
Perubahan Pola Bicara: Pengertian dan Contoh Kasus
Pendahuluan
Perubahan pola bicara adalah salah satu bentuk gangguan komunikasi yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam berbicara dengan jelas, lancar, dan dapat dipahami. Gangguan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kerusakan neurologis, cedera, atau gangguan perkembangan. Perubahan pola bicara tidak hanya berdampak pada kemampuan berbicara, tetapi juga bisa menghambat interaksi sosial, ekspresi diri, dan kualitas hidup seseorang. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa itu perubahan pola bicara, jenis-jenisnya, penyebab, gejala, cara menilai kemampuan bicara dan bahasa, serta bentuk intervensi, termasuk peran keperawatan, agar orang yang mengalami gangguan ini mendapat penanganan yang tepat.
Definisi Perubahan Pola Bicara
Definisi Perubahan Pola Bicara Secara Umum
Perubahan pola bicara merujuk pada kondisi ketika cara seseorang mengucapkan kata, memproduksi suara, atau merangkai bahasa mengalami perubahan, bisa berupa kesulitan artikulasi, gangguan kelancaran, atau ketidakmampuan menggunakan bahasa secara wajar maupun spontan. Kondisi ini bisa bersifat sementara ataupun permanen, tergantung penyebab dan tingkat keparahannya.
Definisi Perubahan Pola Bicara dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “pola bicara” dapat dipahami sebagai cara atau gaya seseorang berbicara; sedangkan “perubahan pola bicara” berarti perubahan atau penyimpangan dari cara atau gaya berbicara yang lazim atau normal., (link ke KBBI bisa dicantumkan sesuai versi daring KBBI).
Definisi Perubahan Pola Bicara Menurut Para Ahli
-
Menurut Duffy (2013), “Disartria” adalah sekelompok gangguan bicara neurogenik yang ditandai dengan kelainan pada kekuatan, kecepatan, jangkauan, kemantapan, nada, atau akurasi gerakan yang diperlukan untuk aspek respirasi, fonasi, resonansi, artikulasi, atau prosodi dalam produksi bicara. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
-
Dalam literatur keperawatan bahasa, “Afasia” didefinisikan sebagai gangguan bahasa yang diperoleh akibat cedera otak, yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk memahami, merangkai, atau mengekspresikan bahasa secara lisan maupun tulisan. [Lihat sumber Disini - journal.inspira.or.id]
-
Menurut penelitian oleh Triadi & Emha (2021), Disartria menyebabkan kesulitan artikulasi karena gangguan pada alat ucap (organ artikulasi), sehingga penderita mengalami bicara tidak jelas atau tidak terdengar. [Lihat sumber Disini - bastra.uho.ac.id]
-
Dalam konteks gangguan komunikasi pada anak, penelitian oleh V Rusli dkk. (2024) menunjukkan bahwa gangguan bicara dapat muncul akibat gangguan perkembangan, seperti keterlambatan perkembangan global, gangguan pendengaran, atau disabilitas intelektual, yang mempengaruhi kemampuan bahasa dan bicara. [Lihat sumber Disini - paediatricaindonesiana.org]
Dengan demikian, “perubahan pola bicara” mencakup penurunan atau gangguan dalam kemampuan motorik bicara maupun kemampuan bahasa, bisa karena faktor neurogenik, perkembangan, atau kombinasi keduanya.
Jenis Perubahan Pola Bicara
Pada bagian ini dibahas beberapa jenis gangguan bicara / bahasa yang umum ditemui dalam praktik klinis maupun keperawatan.
Disartria
Disartria adalah gangguan motorik bicara akibat kerusakan saraf atau otot yang mengontrol organ artikulasi seperti bibir, lidah, rahang, dan pita suara. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id] Gangguan ini menyebabkan kesulitan dalam artikulasi, ucapan bisa terdengar pelan, cadel, tidak jelas, lambat, atau tidak stabil. [Lihat sumber Disini - alodokter.com] Disartria dapat muncul akibat stroke, cedera otak, penyakit neurodegeneratif, atau kondisi yang melemahkan otot. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
Afasia
Afasia adalah gangguan berbahasa yang terjadi ketika kemampuan bahasa, baik ekspresif (mengucapkan) maupun reseptif (memahami), terganggu akibat kerusakan otak, misalnya pasca stroke atau trauma. [Lihat sumber Disini - journal.inspira.or.id] Penderita afasia mungkin kesulitan menemukan kata, menyusun kalimat, memahami ucapan orang lain, atau menggunakan bahasa tulis. [Lihat sumber Disini - jurnal.atw-ybw.ac.id]
Mutisme
Mutisme adalah kondisi ketika seseorang sama sekali tidak berbicara, baik karena ketidakmampuan fisik, psikologis, maupun neurologis, meskipun organ bicara mungkin berfungsi normal. [Lihat sumber Disini - alodokter.com] Dalam beberapa kasus, mutisme bisa bersifat selektif: individu bisa bicara dalam situasi tertentu, tapi “diam” dalam kondisi lain (misalnya dalam keramaian atau di depan umum). [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
Faktor Penyebab Gangguan Bicara
Gangguan bicara dan perubahan pola bicara bisa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
-
Gangguan saraf dan otot, misalnya stroke, cedera otak, penyakit neurodegeneratif, atau kerusakan saraf perifer, yang mengganggu kontrol motorik organ bicara. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
-
Gangguan perkembangan, pada anak, gangguan bahasa bisa disebabkan oleh keterlambatan perkembangan saraf, gangguan pendengaran, disabilitas intelektual, atau gangguan spektrum autisme. [Lihat sumber Disini - paediatricaindonesiana.org]
-
Trauma psikologis atau emosional, dalam kasus mutisme, seseorang mungkin “terdiam” akibat trauma, kecemasan berat, atau gangguan psikologis tertentu. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Cedera atau kerusakan otak akibat penyakit, operasi, atau stroke, cedera pada bagian otak yang mengatur bahasa atau motorik bicara dapat menyebabkan afasia, disartria, atau kombinasi keduanya. [Lihat sumber Disini - journal.inspira.or.id]
Tanda dan Gejala Gangguan Komunikasi Verbal
Tergantung jenis gangguannya, tanda dan gejala bisa bervariasi. Berikut beberapa gejala umum:
-
Bicara terdengar tidak jelas, cadel, pelo, lambat, atau terputus-putus, ciri khas pada disartria. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Kesulitan mengucapkan kata atau kalimat, sering “terlupa” kata, sulit memulai bicara, sering muncul pada afasia. [Lihat sumber Disini - journal.uii.ac.id]
-
Gangguan dalam memahami bahasa lisan atau tulisan, sehingga penderita sulit mengikuti percakapan atau instruksi. (umumnya pada afasia) [Lihat sumber Disini - journal.inspira.or.id]
-
Pengucapan fonem yang salah atau terdistorsi, misalnya tidak bisa melafalkan konsonan tertentu dengan jelas. [Lihat sumber Disini - jurnal.stkippgriponorogo.ac.id]
-
Dalam kasus mutisme, penderita tidak berbicara sama sekali atau sangat sedikit bicara dalam berbagai situasi. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Gangguan artikulasi yang konsisten, atau perubahan intonasi, kecepatan bicara, serta prosodi suara yang abnormal, terutama pada gangguan motorik bicara. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
Penilaian Kemampuan Bicara dan Bahasa
Penilaian kemampuan bicara dan bahasa penting dilakukan agar jenis dan tingkat gangguan dapat teridentifikasi dengan tepat, baik untuk diagnosis maupun intervensi. Beberapa aspek dan metode penilaian:
-
Observasi klinis terhadap artikulasi, kejelasan bicara, kelancaran bicara, intonasi, volume, dan kemampuan membentuk kata/kalimat. Ini penting terutama untuk gangguan motorik seperti disartria.
-
Tes bahasa dan wicara, misalnya dalam rehabilitasi setelah stroke; untuk mendiagnosis afasia, tes bahasa digunakan untuk menilai pemahaman, ekspresi lisan, dan keterampilan menulis/baca. [Lihat sumber Disini - journal.inspira.or.id]
-
Penilaian berulang & kuantitatif, misalnya dalam penelitian, digunakan instrumen seperti tes skor awal pasca-intervensi dan pasca-terapi, untuk menilai perubahan kemampuan bicara. [Lihat sumber Disini - journalkhd.com]
-
Evaluasi fungsional dalam kehidupan sehari-hari, melihat bagaimana gangguan bicara memengaruhi interaksi sosial, komunikasi dengan keluarga/lingkungan, dan kualitas hidup.
Intervensi Keperawatan untuk Gangguan Bicara
Peran keperawatan sangat penting terutama dalam mendukung rehabilitasi dan komunikasi pasien. Beberapa intervensi yang dapat dilakukan:
-
Terapi bicara dan latihan otot artikulasi, untuk pasien dengan disartria, latihan memperkuat otot pernapasan, bibir, lidah, dan rahang agar artikulasi meningkat. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
-
Program rehabilitasi bahasa, bagi pasien afasia, dilakukan latihan bahasa, pemahaman, serta kemampuan ekspresi dan pemrosesan bahasa, baik lisan maupun tulisan. [Lihat sumber Disini - journal.inspira.or.id]
-
Pelibatan keluarga dan lingkungan, edukasi pada keluarga/caregiver agar menggunakan teknik komunikasi yang mendukung: berbicara pelan, jelas, memberi waktu bagi pasien, menggunakan isyarat bila perlu. (Direkomendasikan dalam literatur keperawatan dan rehabilitasi disartria). [Lihat sumber Disini - adminlib.poltekkes-solo.ac.id]
-
Penggunaan terapi suara/ vokal tertentu, misalnya dalam penelitian: program terapi vokal seperti AIUEO vocal therapy menunjukkan peningkatan kemampuan komunikasi verbal pada pasien stroke non-hemoragik dengan gangguan komunikasi. [Lihat sumber Disini - journalkhd.com]
-
Pendekatan multidisipliner, bekerja sama dengan terapis wicara, dokter saraf, psikolog, dan rehabilitasi medik untuk penanganan holistik.
Contoh Kasus Perubahan Pola Bicara
Sebagai gambaran konkret, berikut contoh kasus berdasarkan penelitian klinis:
Seorang pasien lanjut usia, pasca stroke iskemik non-hemoragik, mengalami gangguan komunikasi verbal yang jelas, awalnya memiliki skor kemampuan verbal yang rendah. Setelah dilakukan intervensi dengan AIUEO vocal therapy selama beberapa hari, skor verbal meningkat dari kategori “parah” menjadi “menengah”. Ini menunjukkan bahwa dengan intervensi tepat, kemampuan bicara dan bahasa bisa mengalami perbaikan signifikan. [Lihat sumber Disini - journalkhd.com]
Pada kasus lain, pasien dengan disartria setelah stroke menerima terapi vokal/latihan artikulasi, hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi seperti LSVT Loud mampu meningkatkan kejelasan dan kekuatan suara, memperbaiki artikulasi, sehingga komunikasi verbal pasien meningkat dibanding sebelum terapi. [Lihat sumber Disini - jurnal.ikbis.ac.id]
Kesimpulan
Perubahan pola bicara mencakup gangguan dalam aspek motorik bicara maupun bahasa, seperti disartria, afasia, atau mutisme, yang dapat disebabkan oleh kerusakan neurologis, gangguan perkembangan, trauma psikologis, atau kombinasi faktor. Gejala yang muncul bervariasi: dari bicara tidak jelas, sulit artikulasi, kesulitan memahami atau merangkai kata, hingga tidak bicara sama sekali.
Penilaian kemampuan bicara dan bahasa secara komprehensif menjadi langkah penting untuk diagnosis dan menentukan intervensi yang tepat. Intervensi keperawatan, bersama tim rehabilitasi, dapat meliputi latihan artikulasi, terapi bicara, pelibatan keluarga, serta pendekatan multidisipliner, dan berdasarkan penelitian, metode seperti vocal therapy telah menunjukkan hasil peningkatan kemampuan komunikasi pada pasien.
Dengan mengenali jenis, penyebab, gejala, dan cara penanganannya, diharapkan perubahan pola bicara bisa dideteksi lebih awal, ditangani dengan efektif, dan memungkinkan pasien mempertahankan atau memulihkan kualitas komunikasi serta kualitas hidupnya.