
Persepsi Ibu Hamil tentang Persalinan di Fasilitas Kesehatan
Pendahuluan
Persalinan merupakan momen krusial dalam siklus reproduksi seorang perempuan, yang tidak hanya menentukan keselamatan ibu dan bayi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh keputusan ibu mengenai tempat dan bentuk persalinan. Di Indonesia, upaya peningkatan persalinan di fasilitas kesehatan (fasyankes) menjadi bagian inti dari strategi penurunan angka kematian ibu dan bayi. Namun demikian, keputusan seorang ibu untuk memilih bersalin di fasilitas kesehatan tidak semata-mata dipicu oleh akses fisik semata, melainkan juga oleh persepsi, pengalaman, pengetahuan, dan lingkungan sosial di sekitarnya. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana persepsi ibu hamil terbentuk serta bagaimana persepsi itu mempengaruhi pemilihan tempat persalinan, karena ini berdampak langsung pada keselamatan, kualitas persalinan, dan kesehatan ibu-anak.
Artikel ini bertujuan menggali persepsi ibu hamil terhadap persalinan di fasilitas kesehatan, memahami faktor-faktor yang membentuk persepsi tersebut, serta mengevaluasi bagaimana persepsi tersebut ikut menentukan pilihan tempat persalinan dan implikasinya terhadap keselamatan persalinan.
Definisi Persepsi Ibu Hamil tentang Persalinan di Fasilitas Kesehatan
Definisi Secara Umum
Persepsi, dalam arti luas, dapat diartikan sebagai cara seseorang memahami, menilai, atau memaknai suatu fenomena berdasarkan pengalaman, informasi, keyakinan, dan konteks sosial-budaya. Dalam konteks kehamilan dan persalinan, persepsi ibu hamil terhadap persalinan di fasilitas kesehatan mencakup keyakinan, sikap, ekspektasi, kekhawatiran, dan harapan terkait proses persalinan jika dilakukan di rumah sakit, puskesmas, atau klinik dengan tenaga kesehatan profesional. Persepsi ini mempengaruhi keputusan ibu terhadap apakah ia akan memanfaatkan layanan antenatal, memilih bersalin di fasyankes, atau sebaliknya memilih persalinan tradisional/home.
Definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Menurut KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, “persepsi” merujuk pada “cara melihat atau mempersepsi sesuatu; tanggapan batin seseorang terhadap sesuatu; penafsiran indrawi.” Sesuai itu, persepsi ibu hamil terhadap persalinan di fasilitas kesehatan dapat diartikan sebagai “tanggapan batin” atau “interpretasi batin” calon ibu terhadap ide, proses, dan konsekuensi persalinan apabila dilakukan di fasilitas kesehatan, dipengaruhi oleh indra, pemikiran, keyakinan, dan pengalaman pribadi maupun lingkungan.
Definisi Menurut Para Ahli
Beberapa peneliti dan pakar kesehatan reproduksi telah menelaah konsep persepsi ibu dalam konteks kehamilan dan persalinan. Berikut ini beberapa definisi menurut para ahli:
-
Dalam artikel tinjauan literatur “Literature Review of Perception, Maternal Pregnancy and Labor 2015, 2021”, persepsi maternal dipahami sebagai keseluruhan pandangan, keyakinan, dan sikap ibu terhadap kehamilan dan persalinan, termasuk harapan, ketakutan, dan ekspektasi terhadap fasilitas kesehatan dan tenaga medis. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
NA Damayanti dalam studi 2023 menekankan bahwa persepsi ibu hamil terhadap layanan kesehatan maternal sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, edukasi, dan mitos setempat, yang kemudian memengaruhi keputusan mereka dalam mencari layanan antenatal maupun persalinan di fasyankes. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Menurut penelitian oleh NK Putri dkk. (2022), persepsi ibu terhadap kenyamanan, kualitas pelayanan, dan kehandalan tenaga kesehatan menjadi bagian dari “prediktor” pemilihan layanan persalinan di fasilitas kesehatan. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]
-
Dalam studi oleh E Dia (2021) tentang ibu hamil di Kabupaten Banjar, persepsi dianggap sebagai faktor kunci yang mempengaruhi keputusan ibu untuk melakukan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - jsk.jurnalfamul.com]
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, dapat dipahami bahwa persepsi ibu hamil terhadap persalinan di fasilitas kesehatan adalah pandangan subjektif yang terbentuk dari pengetahuan, keyakinan, pengalaman, serta konteks sosial-budaya, dan berperan dalam keputusan penggunaan layanan maternal.
Faktor yang Membentuk Persepsi Ibu terhadap Fasilitas Kesehatan
Beberapa faktor utama membentuk bagaimana ibu hamil memandang fasilitas kesehatan sebagai tempat persalinan, antara lain:
-
Pendidikan dan literasi kesehatan. Ibu dengan pendidikan menengah ke atas cenderung memiliki pengetahuan lebih baik mengenai manfaat persalinan di fasilitas kesehatan dan risiko persalinan di rumah, sehingga persepsi mereka lebih positif terhadap fasyankes. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Informasi dan edukasi kesehatan. Akses terhadap informasi, baik melalui tenaga kesehatan, penyuluhan, media sosial, maupun kelas kehamilan, membentuk persepsi. Ibu yang mendapatkan edukasi rutin lebih cenderung yakin bahwa persalinan di fasyankes aman dan profesional. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Pengalaman pribadi atau pengalaman lingkungan/social (peer, keluarga, masyarakat). Jika sebelumnya ibu sendiri atau teman/keluarga telah bersalin di fasilitas kesehatan dan mendapatkan pelayanan baik, hal itu memperkuat persepsi positif. Sebaliknya, cerita negatif tentang persalinan di rumah atau dukun tradisional dapat memperkuat ketidakpercayaan terhadap fasyankes. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-medan.ac.id]
-
Kepercayaan budaya dan mitos tradisional. Di komunitas tertentu, kepercayaan terhadap dukun atau tradisi lokal dapat mempengaruhi pandangan ibu terhadap persalinan di rumah, dan membuat mereka cenderung menolak fasilitas kesehatan. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Kondisi akses fisik dan ekonomi. Faktor jarak, transportasi, biaya, dan kemudahan akses ke fasilitas kesehatan, meskipun tidak murni “persepsi”, turut membentuk persepsi ibu terhadap kemungkinan dan kelayakan bersalin di fasyankes. [Lihat sumber Disini - kjfm.or.kr]
Pengalaman Ibu dan Pengaruh Lingkungan Sosial
Pengalaman ibu, baik pengalaman pribadi maupun lingkungan sosial, memiliki dampak besar terhadap persepsi mereka. Bila seorang ibu melihat atau mendengar pengalaman positif dari kerabat, teman, atau masyarakat sekitar tentang persalinan di fasyankes (misalnya persalinan berjalan aman, tenaga kesehatan ramah, fasilitas memadai), maka kemungkinan persepsi positif terbentuk dan ibu akan mempertimbangkan fasyankes sebagai tempat bersalin. Sebaliknya, pengalaman buruk, seperti komplikasi, pelayanan buruk, atau trauma, dapat menimbulkan ketakutan, rasa tidak nyaman, dan preferensi untuk melahirkan di rumah atau dengan dukun.
Penelitian di Simalungun (2024) menunjukkan bahwa persepsi ibu mengenai persalinan berbeda tergantung jenis persalinan (normal vs operasi sesar). Ibu yang melahirkan dengan operasi sesar cenderung melaporkan “persepsi positif” terhadap persalinan, merasa lebih aman, kurang menyakitkan, dan menjaga integritas tubuh, dibanding ibu yang melahirkan normal. Namun, ibu dengan persalinan normal melaporkan kontrol lebih baik terhadap proses persalinan mereka. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-medan.ac.id]
Dalam konteks masyarakat, dukungan keluarga, terutama suami, orang tua, atau anggota keluarga lain, serta norma sosial dan budaya sekitar sangat mempengaruhi keputusan. Penelitian di beberapa wilayah menunjukkan bahwa keputusan bersalin di fasyankes sering kali bukan keputusan ibu saja, tetapi melibatkan anggota keluarga, nilai budaya, dan pandangan komunitas. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Pengetahuan tentang Keamanan Persalinan di Fasyankes
Pengetahuan ibu hamil mengenai manfaat persalinan di fasilitas kesehatan, termasuk keberadaan tenaga terlatih, peralatan medis, protokol keselamatan, sangat menentukan persepsi mereka terhadap keamanan persalinan. Studi literatur menunjukkan bahwa literasi kesehatan maternal (“maternal health literacy”) memainkan peran penting dalam keputusan mencari layanan kesehatan maternal. Ibu hamil yang memiliki literasi kesehatan baik lebih cenderung memahami pentingnya asuhan antenatal, persalinan oleh tenaga profesional, serta risiko komplikasi jika memilih persalinan di luar fasilitas medis. [Lihat sumber Disini - ijnhs.net]
Misalnya, penelitian tahun 2025 di Kabupaten Blora menunjukkan bahwa latihan prenatal (seperti gentle-yoga) dapat meningkatkan self-efficacy ibu hamil serta persepsi positif terhadap persalinan, mengurangi kecemasan, meningkatkan rasa aman dan kepercayaan terhadap proses persalinan di fasyankes. [Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id]
Dengan pengetahuan dan edukasi yang memadai, ibu mampu menilai risiko dan manfaat secara rasional, sehingga persepsi terhadap fasyankes cenderung positif dan keputusan bersalin di fasilitas kesehatan lebih mungkin diambil.
Peran Tenaga Kesehatan dalam Membangun Persepsi Positif
Tenaga kesehatan (bidan, dokter, perawat, petugas puskesmas) memiliki peran strategis dalam membentuk persepsi ibu hamil. Pelayanan yang profesional, komunikatif, ramah, penuh empati, serta ketersediaan fasilitas memadai, dapat memberi rasa aman dan nyaman kepada ibu hamil. Hal ini mendorong ibu untuk lebih mempercayai fasilitas kesehatan dan mempertimbangkan persalinan di sana. [Lihat sumber Disini - prosidingmhm.mitrahusada.ac.id]
Edukasi prenatal, kelas kehamilan, konseling persalinan, serta partisipasi suami/keluarga dalam pelayanan antenatal juga terbukti meningkatkan pemahaman ibu terhadap pentingnya persalinan di fasyankes dan memperkuat persepsi positif. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]
Pelayanan yang konsisten dan berkualitas, terutama di wilayah terpencil, menjadi kunci agar persepsi positif itu bertahan. Jika layanan buruk, tidak tepat waktu, tenaga kurang bersahabat, atau fasilitas minim, meskipun akses tersedia, persepsi negatif bisa muncul dan menghambat pemanfaatan layanan.
Hambatan Ibu Mengakses Fasilitas Kesehatan
Meskipun persepsi bisa positif, ada berbagai hambatan konkret yang membuat ibu sulit mengakses fasilitas kesehatan untuk persalinan:
-
Akses geografis dan transportasi. Di daerah terpencil atau pedesaan, jarak ke fasyankes, sulitnya transportasi, atau kondisi jalan bisa menjadi penghalang nyata. Penelitian menunjukkan bahwa di area pedesaan, akses menjadi faktor signifikan dalam keputusan pemilihan tempat persalinan. [Lihat sumber Disini - kjfm.or.kr]
-
Kendala ekonomi. Biaya persalinan, biaya transportasi, atau biaya tak terduga bisa membuat ibu memilih bersalin di rumah meskipun tahu risiko, terutama jika keluarga berpenghasilan rendah. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]
-
Kurangnya dukungan keluarga atau sosial. Jika keluarga (termasuk suami) menolak persalinan di fasyankes, misalnya karena tradisi, mitos, atau ketidakpercayaan terhadap tenaga kesehatan, maka ibu sulit mengambil keputusan untuk bersalin di fasilitas kesehatan meskipun ia sendiri ingin. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Sikap negatif terhadap tenaga kesehatan atau fasilitas kesehatan. Pengalaman buruk sebelumnya, rasa malu, ketidaknyamanan, atau ketakutan terhadap perlakuan medis bisa menjadi hambatan psikologis bagi ibu untuk memilih fasyankes. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Pengaruh Persepsi terhadap Pemilihan Tempat Persalinan
Persepsi ibu terhadap fasilitas kesehatan sangat berpengaruh terhadap keputusan mereka mengenai tempat persalinan. Studi nasional menggunakan data sensus menunjukkan bahwa di wilayah perkotaan sekitar 91, 37% ibu melahirkan di fasilitas kesehatan, sedangkan di wilayah pedesaan hanya sekitar 69, 33%. Perbedaan ini menunjukkan bahwa faktor persepsi, termasuk kepercayaan terhadap kualitas layanan, akses, pengetahuan, dan dukungan sosial, berperan besar dalam pemilihan tempat persalinan. [Lihat sumber Disini - kjfm.or.kr]
Selain itu, dalam penelitian komparatif, ibu yang memilih operasi sesar kadang melaporkan persepsi positif terhadap persalinan, seperti merasa lebih aman, yakin terhadap prosedur medis, dan nyaman secara psikologis dibanding kelahiran normal di rumah atau tanpa campur tenaga profesional. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-medan.ac.id]
Sebaliknya, persepsi negatif terhadap fasyankes, apakah karena pengalaman buruk, mitos, ketakutan, atau rendahnya literasi kesehatan, dapat menyebabkan ibu memilih persalinan di rumah, dengan dukun, atau metode tradisional, meskipun hal itu membawa risiko lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Dampak Persepsi Ibu terhadap Keselamatan Persalinan
Persepsi ibu terhadap fasilitas kesehatan berimplikasi langsung terhadap keselamatan ibu dan bayi:
-
Ibu dengan persepsi positif dan memilih persalinan di fasilitas kesehatan lebih mungkin mendapatkan bantuan tenaga profesional, akses ke teknologi medis, dan prosedur darurat jika terjadi komplikasi, mengurangi risiko kematian ibu atau bayi. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]
-
Persepsi yang dibangun dari pengetahuan dan edukasi membantu ibu menangani kecemasan, meningkatkan self-efficacy, dan kesiapan mental, sehingga persalinan lebih tenang dan terencana. [Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id]
-
Di sisi lain, persepsi negatif bisa menyebabkan keterlambatan akses ke layanan profesional, penundaan persalinan di fasyankes, atau pemilihan tempat persalinan non-profesional, meningkatkan risiko komplikasi, infeksi, atau kematian maternal/neonatal. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Dengan demikian, membangun persepsi positif terhadap persalinan di fasilitas kesehatan merupakan bagian penting dari promosi kesehatan maternal dan strategi penurunan mortalitas ibu dan bayi.
Kesimpulan
Persepsi ibu hamil terhadap persalinan di fasilitas kesehatan merupakan hasil interaksi kompleks antara pengetahuan, pengalaman pribadi atau lingkungan, pendidikan, informasi, budaya, serta akses fisik dan ekonomi. Persepsi ini, baik positif maupun negatif, sangat menentukan keputusan di mana ibu akan melahirkan. Ibu dengan persepsi positif cenderung memilih bersalin di fasilitas kesehatan, yang pada gilirannya mendukung keselamatan ibu dan bayi. Sebaliknya, persepsi negatif dapat menghambat pemanfaatan fasilitas kesehatan dan meningkatkan risiko persalinan yang tidak aman.
Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan, dan menurunkan mortalitas maternal/neonatal, tidak cukup hanya menyediakan fasilitas atau tenaga medis; perlu juga dilakukan peningkatan literasi kesehatan maternal, edukasi prenatal, kampanye informasi yang tepat, pelibatan keluarga dan komunitas, serta perbaikan akses fisik dan ekonomi. Dengan demikian, persepsi ibu dapat dibentuk secara positif, mendukung keputusan bersalin di fasilitas kesehatan, dan pada akhirnya menyelamatkan nyawa.