
Risiko Kekurangan Vitamin A pada Balita
Pendahuluan
Kekurangan vitamin A pada balita merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada tumbuh kembang fisik dan kognitif anak, tetapi juga meningkatkan risiko kesakitan, gangguan penglihatan, dan mortalitas akibat infeksi umum seperti diare dan pneumonia. Diperkirakan hampir satu dari lima anak balita di Indonesia mengalami kekurangan vitamin A, sebuah angka yang menunjukkan besarnya beban kesehatan masyarakat terkait defisiensi mikronutrien ini. Intervensi berupa suplementasi, fortifikasi pangan, dan edukasi gizi menjadi strategi penting untuk mengatasi permasalahan ini secara berkelanjutan. [Lihat sumber Disini - wpcpublisher.com]
Definisi Vitamin A
Definisi Vitamin A Secara Umum
Vitamin A adalah salah satu vitamin yang larut dalam lemak dan mencakup sekumpulan senyawa organik yang diperlukan tubuh untuk berbagai fungsi biologis penting, termasuk penglihatan, pertumbuhan sel, dan fungsi imun. Senyawa yang termasuk dalam kelompok vitamin A meliputi retinol, retinal, dan provitamin A karotenoid yang dapat diubah menjadi retinol di dalam tubuh. Vitamin A paling banyak ditemukan pada produk hewani seperti hati, susu, dan telur serta pada sayuran dan buah berwarna oranye dan hijau gelap seperti wortel dan bayam. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]
Definisi Vitamin A dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, vitamin A didefinisikan sebagai jenis vitamin yang larut dalam lemak dan berperan penting dalam pertumbuhan serta penglihatan. Vitamin A termasuk salah satu nutrien yang esensial bagi tubuh manusia karena tidak dapat diproduksi sendiri dan harus diperoleh dari makanan yang dikonsumsi. [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]
Definisi Vitamin A Menurut Para Ahli
-
Menurut Ekasari (2021), vitamin A berperan secara biologis dalam mengatur pertumbuhan dan diferensiasi sel, serta sintesis protein penting untuk fungsi penglihatan dan kesehatan jaringan tubuh. [Lihat sumber Disini - jdva.ub.ac.id]
-
Mello-Neto dan Tanumihardjo menyatakan bahwa vitamin A berfungsi penting dalam penglihatan, pertumbuhan fisik, serta dukungan terhadap fungsi imunitas tubuh. [Lihat sumber Disini - repository-penerbitlitnus.co.id]
-
Prasetyaningsih (2019) menjelaskan bahwa vitamin A membantu menjaga kesehatan mata dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi. [Lihat sumber Disini - repository.unissula.ac.id]
-
Sumber dan panduan pemberian vitamin A oleh otoritas kesehatan nasional menyatakan bahwa vitamin A penting dalam mencegah xeroftalmia, gangguan mata akibat kekurangan vitamin A, dan mendukung kelangsungan hidup anak di negara berkembang. [Lihat sumber Disini - kemkes.go.id]
Peran Vitamin A dalam Pertumbuhan dan Imunitas
Vitamin A memiliki peran sentral dalam berbagai proses biologis yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Secara khusus, vitamin A membantu dalam pembentukan pigmen retina yang diperlukan untuk penglihatan, termasuk penglihatan dalam cahaya redup. Retinal, salah satu bentuk aktif vitamin A, berperan dalam siklus pembentukan rhodopsin yang esensial bagi fungsi visual. Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan gangguan penglihatan seperti rabun senja atau bahkan kebutaan permanen jika tidak ditangani. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]
Tidak hanya berperan pada fungsi penglihatan, vitamin A juga berkontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan tubuh secara keseluruhan. Vitamin A aktif dalam diferensiasi sel, membantu sintesis protein penting yang mendukung pembentukan dan pemeliharaan jaringan tubuh. Hal ini sangat penting pada masa pertumbuhan balita, ketika sel-sel tubuh berkembang cepat untuk mendukung kenaikan berat badan, panjang tubuh, serta perkembangan organ vital lainnya. [Lihat sumber Disini - jdva.ub.ac.id]
Selain itu, vitamin A berperan dalam mendukung sistem kekebalan tubuh melalui modulasi respons imun terhadap berbagai patogen. Defisiensi vitamin A dapat menurunkan kekebalan tubuh sehingga anak menjadi lebih rentan terhadap infeksi seperti diare, campak, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Berkurangnya fungsi imunitas ini membuat balita dengan defisiensi vitamin A memiliki risiko morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan anak yang status vitamin A-nya mencukupi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
Faktor Risiko Kekurangan Vitamin A
Beberapa faktor risiko dapat meningkatkan peluang terjadinya kekurangan vitamin A pada balita. Salah satu faktor utama adalah pola makan yang tidak seimbang, khususnya rendah konsumsi makanan sumber vitamin A. Kekurangan asupan makanan yang kaya vitamin A, seperti sayuran berwarna terang, buah-buahan tertentu, dan produk hewani, merupakan penyebab umum defisiensi ini. [Lihat sumber Disini - wpcpublisher.com]
Selain itu, rendahnya pengetahuan gizi pada orang tua atau pengasuh tentang pentingnya vitamin A juga merupakan faktor penentu tercukupinya status gizi anak. Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian vitamin A berkaitan dengan kurangnya asupan vitamin A pada balita dan berkontribusi terhadap risiko defisiensi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
Infeksi berulang, penyakit yang menyebabkan gangguan absorpsi di usus, dan kondisi kesehatan pencernaan yang buruk juga dapat mengurangi penyerapan vitamin A dalam tubuh. Anak yang sering mengalami diare, campak, atau penyakit infeksi lainnya memiliki kebutuhan vitamin A yang lebih tinggi dan lebih rentan terhadap status vitamin A yang rendah. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Dampak Kekurangan terhadap Kesehatan Mata
Kekurangan vitamin A memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan mata anak balita. Tahap awal defisiensi dapat menyebabkan rabun senja, yaitu kesulitan melihat dalam cahaya redup, yang merupakan manifestasi klinis awal dari gangguan penglihatan akibat rendahnya kadar retinol dalam tubuh. Kekurangan yang terus berlanjut dapat berkembang menjadi xerophthalmia, kondisi yang ditandai dengan pengeringan konjungtiva dan kornea mata, disertai bintik-bintik Bitot yang dapat mengganggu fungsi visual. [Lihat sumber Disini - wpcpublisher.com]
Dalam kasus defisiensi yang parah, keratomalacia dapat terjadi, kondisi ini menyebabkan kerusakan kornea yang masif dan dapat berlanjut menjadi kebutaan permanen. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa kekurangan vitamin A adalah penyebab utama kebutaan anak yang dapat dicegah di dunia, dan setiap tahunnya ratusan ribu anak menjadi buta akibat kondisi ini jika tidak ditangani dengan intervensi gizi yang tepat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Hubungan Pola Makan dengan Status Vitamin A
Pola makan merupakan faktor kunci dalam menentukan status vitamin A pada balita. Asupan makanan yang kaya vitamin A seperti hati, produk susu penuh lemak, telur, serta buah dan sayuran berwarna oranye dan hijau gelap sangat penting untuk mencukupi kebutuhan vitamin A tubuh. Diet yang rendah pada sumber-sumber ini berisiko tinggi menyebabkan defisiensi. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]
Lebih lanjut, praktisnya keterbatasan akses terhadap makanan bergizi di daerah dengan kemiskinan atau distribusi pangan yang tidak merata turut memperburuk status gizi anak. Ketika keluarga tidak mampu menyediakan pangan beragam yang mencakup sumber vitamin A yang adekuat, status vitamin A anak rentan menurun. [Lihat sumber Disini - wpcpublisher.com]
Selain konsumsi makanan, program pemberian suplemen vitamin A secara berkala merupakan strategi nasional yang dilakukan untuk mengatasi risiko kekurangan ini. Di Indonesia, pemberian kapsul vitamin A melalui posyandu pada bulan Februari dan Agustus untuk balita usia 6, 59 bulan terbukti efektif menurunkan angka morbiditas dan mortalitas anak serta membantu mempertahankan status vitamin A yang optimal. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
Upaya Pencegahan melalui Suplementasi dan Edukasi
Pencegahan kekurangan vitamin A pada balita membutuhkan pendekatan multisektor. Suplementasi vitamin A secara berkala merupakan salah satu strategi utama, terutama pada balita usia 6, 59 bulan. Program suplementasi ini terbukti signifikan dalam menurunkan angka kesakitan dan mortalitas akibat infeksi serta mencegah gangguan penglihatan yang parah. [Lihat sumber Disini - wpcpublisher.com]
Selain suplementasi, fortifikasi pangan dengan vitamin A dan edukasi gizi kepada ibu serta keluarga juga sangat penting. Edukasi yang efektif meningkatkan pengetahuan orang tua tentang sumber-sumber vitamin A dan cara memasukkan makanan kaya vitamin A dalam menu harian dapat meningkatkan asupan anak secara berkelanjutan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Peran tenaga kesehatan, kader posyandu, dan sistem pelayanan kesehatan komunitas sangat krusial dalam mengadvokasi dan memfasilitasi program ini sehingga mencapai seluruh populasi balita yang berisiko defisiensi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
Kesimpulan
Kekurangan vitamin A pada balita merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berdampak luas pada pertumbuhan, imunitas, kesehatan mata, serta risiko infeksi dan mortalitas. Vitamin A berperan penting dalam fungsi penglihatan, diferensiasi sel, dan sistem imun, sehingga kebutuhan nutrisinya harus dipenuhi melalui pola makan yang tepat dan suplementasi jika diperlukan. Defisiensi vitamin A dapat disebabkan oleh pola makan yang tidak seimbang, rendahnya pengetahuan gizi, serta tingginya kejadian infeksi. Upaya pencegahan yang efektif mencakup pemberian suplemen vitamin A secara berkala, fortifikasi pangan, dan edukasi gizi kepada keluarga dan masyarakat untuk memastikan status vitamin A balita tetap optimal dan mencegah dampak negatifnya terhadap kesehatan anak.