Pemahaman Remaja tentang Seksualitas dan Seks Pra Nikah
Pengetahuan dan persepsi remaja terhadap seksualitas memegang peranan penting dalam membentuk sikap terhadap seks pra nikah.
Penelitian Hubungan Pengetahuan dan Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Pranikah di SMA Negeri 106 Jakarta (2024) menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara seberapa baik pengetahuan remaja tentang seks/pranikah dan sikap mereka terhadap seks pra nikah. [Lihat sumber Disini - ejournal.urindo.ac.id]
Studi lain, Analisis Pengetahuan dan Sikap tentang Pengaruh Seks Pranikah pada Remaja Putri di SMAN 2 Muara Sabak Timur (2025), menemukan bahwa intervensi penyuluhan (edukasi) mampu meningkatkan pengetahuan dan mengubah sikap negatif menuju sikap yang lebih positif terhadap seks pra nikah. [Lihat sumber Disini - jab.ubr.ac.id]
Dengan demikian, pemahaman remaja tentang seksualitas, termasuk risiko, norma sosial, dan konsekuensi, sangat krusial dalam membentuk sikap mereka terhadap seks pra nikah.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap dan Perilaku Remaja
Beberapa faktor yang disebut berpengaruh dalam membentuk sikap dan perilaku seks pra nikah remaja:
-
Pengetahuan / pendidikan tentang kesehatan reproduksi dan seks/pranikah. Banyak penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan yang rendah berkorelasi dengan sikap dan perilaku yang berisiko. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]
-
Sikap dan nilai pribadi, sikap negatif atau positif terhadap seks sebelum menikah, yang bisa dipengaruhi oleh latar belakang budaya, agama, keluarga. [Lihat sumber Disini - ejournal.fkm.unsri.ac.id]
-
Peran orang tua dan pola asuh/fungsi keluarga, kualitas komunikasi, pengawasan, kehangatan, dan perhatian dalam keluarga. [Lihat sumber Disini - jqwh.org]
-
Teman sebaya / peer influence, tekanan teman sebaya, norma sosial di lingkungan pertemanan, konformitas dengan teman. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Media dan akses informasi, termasuk media sosial, internet, paparan konten pornografi atau konten seksual. [Lihat sumber Disini - thejhpb.com]
-
Lingkungan sosial dan budaya, norma, nilai budaya, religiusitas, kebiasaan masyarakat tempat tinggal. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
Secara keseluruhan, kombinasi antara pengetahuan individu, lingkungan keluarga, teman, media, dan norma budaya membentuk bagaimana remaja memandang dan bertindak terkait seks pra nikah.
Pengaruh Lingkungan, Media, dan Teman Sebaya terhadap Sikap Remaja
Lingkungan sekitar, termasuk teman sebaya dan media, memainkan peran besar dalam membentuk persepsi dan sikap remaja terhadap seks pranikah.
Penelitian terkini Peran Media Dalam Membentuk Persepsi Dan Perilaku Seksual Remaja Terhadap Seks Bebas (2025) menunjukkan bahwa media sosial (misalnya Instagram, TikTok, YouTube) dapat menyajikan representasi seks bebas yang mempengaruhi cara remaja memaknai seks dan perilaku seksual. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
Sementara itu, hasil meta-analisis Meta‑Analysis: Factors Related with Premarital Sexual Behavior in Adolescents (2024) menegaskan bahwa peer pressure (tekanan teman sebaya) memiliki korelasi kuat dengan perilaku seks pra nikah. [Lihat sumber Disini - thejhpb.com]
Artinya: ketika lingkungan sosial, teman dan media, menormalisasi seks sebelum menikah, remaja bisa lebih mudah terdorong untuk mengadopsi sikap permisif terhadap seks pra nikah.
Norma Sosial dan Nilai Budaya terhadap Sikap Remaja
Nilai budaya, tradisi, agama, dan norma sosial masyarakat turut membentuk sikap remaja terhadap seks pra nikah.
Dalam konteks Indonesia, ada tekanan norma bahwa hubungan seksual sebaiknya hanya dilakukan setelah menikah, hal ini membuat banyak remaja memiliki sikap negatif terhadap seks pra nikah. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Namun penelitian juga menunjukkan bahwa dalam kenyataan, sebagian remaja tetap melakukan seks pra nikah meskipun mengetahui norma tersebut, hal ini menunjukkan adanya pergeseran nilai atau disonansi antara norma dan praktik. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Faktor budaya dan norma ini juga bisa bertabrakan dengan pengaruh media dan globalisasi, yang memungkinkan remaja mengeksplorasi nilai dan pandangan berbeda dari lingkungan tradisional mereka.
Peran Pendidikan Seks dalam Membentuk Sikap
Edukasi tentang kesehatan reproduksi, seksualitas, dan konsekuensi seks pra nikah berperan signifikan dalam membentuk pengetahuan dan sikap remaja.
Studi Persepsi Remaja Tentang Pendidikan Seksual Pranikah di SMAN 1 Kasimbar (2025) menunjukkan bahwa ketika remaja mendapat pendidikan seks yang memadai, mereka memiliki pemahaman lebih baik dan bisa mengambil sikap yang lebih bijak terhadap seks pra nikah. [Lihat sumber Disini - ojspanel.undikma.ac.id]
Selain itu, dalam penelitian The Effect of Flashcard Education on Premarital Sexual Behavior among Adolescents (2024), intervensi edukatif berhasil membantu remaja untuk memahami risiko dan membuat keputusan yang lebih bertanggung jawab. [Lihat sumber Disini - thejnp.org]
Dengan demikian, pendidikan seks, baik di sekolah, keluarga, maupun komunitas, menjadi fondasi penting untuk membentuk sikap sehat dan mencegah perilaku seks pra nikah yang berisiko.
Risiko dan Dampak dari Perilaku Seks Pra Nikah
Remaja yang melakukan seks pra nikah menghadapi berbagai risiko, baik fisik, kesehatan reproduksi, sosial, maupun psikologis.
Beberapa potensi konsekuensi yang disorot dalam literatur:
-
Kehamilan di luar nikah, kehamilan tidak diinginkan, aborsi, dan komplikasi kesehatan reproduksi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Infeksi menular seksual (IMS), HIV/AIDS, terutama jika perilaku seksual dilakukan tanpa perlindungan. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
-
Dampak psikososial: stigma sosial, tekanan emosional, konsekuensi pendidikan (misalnya putus sekolah), stres, serta rusaknya peluang masa depan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Ketika seks pra nikah dilakukan tanpa persiapan, pengetahuan, atau tanggung jawab, dan tanpa akses terhadap layanan kesehatan reproduksi, dampaknya bisa serius bagi remaja dan masyarakat luas.
Dampak Sikap terhadap Perilaku Seksual Remaja
Sikap negatif atau positif terhadap seks pra nikah mempengaruhi keputusan dan perilaku seksual remaja.
Misalnya, dalam studi di SMA Negeri 106 Jakarta (2023), sikap remaja berpengaruh signifikan terhadap kemungkinan melakukan seks pra nikah. [Lihat sumber Disini - ejournal.urindo.ac.id]
Begitu juga dalam konteks intervensi, ketika edukasi sukses mengubah sikap menjadi lebih kritis terhadap seks pra nikah, kemungkinan remaja menghindari perilaku berisiko meningkat. [Lihat sumber Disini - jab.ubr.ac.id]
Sebaliknya, jika sikap permisif dibentuk oleh pengaruh media, teman, atau lingkungan yang kurang mendukung nilai protektif, maka risiko remaja melakukan seks pra nikah relatif lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
Jadi bisa dikatakan: sikap itu semacam “filter”, yang membantu remaja memutuskan apakah mereka akan mengambil tindakan sesuai nilai dan pengetahuan yang dimiliki, atau mengikuti tekanan eksternal.
Kesimpulan
Sikap remaja terhadap seks pra nikah dipengaruhi oleh kombinasi kompleks antara pengetahuan, lingkungan keluarga, teman sebaya, media, serta norma sosial dan budaya. Pemahaman yang baik tentang kesehatan reproduksi dan konsekuensi seks pra nikah, yang diperoleh melalui pendidikan seks, sangat krusial untuk membentuk sikap yang sehat dan bijak.
Tanpa pendidikan dan dukungan lingkungan yang tepat, remaja menjadi rentan terhadap perilaku seksual berisiko, dengan potensi dampak fisik, kesehatan, dan psikososial yang serius. Oleh karena itu, upaya promotif dan preventif, melibatkan keluarga, sekolah, komunitas, dan media, sangat penting untuk membantu remaja membuat keputusan seksual yang bertanggung jawab.
Penelitian empiris terbaru menunjukkan bahwa intervensi edukasi dapat memperbaiki pengetahuan dan sikap remaja terhadap seks pra nikah. Ini menjadi indikasi bahwa kebijakan pendidikan seks komprehensif dan program pendampingan remaja sangat dibutuhkan, terutama di era akses informasi tanpa batas seperti sekarang.
Semoga artikel ini bermanfaat sebagai bahan konten, edukasi, dan refleksi bagi pembaca, terutama remaja, orang tua, dan pendidik, agar bersama-sama mendorong kesadaran dan tanggung jawab dalam menyikapi seksualitas di masa remaja.