Terakhir diperbarui: 25 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 25 December). Gangguan Fungsi Sensorik: Konsep, Jenis, dan Implikasi. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/gangguan-fungsi-sensorik-konsep-jenis-dan-implikasi  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Gangguan Fungsi Sensorik: Konsep, Jenis, dan Implikasi - SumberAjar.com

Gangguan Fungsi Sensorik: Konsep, Jenis, dan Implikasi

Pendahuluan

Gangguan fungsi sensorik menjadi masalah serius dalam konteks kesehatan karena berpengaruh langsung terhadap kemampuan individu dalam berinteraksi dengan lingkungan serta menjalankan aktivitas sehari-hari. Sensorik sendiri merupakan sistem tubuh yang menerima rangsangan dari lingkungan melalui indera, kemudian memproses dan mengirimkan informasi tersebut ke otak untuk diterjemahkan menjadi respons yang sesuai. Ketika proses ini terganggu, kemampuan persepsi seseorang terhadap stimuli menjadi tidak optimal, yang dapat menyebabkan berbagai kesulitan dalam berkomunikasi, mobilitas, keselamatan, dan kesejahteraan psikososial. Pemahaman mengenai gangguan fungsi sensorik penting untuk tenaga kesehatan, terutama bidang keperawatan, karena identifikasi dini dan penanganan tepat dapat meningkatkan kualitas hidup pasien serta meminimalkan risiko komplikasi yang timbul akibat defisit sensorik tersebut.


Definisi Gangguan Fungsi Sensorik

Definisi Gangguan Fungsi Sensorik Secara Umum

Gangguan fungsi sensorik secara umum merujuk pada kondisi ketika tubuh mengalami kesulitan dalam menerima, memproses, atau merespons rangsangan dari lingkungan melalui indera-inderanya. Hal ini dapat terjadi ketika jalur sensorik mengalami kerusakan atau disfungsi sehingga informasi sensorik yang diterima tidak ditransmisikan dengan benar ke pusat pengolahan di otak. Akibatnya, individu mungkin mengalami sensitivitas yang berlebihan terhadap rangsangan tertentu atau justru kurang responsif terhadap rangsangan yang seharusnya dirasakan. Konsep gangguan ini sangat luas dan mencakup gangguan dalam penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman, dan persepsi tubuh secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

Definisi Gangguan Fungsi Sensorik dalam KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gangguan sensorik dapat diartikan sebagai “keadaan di mana sistem pancaindra atau sistem sensorik tubuh tidak berfungsi dengan normal”, termasuk ketidakmampuan untuk merasakan, menginterpretasikan, atau merespons stimulus sensori dengan benar. Gangguan ini tidak hanya terbatas pada kehilangan fungsi indera, tetapi juga meliputi disfungsi internal dalam sistem pemrosesan sensorik tubuh yang mempengaruhi cara otak menafsirkan input sensorik. Referensi dari KBBI dapat diakses melalui laman resmi KBBI daring. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

Definisi Gangguan Fungsi Sensorik Menurut Para Ahli

  • Menurut Nanda dan kolega, gangguan fungsi sensorik mencakup setiap kesulitan yang dialami seseorang dalam satu atau lebih dari lima indera, termasuk penurunan kemampuan dalam penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, atau keseimbangan, yang berdampak langsung terhadap interaksi individu dengan lingkungannya. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  • Menurut Watson dalam literatur keperawatan, gangguan sensorik dapat mencakup sensory overload (kelebihan rangsangan), sensory deprivation (kekurangan rangsangan), dan gangguan persepsi yang mempengaruhi kemampuan pasien dalam memroses dan merespons stimulus. [Lihat sumber Disini - openstax.org]

  • Dalam konteks neurologis, gangguan sensorik melibatkan fenomena negatif seperti hilangnya sensasi atau fenomena positif seperti parestesia dan nyeri neuropatik yang abnormal karena disfungsi sistem sensorik. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  • Menurut studi keperawatan klinis, perubahan dalam jalur sensorik dapat menyebabkan respon adaptif yang tidak sesuai terhadap rangsangan internal atau eksternal, yang secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup pasien. [Lihat sumber Disini - repository.stikeswirahusada.ac.id]


Konsep Fungsi Sensorik dalam Tubuh

Fungsi sensorik merupakan inti dari bagaimana tubuh berinteraksi dengan lingkungan. Sistem sensorik bekerja melalui reseptor yang tersebar di seluruh tubuh dan terhubung dengan otak melalui jaringan saraf kompleks. Reseptor ini bertindak sebagai detektor stimuli eksternal seperti cahaya, suara, suhu, sentuhan, bau, dan rasa. Informasi yang diterima oleh reseptor ini kemudian dikirim melalui saraf tepi menuju sistem saraf pusat, di mana otak menginterpretasikan sinyal tersebut untuk menghasilkan respons. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]

Komponen utama dari fungsi sensorik mencakup lima indera klasik: penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba. Selain itu, ada pula sistem proprioseptif yang membantu tubuh mengetahui posisi dan gerakan anggota tubuh, serta vestibular yang mengatur keseimbangan dan orientasi ruang. Gangguan pada salah satu atau beberapa sistem ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam kemampuan tubuh untuk menerima dan merespons stimuli, sehingga mempengaruhi kemampuan individu dalam beraktivitas secara optimal. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]


Jenis Gangguan Fungsi Sensorik

Gangguan fungsi sensorik dapat dikelompokkan ke dalam berbagai jenis berdasarkan sistem sensoriknya:

1. Gangguan Penglihatan

Gangguan visual terjadi ketika komponen sistem visual (mata atau jalur saraf optik ke otak) tidak berfungsi secara optimal, seperti pada kasus degenerasi makula, katarak, atau retinopati diabetik. Kondisi ini menyebabkan penurunan kemampuan melihat dengan jelas dan memproses informasi visual yang esensial untuk aktivitas sehari-hari. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

2. Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran dapat berupa keterbatasan dalam menerima suara dari lingkungan, baik karena kerusakan struktur telinga atau disfungsi dalam jalur saraf pendengaran. Kondisi ini mempengaruhi kemampuan komunikasi verbal dan dapat menyebabkan isolasi sosial serta kesulitan dalam memahami instruksi suara. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

3. Gangguan Sentuhan dan Propriosepsi

Gangguan pada indra peraba dan proprioseptif dapat menyebabkan pasien tidak merasakan tekstur, tekanan, suhu, atau posisi tubuh dengan benar. Hal ini terutama terlihat dalam kasus neuropati perifer di mana reseptor sensorik di ujung saraf rusak sehingga sinyal tidak diterima atau dikirimkan ke otak dengan benar. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]

4. Sensory Processing Disorder (SPD)

SPD adalah suatu bentuk gangguan di mana otak mengalami kesulitan dalam memproses atau mengintegrasikan rangsangan sensorik yang diterima dari lingkungan. Individu dengan SPD mungkin bereaksi berlebihan atau kurang responsif terhadap rangsangan biasa seperti suara, cahaya, atau sentuhan. [Lihat sumber Disini - halodoc.com]

5. Sensory Overload dan Sensory Deprivation

Gangguan persepsi sensorik juga dapat muncul dalam bentuk sensory overload (kelebihan rangsangan) ketika otak kewalahan memproses input yang berlebihan, atau sensory deprivation (kekurangan rangsangan) ketika lingkungan tidak menyediakan stimulasi yang cukup, yang dapat berdampak pada kondisi mental dan emosional pasien. [Lihat sumber Disini - openstax.org]


Faktor Penyebab Gangguan Sensorik

Berbagai faktor dapat menyebabkan gangguan fungsi sensorik, baik kondisi medis maupun faktor lingkungan:

1. Kelainan Neuropatik dan Neurologis

Kondisi seperti neuropati perifer, cedera saraf, stroke, atau penyakit degeneratif saraf dapat merusak jalur sensorik sehingga sinyal tidak mencapai otak dengan benar. Neuropati sering terlihat pada pasien diabetes dan dapat menyebabkan sensasi yang abnormal atau hilang. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]

2. Gangguan Perkembangan dan Genetik

Pada anak, gangguan sensorik sering dikaitkan dengan kondisi perkembangan seperti Autism Spectrum Disorder (ASD), Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), atau keterlambatan perkembangan lainnya. Masalah ini sering berakar dari pola perkembangan otak yang berbeda, yang mempengaruhi pemrosesan sensorik. [Lihat sumber Disini - rsiakemang.id]

3. Faktor Lingkungan dan Psikososial

Faktor lingkungan seperti paparan suara keras yang berlebihan atau kurangnya stimulasi di lingkungan juga dapat mengganggu kemampuan neuroplastisitas otak dalam memproses rangsangan. Selain itu, kondisi psikologis seperti tingkat stres tinggi atau gangguan kecemasan mempengaruhi cara stimuli sensorik ditafsirkan oleh otak. [Lihat sumber Disini - med.libretexts.org]

4. Usia dan Degenerasi Fisiologis

Usia lanjut sering dikaitkan dengan menurunnya fungsi sejumlah indera seperti penglihatan dan pendengaran melalui proses penuaan, yang menyebabkan penurunan sensitivitas sensorik dan berkontribusi pada gangguan fungsi sensorik. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]


Dampak Gangguan Sensorik terhadap Aktivitas Pasien

Gangguan fungsi sensorik dapat berdampak luas terhadap kehidupan pasien, baik secara fisik, sosial, maupun psikologis:

  • Kesulitan Komunikasi: Gangguan pendengaran atau visual berdampak langsung pada kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif, yang kemudian membatasi interaksi sosial. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  • Mobilitas dan Keselamatan: Pasien dengan gangguan persepsi proprioseptif atau keseimbangan memiliki risiko jatuh lebih tinggi karena tubuh tidak dapat menilai posisi ruang dengan benar. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  • Kualitas Hidup: Gangguan sensorik sering berkaitan dengan frustrasi, kecemasan, atau isolasi sosial karena ketidakmampuan untuk merespons rangsangan lingkungan secara normal. [Lihat sumber Disini - openstax.org]

  • Penurunan Fungsi Kognitif: Penelitian menunjukkan bahwa sensory impairment dapat berkorelasi dengan penurunan fungsi kognitif dan keterlibatan sosial, terutama pada lansia. [Lihat sumber Disini - repo-dosen.ulm.ac.id]


Penilaian Keperawatan Fungsi Sensorik

Penilaian keperawatan terhadap gangguan fungsi sensorik bersifat komprehensif dan meliputi berbagai aspek:

1. Anamnesis dan Riwayat Klinis

Nurses mengumpulkan data melalui wawancara mengenai keluhan pasien seperti sulit melihat, mendengar, atau merespons rangsangan sensorik lainnya, serta riwayat penyakit neurologis atau trauma yang dialami pasien. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

2. Pemeriksaan Sensorik Objektif

Penilaian fungsi sensorik meliputi tes-tes standar yang mengevaluasi kemampuan indera, seperti tes visual, audiometri, tes sensitivitas kulit, serta pemeriksaan propriosepsi dan keseimbangan sesuai kebutuhan kasus. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

3. Observasi Perilaku

Observasi terhadap respons pasien terhadap stimulus lingkungan juga penting, terutama pada kasus sensory overload atau deprivation yang mungkin menyebabkan perilaku gelisah, menarik diri, atau perubahan emosional. [Lihat sumber Disini - openstax.org]

4. Dokumentasi dan Evaluasi Lanjutan

Tenaga keperawatan harus mendokumentasikan semua temuan dan mengevaluasi perkembangan pasien secara berkala untuk menyusun rencana tindakan keperawatan yang tepat. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]


Implikasi Keperawatan pada Gangguan Sensorik

Dalam praktik keperawatan, implikasi dari gangguan sensorik mencakup:

  • Intervensi Pencegahan Risiko: Melindungi pasien dari cedera akibat gangguan persepsi seperti risiko jatuh atau terkena stimuli yang berbahaya. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  • Modifikasi Lingkungan: Mengatur lingkungan agar sesuai dengan kebutuhan sensorik pasien, misalnya mengurangi kebisingan atau pencahayaan yang berlebihan. [Lihat sumber Disini - openstax.org]

  • Edukasi Pasien dan Keluarga: Memberikan informasi mengenai cara mengelola gangguan sensorik dalam kehidupan sehari-hari untuk meningkatkan kemandirian pasien. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  • Kolaborasi Multidisipliner: Tenaga keperawatan bekerja sama dengan terapi fisik, terapi ocupasional, serta profesional kesehatan lain untuk strategi pemulihan yang holistik. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]


Kesimpulan

Gangguan fungsi sensorik mencakup berbagai kondisi di mana proses penerimaan, pemrosesan, dan respons terhadap rangsangan sensorik tidak berjalan secara normal. Kondisi ini mempengaruhi banyak aspek kehidupan pasien termasuk komunikasi, mobilitas, serta kesejahteraan psikososial. Pemahaman yang mendalam dan penilaian keperawatan yang tepat menjadi kunci untuk merancang intervensi yang efektif, meningkatkan keselamatan pasien, serta mendukung pemulihan dan kualitas hidup pasien yang mengalami gangguan sensorik.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Gangguan fungsi sensorik adalah kondisi ketika sistem indera mengalami kesulitan dalam menerima, memproses, atau merespons rangsangan dari lingkungan, seperti gangguan penglihatan, pendengaran, peraba, keseimbangan, dan persepsi tubuh.

Jenis gangguan fungsi sensorik meliputi gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, gangguan peraba dan propriosepsi, sensory processing disorder, sensory overload, serta sensory deprivation.

Gangguan sensorik dapat disebabkan oleh kerusakan saraf, penyakit neurologis, gangguan perkembangan, faktor lingkungan, stres psikologis, serta proses penuaan atau degenerasi fisiologis.

Gangguan fungsi sensorik dapat menyebabkan kesulitan komunikasi, penurunan mobilitas, risiko cedera, gangguan aktivitas sehari-hari, serta penurunan kualitas hidup pasien.

Peran keperawatan meliputi penilaian fungsi sensorik secara menyeluruh, pencegahan risiko cedera, modifikasi lingkungan, edukasi pasien dan keluarga, serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Gangguan Fungsi Sensorik: Pendengaran, Penglihatan, dan Rasa Gangguan Fungsi Sensorik: Pendengaran, Penglihatan, dan Rasa Implikasi Penelitian: Pengertian, Jenis, dan Contohnya Implikasi Penelitian: Pengertian, Jenis, dan Contohnya Risiko Jatuh pada Lansia Risiko Jatuh pada Lansia Pengetahuan Ibu tentang Tumbuh Kembang Bayi Pengetahuan Ibu tentang Tumbuh Kembang Bayi Gangguan Memori: Konsep, Faktor Penyebab, dan Dampak Gangguan Memori: Konsep, Faktor Penyebab, dan Dampak Risiko Jatuh pada Lansia: Faktor Risiko dan Pencegahan Risiko Jatuh pada Lansia: Faktor Risiko dan Pencegahan Tingkat Kesadaran Pasien Tingkat Kesadaran Pasien Perubahan Pola Bicara: Konsep, Gangguan Neurologis, dan Implikasi Perubahan Pola Bicara: Konsep, Gangguan Neurologis, dan Implikasi Gangguan Memori: Definisi, Penyebab, dan Penanganan Gangguan Memori: Definisi, Penyebab, dan Penanganan Nyeri Kronis: Karakteristik dan Contoh Kasus Nyeri Kronis: Karakteristik dan Contoh Kasus Disabilitas dan Inklusi Sosial: Konsep dan Aksesibilitas Disabilitas dan Inklusi Sosial: Konsep dan Aksesibilitas Gangguan Regulasi Suhu Tubuh: Konsep, Penyebab, dan Implikasi Gangguan Regulasi Suhu Tubuh: Konsep, Penyebab, dan Implikasi Kerusakan Integritas Kulit: Konsep, Indikator Klinis, dan Pencegahan Kerusakan Integritas Kulit: Konsep, Indikator Klinis, dan Pencegahan Gangguan Eliminasi Fekal: Konsep, Implikasi Keperawatan Gangguan Eliminasi Fekal: Konsep, Implikasi Keperawatan Gangguan Integritas Mukosa Oral: Konsep, Implikasi, dan Perawatan Gangguan Integritas Mukosa Oral: Konsep, Implikasi, dan Perawatan Risiko Gangguan Perfusi Jaringan: Pengertian dan Contoh Kasus Risiko Gangguan Perfusi Jaringan: Pengertian dan Contoh Kasus Perubahan Pola Bicara: Pengertian dan Contoh Kasus Perubahan Pola Bicara: Pengertian dan Contoh Kasus Risiko Gangguan Integritas Kulit Risiko Gangguan Integritas Kulit Kualitas Tidur Pasien: Gangguan Umum dan Implikasi Keperawatan Kualitas Tidur Pasien: Gangguan Umum dan Implikasi Keperawatan Nyeri Akut: Definisi, Penyebab, dan Penatalaksanaannya Nyeri Akut: Definisi, Penyebab, dan Penatalaksanaannya
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…